Topik : Peran

4 April 2003

Cara Menyembah Dia

Nats : Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Lukas 19:38)
Bacaan : Lukas 19:28-38

Saat Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan banyak orang beberapa hari sebelum kematian-Nya, sesungguhnya peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Saat Yesus menyuruh para murid-Nya untuk mengambil keledai yang akan ditunggangi-Nya, Dia hanya menyuruh mereka berkata kepada pemilik keledai itu, “Tuhan memerlukannya” (Lukas 19:31). Dan ketika kerumunan orang berseru-seru memuji Dia, mereka mengutip Mazmur 118:26, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan” (Lukas 19:38).

Yesus adalah Tuhan. Nama-Nya ada “di atas segala nama” (Filipi 2:9). Istilah Tuhan yang merupakan gelar yang disandang-Nya, mengacu pada kedaulatan-Nya yang tertinggi. Dia adalah Raja, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah anggota kerajaan-Nya.

Kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita dengan tunduk di bawah kekuasaan-Nya sebagai Raja. Artinya, kita hidup dalam ketaatan kepada Dia. Kita tidak mungkin berlaku seperti seorang pria yang mengaku kristiani, tetapi memakai obat terlarang dan menjalani hubungan tak bermoral. Saat pendeta mengecamnya, dengan enteng pria itu menjawab, “Jangan khawatir, Pak Pendeta. Saya kan cuma orang kristiani yang buruk.”

Itu tidak bisa dibilang tidak apa-apa. Sama sekali tidak! Itu bukanlah ciri orang yang mengaku pengikut Kristus (Lukas 6:43-49).

Hari ini, pastikan bahwa Anda memuliakan nama-Nya baik melalui perbuatan maupun perkataan Anda. Dengan begitu Anda dapat bergabung bersama orang lain berseru-seru, “Yesus adalah Tuhan!” --Dave Egner

13 April 2003

Tawaran Raja

Nats : Orang banyak ... berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 21:9)
Bacaan : Matius 21:1-11

Saya sering bertanya-tanya, betapa banyak orang yang dengan antusias berseru, “Hosana!” pada hari Minggu Palma, tetapi beberapa hari kemudian mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Sebagian orang mungkin sangat kecewa, bahkan marah, karena Kristus tidak menggunakan kuasa mukjizat-Nya untuk mendirikan kerajaan duniawi. Bukankah dengan diarak masuk ke Yerusalem, Dia telah menciptakan kesempatan emas untuk memperoleh dukungan rakyat? Bukankah Dia menawarkan diri-Nya sendiri sebagai raja?

Banyak orang Yahudi gagal menyadari bahwa sebelum Yesus menyatakan kedaulatan-Nya secara terbuka, Dia terlebih dahulu harus bertakhta dalam hati mereka. Kebutuhan terbesar mereka bukanlah pembebasan dari belenggu Kaisar, melainkan pembebasan dari kecongkakan, sikap bangga terhadap diri sendiri, dan pemberontakan melawan Allah. Yang mereka inginkan adalah kerajaan nyata seperti yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama bersama semua kekayaan materinya. Namun, Mesias pertama-tama harus mati bagi dosa-dosa manusia, dan bangkit kembali untuk mendirikan dasar bagi prinsip kerohanian.

Hal yang sama juga terjadi pada masa kini. Kristus tidak menawarkan kekebalan dari kesulitan hidup, kesembuhan dari setiap penyakit, atau janji akan kesuksesan finansial. Yang Sang Raja janjikan hari ini adalah diri-Nya sendiri sebagai kurban atas dosa-dosa kita, dan tantangan untuk melayani Dia. Jika kita bersedia menerima tawaran-Nya, kita tidak akan merasa kecewa --Dennis De Haan

20 April 2003

Kenyataan Kebangkitan

Nats : Aku adalah ... Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya (Wahyu 1:17,18)
Bacaan : Lukas 24:1-12

Para murid dan pengikut mula-mula Tuhan kita menegaskan dengan penuh semangat dan dengan sepenuh hati bahwa Yesus dari Nazaret adalah Juruselamat yang hidup, bukan guru atau filsuf yang mati karena membela ajaran-Nya. Mereka memegang kebenaran ini sedemikian kuat sehingga rela menderita siksaan dan rela mati daripada meninggalkan keyakinan itu.

Kabar yang mengejutkan ini semakin menguatkan pelayanan mereka sehingga kesaksian mereka “mengacaukan seluruh dunia” (Kisah Para Rasul 17:6). Hal itu masih berlaku sampai sekarang: Roh Kudus menghargai kesaksian mereka yang menyatakan bahwa Yesus telah bangkit. Kesaksian mereka yang utama bukanlah tentang hukum moral, ritual keagamaan, atau pengakuan iman secara teologis (suatu hal yang baik jikalau mereka memiliki semua itu), melainkan tentang Allah yang menjelma menjadi manusia, satu-satunya yang dapat menyelamatkan. Pada zaman ini, ketika kemurnian iman telah mati dan banyak terjadi kemurtadan rohani, kita seharusnya melihat hanya kepada Dia yang “hidup untuk selamanya” (Wahyu 1:18).

Seorang profesor yang sombong dan tidak saleh berkata kepada seorang anak kecil yang percaya kepada Tuhan Yesus, “Gadis kecilku, kamu tidak tahu kepada siapa kamu percaya. Ada banyak kristus di dunia ini. Kristus mana yang kamu percayai?” “Saya tahu siapa yang saya percayai,” sahut anak itu. “Saya percaya kepada Kristus yang bangkit dari antara orang mati!”

Yesus hidup (Lukas 24:1-12). Hidup kekal Anda bergantung pada kenyataan ini --Henry Bosch

6 Desember 2003

Segalanya untuk Dia

Nats : Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (Kolose 1:16)
Bacaan : Kolose 1:13-20

Judul ini hanyalah satu frasa pendek yang terdiri dari dua kata terakhir pada Kolose 1:16 -- "untuk Dia". Namun frasa pendek ini mengandung penafsiran Allah sendiri tentang sejarah. Dalam dua kata ini Dia menegaskan bahwa Yesus adalah penjelasan akhir dan lengkap tentang segala sesuatu.

Segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, sedang bergerak melintasi waktu menuju klimaks, yaitu ketika setiap lidah akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Setiap lutut, entah itu pemujaan penuh syukur atau di bawah paksaan, akan bertelut di hadapan-Nya (Filipi 2:10,11).

Sejarawan Inggris, H.A.L. Fisher, tampaknya tidak memahami pandangan itu. Dengan sedih ia mengaku, "Orang-orang yang lebih bijak dan lebih terpelajar daripada saya telah menemukan sebuah alur, ritme, dan pola dalam sejarah. Namun, saya tidak melihat adanya keselarasan. Yang dapat saya lihat hanyalah keadaan genting yang susul-menyusul, seperti ombak yang berkejar-kejaran ... saya tidak melihat apa-apa kecuali sebuah permainan yang tak terduga dan tak dapat diramalkan."

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda tercengang oleh keadaan yang tampaknya seperti rentetan peristiwa tanpa tujuan? Jika demikian halnya, arahkan pandangan kepada Yesus sekali lagi, yakni pada kehidupan, kematian, kebangkitan, dan janji kedatangan-Nya kembali. Hati Anda yang galau akan dipenuhi dengan pengharapan dan keyakinan karena Anda sadar bahwa ada makna dan tujuan untuk setiap peristiwa di dunia ini -- ketika Anda hidup "untuk Dia" --Vernon Grounds

19 Desember 2004

Betapa Eloknya!

Nats : Seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita (Yesaya 9:5)
Bacaan : Yesaya 9:1-6

Sekelompok anak kecil dari kota kami sedang mengadakan kebaktian, dan kami pun mulai menaikkan pujian. Ariel, seorang anak yang berusia tujuh tahun, bersandar pada tubuh saya kemudian berkata dengan lembut, “Aku menyukai lagu pujian ini. Pujian ini membuatku menangis.”

Musik dan juga syair mengenai Yesus, Sang Juruselamatnya, menyentuh hati-nya: “Bukankah Dia elok? Dia elok, bukan? Bukankah Dia Raja Damai, Putera Allah?”

Ya, Tuhan Yesus elok. Kita memang tidak menemukan pernyataan spesifik dalam Alkitab yang mengambarkan bahwa Dia elok. Namun, Alkitab menyatakan bahwa karakter pribadinya kuat, tetapi lembut, kudus tetapi penuh pengampunan, mulia tetapi rendah hati, semuanya menjadi satu. Ringkasnya, Dia elok!

Dalam nubuatnya, Yesaya menggambarkan Yesus dan kedatangan-Nya dalam kata-kata berikut ini: “Seorang Anak telah lahir untuk kita, seorang Putera telah diberikan untuk kita; lambang pe-merintahan ada di atas bahu-Nya, dan nama-Nya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).

Yesus adalah Penasihat Ajaib yang memberikan penghiburan dan hikmat. Allah Perkasa yang memegang kekuasaan dan pemerintahan. Bapa Kekal yang menyediakan semua kebutuhan kita dan melindungi kita. Dan Raja Damai yang mendamaikan kita dengan Allah dan sesama.

Bukankah Yesus sungguh-sungguh elok? Sembahlah Dia —Anne Cetas

9 Januari 2005

Kuk yang Ringan

Nats : Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku (Matius 11:29)
Bacaan : Matius 11:25-30

Seorang guru Sekolah Minggu membacakan Matius 11:30 kepada anak-anak di kelasnya, lalu bertanya: “Yesus berkata, ‘Kuk yang Kupasang itu enak.’ Siapa yang tahu apakah kuk itu?” Seorang anak laki-laki mengacungkan tangannya dan menjawab, “Kuk adalah sesuatu yang diletakkan orang pada leher binatang supaya mereka dapat saling membantu.”

Kemudian guru itu bertanya, “Lalu, kuk apakah yang diletakkan Yesus pada kita?” Seorang gadis kecil yang pendiam mengangkat tangan dan berkata, “Tangan Allah yang dilingkarkan di bahu kita.”

Ketika Yesus datang, Dia menawarkan kuk yang “enak” dan “ringan” dibandingkan dengan kuk para pemimpin agama (Matius 11:30). Mereka telah meletakkan “beban berat” berupa hukum-hukum kepada orang-orang (Matius 23:4; Kisah Para Rasul 15:10), yang tak mungkin dilakukan oleh siapa pun.

Allah tahu kita tidak akan pernah dapat mencapai standar-Nya (Roma 3:23), sehingga Dia mengutus Yesus ke dunia ini. Yesus menaati perintah Bapa-Nya dengan sempurna dan menanggung hukuman mati untuk dosa-dosa kita. Ketika kita merendahkan diri dan menyadari kebutuhan kita akan pengampunan, Yesus datang mendampingi kita. Dia meletakkan kuk-Nya pada kita, memerdekakan kita dari rasa bersalah dan memberi kita kuasa-Nya untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah.

Apakah Anda sedang memerlukan pertolongan Yesus? Dia berkata, “Marilah kepada-Ku . . . . Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku” (Matius 11:28,29). Dia rindu untuk merangkulkan tangan-Nya di bahu Anda —Anne Cetas

21 Januari 2006

Dunia Luar

Nats : Kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23:23)
Bacaan : Matius 23:13-23

Iman pribadi di dalam Kristus itu disertai dengan melakukan tanggung jawab sosial. Jika kita percaya bahwa Dia memerintah sebagai Tuhan atas sejarah, sama seperti Tuhan atas hidup kita masing-masing, kita jangan semata-mata berpusat pada "dunia di dalam" dan melupakan "dunia luar". Membatasi kedaulatan-Nya hanya pada pergumulan-pergumulan pribadi kita berarti merendahkan diri-Nya. Apakah yang kita nyatakan secara tidak langsung mengenai Sang Juru Selamat jika kita mencari kehendak Allah tentang pindah ke kota lain atau menikahi seseorang, namun tidak pernah mencari apa yang Dia pikirkan tentang kesulitan para tunawisma, hak-hak janin yang belum dilahirkan, atau persamaan ras?

Memelihara kehidupan batiniah, betapa pun pentingnya, terlalu sempit dan dangkal tanpa bergumul dengan masalah-masalah sosial. Kita harus memikirkan tanggapan yang diinginkan Kristus terhadap berbagai situasi tidak adil dalam masyarakat kita dan dunia secara umum.

Di sisi lain, menekankan keprihatinan sosial tanpa menekankan pengabdian kepada Tuhan itu sama seperti menari di atas satu kaki. Jika kita memiliki komitmen kuat terhadap suatu tujuan namun tidak berkomitmen kuat terhadap Kristus, kita menukar kuasa Allah dengan kuasa politik.

Orang-orang fasik menolak mengakui ketuhanan Kristus dalam berbagai keputusan mereka. Namun, alasan apakah yang dapat kita berikan sebagai orang-orang kristiani saat kita lupa bahwa pemerintahan-Nya atas "dunia di dalam" juga mencakup "dunia luar"? --HWR

30 April 2006

Mahkota yang Dipersembahkan

Nats : Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa (Wahyu 4:11)
Bacaan : Wahyu 4:6-11

Suatu kali pada masa pemerintahannya, Ratu Victoria dari Inggris mendengarkan khotbah yang dibawakan oleh seorang pendeta. Khotbah itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kali. Orang-orang yang duduk di dekat tempat khusus sang ratu dapat melihat bahwa ratu berlinang air mata.

Seusai kebaktian, ia ingin bertemu dengan pendeta itu seorang diri. Ketika melihat perasaan sang ratu yang begitu mendalam, sang pendeta lalu menanyakan alasan sang ratu begitu terharu. Ratu menjawab, "Karena khotbah Anda tentang kedatangan kembali Sang Raja dunia yang tak bercela itu, saya berharap saya masih hidup ketika Dia datang kembali sehingga saya dapat meletakkan mahkota saya di kaki-Nya!"

Ada upah yang besar untuk pelayanan yang setia, yang melibatkan tindakan dan motif kita. Upah-upah ini, yang disebut sebagai "mahkota" dalam Perjanjian Baru, akan didapat oleh mereka yang telah menerima hadiah kehidupan kekal.

Mungkin Anda akan berkata, "Saya tidak mengharapkan upah atas apa pun yang saya lakukan untuk Kristus." Sudahkah Anda merenungkan apa yang dapat Anda lakukan dengan mahkota apa pun yang Anda terima hari itu? Tidak akan ada tempat memajang piala di surga; tidak akan ada sorak kemenangan terhadap prestasi duniawi. Para pendosa yang telah ditebus akan mendapatkan sukacita yang luar biasa karena dapat melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta-Nya sembari berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa" (Wahyu 4:11) --PRV

8 Juni 2006

Baptisan Michael

Nats : Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku (Markus 10:14)
Bacaan : Markus 10:13-16

Michael ingin dibaptis. Pada mulanya ayahnya merasa ragu-ragu karena Michael mengidap autis. Autisme adalah kelainan yang memengaruhi interaksi sosial dan keterampilan komunikasi seseorang.

Michael yang berusia 35 tahun itu memang telah memercayai Yesus sebagai Juru Selamat, dan para pemimpin gereja pun menyetujui pembaptisan ini dengan sangat antusias. Akan tetapi, pada saat dibaptis, Michael harus berdiri di depan seluruh jemaat. Ini bukan hal yang mudah bagi seorang pengidap autis seperti Michael.

Karena tahu Michael tidak menyukai kejutan, ayahnya kemudian memberi tahu semua hal yang akan terjadi selama proses pembaptisan. Namun, pada saat sang pendeta berkata, "Michael, saya membaptis kamu di dalam nama Bapa," Michael menginterupsi seakan-akan untuk mengingatkan sang pendeta, "dan Putra!" Para jemaat tersenyum dengan penuh sukacita. Dan Michael pun dibaptis di dalam ketaatan kepada perintah Kristus.

Kita datang kepada Yesus dengan tingkat pemahaman rohani yang berbeda-beda, dan Yesus menyambut semua orang yang menanggapi panggilan-Nya. Saat anak-anak kecil menghampiri Sang Juru Selamat, murid-murid-Nya berusaha mengusir mereka. Namun Kristus menegur mereka dan berkata, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku" (Markus 10:14). Dan hal itu pun berlaku bagi mereka yang memiliki kelainan.

Injil itu sederhana. Kita semua dapat menghampiri Sang Juru Selamat. Dan undangan yang Dia berikan terbuka bagi semua orang --HDF

3 Juli 2006

Berguna

Nats : Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri (Yohanes 5:19)
Bacaan : Yohanes 5:19-23

Yesus itu sungguh Allah, tetapi juga sungguh manusia. Sebagai manusia, kekuatan, hikmat, dan keagungan-Nya bukan berasal dari natur Ilahi-Nya melainkan dari kebergantungan-Nya yang utuh pada Allah. "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri," kata Yesus (Yohanes 5:19). Seberapa banyak yang Yesus lakukan bila terpisah dari Allah? Tidak ada!

Yesus selalu bergantung pada Bapa-Nya. Lukas menyatakan bahwa saat berita tentang pelayanan Yesus tersebar, "Datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa" (Lukas 5:15,16). Dia tahu kebutuhan-Nya akan waktu teduh, untuk memulihkan jiwa-Nya.

Yang dilakukan dalam keheningan itulah yang penting. Seperti Yesus, selama waktu teduh itulah kita dibentuk dan dijadikan manusia yang akan dipakai Allah sesuai kehendak-Nya.

"Tetapi," Anda berkata, "saya sekarang berada dalam posisi yang membuat saya menjadi tidak berguna." Mungkin Anda merasa lingkungan sangat membatasi Anda. Penyakit, masalah keuangan, atasan atau rekan kerja yang sulit, atau seorang anggota keluarga yang tidak mau bekerja sama tampaknya melawan Anda. Bagaima-napun situasi Anda, pakailah itu untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Juru Selamat.

Belajarlah untuk bergantung sepenuhnya pada Bapa, sama seperti Yesus. Berserahlah kepada Allah yang akan menjadikan Anda berguna dalam hal apa pun sesuai kehendak-Nya --DHR

7 Juli 2006

Yesus: Terunik di Dunia

Nats : Dalam [Yesus] berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian (Kolose 2:9)
Bacaan : Filipi 2:5-11

Seorang kristiani yang masih baru mengirim e-mail ke sebuah situs yang melayani tanya jawab mengenai iman. Ia berkata, "Saya bergumul dengan pernyataan orang kristiani lain bahwa Ye-sus Kristus adalah satu-satunya jalan menuju surga dan Allah. Apa yang akan terjadi terhadap mereka yang meyakini hal yang sebaliknya?"

Pertanyaan semacam ini menantang kita untuk menguji pandangan kita tentang Yesus. Tinjauan alkitabiah tentang Yesus dan keunikan-Nya dapat membantu menguatkan keyakinan kita bahwa Dialah satu-satunya jalan.

Yesus adalah Pribadi yang tak tertandingi dalam sejarah -- saat ini Dia berseru kepada kita untuk memercayakan kehidupan kita kepada-Nya. Yesus Kristus adalah:

Unik dalam hakikat: Dia adalah Allah sekaligus manusia (Yohanes 10:30). Unik dalam nubuatan: Tak ada kehidupan pemimpin lain yang dinubuatkan dengan begitu jelas dan akurat (Mikha 5:2). Unik dalam misi: Hanya Yesus yang datang untuk menyelamatkan kita dari dosa (Matius 1:21). Unik dalam kelahiran: Hanya Yesus yang dilahirkan dari seorang perawan (Matius 1:23). Unik dalam kemampuan: Hanya Yesus yang memiliki kuasa mengampuni dosa (Markus 2:10). Unik dalam keberadaan: Yesus telah ada sebelum permulaan zaman (Yohanes 1:1,2). Unik dalam kedudukan: Tak seorang pun setara dengan Allah (Filipi 2:5,6). Unik dalam pemerintahan: Hanya Yesus yang memerintah selamanya (Ibrani 1:8).

Dalam sejarah tak seorang pun yang seperti Yesus. Hanya Dia yang berhak mendapatkan kepercayaan kita, dan hanya Dialah jalan menuju Allah --JDB

7 Agustus 2006

Harapan Bagi yang Bersedih

Nats : Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita (Mazmur 62:9)
Bacaan : Mazmur 62

Anda pernah merasakannya sendiri, atau paling tidak mendengar orang lain menceritakan saat-saat mereka merasa sedih, atau sangat berputus asa. Lynette Joy, dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk christianwomentoday.com, mengemukakan beberapa langkah yang dapat kita lakukan pada saat-saat gelap itu untuk dapat berpaling kepada Yesus, Sang Terang Dunia:

o Terangilah hati Anda dengan doa. Curahkanlah isi hati Anda kepada Allah apabila Anda merasa terlalu berat (Mazmur 62:9). Serahkanlah kekhawatiran Anda kepada-Nya dalam doa (Filipi 4:6,7). Jika Anda menulis di buku harian atau menuliskan doa-doa Anda, maka Anda dapat melihatnya kembali di kemudian hari untuk menyaksikan bagaimana Tuhan telah menjawab doa Anda.

o Terangilah pikiran Anda dengan kebenaran. Bacalah firman Tuhan setiap hari, paling tidak selama beberapa menit. Izinkanlah kebenaran-Nya menantang, menyerap, dan mengubah pikiran-pikiran Anda yang tidak benar bahwa hidup itu tidak ada harapan (Mazmur 46:2; Roma 12:2).

o Terangilah hidup Anda dengan melakukan kehendak Allah. Dia menghendaki agar Anda menyembah dan melayani-Nya. Tetaplah terlibat di gereja tempat Anda dapat berbakti dan bersekutu bersama orang lain dan melayani-Nya (Ibrani 10:25). Hal ini akan membantu Anda untuk semakin menumbuhkan iman kepada Allah.

Apabila kita merasa kegelapan mulai melingkupi, kita perlu berpaling kepada Yesus, Sang Terang. Dia akan menjadi perlindungan (Mazmur 62:8,9) dan akan memberikan kekuatan kepada kita untuk terus maju -AMC

25 Agustus 2006

Rumput yang Lebih Hijau

Nats : Bagi kamu masing-masing berlaku: Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)
Bacaan : Efesus 5:22-33

Nancy Anderson mengatakan bahwa imannya berubah menjadi suam-suam kuku, sehingga ia memercayai kebohongan dunia: "Saya berhak untuk bahagia." Kebohongan ini membuatnya terlibat dalam hubungan cinta gelap yang nyaris mengakhiri perkawinannya. Ia menulis buku berjudul Avoiding The Greener Grass Syndome (Menghindari Sindrom Rumput yang Lebih Hijau) agar kisah ketidaksetiaannya tidak menjadi "kisah orang lain".

Di bukunya, Nancy menyarankan enam tindakan untuk membangun "pagar" yang melindungi perkawinan Anda dan membantu membentuk "perkawinan bahagia":

Mendengar-pasang telinga bagi pasangan Anda.

Memberikan dorongan-membangun citra pasangan Anda dengan memusatkan diri pada sifat-sifat baik.

Tanggal-memperingati pernikahan Anda dengan bermain dan tertawa bersama.

Berhati-hati-membuat batas-batas yang jelas.

Belajar-mempelajari pasangan Anda agar dapat sungguh-sungguh memahaminya.

Memuaskan-saling memenuhi kebutuhan satu sama lain.

Rumput di seberang pagar mungkin tampak lebih hijau, tetapi kesetiaan kepada Allah dan janji kepada pasangan Anda sajalah yang dapat memberikan damai di hati dan kepuasan.

Apabila Anda menghindari sindrom rumput yang lebih hijau dengan mencintai dan menghormati pasangan Anda, pernikahan Anda akan menjadi gambaran tentang hubungan Kristus dan jemaat bagi orang-orang di sekitar Anda (Efesus 5:31,32) -AMC

3 Oktober 2007

Lensa yang Retak

Nats : Tetapi kepada-Mulah, ya Allah, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku! (Mazmur 141:8)
Bacaan : Mazmur 141

Saya mulai mengenakan kacamata sejak berusia 10 tahun. Saya masih memerlukannya hingga saat ini karena mata saya yang sudah berumur 50 tahun lebih itu semakin lemah. Saat masih muda, saya berpikir bahwa kacamata itu mengganggu, terutama saat saya berolahraga. Suatu ketika, lensa kacamata saya retak saat saya sedang bermain softball. Dan, saya harus menunggu selama beberapa minggu untuk memperoleh gantinya. Selama masa penantian itu, semua yang saya lihat tampak miring dan tak jelas bentuknya.

Dalam kehidupan ini, dukacita hampir sama dengan lensa kacamata yang re-tak tadi. Dukacita menciptakan konflik di dalam diri kita, mengenai apa yang kita alami dan apa yang kita yakini. Dukacita dapat mengaburkan perspektif tentang hidup -- dan tentang Allah. Di saat seperti itu, kita membutuhkan Allah untuk memberi lensa baru yang dapat menolong kita melihat kembali dengan jelas. Penglihatan yang jelas itu biasanya dimulai pada saat kita mengarahkan pandangan kepada Tuhan. Sang pemazmur mendorong kita untuk melakukan ini: "Kepada-Mulah, ya Allah, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku" (141:8). Melihat Allah dengan jelas dapat menolong kita melihat peristiwa-peristiwa hidup dengan lebih jelas.

Saat kita menujukan pandangan kepada Tuhan di tengah-tengah dukacita dan pergumulan, kita akan memperoleh penghiburan dan pengharapan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dia akan menolong kita untuk dapat melihat kembali semuanya dengan jelas --WEC

24 November 2007

Orang Tanpa Nama

Nats : Nyata kemurahan Allah, Juru Selamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia (Titus 3:4)
Bacaan : Titus 3:1-7

Bertahun-tahun yang lalu, saya menerima sebuah bingkisan berbentuk tabung melalui pos. Bingkisan tersebut berisi tongkat pancing bambu buatan Jim Schaaf yang indah sekali dan kili-kili pancing Bill Ballan yang klasik -- peralatan pancing yang mahal dan harganya tidak terjangkau. Ada catatan tulisan tangan yang berbunyi, "Saya ingin melakukan sesuatu bagi Anda." Sampai sekarang ini, saya tidak tahu siapa yang mengirimkan bingkisan tersebut.

Penyair William Cowper juga punya sahabat yang tak ia kenal dan mengiriminya berbagai hadiah, tetapi tak pernah menyebutkan namanya. Komentar Cowper setiap kali menerima hadiah selalu sama, "Orang yang tak dikenal telah datang." Saya sering memikirkan ucapannya ketika memancing dengan tongkat pancing itu, "Orang yang tak dikenal telah datang." Saya selalu berterima kasih kepada sahabat yang tak saya ketahui namanya atas kebaikan dan kasihnya.

Sepanjang hidup, Allah mencurahkan kebaikan-Nya -- kebenaran, keindahan, persahabatan, kasih, dan tawa, serta banyak lagi. Dan, kita bersikap seakan kita tidak tahu dari mana asalnya. Allah telah menjadi Sahabat kita yang tidak dikenal.

Namun, Dia tak ingin selamanya tidak dikenal. Jika Anda ingin tahu lebih banyak lagi tentang Sahabat rahasia Anda, bacalah Injil, karena Dia tampak paling nyata dalam diri Yesus. Kasih selalu ada di dalam hati Allah, tetapi di dalam Yesus, kasih itu "kelihatan". Allah, yang dinyatakan dalam diri Yesus, adalah Sahabat Anda yang baik hati dan penuh kasih. Apakah Anda akan mengakui-Nya dan berterima kasih kepada-Nya hari ini? --DHR

7 Desember 2007

Ganti Nama Anda

Nats : Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan (Roma 10:13)
Bacaan : Kisah 3:1-16

Nama adalah sesuatu yang penting. Para orangtua mungkin menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencari dan memutuskan nama yang paling sempurna bagi bayi mereka. Kerap kali keputusan terakhir didasarkan pada bunyi, keunikan, atau artinya.

Ada seorang wanita yang memakai nama baru sebab ia tidak menyukai nama aslinya. Ia keliru menyangka bahwa dengan berganti nama, ia dapat mengubah nasibnya. Itu tidak mungkin terjadi, tetapi bagi orang-orang yang memercayai Yesus sebagai Juru Selamat dan sejak saat itu dikenali lewat nama-Nya, benar-benar terjadi sebuah perubahan menyeluruh.

Ada arti penuh kuasa yang terkait dengan nama Yesus. Para rasul melakukan mukjizat-mukjizat (Kisah Para Rasul 3:6,7,16; 4:10) dan mengusir setan dalam nama Yesus (Lukas 10:17). Mereka berbicara dan mengajar dalam nama Yesus. Mereka membaptis orang-orang percaya dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 2:38). Dan, hanya melalui nama Yesus-lah kita dapat sampai kepada Bapa (Kisah Para Rasul 4:12).

Ketika kita menjadi orang-orang kristiani, kita semua memiliki nama yang berharga ini. Dan, saat kita mengikut Kristus, kita mampu memantulkan cahaya-Nya ke kegelapan mana pun yang kita jumpai; di lingkungan kita, di tempat kerja kita, atau bahkan di rumah kita. Kita harus berdoa agar saat orang melihat kita -- mereka akan melihat Kristus.

Nama yang kita sandang dapat mempunyai makna atau arti. Akan tetapi, menyandang nama kristiani berarti mengalami sebuah perubahan hidup -- CHK

16 Maret 2008

Hanya Anugerah

Nats : Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibrani 9:22)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Ketika berusia 24 tahun, Ernest Gordon menjadi seorang tahanan perang di bawah kekuasaan Jepang. Bersama tahanan lainnya, mereka dipaksa membangun jalan kereta api di hutan Birma. Proses ini memakan korban sekitar 16.000 jiwa. Namun, Gordon bertahan hidup, malahan ia makin meresapi arti hidup dan pengorbanan. Suatu hari, seorang rekannya menyerahkan diri agar komandannya tidak dibunuh. Akibatnya orang itu dianiaya dengan sangat kejam melalui penyaliban. Cucuran darah orang itu mengingatkannya bahwa penebusan berharga mahal.

Pada dasarnya kita semua sudah mati karena pelanggaran dan dosa. Akibatnya, kita memerlukan seseorang yang mampu menolong kita agar tetap hidup. Dalam hal ini, darah menjadi unsur terpenting sebagai syarat kehidupan. Tanpa penumpahan darah, pengampunan tidak akan terjadi. Inilah standar yang ditetapkan agar seseorang bisa dihidupkan kembali dari kematian akibat dosa.

Kebangkitan Yesus dari kematian menjawab bagaimana kita bisa memperoleh hidup. Kita tak mungkin diselamatkan karena perbuatan baik, karena kita sudah mati karena dosa. Mungkin banyak orang dikatakan "baik". Namun, apakah yang sesungguhnya dapat disebut "baik"? Kriteria"baik" menurut kacamata Sang Penebus adalah bila seseorang percaya kepada anugerah kasih Allah dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Inilah pemberian Allah, bukan usaha kita.

Semuanya hanya oleh anugerah. Tak satu pun usaha kita bisa menyelamatkan. Setiap perbuatan baik kita hanyalah kesaksian bahwa kita sudah memiliki hidup yang baru -BL

19 Maret 2008

Salib dan Hukuman

Nats : Sebab adalah anugerah, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung (1Petrus 2:19)
Bacaan : 1Petrus 2:18-25

"Saya memikul salib ketika dipenjara setelah mencuri ayam". Pernyataan ini sebenarnya tidak tepat. Walau sama-sama punya efek penderitaan, hukuman jelas berbeda dengan salib. Hukuman adalah penderitaan karena Anda bersalah, sedangkan salib adalah penderitaan yang dialami justru karena Anda ingin hidup benar.

Bacaan hari ini berisi nasihat Petrus bagi para hamba. Sebagai hamba, status sosial mereka rendah. Mereka mengalami stres secara psikis dan fisik. Namun, Petrus meminta mereka membedakan penderitaan karena dosa dan karena perbuatan baik. Yang terakhir, disebut Petrus sebagai kasih karunia. Bagaimana logikanya? Petrus mengungkap bahwa Kristus pun menderita dengan cara dan dalam realitas yang sama. Dia menderita bukan karena bersalah, tetapi karena Dia baik dan lurus dalam perbuatan serta perkataan (ayat 22). Dan, Kristus tak berdosa dengan tak balas mencaci, mengancam, atau menghakimi. Dialah teladan salib, teladan kasih karunia. Dengan cara inilah luka-luka Kristus menjadi obat bagi kita (ayat 24).

Penderitaan tak perlu dicari, ia bisa datang sendiri di sepanjang hari dalam banyak rupa dan duri. Hasil mengolah penderitaan ini bisa berbeda-beda. Bila salah mengolah, hasilnya bisa memperparah kehidupan yang sudah payah. Namun, bila diolah dengan benar, maka setiap luka karena penderitaan pun terobati. Ini akan terjadi bila Anda senantiasa melakukan kebaikan dalam segala hal, dan teguh mengingat serta merayakan teladan salib Kristus ketika terluka oleh penderitaan. Siapa yang berani masuk dalam "kawah penggemblengan batin" akan menemukan Tuhan (ayat 25) -DKL

29 April 2008

Panggilan Seorang Pelayan

Nats : Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8)
Bacaan : Yohanes 6:32-40

Suatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, "Ibu telah melayani kaum miskin di Kolkata, India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?" Ibu Teresa menjawab, "Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ...."

Setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasil. Sebab jika panggilannya adalah keberhasilan, ia akan sangat riskan jatuh pada kesombongan atau penghalalan segala cara. Pelayan Tuhan dipanggil untuk setia. Melakukan tugas pelayanannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Semampunya, bukan semaunya.

Itulah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Menurut ukuran dunia, Tuhan Yesus bisa dibilang tidak berhasil semasa hidup-Nya. Betapa tidak, Dia harus menjalani hukuman salib. Satu murid-Nya mengkhianati-Nya. Satu murid lagi menyangkali-Nya. Dan, para murid-Nya yang lain kocar-kacir meninggalkan-Nya dan bersembunyi. Tiga tahun berkarya, ujung-ujungnya hanya begitu. Namun, Dia toh tetap setia menjalankan tugas pelayanan-Nya; melaksanakan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34). Dia tidak undur sedikit pun. Itu sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia (ayat 9). Kesetiaan-Nya membuahkan keselamatan manusia.

Dalam melayani, bisa saja kita melihat bahwa apa yang kita lakukan seolah-olah tidak ada hasilnya. Bila kita menghadapi situasi demikian, jangan undur. Tetaplah setia. Kesetiaan kita dalam melayani Tuhan tidak akan pernah sia-sia -AYA

4 Mei 2008

Ibadah Sebatas Kulit

Nats : "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8)
Bacaan : Matius 21:18-22

Orang Farisi dan ahli Taurat adalah para pengajar dan penafsir Perjanjian Lama, khususnya kelima kitab Musa atau yang biasa disebut Pentateukh. Mereka sangat ketat memegang dan menjalankan aturan keagamaan dan adat istiadat, bahkan sampai begitu detail. Misalnya, tentang membawa beban pada Hari Sabat, tentang mencuci tangan, membasuh diri, atau mempersembahkan korban, semuanya punya aturan yang sangat terperinci. Orang yang melanggar atau yang tidak dapat menjalankannya dengan benar dan penuh bisa dikucilkan, dianggap tidak bermoral, bahkan dicap sebagai orang berdosa.

Tuhan Yesus sangat mengecam sikap tersebut. Sebab ibadah kepada Tuhan bukan hanya menyangkut aturan keagamaan (kultis), melainkan juga berkenaan dengan kehidupan sehari-hari (etis). Bukan hanya soal rajin ke gereja, berdoa, berpuasa, memberi persembahan, melainkan juga soal perilaku dan sikap hidup. Apalah artinya rajin ke gereja, tekun berdoa dan berpuasa, tidak pernah absen memberi persembahan, jika kita menutup mata terhadap ketidakadilan, tindakan kita jauh dari nilai kesetiaan, dan hati kita dipenuhi kesombongan? (Mikha 6:8).

Tuhan tidak ingin anak-anak-Nya melakukan ibadah hanya sebatas kulit, tidak mendarah daging; hanya menjalankan, tetapi tidak menjiwai. Sekadar menjadi orang-orang yang rajin mengikuti berbagai aturan keagamaan, tetapi tidak mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang seperti ini seumpama pohon ara yang berdaun lebat, tetapi tidak berbuah (Matius 21:19). Tuhan Yesus pun mengutuknya -AYA

18 Juni 2008

Sapaan Damai

Nats : Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai (Yakobus 3:18)
Bacaan : Yakobus 3:13-18

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara sejak perang Korea lebih dari setengah abad lalu, tidak pernah reda. Bahkan, isu nuklir Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir membuat hubungan mereka semakin kritis. Upaya diplomasi melalui perundingan berjalan sangat alot.

Atas prakarsa bersama, rombongan musik New York Philharmonic dari Amerika, menggelar konser musik di Teater Agung Pyongyang, ibukota Korea Utara, pada tanggal 26 Februari 2008. Konser yang diusung oleh tim berjumlah 350 orang itu mendapat sambutan luar biasa. Banyak orang yang menyaksikan langsung atau melalui siaran televisi, terharu dan meneteskan air mata. Konser itu berhasil merengkuh hati warga Korea. Rupanya cara ini telah menjadi sapaan damai yang lebih ampuh ketimbang gunboat diplomacy (diplomasi ancaman perang) dan ancaman embargo.

Di dunia ini, sebuah dalil berkata, "Untuk menegakkan perdamaian, kita harus siap berperang." Namun kiranya dalil ini tak dianut oleh anak-anak Tuhan yang memiliki hikmat "dari atas". Firman Tuhan mengajak kita untuk menegakkan perdamaian dengan cara yang berkebalikan dengan dalil dunia; kita harus menunjukkan kelemahlembutan (ayat 13)! Kita juga harus rela menghilangkan segala keirihatian, egoisme, dan sifat memegahkan diri—yang kerap kali menjadi pemicu ketidakdamaian (ayat 16). Selanjutnya kita diminta untuk memiliki hati yang murni, pendamai, peramah ... (ayat 17). Melalui jalan inilah kita akan menuai damai (ayat 18). Inilah tantangan kita hari ini; menjadi pembawa damai di mana pun kita berada —NDA

26 Juni 2008

Bila Semua Mengecewakan

Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3:18)
Bacaan : Habakuk 3:17-19

Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana sehingga mengganggu kenyamanan dan kestabilan, bagaimana kita menghadapinya? Doa Habakuk ini bukan doa yang nyaman. Realitas hidup Habakuk adalah ketidakadilan, penindasan yang merajalela. Payahnya, Tuhan seolah-olah membiarkan semuanya itu. Tidak ada keadilan! (Habakuk 1:2,3). Karenanya Tuhan menghukum Israel dengan perantaraan bangsa lain. Namun, bangsa lain yang menjarah ini kemudian akan berhadapan sendiri dengan murka Tuhan (2:6-20). Suasana benar-benar kelam. Di sinilah puisi doa Habakuk teruntai. Itulah sebabnya doa ini dinyanyikan dalam nada ratapan (ayat 3).

Habakuk memulai puisi ratapan tentang hidup yang mengkhawatirkan dengan merefleksikan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan-kekuatan mitologis (ayat 1-16). Masalahnya, kita sering menganggap kuasa-kuasa lain lebih berjaya daripada Tuhan. Kuasa Tuhan, entah bagaimana, kurang berasa. Di sinilah Habakuk menjadi contoh bagi kita. Perhatikan ungkapan sang nabi di akhir puisi doanya. Pesannya amat kuat dan jelas. Barangkali dapat dibahasakan ulang bahwasanya iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-sorak, beria-ria di dalam Allah penyelamatku."

Apakah dimensi iman yang sedewasa ini menjadi milik kita? —DKL

12 Agustus 2008

Mengutuki Kegelapan

Nats : Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka (Kisah Para Rasul 16:25)
Bacaan : Kisah Para Rasul 16:16-26

Sebuah pepatah Tiongkok mengatakan, "Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan". Sungguh nasihat sederhana yang bijak! Sayangnya kerap kali kita hanya mengetahui kebenaran ini, tetapi tidak menghayatinya. Ketika kegelapan itu datang, kita tetap saja tidak berusaha mengerem diri dari mengeluh, mengaduh, dan berpikir negatif. Padahal semua itu sama sekali tak berguna.

Paulus dan Silas mendapat masalah yang sangat serius dan mengancam nyawa. Mereka mengusir roh yang merasuki seorang wanita tukang tenung. Akibatnya, wanita itu tidak bisa menghasilkan uang lagi bagi para tuannya. Keduanya lalu dituntut. Mereka dicambuk dan dimasukkan penjara. Ruang penjara paling tengah, tempat paling gelap dan dingin. Masih pula kaki mereka pun dipasung. Namun, di tengah kesakitan karena luka deraan cambuk dan ketidaknyamanan karena ikatan rantai dan pasungan -- jauh dari mengeluh dan mengumpat, mereka menyanyikan puji-pujian bagi Allah! Paulus dan Silas pun dikuatkan. Lebih dari itu, Allah membebaskan mereka secara ajaib (ayat 26)!

Mungkin kita tengah didera berbagai ketidaknyamanan-masalah, penyakit, kesedihan, kecemasan-itu semua bisa membuat kita mengeluh dan mengasihani diri. Cobalah resep Paulus dan Silas. Daripada mengarahkan pikiran pada hal-hal negatif yang makin menyusahkan, pilih satu lagu pujian dan nyanyikanlah sepenuh hati. Pujian kepada Allah akan mengalihkan pikiran dan hati dari masalah kepada Allah yang sanggup menjawab persoalan kita dan menghibur kita! Mari menyanyi dan "menyalakan lilin"! -AW



TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA