Topik : Peperangan Rohani

28 Januari 2003

Waspadalah!

Nats : Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati- hatilah supaya ia jangan jatuh! (1Korintus 10:12)
Bacaan : 1Korintus 10:1-13

Beberapa tahun yang lalu ketika sedang berjalan-jalan di Gunung Rainier, Washington, saya dan istri saya Carolyn tiba di sebuah sungai es yang sedang meluap. Di situ telah terpasang balok datar yang melintang di sungai sebagai jembatan darurat. Namun jembatan darurat itu tak ada pegangannya, lagi pula licin.

Menyeberang di atas balok yang basah tampak sangat menakutkan, sehingga Carolyn tidak ingin menyeberang. Namun akhirnya ia mendapat keberanian dan perlahan-lahan ia berjalan setapak demi setapak dengan hati-hati menuju seberang.

Sewaktu kembali kami harus berjalan di atas balok itu lagi, dan ia menyeberang dengan kehati-hatian yang sama. "Apa kau takut?" tanya saya. "Tentu saja," jawabnya, "tetapi itulah yang membuatku selamat." Sekali lagi, karena sadar akan bahaya, ia berhasil menyeberang dengan selamat.

Sering kali dalam hidup ini kita dihadapkan pada banyak bahaya moral. Kita sebaiknya selalu berpikir bahwa sewaktu-waktu kita bisa jatuh. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh" (1 Korintus 10:12). Dalam berbagai kesempatan dan keadaan, siapa pun dari kita dapat jatuh dalam dosa apa pun. Sungguh bodoh bila kita berpikir takkan pernah jatuh.

Kita harus berjaga-jaga, berdoa, dan mempersenjatai diri di setiap kesempatan, yakni dengan percaya sepenuhnya kepada Allah (Efesus 6:13). "Sebab Allah setia" (1 Korintus 10:13), dan Dia akan memberi kita kekuatan agar tidak jatuh --David Roper

5 Februari 2003

Allah Pemberi Semangat

Nats : Engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu (Hakim-hakim 7:11)
Bacaan : Hakim-hakim 7:1-23

Orang Midian dan sekutunya menyerang Israel. Saat itu adalah zaman hakim-hakim, dan Gideon hanya mampu mengumpulkan 32.000 orang untuk melawan balatentara yang "seperti belalang banyaknya" (Hakim-hakim 7:12). Apalagi Allah mengurangi jumlah mereka menjadi 300 orang (ayat 2-7). Gideon ketakutan, maka Allah mengirimnya untuk menyelinap ke perkemahan musuh di malam hari. Dengan mengendap-endap, pemimpin balatentara Israel itu mendengar seorang tentara yang menceritakan mimpinya kepada kawannya. (ayat 13,14). Sekeping roti jelai terguling masuk ke perkemahan orang Midian, dan meruntuhkan salah satu kemah mereka. Kawannya melihat bahwa mimpi itu adalah pertanda bahwa Gideon pasti memenangkan pertempuran.

Gideon memperoleh dorongan semangat yang besar. Setelah sujud menyembah Allah, ia kembali ke perkemahannya dan mengatur pasukannya yang berjumlah 300 orang. Sambil membawa sangkakala dan suluh, mereka berjalan menuju perkemahan orang Midian yang pasukan jauh lebih banyak (ayat 15-22).

Sebagai pengikut Kristus, kita masih harus berperang. Kita berperang melawan roh-roh jahat (Efesus 6:10-12). Mereka melemahkan iman dan meruntuhkan kekuatan kita. Kita juga berperang melawan diri sendiri; baik kelemahan, ketakutan, atau keraguan kita (Roma 7:15-25). Kita bisa saja merasa patah semangat.

Namun, Allah adalah Pemberi Semangat yang hebat. Ketika tekad kita melemah atau pandangan kita kabur, Dia akan memberikan kekuatan melalui kuasa-Nya (Efesus 3:16), meskipun musuh kita lebih banyak dari sekawanan belalang --Dave Egner

15 Mei 2003

Saya Tertipu

Nats : [Iblis] adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44)
Bacaan : Yohanes 8:34-47

Suatu senja, saya dan istri saya baru saja menyeberangi Jembatan Charles yang terkenal di Prague ketika seorang pria mendekati kami dengan menggenggam uang di tangannya. "Empat puluh dua koruna [mata uang Cekoslowakia] untuk satu dolar," katanya. Nilai tukar resminya adalah 35 koruna untuk satu dolar. Maka saya menukarkan uang 50 dolar dengan 2.100 koruna.

Malamnya saya menceritakan keberuntungan itu kepada anak lelaki saya. "Yah, seharusnya saya dulu memperingatkan Ayah," katanya dengan nada menyesal. "Jangan pernah menukar uang di jalan." Lalu kami mengamati lembaran-lembaran uang itu. Lembaran yang bernilai 100 koruna memang masih bagus, tetapi dua lembaran yang bernilai 1.000 koruna sudah tidak ada nilainya. Kelihatannya seperti uang Cekoslowakia, tetapi sebenarnya adalah uang kertas Bulgaria yang sudah tidak beredar lagi. Saya telah ditipu, dan dirampok!

Setan menggunakan taktik yang sama (Yohanes 8:44). Ia menggunakan tipu muslihat dosa, dengan memanfaatkan kesenangan sementara (Ibrani 11:25) untuk menyembunyikan kesengsaraan yang selalu menyertainya. Dosa mungkin menarik, bahkan menawarkan sesuatu yang benar-benar kelihatan baik luar dalam. Namun, itu hanyalah tipuan.

Pertahanan terbaik kita melawan tipu muslihat adalah pengetahuan yang semakin mendalam akan firman Allah. Dengan mengikuti teladan pemazmur, kita akan terhindar dari tipuan dosa: "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau" (Mazmur 119:11) --Dennis De Haan

20 Agustus 2003

Yesus Lebih Besar

Nats : Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1Yohanes 4:4)
Bacaan : Lukas 11:14-23

Masyarakat Tiongkok di Asia Tenggara dan beberapa desa di Negeri Tiongkok selalu merayakan Festival Roh selama sebulan penuh. Mereka percaya bahwa dalam bulan itu roh-roh orang mati kembali ke dunia untuk berkeliaran di antara orang-orang hidup. Karena itu mereka membakar dupa dan uang-uangan, menyiapkan pesta, dan mengadakan pertunjukan di panggung terbuka--semuanya untuk menyenangkan roh-roh itu.

Sebagai seorang anak yang dibesarkan di Singapura, saya dididik untuk takut kepada roh-roh tersebut. Suatu ketika saya menderita demam saat festival sedang berlangsung. Dan orang-orang memberi tahu bahwa tanpa disadari saya pasti telah menabrak beberapa dari roh-roh itu dan menyinggung perasaan mereka.

Sekarang saya tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang kuasa Yesus atas dunia Setan dan para pengikutnya, sehingga saya pun dibebaskan dari segala ketakutan yang terdahulu. Saya telah mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka saya tidak perlu berdamai atau melawan roh-roh jahat itu sendirian.

Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas dunia roh saat Dia mengusir roh-roh jahat (Lukas 11:14-23). Saat Dia mati di kayu salib bagi kita dan bangkit dari kubur, Yesus menang atas Setan dan menjamin kebinasaannya (Kolose 2:15; Wahyu 20:10). Alkitab memberi kepastian bagi para pengikut Kristus bahwa, "Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia" (1 Yohanes 4:4).

Kita tidak perlu takut terhadap setan atau roh jahat. Yesus Tuhan kita lebih besar dari itu! --Albert Lee

11 Februari 2004

Pengaruh yang Nyata

Nats : Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan ... penghulu-penghulu dunia yang gelap ini (Efesus 6:12)
Bacaan : Daniel 10

John Wesley percaya bahwa bukan khotbah-khotbahnya, melainkan doa umat Allahlah yang menyebabkan ribuan orang datang kepada Kristus melalui pelayanannya. Oleh sebab itu ia berkata, "Allah tidak melakukan apa pun selain menjawab doa umat-Nya." Apakah pernyataan ini berlebihan? Ya. Tetapi, fakta membuktikan bahwa doa kita adalah senjata ampuh dalam peperangan antara Allah dan Setan.

Pada bacaan Kitab Suci hari ini, Daniel sangat sedih atas pewahyuan mengenai masa depan Israel, sehingga yang da-pat ia lakukan hanyalah berdoa dan berpuasa. Tiga minggu kemudian datanglah utusan surgawi, mengatakan bahwa Allah telah mengutusnya ketika Daniel berdoa, tetapi pemimpin kerajaan orang Persia menentangnya (Daniel 10:13). "Pemimpin kerajaan" ini adalah roh jahat yang bertugas memengaruhi penguasa Persia untuk menentang rencana Allah. Ia telah menghalangi utusan Allah, hingga Mikhael, penghulu malaikat yang terkemuka, datang memberikan pertolongan.

Pertentangan antara yang baik dan yang jahat terus berlangsung dalam dunia roh yang tidak terlihat. Paulus mengingatkan bahwa pertarungan ini melibatkan orang kristiani. Ia mendaftar perisai dan senjata rohani yang kita butuhkan untuk memenangkan peperangan ini (Efesus 6:13-17), dan kemudian ia menambahkan supaya kita berdoa setiap waktu (ayat 18).

Doa-doa kita dapat memberi pengaruh yang besar terhadap hasil peperangan rohani ini. Oleh sebab itu, hendaklah kita setia berdoa demi memperjuangkan perkara yang baik (1Timotius 1:18) --Herb Vander Lugt

2 Mei 2005

Mangkuk Sup Iblis

Nats : Apabila [iblis] berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44)
Bacaan : Matius 4:1-11

Musim panas yang lalu, ketika saya berjalan-jalan bersama menantu saya di taman nasional, kami memerhatikan tanda petunjuk jalan yang mengarah ke suatu tempat yang disebut Mangkuk Sup Iblis. Karena merasa penasaran, kami akhirnya menuju tempat tersebut. Sambil berjalan ke sana, kami bercanda mengenai sup macam apa yang akan ditemukan di dalam mangkuk tersebut.

Sesampainya di sana, kami hanya menemukan tanah luas yang ambles. Tanah itu hanya semacam danau yang dalam tanpa air. Kami agak kecewa karena ternyata Mangkuk Sup Iblis tidak berisi apa-apa selain pepohonan dan semak-semak.

Mangkuk Sup Iblis adalah nama yang tepat untuk suatu bentuk yang menawarkan hal yang menarik, tetapi pada akhirnya justru tidak memberikan apa-apa karena iblis adalah penipu. Menunya adalah mangkuk tipu muslihat yang hanya memberikan janji-janji kosong dan impian-impian yang gagal di jalan.

Iblis memulai tipu muslihatnya dengan menampilkan kesia-siaan sebagai sesuatu yang menarik ketika menjebak Hawa di Taman Eden, dan ia belum mengubah rencananya. Ia mencoba tipu muslihatnya terhadap Yesus, tetapi Tuhan menolak dan "Iblis meninggalkan Dia" (Matius 4:9-11).

Lalu bagaimana Anda bisa mengetahui kalau sedang disodori salah satu tipu muslihat Setan? Ujilah gagasan-gagasan baru dengan Kitab Suci. Tanyakan kepada orang yang Anda yakini sebagai orang yang saleh dan bijaksana. Dan berdoalah.

Jangan jatuh ke dalam mangkuk tipu muslihat iblis yang kosong —JDB

8 Desember 2005

Gunakan Senjata Anda

Nats : Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat (Efesus 6:16)
Bacaan : Efesus 6:10-20

Pada saat mengunjungi sebuah museum, saya terpesona oleh sebuah catatan yang memberikan uraian tentang sekelompok gladiator Romawi-orang Retiarii-yang bertarung, kerap kali sampai mati, hanya dengan menggunakan sebuah jaring dan trisula. Dari antara semua senjata menakutkan dan mematikan yang tersedia, orang-orang ini hanya diberi dua benda, yaitu sebuah jaring dan trisula. Saat memasuki arena, kelangsungan hidup mereka bergantung pada seberapa baik mereka menggunakan senjata.

Dalam peperangan rohani kita sebagai orang kristiani, Allah telah memilihkan perlengkapan senjata bagi kita. Hal ini dijelaskan demikian: “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (2 Korintus 10:3,4).

Kita perlu berhenti sejenak dan memandang diri kita di dalam “cermin” Efesus 6:10-18 agar dapat melihat apakah kita diperlengkapi dengan baik dengan “seluruh perlengkapan senjata Allah”. Mulai dari ketopong keselamatan hingga kasut kerelaan, kita hendaknya dilindungi dan dipersenjatai untuk sebuah peperangan yang tidak bergantung pada kekuatan manusia, namun tergantung pada kuasa Allah.

Apabila kita menyadari sifat peperangan itu dan kuasa yang melawan kita, alangkah bodohnya jika kita memasuki pertarungan dengan hal-hal yang lain kecuali senjata yang diberikan oleh Allah -DCM

28 Mei 2006

Malaikat Musik

Nats : Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang (2Korintus 11:14)
Bacaan : Efesus 6:10-18

Dalam drama musikal karya Andrew Lloyd Webber The Phantom of the Opera, seorang gadis penyanyi paduan suara bernama Christine Daae mendapat latihan vokal dari seorang pemusik misterius yang disebutnya sebagai "Malaikat Musik". Christine percaya bahwa pemusik ini adalah malaikat yang dijanjikan oleh ayahnya yang sedang mendekati ajal, untuk dikirimkan kepadanya guna menyempurnakan latihan musiknya.

Seiring bergulirnya cerita, kita tahu bahwa pelatih misterius gadis ini ternyata orang gila yang ingin menyeretnya ke dunia bawah tanah yang ganjil di bawah gedung opera. Yang semula disangka si gadis sebagai perantara supranatural kiriman sang ayah terkasih, ternyata adalah orang gila yang ingin memilikinya untuk maksud-maksud pribadi. "Malaikat Musik" menceritakan tentang kejahatan yang disamarkan dalam kebaikan.

Orang yang percaya kepada Kristus juga menghadapi sosok jahat yang sering menyamarkan diri. Salah satu strategi penting yang digunakan Setan ialah menyamar sebagai seseorang yang baik. Paulus berkata kepada kita, "Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang" (2Korintus 11:14). Kata Yunani menerjemahkan kata "menyamar" sebagai "berganti rupa, memakai kedok, atau menyamarkan diri sendiri".

Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi strategi iblis, Allah telah menyediakan semua senjata yang kita perlukan untuk mempertahankan diri. Dengan mengenakan selengkap senjata Allah, kita akan membuka kedok si jahat yang melawan kita dan menguatkan langkah rohani kita (Efesus 6:10-18) --HDF

10 Oktober 2007

Pihak yang Menang

Nats : Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka (Kolose 2:15)
Bacaan : Kolose 2:6-15

Zaman sekarang, hanya sedikit orang yang memercayai ide penyembahan berhala bahwa dunia berada di bawah kendali para dewa perang, misalnya Artemis, Pan, dan Apollo. Namun demikian, orang-orang skeptis yang sangat terpelajar ternyata malah mengakui keberadaan "kekuatan-kekuatan" yang tidak mampu kita kendalikan. Sebagai contoh, mereka mengaitkan ketidakmampuan kita untuk mencegah terjadinya kekerasan di berbagai tempat di dunia ini dengan sesuatu yang mereka sebut "kekuatan internasional". Dan mereka berbicara tentang "kekuatan ekonomi" yang berada di luar kendali kita. Misalnya, jutaan orang masih menderita kelaparan meskipun tersedia cukup makanan di dunia ini bagi setiap orang di muka bumi.

Alkitab dengan sangat gamblang mengakui keberadaan makhluk roh atau kekuatan yang tidak kelihatan, tetapi sangat nyata. Di dalam Efesus 6:11,12, Rasul Paulus menyebutkan bahwa peperangan kita yang terutama adalah melawan pasukan malaikat pemberontak yang dipimpin oleh Setan. Kabar buruknya adalah para malaikat pemberontak itu ternyata lebih pintar dan kuat daripada kita. Namun, kabar baiknya adalah Tuhan Yesus telah mengalahkan mereka melalui peristiwa kematian-Nya di atas kayu salib: "Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka" (Kolose 2:15).

Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita, tetapi kita tidak perlu merasa gentar. Kita yang telah percaya kepada Yesus, berada di pihak yang menang --HVL

28 Januari 2008

Jangan Remehkan!

Nats : Sadarlah dan berjaga-jagalah! (1Petrus 5:8)
Bacaan : 1Raja 11:1-9

Banyak hal besar berawal dari hal kecil. Kebakaran hutan tidak jarang berawal dari sebuah puntung rokok menyala yang dibuang sembarangan. Tawuran yang melibatkan dua fakultas di sebuah perguruan tinggi tidak jarang berawal dari "tatap-tatapan" dua mahasiswanya. Para pendaki gunung tahu persis, tantangan yang paling merepotkan mereka bukan jalanan terjal atau jurang curam, tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke kaus kaki mereka.

Begitu juga dengan dosa. Jangan bermain-main dengan dosa sesepele apa pun. Sebab, "yang kecil" itu justru bisa menjadi pintu masuk "yang besar". Narkoba tidak jarang awalnya adalah kebiasaan merokok, dan kebiasaan merokok awalnya dari coba-coba sebatang dua batang rokok. Perzinaan atau pemerkosaan tidak jarang berawal dari film porno. Pembunuhan sadis tidak jarang berawal dari ucapan yang mengejek.

Hal ini juga terjadi pada Raja Salomo. Siapa tidak kenal Salomo, Raja Israel yang terkenal bijaksana? Kerajaan Israel mencapai puncak keemasan ketika berada di bawah pemerintahannya. Betul, kerajaannya adalah warisan Daud, ayahnya, tetapi kita tidak dapat memungkiri kehebatan Salomo dalam menangani masalah-masalah kenegaraan. Tragisnya, kebesaran Salomo justru kandas karena ia tidak tahan menghadapi "godaan" istri-istrinya. Bacaan kita mencatat akhir tragis perjalanan Salomo.

Dalam segala keadaan, selalu mawas diri itu perlu. Seperti apa yang dikatakan Rasul Petrus, "Sadarlah dan berjaga-jagalah!" (1Petrus 5:8). Jangan karena merasa bahwa sesuatu itu hanya masalah "kecil", lalu kita membiarkan diri dijerat olehnya --AYA

17 Juni 2008

Jerih Lelah

Nats : Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mazmur 126:5)
Bacaan : Mazmur 126

Beberapa waktu lalu, harian Kompas pernah memuat kisah tentang Mak Tino, seorang perempuan tua berusia 63 tahun asal Cilacap. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengumpul beras sisa yang jatuh dari truk pengangkut beras di pasar induk Cipinang. Rata-rata per hari ia bisa mengumpulkan 5 kilogram beras, yang dijualnya untuk makanan ayam seharga lima ribu rupiah. Dengan pendapatan seadanya itu, ia mampu menyekolahkan tiga anaknya sampai lulus SMP di kampungnya. Mak Tino tidak pernah menyesali jalan hidupnya. Ia sadar betul, itulah "bagian perjuangan" yang harus ia jalani.

Pada dasarnya, hidup adalah perjuangan; yakni perjuangan untuk meraih cita-cita, perjuangan untuk mewujudkan harapan. Selain itu kita juga harus berjuang untuk memenuhi panggilan hidup beriman; yakni menjadi berkat bagi dunia ini, serta membuat dunia di mana kita berada menjadi tempat yang lebih baik (Kisah Para Rasul 13:47). Sebagaimana dalam sebuah perjuangan pada umumnya, berlaku pula pepatah ini: "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."

Jangan berkecil hati kalau karena mengejar cita-cita kita harus berlelah-lelah. Jangan patah hati kalau karena menanti-nanti harapan kita harus berpayah-payah. Dan jangan tawar hati kalau karena memperjuangkan iman kita harus bersusah-susah. Menaburlah terus dengan tekun dan teguh. Jerih lelah kita tidak akan sia-sia. Inilah yang dinyatakan oleh pemazmur dalam bacaan kita. Bahwa akan ada saatnya, kita menuai buah hasil kita "menabur benih" (ayat 6) —AYA

28 Juli 2008

Rasa Cinta

Nats : Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari (Mazmur 119:97)
Bacaan : Mazmur 119:97-105

Rasa cinta itu unik. Cinta membuat hati sepasang kekasih tak terpisahkan seperti magnet. Keduanya merasa ingin selalu dekat. Jika berpisah beberapa saat saja, rasa rindu segera menyerang. Siang dan malam, wajah sang kekasih selalu terbayang. Apa yang sang kekasih ucapkan selalu terngiang. Hati menjadi resah, sebelum tiba waktunya mereka berjumpa lagi.

Dalam Mazmur 119, Daud berbicara tentang cinta. Namun bukan cinta pada seseorang, melainkan cinta pada firman Tuhan. Di matanya, merenungkan dan mempraktikkan hukum Tuhan bukanlah sebuah beban, melainkan justru sebuah kesukaan. Hobi. "Betapa kucintai taurat-Mu!" katanya. Ibarat orang sedang jatuh cinta, Daud merenungkan firman itu siang dan malam. Apa yang membuatnya jatuh cinta pada firman Tuhan? Daud menemukan bahwa firman Tuhan itu begitu ampuh. Firman itu menjadikannya orang bijak yang disegani siapa pun (ayat 99-101). Firman itu memberinya janji yang manis dan menghibur saat susah (ayat 103). Firman itu menolongnya membenci apa yang Tuhan benci (ayat 104) dan mengarahkan masa depannya ke arah yang Tuhan mau (ayat 105). Bagi Daud, orang yang tidak hidup dekat dengan firman, mengalami kerugian besar!

Seberapa besar rasa cinta Anda pada firman Tuhan? Bagi Anda, apakah membaca Alkitab merupakan kesukaan atau beban? Pandanglah firman Tuhan sebagai e-mail harian penting dari Tuhan bagi Anda. Ada banyak janji, nasihat, petunjuk hikmat yang Tuhan ingin sampaikan kepada Anda setiap hari. Baca dan renungkan. Jangan dilewatkan, nanti kita yang rugi -JTI



TIP #07: Klik ikon untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA