Index
: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Bapa | Baru Lahir | Beban | Belas Kasih | Berhala | Berkat Dari | Biaya | Cobaan/Ujian | Depresi | Disiplin dari | Doa

Topik : Berkat Dari

19 November 2002

Apakah Saat yang Baik Itu Buruk?

Nats : Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu- ribu orang ... besar dalam rancangan-Mu dan agung dalam perbuatan-Mu (Yeremia 32:18,19)
Bacaan : Yeremia 32:1,2,16-30

Dalam banyak buku dan khotbah, orang-orang kristiani sering kali ditanya apakah iman mereka cukup kuat untuk bertahan di saat-saat yang buruk. Namun, saya mengajukan pertanyaan yang lebih baik pada diri saya sendiri: "Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan di saat-saat menyenangkan?"

Saya sering kali melihat orang-orang yang menjauh dari Tuhan, bukan saat hidup mereka sulit, tetapi justru saat hidupnya berjalan dengan baik. Saat itulah Allah tampaknya tidak diperlukan lagi.

Kita terlalu sering menafsirkan berkat-Nya sebagai tanda atas kebaikan kita, bukan kebaikan-Nya. Kita menganggap diri layak mengalami semua kejadian yang menyenangkan. Namun, kita tidak dapat memahami bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui hal-hal baik yang telah diberikan-Nya untuk kita.

Dalam bukunya The Problem of Pain (Hal Penderitaan), C.S. Lewin menulis, "Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan-kesenangan kita ... tetapi Dia berteriak melalui penderitaan kita." Jika kita menolak mendengar bisikan-Nya, Dia mungkin akan berteriak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Meskipun Allah telah memberi mereka "suatu negeri yang berlimpah- limpah susu dan madunya," tetapi mereka berpaling dari-Nya, sehingga Dia "melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini" (Yeremia 32:22,23).

Kebaikan Allah menjadi alasan untuk menaati-Nya, dan bukan kesempatan untuk tidak mematuhi-Nya. Ketika kita sadar akan hal itu, maka hubungan kita dengan Tuhan tidak melemah, bahkan akan semakin dikuatkan, oleh anugerah dan berkat-Nya –Julie Ackerman Link

15 Januari 2003

Siapa Pemilik Rumah Anda?

Nats : Punya-Mulah ... segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! (1Tawarikh 29:11)
Bacaan : 1Tawarikh 29:10-15

Saya dan istri saya membeli rumah pertama kami ketika kami pindah ke Grand Rapids, Michigan. Dulu selama saya menjadi pendeta, selalu tersedia sebuah rumah untuk saya. Saya teringat perasaan saya tatkala menandatangani hipotek rumah untuk jangka waktu 30 tahun. Seolah-olah saya tengah mengikatkan diri seumur hidup pada utang.

Akhir-akhir ini ada pikiran lain yang menghantui saya, yakni bahwa saya takkan pernah memiliki rumah saya sendiri, sekalipun hipotek itu telah terbayar lunas. Sebab Allah adalah pemilik rumah itu yang sebenarnya. Segala sesuatu adalah milik-Nya.

Renungan ini memunculkan masalah penting dalam budaya kita yang sangat materialistis. Kita sebagai orang kristiani harus mengakui bahwa Allah adalah pemilik sah harta milik kita. Jika tidak, harta itu akan menjadi sumber frustrasi kita. Sikap kita akan tercermin lewat apa yang terjadi pada harta kita. Misalnya jika bumper mobil baru kita penyok, maka hati kita akan hancur berkeping-keping. Kopi yang tumpah di mebel juga dapat menodai sikap kita. Pencurian dapat dengan mudah mencuri kedamaian kita.

Kita perlu menyerahkan hak kepemilikan kita kepada Tuhan dan mengemban tanggung jawab untuk mengurus kekayaan Tuhan itu dengan serius. Bukan berarti kita boleh bersikap acuh tak acuh dan boros. Dalam hati, kita harus menyerahkan semua harta kita kepada Allah, dan selalu mengingatkan diri kita tentang siapa pemilik harta itu yang sebenarnya (1 Tawarikh 29:11). Ini akan menolong kita menggunakan harta itu dengan bijaksana, menyimpannya dengan baik, dan menikmatinya seutuhnya --Dennis De Haan

10 Februari 2003

Pemikiran tentang Surga

Nats : Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka (Wahyu 21:3)
Bacaan : Wahyu 21:1-5

Para kartunis sering kali melukiskan orang yang ke surga dengan memakai jubah putih, melayang-layang bagaikan hantu melintasi awan- awan, atau duduk di atas kursi emas sambil memainkan harpa.

Betapa jauh perbedaan gambaran itu dengan gambaran yang kita temukan di dalam Alkitab. Dalam 1 Korintus 15, kita membaca bahwa tubuh kebangkitan kita, yang tidak dapat dibinasakan oleh maut, akan tampak nyata dan berwujud; tidak seperti hantu. Wahyu 21:1-5 juga menjelaskan kepada kita bahwa Allah akan menciptakan "langit yang baru dan bumi yang baru". Dia akan menciptakan "kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi" (Ibrani 12:22) dan meletakkannya di atas bumi yang baru sebagai "Yerusalem Baru". Di dalam kota itu digambarkan terdapat banyak jalan, tembok, pintu gerbang, bahkan ada juga sebuah sungai dan pepohonan (Wahyu 22:1-5). Kehidupan di kota itu kelak akan menyenangkan, bebas dari akibat dosa yang melemahkan. Di sana tidak akan ada lagi kematian, kesedihan, dukacita, dan penderitaan, karena Allah akan membuat "semuanya menjadi baru". Namun lebih daripada itu, Dia sendiri akan datang untuk tinggal di tengah-tengah kita sehingga kita dapat menjalin hubungan yang akrab bersama-Nya.

Sungguh sulit bagi kita untuk membayangkannya. Namun bukankah itu masa depan yang menyenangkan? Semuanya menjadi mungkin karena karya Yesus saat mati di kayu salib bagi kita. Seharusnya hal ini memotivasi kita untuk menyembah-Nya, hidup saleh, dan memberitakan kepada sesama bahwa mereka pun dapat memperoleh jaminan masa depan yang mulia --Herb Vander Lugt

4 Maret 2003

Berkat yang Melimpah

Nats : Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga (Efesus 1:3)
Bacaan : Efesus 1:3-14

Saat bencana menimpa, masyarakat menjadi begitu murah hati dalam memberikan bantuan. Setelah serangan teroris yang terjadi di bulan September 2001, kota New York dibanjiri bantuan berupa handuk, selimut, senter, minuman botol, kacang kalengan, sekop, pasta gigi, daging kaleng, radio, sepatu but karet, dan ribuan jenis barang lainnya. Semua bantuan itu diperkirakan seharga 75 juta dolar. Saking banyaknya barang, akhirnya malah tidak semuanya dapat dipakai.

Kejadian itu mengingatkan saya akan apa yang terjadi saat iman kita berbalik dari Kristus, Sang Juruselamat. Kita akan menghadapi bencana pribadi. Dosa yang kita lakukan membuat kita terancam terpisah selamanya dari Allah. Masa depan kita menjadi sangat gelap dan tanpa harapan.

Lalu Yesus masuk dan menawarkan pertolongan. Saat kita percaya kepada- Nya, Bapa kita di surga akan mencurahkan kekayaan rohani-Nya bagi kita. Dengan demikian, kita memperoleh berkat yang begitu banyak sehingga kita mungkin tidak dapat memanfaatkan seluruhnya. Kita adalah anggota keluarga Allah (Efesus 1:5). Kita beroleh “penebusan” dan “pengampunan dosa” (ayat 7). Kita adalah ahli waris dari Dia yang memiliki segalanya (ayat 11). Semua harta warisan kita itu dimeteraikan oleh Roh Kudus (ayat 13,14).

Berkat bagi orang kristiani senantiasa melimpah. Tak ada habisnya. Betapa Allah yang kita layani sungguh murah hati dan penuh perhatian! Mari kita puji Dia atas berkat yang amat banyak dan melimpah dalam hidup kita --Dave Branon

18 Maret 2003

Dia Tak Pernah Kesal

Nats : Mintalah, maka akan diberikan kepadamu (Lukas 11:9)
Bacaan : Lukas 11:5-10

Suatu hari, saat mengendarai mobil, saya membaca suatu stiker yang berbunyi, “Terkadang saya terbangun dan merasa kesal, tetapi biasanya saya akan membawanya tidur lagi.” Stiker itu mengingatkan saya pada peristiwa di suatu malam. Istri saya yang sedang hamil membangunkan saya dan berkata bahwa kami harus segera ke rumah sakit karena ia akan segera melahirkan. Dengan setengah sadar saya menjawab, “Tidur sajalah dulu, kita urus besok pagi saja.” Namun, saya kemudian sadar akan apa yang dikatakannya. Saya pun segera bangun secepat kilat.

Dalam Lukas 11, seorang pria yang membutuhkan makanan untuk menjamu tamunya pergi ke rumah kawannya saat tengah malam. Ia hendak meminjam tiga roti. Kawan yang dibangunkannya itu mungkin akan melontarkan jawaban seperti saya, mengingat saat sudah itu tengah malam. Namun, ia bangun dan memberikan apa yang diminta kawannya itu (ayat 8). Saya pikir, orang itu tidak memberikan roti kepadanya supaya kawannya segera pergi. Ia bangun karena ia berpikir bahwa temannya tidak akan berani membangunkannya bila tidak benar-benar sedang putus asa.

Inti sebenarnya adalah: Jika kawan Anda mengenyahkan keengganannya untuk memenuhi kebutuhan Anda, tidakkah Bapa surgawi, yang tidak pernah enggan, akan melakukan lebih dari itu? Dia tidak pernah tidur, Dia tidak pernah kesal, dan Dia menginginkan yang terbaik untuk Anda. Karena itu, jangan ragu-ragu untuk meminta, mencari, dan mengetuk (ayat 9). Dia akan selalu siap bagi Anda --Herb Vander Lugt

23 April 2003

Selalu Siap Dipanggil

Nats : Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya (Mazmur 34:7)
Bacaan : Mazmur 34:1-19

Jika Anda frustrasi akan sistem pelayanan kesehatan dan ingin punya dokter pribadi yang selalu siap dipanggil, Anda bisa memilikinya asal mau membayar. Dua dokter dari Seattle memasang tarif sebesar 20.000 dolar setahun bagi para pasien kaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pribadi. Mereka menelepon ke rumah para pasiennya, memberi pelayanan pribadi dengan tidak terburu-buru, dan berkata bahwa pelayanan yang mereka berikan sama seperti pelayanan lain yang tersedia bagi orang kaya. Apa pun pemikiran tentang etika medis yang terkait di dalamnya, pelayanan seperti itulah yang kita inginkan jika kita mampu membayarnya.

Ada tipe hubungan “selalu siap dipanggil” lain yang tak perlu dibeli. Sebaliknya, hubungan ini hanya tersedia bagi mereka yang merasa diri miskin dan membutuhkan. Allah tak pernah gagal merespons anak-anak-Nya yang berseru memohon pertolongan-Nya.

Daud berkata, “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mazmur 34:5). Ia pun berkata, “Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya” (ayat 7).

Yesus adalah “Tabib Agung”. Dia tak selalu melakukan apa yang kita minta kepada-Nya. Namun, Dia selalu “siap dipanggil” untuk mendengar doa-doa kita dan menawarkan kebebasan yang kita butuhkan. Luar biasa dorongan semangat yang Dia berikan! “Mata Tuhan tertuju kepada orang- orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (ayat 16) --David McCasland

1 Mei 2003

Pencemas atau Pejuang?

Nats : [Allah] dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3:20)
Bacaan : Efesus 3:14-21

Seorang utusan Injil menulis warta berkala untuk berterima kasih kepada para pendukungnya yang telah menjadi "prayer warriors" (pejuang doa). Namun karena salah ketik, ia menyebut mereka "prayer worriers" (pencemas doa). Gambaran ini mungkin tepat bagi beberapa orang di antara kita.

Dalam bukunya Growing Your Soul, Neil Wiseman menulis, "Doa seharusnya tak sekadar mengulang kekhawatiran yang mengecewakan atau pergumulan atas masalah kita. Doa seharusnya melampaui keputusasaan yang suram, yang acap kali berhubungan dengan derita dan kekecewaan."

Selama mengalami kekhawatiran, saya menjadi "pencemas doa". Saya suka merengek, "Tuhan, jangan biarkan tetangga saya mengganggu saya besok." Atau, "Bapa, jangan biarkan orang jahat itu menyebar gosip tentang saya."

Namun, kemudian Tuhan mengajar saya untuk berdoa bagi orang lain, bukannya justru melawan orang lain. Maka doa saya pun berubah, "Tuhan, berkati dan kuatkan tetangga saya. Bantulah dia untuk merasakan kasih-Mu." Lalu saya menantikan apa yang akan dikerjakan Allah. Ternyata, jawaban Tuhan yang menakjubkan tak hanya membantu orang lain, tetapi juga menyembuhkan kekhawatiran saya sendiri!

Paulus bukanlah "pencemas doa". Ia berdoa agar jemaat Allah mengenal kekuatan, kasih, dan kepenuhan Allah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita mohon atau pikirkan (Efesus 3:14-21). Keyakinan seperti itu menjadikan Paulus "pejuang doa" sejati. Apakah doa Anda seperti itu? --Joanie Yoder

6 Mei 2003

Di Pihak Kita

Nats : Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)
Bacaan : Roma 8:31-39

Seorang pemuda kristiani baru pertama kali bekerja. Setiap malam ia bekerja di pabrik perakitan lemari es untuk membiayai kuliahnya di Sekolah Alkitab. Sayang, teman-teman sekerjanya rata-rata berperangai kasar. Mereka menertawakannya karena ia seorang kristiani. Mereka selalu menghinanya pada jam istirahat dan semakin lama mereka semakin kurang ajar.

Suatu malam terjadilah hal yang paling buruk. Mereka menertawakan dirinya, juga menyumpahi dan mencemooh Yesus. Pemuda itu berpikir hendak berhenti saja bekerja. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang berdiri di bagian belakang ruangan berkata, "Cukup! Carilah orang lain sebagai bulan-bulanan kalian!" Dan mereka pun segera pergi. Beberapa saat kemudian orang tua itu berkata kepada si pemuda. "Aku tahu kau menghadapi saat yang sulit. Namun, aku ingin kau tahu bahwa aku ada di pihakmu."

Mungkin Anda adalah seorang kristiani yang harus menentang orang- orang yang tidak mengenal Allah sendirian. Dan, kelihatannya Setanlah yang menang. Tuhan bisa saja mengirimkan seorang percaya yang akan berdiri di pihak Anda. Akan tetapi, sekiranya itu tidak terjadi, Anda harus tetap percaya bahwa Dia ada di pihak Anda. Dia melakukan hal itu dengan mengirimkan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib menggantikan Anda. Anda tidak akan pernah terpisah dari kasih dan pemeliharaan-Nya (Roma 8:38,39).

Kini, dengan penuh keyakinan Anda dapat berkata, "Jika Allah

di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (ayat 31) --Dave Egner

14 Mei 2003

Seberapa Pantas?

Nats : Bukan karena jasa-jasamu Tuhan, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki (Ulangan 9:6)
Bacaan : Ulangan 9:1-6

Saya ingat saat kulkas bekas kami akhirnya rusak. Sebagai pasangan yang baru menikah dan bekerja pada lembaga pelayanan kristiani, saya tidak punya cukup uang untuk memperbaikinya. Karena tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, saya menelepon seorang kawan yang berkecimpung dalam bisnis elektronik. Ia berjanji akan membantu kami mengatasi masalah itu. Malamnya saya mendapati sebuah kulkas yang masih baru di dapur kami. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang telah saya lakukan sehingga pantas mendapatkan bantuan sebesar ini?"

Kita cenderung beranggapan bahwa kita layak menerima bantuan tulus dari orang lain. Ketika kita sukses dalam hal tertentu, kita juga cenderung berpendapat bahwa kita pantas mendapat kesuksesan itu. Keberhasilan bisa membuat kita sombong dan jauh dari Allah.

Dalam Ulangan 9, kita membaca bagaimana Allah mengingatkan bangsa Israel akan alasan keberhasilan mereka. Allah ingin umat-Nya mengingat bahwa Dialah yang memimpin mereka memasuki negeri baru untuk menggenapi rencana dan janji-Nya. Mereka berhasil karena Allah, bukan karena kebenaran hati mereka sendiri (ayat 4,5). Allah tahu mereka akan tergoda untuk menjadi bangsa yang tak tahu berterima kasih manakala di Tanah Perjanjian mereka menjadi makmur.

Sikap tak tahu berterima kasih adalah cobaan yang juga kita alami di masa sekarang ini. Jika usaha kita berhasil, pastikan agar kita tidak lupa bersyukur kepada Allah atas kebaikan, pertolongan, dan perlindungan-Nya --Albert Lee

6 Juni 2003

Penolong yang Tak Terlihat

Nats : Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani? (Ibrani 1:14)
Bacaan : Ibrani 1:5-14

Suatu saat, ketika karier Martin Luther tengah dihantam badai, ia menerima beberapa berita yang melemahkan semangat. Namun, ia menanggapinya dengan berkata, "Akhir-akhir ini saya sering memandang ke langit di waktu malam. Saya melihat bintang-bintang berkilauan yang bertebaran. Tak ada pilar yang menopang mereka. Namun, bintang- bintang itu tidak jatuh." Semangat Luther bangkit kembali saat ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa Allah yang menopang alam semesta juga pasti mempedulikan dirinya.

Saat menghadapi krisis fisik atau rohani, ada sumber pertolongan lain yang tak kelihatan bagi anak-anak Allah untuk memperoleh semangat, yakni malaikat! Para makhluk surgawi itu disebut "roh-roh yang melayani" (Ibrani 1:14), dan mereka cepat tanggap melakukan perintah Allah. Hanya mungkin selama ini sedikit yang kita ketahui tentang perlindungan dan pertolongan hebat yang mereka berikan. Saat Yesus sedang menderita di Getsemani, "seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya" (Lukas 22:43).

Namun Anda berkata, "Saya belum pernah melihat malaikat." Tidak perlu! Cukuplah kita tahu bahwa mereka melindungi kita secara diam- diam dan tidak terlihat. Mereka tidak minta perhatian bagi diri mereka sendiri, dan kita justru diminta untuk lebih memfokuskan diri kepada Yesus Kristus dan bukan kepada mereka. Yang jelas, kehadiran mereka nyata. Dengan mengetahui bahwa para penolong yang tak kelihatan ini berada di pihak kita, maka kita da-pat semakin mempercayai Allah yang mereka layani dengan setia --Dennis De Haan

10 Juni 2003

Kebenaran: Teman atau Musuh?

Nats : Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)
Bacaan : 2Tawarikh 18:1-7

Kebenaran adalah musuh terbesar saya sampai akhirnya ia menjadi satu-satunya teman saya," ucap Thelma, seorang mantan wanita tunasusila dan pecandu obat-obatan.

Bukan hanya mereka yang telah teng-gelam dalam dosa yang perlu mendengar kesaksian Thelma. Mereka yang oleh do-sanya telah diangkat dalam kemakmuran dan kekuasaan, juga perlu mendengar-nya.

Setelah kasus korupsi terungkap di beberapa korporasi utama Amerika Serikat, seorang reporter berkata, "Ini bukan masalah gaji dan insentif para eksekutif; tetapi masalah kebenaran."

Seperti halnya para eksekutif yang korup, Raja Ahab dari Israel adalah orang kaya dan berkuasa yang mendapat masalah karena ia dikelilingi oleh para penasihat yang hanya memberitakan kebohongan yang ingin didengarnya dan bukan kebenaran yang perlu diketahuinya (2Tawarikh 18:4-7). Teman-temannya membawanya pada kematian yang tragis (ayat 33,34).

Berbeda dengan Ahab, Thelma sampai pada satu titik di mana ia sadar bahwa kebohongan adalah teman yang menipu. Pada saat itu, ia berbalik dan berhadapan dengan ketakutannya yang terbesar, yakni kebenaran, dan menemukan bahwa ia sebenarnya sedang menjauhi sesuatu yang dicarinya: Allah. Segala usahanya untuk menyelamatkan diri dengan kebohongan membawanya ke ambang kehancuran. Namun saat ia berbalik kepada Allah segala kebenaran, Dia menjadikannya ciptaan yang baru (2Korintus 5:17).

Apakah Anda menjadikan kebenaran sebagai teman, atau musuh? --Julie Link

13 Juni 2003

Menemukan Rasa Aman

Nats : Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku (Mazmur 59:17)
Bacaan : Mazmur 59

Setelah seorang laki-laki menembak dan membunuh dua orang di Bandar Udara Internasional Los Angeles, sebagian orang mendesak agar pengawal bersen-jata ditempatkan di setiap lokasi check-in. Sebagian lainnya berkata bahwa setiap orang harus diperiksa sebelum memasuki terminal bandara. Namun seorang konsultan keamanan bandara berkata, "Jika Anda memindahkan titik pemeriksaan, Anda hanya akan mendorong masalah itu berpindah ke bagian bandara yang lain. Akan selalu ada tempat umum yang rawan terhadap serangan semacam ini."

Di dalam dunia di mana kekerasan dan terorisme dapat menyerang kapan saja dan di mana saja, di manakah kita dapat menemukan rasa aman? Di manakah kita akan benar-benar aman?

Alkitab berkata bahwa rasa aman kita tidak terletak pada perlindungan manusia, tetapi di dalam Allah sendiri. Kitab Mazmur mengandung lebih dari 40 referensi agar kita berlindung di dalam Tuhan, sebagian besar berasal dari pengalaman Daud yang dikejar- kejar oleh musuh-musuhnya. Dalam doanya sewaktu meminta pertolongan, ia memusatkan harapannya di dalam Tuhan, "Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu ke-sesakanku. Ya kekuatanku, bagi-Mu aku mau bermazmur; sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya" (Mazmur 59:17,18).

Allah tidak berjanji untuk menjauhkan kita dari kesulitan dan ancaman fisik, tetapi Dia berjanji untuk menjadi tempat perlindungan kita dalam segala keadaan. Di dalam Dia kita menemukan rasa aman yang sejati --David McCasland

26 Juni 2003

Kekuatan Dalam Keterbatasan

Nats : Pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan (Keluaran 4:12)
Bacaan : Keluaran 4:10-12

Ketika Allah memanggil Musa untuk melayani, ia menjawab, "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10).

Perkataan itu menandakan bahwa Musa mungkin mengalami kesulitan da- lam berbicara. Mungkin ia gagap. Tuhan berkata kepadanya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" (ayat 11).

Kelemahan, ketidakmampuan, dan kecacatan kita sekalipun, dapat digunakan Allah bagi kemuliaan-Nya. Bukan dengan membuang kelemahan kita, tetapi dengan menganugerahi kita kekuatan dan memakai keterbatasan kita demi kebaikan.

Bila kelemahan membuat kita mencari Allah dan bergantung kepada-Nya, berarti kelemahan-kelemahan itu justru menolong kita dan tidak menghalangi kita. Kelemahan-kelemahan ini justru merupakan hal terbaik yang dapat kita alami, karena pertumbuhan kita dalam keberanian, kekuatan, dan kebahagiaan tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan dan seberapa besar kepercayaan kita kepada-Nya.

Tiga kali Rasul Paulus memohon kepada Tuhan untuk mengambil duri di dalam dagingnya, tetapi Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku" (2Korintus 12:9). Paulus pun kemudian bersuka-cita dalam keterbatasannya, karena ia menyadari bahwa hal itu tidak menghambatnya. Seperti yang ia nyatakan, "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ayat 10) --David Roper

2 Juli 2003

Daerah Asing

Nats : Jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu (Yosua 3:4)
Bacaan : Yosua 3:1-13

Saat Stephen putra saya berusia 8 tahun, ia diundang menginap di rumah sepupunya. Ini adalah pengalaman pertama Stephen berada jauh dari rumah, dan sepertinya akan menjadi suatu petualangan yang menyenangkan. Namun, ketika saya dan istri saya mengantarkan Stephen ke rumah sepupunya, ia mulai merasa rindu ingin pulang ke rumah. Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar ia berkata, "Ibu, aku merasa tidak begitu sehat. Lebih baik aku pulang ke rumah bersama Ibu saja."

Istri saya menjawab, "Terserah kamu, tapi menurut Ibu, kamu pasti akan senang di sini."

"Tapi, Bu," rengek Stephen, "mereka bilang besok mereka akan mendaki bukit yang tinggi, dan aku belum pernah ke sana!"

Kita pun kadang-kadang merasa takut melihat ke masa depan, karena kita "belum pernah ke sana". Namun, Tuhan akan senantiasa menjagai kita seperti Dia menjagai Yosua dan Israel (Yosua 3).

Mungkin saat ini Anda sedang khawatir karena Tuhan memimpin Anda menuju jalan setapak baru yang belum pernah Anda lalui sebelumnya. Untuk menjalaninya, dengarkanlah firman Allah dan beranilah untuk melewatinya: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku .... Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya" (Mazmur 23:1,3).

Letakkanlah tangan Anda dengan iman ke dalam genggaman tangan Bapa surgawi, dan biarkan Dia membimbing Anda melalui jalan yang asing itu --Richard De Haan

15 Juli 2003

Pemberi dan Penerima

Nats : baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan (Efesus 4:28)
Bacaan : Amsal 14:15-21

Beberapa anak kecil sedang membicarakan cita-cita mereka setelah dewasa nanti. Ketika tiba giliran Jimmy, ia tidak menyebutkan profesi yang lebih umum seperti dokter, pengacara, polisi, atau petugas pemadam kebakaran. Jimmy hanya bercita-cita untuk menjadi seorang dermawan. Ketika teman-temannya menyuruhnya menjelaskan alasannya, Jimmy menjawab, "Karena kudengar orang seperti ini punya banyak uang."

Pernyataan Jimmy tersebut tidak sepenuhnya benar. Di dalam kamus, dermawan didefinisikan sebagai "seseorang yang mengasihi dan suka memikirkan kepentingan sesamanya". Seseorang tidak langsung menjadi dermawan hanya karena ia memiliki banyak uang. Pada kenyataannya, seorang miskin yang "mengasihi dan memikirkan kepentingan sesamanya", terlepas dari kemampuannya yang terbatas, lebih pantas disebut seorang dermawan daripada orang yang sangat kaya namun kikir yang memberi dengan terpaksa -- walau jumlah yang disumbangkannya besar.

Bahkan Rasul Paulus mendorong orang-orang yang suka mengambil haak orang lain agar dapat menjadi pemberi. Rasul Paulus berkata demikian, "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras ... supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan" (Efesus 4:28). Pemberian seperti inilah yang dapat membawa sukacita kepada si pemberi (Amsal 14:21).

Kita semua dapat menjadi seorang dermawan, terlepas dari berapa pun penghasilan kita atau apa pun pekerjaan kita --Richard De Haan

30 Juli 2003

Batu atau Roti?

Nats : Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti? (Matius 7:9)
Bacaan : Matius 7:7-11

Seorang ayah yang penuh kasih takkan memberikan batu atau ular kepada anaknya yang lapar jika sang anak meminta roti atau ikan. Yesus menggunakan kemustahilan dari kiasan dalam Matius 7 untuk menegaskan kesiapan Bapa di surga dalam memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya saat mereka meminta kepada-Nya. Dia ingin agar mereka benar-benar yakin bahwa Bapa akan menyediakan semua kebutuhan rohani bagi mereka.

Meskipun demikian, terkadang Tuhan seolah-olah memberi kita "batu", bukan "roti". Namun dalam kebijaksanaan-Nya, Dia sebenarnya sedang bekerja melalui keadaan kita untuk memberikan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita minta. Seorang penulis tak dikenal mengungkapkannya sebagai berikut:

Aku minta kesehatan agar dapat melakukan hal-hal besar;
Tetapi aku diberi kelemahan agar dapat melakukan hal-hal yang lebih baik.

Aku minta kekuatan kepada Allah agar dapat berhasil;
Tetapi aku dibuat lemah agar dapat belajar taat.

Aku minta kekayaan agar bahagia;
Tetapi aku diberi kemiskinan agar dapat bersikap bijaksana.

Aku minta kekuatan dan pujian dari sesama;
Tetapi aku diberi kelemahan agar dapat merasakan kebutuhanku akan Allah.

Aku meminta segala sesuatu agar dapat menikmati hidup;
Tetapi aku diberi kehidupan agar dapat menikmati segala sesuatu.

Aku tidak memperoleh apa pun yang kuminta,
tetapi memperoleh segala sesuatu yang kuharapkan;

Meskipun permintaanku tidak dikabulkan,
tetapi doa-doaku terjawab --

Aku adalah yang paling terberkati di antara semua manusia.

Ya, Allah selalu memberi yang terbaik bagi kita --Richard De Haan

17 September 2003

Belajar Memberi

Nats : Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin" (Lukas 19:8)
Bacaan : Lukas 19:1-10

Banyak orang di negara-negara makmur merasa terganggu oleh tumpukan barang-barang yang sudah tidak mereka butuhkan atau gunakan lagi. Mereka menemui kesulitan untuk menyingkirkan berbagai barang yang memenuhi rumah dan kantor mereka. Seorang wanita yang telah berpindah rumah sebanyak lima kali dalam empat tahun mengeluh, "Tahukah Anda berapa banyak barang yang saya bawa setiap kali pindah rumah? Saya jadi bertanya pada diri sendiri, 'Kenapa tak kugunakan otakku untuk memindahkan semua barang ini?'" Akhirnya wanita itu menyewa seorang ahli untuk membantunya belajar merelakan barang- barang yang tidak dibutuhkan lagi.

Banyak orang terikat pada harta benda mereka dengan alasan yang berbeda-beda. Tampaknya Zakheus bergumul dengan masalah ini karena sifat serakahnya (Lukas 19:1-10). Namun, kisah pemungut cukai kaya yang memanjat pohon untuk melihat Yesus mencapai klimaks dengan terjadinya perubahan hati secara total ketika Zakheus berkata, "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin" (ayat 8). Kemudian ia pun berjanji, "Dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Yesus menanggapi perkataannya dengan berkata, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini" (ayat 9).

Pembaruan rohani yang dialami oleh Zakheus dapat dilihat dari perubahan sikapnya, yaitu dari menerima menjadi memberi. Cengkeramannya yang mengendur mengungkapkan hati yang telah diperbarui.

Apakah hal ini juga terjadi pada diri kita? --David McCasland

6 Oktober 2003

Allah, Kemuliaanku

Nats : Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku (Mazmur 3:4)
Bacaan : Mazmur 3

Apakah Allah adalah kemuliaan Anda? (Mazmur 3:4). Kata kemuliaan merupakan terjemahan dari kata Ibrani yang berarti "bobot" atau "makna".

Sebagian orang mengukur berharga tidaknya mereka melalui kecantikan, kecerdasan, uang, kekuasaan, atau gengsi. Namun, Daud yang menulis Mazmur 3 menemukan rasa aman dan berharga di dalam Allah. Ia mengatakan bahwa banyak orang melawannya. Ia mendengar suara kejam mereka dan sempat tergoda untuk mempercayai perkataan mereka, menyerah pada rasa takut dan keputusasaan. Namun, ia menghibur dan menguatkan hatinya dengan berkata, "Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku" (ayat 4).

Kesadaran itu sungguh menghasilkan perubahan! Daud memiliki Allah, sedangkan para musuhnya tidak. Dengan demikian ia dapat menegakkan kepala dengan penuh keyakinan.

Ayat-ayat seperti Mazmur 3:4 dapat membawa kedamaian dalam hati Anda, bahkan ketika Anda berada di tengah badai masalah. Allah adalah perisai dan pembebas Anda. Dia akan menangani penderitaan Anda tepat pada waktunya.

Sementara itu, ungkapkan kepada Allah segala permasalahan Anda. Biarkan Dia menjadi kemuliaan Anda. Anda tidak perlu membela diri. Mintalah Dia menjadi perisai Anda, untuk melindungi hati Anda dengan kasih dan perhatian-Nya yang senantiasa menyertai. Kemudian, seperti halnya Daud, Anda dapat berbaring dengan damai dan tidur nyenyak walau puluhan ribu orang melawan Anda (ayat 6,7) --David Roper

8 Oktober 2003

Tembok Berapi

Nats : Aku sendiri, demikianlah firman Tuhan, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya (Zakharia 2:5)
Bacaan : Zakharia 2:1-5

Tembok Besar Tiongkok mulai didirikan pada abad ke-3 SM. Tembok yang kerap disebut sebagai "keajaiban dunia kedelapan" itu memiliki panjang sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer). Tembok Besar tersebut dibangun untuk melindungi rakyat dari serbuan mendadak para pengembara dan menjaga mereka dari penyerangan yang dilakukan oleh negara-negara musuh.

Dalam kitab Zakharia 2, kita membaca kisah tentang tembok perlindungan yang lain. Zakharia mendapatkan sebuah penglihatan lain, yaitu penglihatan tentang seseorang yang sedang memegang tali pengukur untuk mencoba memastikan panjang dan lebar Yerusalem (ayat 1,2). Pria itu bermaksud untuk membangun kembali tembok benteng yang mengelilingi kota. Orang ini kemudian diberi tahu bahwa ia tidak perlu membangun benteng itu kembali karena Yerusalem akan dipenuhi oleh banyak umat Allah sehingga tembok Yerusalem itu tidak akan mampu memuat mereka semua (ayat 4). Selain itu, mereka tidak lagi membutuhkan tembok karena Tuhan telah berjanji, "Aku sendiri ... akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya" (ayat 5).

Tembok lahiriah dapat dikikis atau dirobohkan, betapa pun tinggi dan kokohnya tembok tersebut. Namun sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai tembok perlindungan terbaik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, yakni kehadiran Allah secara pribadi. Tak satu pun yang dapat mencapai kita tanpa terlebih dahulu melewati Dia dan kehendak-Nya. Di dalam Dia kita aman dan tenteram --Albert Lee

10 Maret 2004

Tempat Perlindungan

Nats : Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:9)
Bacaan : Mazmur 34:5-9

Di dalam dunia yang penuh dengan kesengsaraan ini, hanya ada satu tempat perlindungan yang pasti, yaitu Allah sendiri. “Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mazmur 18:31).

“Berlindung” berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “mencari perlindungan di dalam” atau “bersembunyi di dalam” atau “bersembunyi bersama”. Kata ini menunjukkan tempat persembunyian rahasia. Orang Texas suka menyebutnya hidey hole yang artinya “lubang persembunyian”.

Ketika kita merasa sangat letih oleh semua usaha kita, ketika kita bingung karena berbagai masalah kita, ketika kita dilukai oleh kawan-kawan kita, ketika kita dikelilingi oleh musuh-musuh kita, kita dapat berlindung kepada Allah. Tidak ada rasa aman di dunia ini. Seandainya kita menemukan rasa aman di dalam dunia ini, maka kita tidak akan pernah mengalami sukacita dari kasih dan perlindungan Allah. Kita akan kehilangan kebahagiaan yang telah disediakan bagi kita.

Tempat yang paling aman hanyalah Allah sendiri. Ketika awan badai menggumpal dan bencana mulai membayang, kita harus datang ke hadirat Allah dalam doa dan berdiam di sana (Mazmur 57:2).

George MacDonald berkata, “Orang yang memiliki iman sempurna adalah orang yang dapat datang kepada Allah dalam segala kekurangan dari perasaan dan hasratnya, tanpa semangat atau ambisi; dengan beban kekecewaan, kegagalan, perasaan diabaikan, dan kelalaian, serta berkata kepada-Nya, ‘Engkaulah tempat perlindunganku.’”

Betapa aman dan diberkatinya kita! —David Roper

21 Maret 2004

Duri atau Mawar?

Nats : Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan tentang nasib buruk mereka (Bilangan 11:1)
Bacaan : Bilangan 14:1-11

Dua orang anak laki-laki sedang memakan buah anggur. Salah seorang dari mereka berkata, “Anggurnya manis, ya?” “Memang,” sahut anak satunya, “tapi bijinya banyak sekali.” Sembari berjalan menyusuri kebun, anak yang pertama berseru, “Lihat, mawar-mawar merah yang besar dan indah itu!” Anak yang satunya berkomentar, “Mawar itu penuh duri!” Saat itu hari terasa panas sehingga mereka mampir ke sebuah kedai untuk membeli minuman soda. Setelah meneguk minumannya beberapa kali, anak yang kedua mengeluh, “Botolku sudah setengah kosong.” Dengan cepat anak yang pertama menyahut, “Botolku masih setengah penuh!”

Banyak orang seperti anak yang berpikiran negatif dalam cerita di atas. Mereka senantiasa memandang kehidupan ini melalui kaca yang gelap. Seperti halnya orang-orang Israel dalam Kitab Suci yang kita baca hari ini, mereka mengeluh dan bersungut-sungut ketika seharusnya mereka memuji Tuhan atas pemeliharaan-Nya yang murah hati. Namun syukur kepada Allah, tidak semuanya demikian. Ada orang-orang yang memerhatikan sisi-sisi positif dan mereka tampak ceria, gembira, dan penuh syukur. Mereka bersikap realistis terhadap sisi suram kehidupan, tetapi tidak cemberut dan rewel.

Anda dapat mengatasi pikiran yang negatif. Siapa pun Anda dan bagaimanapun keadaan Anda, ada banyak hal yang senantiasa dapat Anda syukuri. Renungkanlah kasih Allah bagi Anda. Pujilah Dia atas pemeliharaan-Nya. Kemudian, daripada mengeluh tentang “duri”, lebih baik bersyukurlah atas “mawar” yang indah —Richard De Haan

5 April 2004

Kasih yang Membebaskan

Nats : Mereka berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab mereka (Mazmur 99:6)
Bacaan : Mazmur 40:1-3

Ketika Raja Daud menengok kembali perjalanan hidupnya, ia teringat akan beberapa pengalaman yang menyakitkan dirinya. Dalam kitab Mazmur pasal 40, ia mengingat kembali sebuah kesulitan yang benar-benar menyakitkan hatinya, yakni ketika ia merasa seakan-akan telah tenggelam dalam “lumpur rawa” (ayat 3).

Dalam keputusasaannya, Daud terus-menerus memohon pembebasan dari Allah, dan dengan murah hati Tuhan pun membalas seruan putus asanya. Setelah mengangkatnya dari “lubang kebinasaan”, Tuhan menempatkan kaki Daud di atas bukit batu (ayat 3). Karena itu, tidak mengherankan jika Daud menyerukan nyanyian pujian dan syukur!

Saat menengok kembali kehidupan Anda sendiri, apakah Anda teringat akan suatu pengalaman ketika Anda merasa seakan-akan telah jatuh ke dalam lubang? Mungkin itu adalah lubang kegagalan, lubang kedukaan, lubang penyakit yang benar-benar menyiksa, lubang keragu-raguan yang begitu gelap, atau lubang dosa yang terus-menerus Anda masuki. Apakah Anda senantiasa berseru kepada Allah, dan apakah Dia dengan penuh kasih membebaskan Anda?

Jika ya, apakah Anda masih terus memuliakan Tuhan atas jawaban dari seruan Anda, dan bersyukur atas anugerah-Nya? Dan apakah Anda sekarang masih berjalan bersama-Nya dalam persekutuan yang penuh dengan ketaatan?

Dengan penuh keyakinan Anda dapat mengandalkan Tuhan untuk menolong Anda menghadapi situasi apa pun di masa yang akan datang. Bersukacitalah karena Dia dapat, dan bersedia, menuntun serta membebaskan Anda tepat pada waktu-Nya —Vernon Grounds

7 April 2004

Terus Memohon

Nats : Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu (Lukas 11:9)
Bacaan : Lukas 11:1-13

Saya mendengar seorang wanita berkata bahwa ia tidak pernah berdoa lebih dari sekali untuk apa pun yang ia minta. Ia tidak ingin membuat Allah lelah dengan permintaannya yang berulang-ulang.

Ajaran Tuhan mengenai doa dalam Lukas 11 bertentangan dengan pandangan wanita itu. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan mengenai orang yang pergi ke rumah sahabatnya pada tengah malam dan meminta roti untuk diberikan kepada tamunya yang mendadak datang. Awalnya, si sahabat menolak memberikan bantuan karena ia dan keluarganya sudah tidur. Namun akhirnya sahabat itu bangun dan memberinya roti—bukan karena persahabatan, melainkan karena keteguhan hati orang itu (ayat 5-10).

Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk mengontraskan sahabat yang merasa berat hati ini dengan Bapa yang murah hati. Jika si tetangga yang merasa terganggu itu akhirnya menyerah karena keteguhan hati sahabatnya, dan mengabulkan permintaannya, betapa Bapa surgawi akan lebih tanggap dalam memberikan apa pun yang kita butuhkan!

Memang benar bahwa Allah, menurut kebijaksanaan-Nya yang agung, terkadang menunda jawaban-Nya atas doa kita. Juga benar bahwa kita harus berdoa sesuai Alkitab dan kehendak Allah. Tetapi Yesus melangkah melampaui kenyataan tersebut dan mendesak kita untuk terus-menerus berdoa. Dia meminta kita untuk meminta, mencari, dan mengetuk sampai jawaban diberikan (ayat 9).

Jadi, jangan khawatir membuat Allah lelah dengan permintaan kita. Dia tak pernah bosan mendengar doa kita yang berulang-ulang! —Joanie Yoder

10 Mei 2004

Kekristenan Kartu Pos

Nats : Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? (Mazmur 13:2)
Bacaan : Mazmur 13

Saat saya bersama suami mengunjungi Gunung Rainier, yaitu puncak tertinggi di Amerika Serikat, saya berharap dapat melihat pemandangan yang spektakuler. Namun, selama dua hari gunung tersebut tertutup awan. Karena itu, bukannya memotret, saya justru membeli kartu pos.

Liburan tersebut membuat saya mempertanyakan cara saya melukiskan iman kepada orang lain. Apakah saya menyodorkan pemandangan “kartu pos” tentang kekristenan? Apakah saya memberikan kesan yang keliru bahwa hidup saya selalu cerah, dan bahwa pandangan saya terhadap Allah selalu jernih?

Bukan itu yang dilakukan oleh Daud. Melalui puisi yang penuh perasaan di dalam Mazmur 13, ia mengakui bahwa ia tidak dapat memandang Allah dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan-Nya (ayat 2). Namun di akhir doanya, ia yakin bahwa apa yang tidak kelihatan sebenarnya ada, karena ia telah melihat hal itu sebelumnya di dalam pemeliharaan Allah yang berlimpah (ayat 6).

Orang kristiani adalah seperti orang-orang yang hidup di kaki Gunung Rainier. Mereka telah melihat gunung itu sebelumnya, sehingga mereka tahu bahwa gunung tersebut tetap ada walaupun awan menutupinya.

Saat penderitaan atau kebingungan menghalangi pandangan kita akan Allah, kita dapat berterus terang kepada orang lain tentang keraguan kita. Namun, kita pun dapat mengungkapkan keyakinan kita bahwa Tuhan masih ada, dengan cara mengingat saat-saat ketika kita menyaksikan keagungan dan kebaikan-Nya. Hal itu lebih baik daripada “kekristenan kartu pos” —Julie Ackerman Link

11 Mei 2004

Saat Anda Jatuh

Nats : Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab Tuhan telah mendengar tangisku (Mazmur 6:9)
Bacaan : Mazmur 6

Kadang kala hal-hal kecil dapat membuat kita jatuh, bukan? Komentar yang tidak mengenakkan dari seorang teman, kabar buruk dari montir mobil, kesulitan keuangan, atau anak yang sulit diatur dapat memunculkan awan kemuraman di atas segala hal, bahkan di hari yang cerah sekalipun. Anda sadar bahwa Anda harus bersukacita, namun tampaknya segala sesuatu menentang Anda, sehingga membuat tugas-tugas sederhana menjadi pergumulan berat.

Daud tentu merasakan hal yang sama saat menulis Mazmur 6. Ia merasa lemah dan lesu (ayat 3), bingung (ayat 4), ditinggalkan (ayat 5), lelah (ayat 7), serta berdukacita (ayat 8). Namun, ia tahu apa yang dilakukan saat jatuh. Ia memandang ke atas dan percaya bahwa Allah akan memelihara dan menolongnya.

Saat kita memandang ke atas dan memusatkan perhatian kepada Allah, maka sesuatu yang baik terjadi. Mata kita tidak lagi tertuju kepada diri sendiri dan kita pun memperoleh sikap penghargaan yang baru terhadap Dia.

Jika di kemudian hari Anda jatuh, cobalah memandang ke atas kepada Allah. Dia berdaulat (Mazmur 47:9); Dia mengasihi Anda (1 Yohanes 4:9,10); Dia menganggap Anda istimewa (Matius 6:26); Dia memiliki tujuan yang baik atas pencobaan-pencobaan yang kita alami (Yakobus 1:2-4).

Ya, hidup kerap kali tampak tak tertahankan. Namun, janganlah hal itu membuat Anda terus jatuh. Renungkanlah kebaikan Allah, berbicaralah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Dia mendengarkan Anda (Mazmur 6:10). Semua itu akan memberi Anda kekuatan untuk bangkit saat Anda jatuh —Dave Branon

9 Juli 2004

“babi Kecil”

Nats : Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)
Bacaan : 1 Petrus 5:5-7

Saya teringat ketika berjalan di sepanjang sungai kecil di Texas beberapa tahun lalu bersama saudara ipar saya Ed dan anak lelakinya, David, yang berusia tiga tahun. David mengumpulkan batu-batu bulat dan halus dari sungai sementara kami berjalan. Ia menyebutnya “babi kecil”, karena batu berbentuk bulat itu mengingatkannya pada babi-babi kecil.

David memasukkan beberapa “babi kecil” ke dalam kantong bajunya, dan setelah kantongnya tidak muat, ia mulai membawanya dengan tangan. Beberapa saat kemudian ia mulai terhuyung-huyung karena beban yang terlalu berat, dan mulai tertinggal. Pasti ia tidak mampu membawa batu-batu itu pulang tanpa bantuan, maka Ed berkata, “Sini David, mari Ayah bawakan ‘babi-babi kecil’mu.”

Sesaat tampak keraguan menyelimuti wajah David, tetapi kemudian raut mukanya berseri-seri. “Aku tahu,” katanya. “Gendonglah aku, Ayah, dan aku akan membawa sendiri ‘babi-babi kecil’ku!”

Saya sering memikirkan peristiwa itu, serta kedegilan saya yang kekanak-kanakan untuk membawa beban saya sendiri. Yesus menawarkan diri untuk mengambil semua beban saya, namun saya bertahan dengan kebebalan dan kesombongan saya.

“Gendonglah saya,” pinta saya, “tapi saya akan membawa sendiri semua ‘babi kecil’ saya.” Betapa bodohnya jika Anda mencoba membawa semua beban Anda sendiri sementara Yesus meminta kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, sebab Dia yang memelihara kita (1 Petrus 5:7).

Sudahkah Anda hari ini menyerahkan semua “babi kecil” Anda ke dalam tangan Yesus yang kuat? —David Roper

21 Agustus 2004

Nyanyian Baru

Nats : Bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru (Mazmur 33:2,3)
Bacaan : Mazmur 33:1-5

Suatu pagi, saya berjalan-jalan di taman sambil mendengarkan kaset paduan suara Brooklyn Tabernacle. Saya menjepitkan walkman tua ke ikat pinggang saya dan menempelkan headphone pada kedua telinga saya. Saya terhanyut mendengarkan suaranya, seakan berada di dunia lain. Musiknya begitu penuh sukacita! Tanpa memedulikan keadaan sekitar, saya mulai menyanyi dan menari.

Namun kemudian saya memergoki tetangga saya yang sedang bersandar pada sebuah pohon, memandangi saya dengan wajah penuh keheranan. Ia tidak dapat mendengar musik saya, tetapi ia senang melihat tingkah laku saya. Seandainya ia bisa mendengar lagu saya.

Kemudian saya berpikir tentang lagu baru yang ditaruh Allah di dalam hati kita, lagu yang kita dengar dari "dunia yang lain". Lagu itu memberi tahu kita bahwa Allah mengasihi dan akan selalu mengasihi kita, dan Dia telah "melepaskan kita dari kuasa kegelapan" (Kolose 1:13), "memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga" (Efesus 2:6). Dan suatu hari nanti, Dia akan membawa kita bersama-Nya selamanya.

Pada saat itu, Dia akan memberikan tugas-tugas yang bermanfaat dan kekal untuk kita lakukan. Kasih karunia di masa sekarang, dan kemuliaan kelak di masa yang akan datang! Bukankah ini alasan untuk bernyanyi?

Jika suatu saat Anda bersedih hati, ingatlah akan kebaikan Allah. Dengarkan musik dari surga dan nyanyikan lagu baru bersama para malaikat. Pujian itu akan membuat kaki Anda menari dan membuat orang-orang di sekitar Anda terheran-heran. Mungkin mereka juga ingin mendengar musiknya --David Roper

6 Januari 2005

Berkat yang Tak Layak

Nats : Allah … telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga (Efesus 1:3)
Bacaan : Habakuk 3:17-19

Bintang tenis Arthur Ashe meninggal karena AIDS, yang menjangkitinya lewat transfusi darah selama operasi jantung. Lebih dari sekadar atlet besar, Ashe adalah pria yang mengilhami dan mendorong banyak orang dengan teladan tingkah lakunya di dalam dan di luar lapangan.

Ashe bisa saja mengalami kepahitan hidup dan mengasihani diri sewaktu menghadapi penyakitnya. Akan tetapi ia mempertahankan sikap penuh syukur. Ia menjelaskan, “Jika saya bertanya, ‘Mengapa saya?’ mengenai kesulitan-kesulitan saya, saya juga harus bertanya, ‘Mengapa saya?’ mengenai berkat yang saya terima. Mengapa saya yang memenangkan Wimbledon? Mengapa saya yang menikahi seorang wanita cantik yang berbakat dan mempunyai seorang anak yang luar biasa?”

Sikap Ashe menegur sebagian dari kita yang sering mengeluh, “Mengapa saya? Mengapa Allah mengizinkan hal ini terjadi?” Bahkan meskipun kita mengalami penderitaan yang luar biasa, kita seharusnya tidak melupakan belas kasih Allah yang dicurahkan dalam hidup kita—seperti makanan, tempat tinggal, dan para sahabat—berkat-berkat yang tidak dimiliki banyak orang.

Lalu bagaimana dengan berkat-berkat rohani? Kita dapat memegang firman Allah dan membacanya. Kita mempunyai pengetahuan akan anugerah keselamatan-Nya, penghiburan Roh-Nya, dan sukacita keyakinan akan hidup kekal bersama Yesus.

Pikirkanlah mengenai berkat-berkat Allah dan tanyakanlah, “Mengapa saya?” Maka gerutuan Anda akan membuka jalan untuk pujian —Vernon Grounds

17 Maret 2005

Titik dan Lubang Donat

Nats : Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
Bacaan : Mazmur 104:1-15

Tatkala seorang pendeta sedang berbicara kepada sekelompok orang, ia mengambil secarik kertas dengan ukuran besar lalu membuat sebuah titik berwarna hitam di tengah-tengahnya. Kemudian ia mengangkat kertas tersebut dan bertanya apa yang mereka lihat di situ.

Salah seorang menjawab, "Saya melihat sebuah tanda berwarna hitam." "Benar," jawab sang pendeta. "Apa lagi?" Tidak seorang pun yang memberikan jawaban. "Saya sungguh terkejut," kata sang pendeta. "Kalian telah mengabaikan hal yang terpenting—yaitu lembaran kertas ini."

Kerap kali, perhatian kita justru tersita oleh setitik kekecewaan yang sangat kecil, dan kita cenderung melupakan begitu banyak berkat yang kita terima dari Tuhan. Namun, seperti lembaran kertas, hal-hal yang baik sebenarnya jauh lebih penting daripada segala kesulitan yang menyita perhatian kita.

Hal ini mengingatkan saya akan sebuah pepatah aneh yang menyatakan sebuah nasihat praktis yang baik. "Saat Anda menapaki jalan hidup, jadikanlah hal berikut ini tujuan Anda: Arahkan pandangan Anda pada kue donat, jangan pada lubang yang ada di tengahnya!"

Ya, daripada memusatkan diri pada berbagai pencobaan yang terjadi di dalam hidup, kita seharusnya mengarahkan perhatian pada berkat-berkat kehidupan. Marilah kita berkata seperti pemazmur, "Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Dia menanggung bagi kita" (Mazmur 68:20).

Marilah kita terus memuji Dia, agar perhatian kita tidak tertuju pada titik kecil dan lubang pada donat —RWD

14 Mei 2005

Dunia yang Selalu Berubah

Nats : Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)
Bacaan : Mazmur 102:25-27

Kehidupan ini pasti mengalami perubahan. Hubungan kita berubah ketika kita pindah ke tempat baru, mengalami sakit, dan akhirnya menemui ajal. Bahkan sel di dalam tubuh kita selalu mengalami proses perubahan. Ketika sel-sel sudah tua, kebanyakan diganti dengan yang baru. Hal ini terutama tampak pada kulit kita—kulit luar kita mengelupas dan diganti dengan sel-sel baru kira-kira setiap 27 hari.

Ya, perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti dalam dunia kita. Benar kata Henry Lyte dalam lagunya yang melankolis "Tinggal Bersamaku": "Kulihat semuanya berubah dan musnah di sekelilingku." Tetapi lagu itu segera menambahkan, "Engkau yang tidak berubah, tinggallah bersamaku!"

Melalui iman di dalam Yesus Kristus kita dapat menjalin hubungan dengan Allah yang tidak berubah, yang menyatakan diri-Nya di dalam kitab Maleaki 3:6, "Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah." Kita dapat mengandalkan Allah yang akan tetap sama selamanya, seperti yang dikatakan pemazmur (Mazmur 102:27). Ibrani 13:8 memberikan kesaksian yang menegaskan: "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." Dia adalah dasar kita yang kokoh, yang menanamkan keyakinan dalam diri kita dan memberikan perlindungan dalam dunia yang selalu berubah ini.

Kita umat ciptaan, yang terperangkap dalam naik turunnya perputaran zaman, dapat menyandarkan jiwa kita pada lengan-lengan abadi, yang tidak akan pernah melepaskan kita (Ulangan 33:27) —VCG

22 Juli 2005

Tiram yang Terluka

Nats : Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku (Kejadian 41:52)
Bacaan : Kejadian 41:46-57

Ketika penderitaan yang tampaknya tidak ada gunanya menyerbu kehidupan kita, kerap kali kita bertanya pada diri sendiri, Siapa yang memerlukan semua kesulitan ini? Namun, renungkanlah sejenak asal-usul mutiara.

Setiap mutiara terbentuk karena respons internal tiram terhadap luka yang disebabkan oleh bahan yang melukai dirinya, misalnya sebutir pasir. Sumber yang dapat memperbaiki luka tersebut akan segera mengalir ke daerah yang sedang terluka. Dan hasil akhirnya adalah mutiara yang berkilauan. Terciptalah sesuatu yang indah, dan hal tersebut tidak akan mungkin terjadi apabila tidak ada luka.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita melihat Yusuf dalam posisi yang berpengaruh, posisi yang kelak dipakai Allah untuk memberi makan negeri di sekelilingnya dan juga keluarga Yusuf selama kelaparan. Namun, bagaimana ia jadi seseorang yang berpengaruh? Hal itu diawali dengan lukaia dijual untuk dijadikan budak (Kejadian 39)sehingga akhirnya menghasilkan mutiara yang berguna. Karena Yusuf mendekat pada sumber Allah, ketika ia dipermalukan ia menjadi lebih baik, bukannya menjadi pahit. Ia menamai anak keduanya Efraim, yang berarti keberhasilan ganda, dan ia berkata, Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku (41:52).

Penulis, Paul E. Billheimer berkata mengenai Yusuf, Jika ada orang yang mengasihani dan mencoba menolongnya keluar dari kesedihan dalam hidupnya, maka kemuliaan yang mengikutinya tidak akan terjadi. Jadi jika Anda sedang menderita, ingat: Jika tak ada luka, tak akan ada mutiara! JEY

8 Agustus 2005

Yang Tak Dapat Hilang

Nats : Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:4)
Bacaan : Mazmur 92:13-16

Bertahun-tahun lalu saya mendengar tentang seorang pria lanjut usia yang mengalami kemunduran kemampuan intelektual stadium awal. Ia meratapi kenyataan bahwa ia acap kali lupa akan Allah. Jangan khawatir, kata seorang teman baiknya, Dia tidak akan pernah melupakan engkau.

Beranjak tua mungkin merupakan tugas tersulit yang harus kita hadapi di dalam hidup ini. Seperti dikatakan oleh sebuah perumpamaan, Beranjak menjadi tua bukanlah tugas untuk para pengecut.

Beranjak tua pertama-tama adalah menyangkut peristiwa kehilangan. Kita mengabdikan sebagian besar hidup kita sebelumnya untuk memperoleh banyak hal. Namun, semuanya itu hanyalah sesuatu yang akan hilang pada saat kita beranjak tua. Kita kehilangan kekuatan, penampilan, teman, pekerjaan. Kita mungkin kehilangan kekayaan, rumah, kesehatan, pasangan hidup, kebebasan, dan mungkin yang terbesar adalah kita kehilangan rasa memiliki martabat dan harga diri kita.

Namun ada satu hal yang tidak akan pernah hilang dari Anda dan saya, yaitu kasih Allah. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia, kata Allah kepada sang nabi, dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:4).

Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, tulis sang penulis lagu (Mazmur 92:13). Mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah (ayat 14,15) DHR

13 Agustus 2005

Berjalan dengan Whitaker

Nats : Hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala (Kejadian 1:20)
Bacaan : Kejadian 1:20-25

Saat anjing saya, Whitaker, dan saya berjalan-jalan pagi menyusuri hutan lebat di Semenanjung Atas Michigan, udara dipenuhi oleh berbagai suara. Berbagai jenis burung memecah keheningan pagi dengan nyanyian mereka.

Pagi itu kadang kala terdengar suara siulan yang teraturmungkin seekor burung pipit. Mungkin juga melodi yang berirama dari seekor burung robin atau kicauan seekor kutilang berjambul. Kadang-kadang terdengar satu nada panjang dari burung yang tak dikenal. Kemudian terdengarlah raungan riuh burung jay biru atau suara serak burung gagak. Setelah itu sekelompok kecil burung chickadee beterbangan dari pohon yang satu ke pohon yang lain, sambil berulang-ulang bersiul chick-a-dee-dee-dee.

Allah itu luar biasa, ya! kata saya kepada Whit, yang kelihatannya sibuk memikirkan tupai. Saya mengucap syukur kepada Allah atas hadiah pendengaran yang luar biasa dan keberagaman bunyi indah yang Dia gunakan untuk mengisi hutan belantara milik-Nya. Dia menciptakan beratus ragam burung, masing-masing dengan warna, kebiasaan, dan suaranya sendiri (Kejadian 1:20,21). Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu (ayat 21,22).

Ketika saya melanjutkan acara jalan-jalan saya bersama Whitaker, hati saya dipenuhi ucapan syukur kepada Allah atas banyaknya pemandangan, suara, warna, dan spesies yang memperkaya dunia kita. Saya memuji Dia atas kreativitas-Nya, tidak hanya dalam membentuk dunia kita, tetapi juga karena Dia membuatnya begitu indahdan baik DCE

25 Agustus 2005

Kolam yang Bocor

Nats : Mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air (Yeremia 2:13)
Bacaan : Yohanes 4:9-14

Coba bayangkan Anda sedang mengayunkan sebuah cangkul, menggali sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, memahat sebuah kolam dari batu yang keras. Anda terus bekerja, melewati musim dingin yang menggigit dan musim panas yang menyengat.

Setelah bekerja keras selama bertahun-tahun, akhirnya Anda menyelesaikan tugas itu. Lalu Anda melangkah mundur dan menanti kolam Anda terisi penuh, tetapi ternyata kolam itu bocor. Anda mendapatitetapi sudah sangat terlambatbahwa semua kolam, tak peduli betapa baiknya kolam itu dibangun, akan bocor.

Cerita di atas merupakan gambaran kesia-siaan usaha kita untuk menemukan kepuasan di dalam hidup. Hal itu merupakan masalah sejak permulaan zaman.

Allah berkata kepada Nabi Yeremia bahwa umat-Nya telah meninggalkan Aku, sumber air yang hidup. Sebaliknya, mereka telah membuang-buang tenaga demi kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air (Yeremia 2:13).

Apakah jiwa Anda haus dan merindukan kepuasan? Ada sumber air hidup, muncul dari kedalaman yang tersembunyi, mengalir ke dalam hati kita, memuaskan kita sehingga membuat kita selalu ingin menikmatinya. Membungkuklah dan minum.

Hanya Allah yang dapat memuaskan hati kita. Hal lainnya hanya menipu dan mengecewakan. Barang siapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya, kata Yesus. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yohanes 4:14) DHR

20 Oktober 2005

Hidup Sebagai Anak Raja

Nats : Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah (Galatia 4:7)
Bacaan : Galatia 3:19-4:7

Ada kisah kuno mengenai seorang lelaki bernama Astyages yang berniat membunuh pangeran yang masih bayi bernama Cyrus. Lalu ia memanggil seorang prajurit di lingkungan rumahnya dan menyuruhnya membunuh bayi itu. Prajurit tersebut kemudian menyerahkan bayi itu kepada seorang gembala dan menyuruhnya naik dan menaruh bayi itu di atas gunung supaya mati kedinginan.

Tetapi gembala dan istrinya justru mengambil bayi itu dan memeliharanya seperti anak mereka sendiri. Karena dibesarkan dalam keluarga petani yang sederhana, ia mengira bahwa mereka adalah orangtuanya yang sebenarnya. Ia tidak menyadari darah bangsawan dan garis keturunan raja yang ada dalam dirinya. Karena ia berpikir ia seorang petani miskin, ia pun hidup seperti petani.

Banyak orang kristiani tidak menyadari bahwa mereka adalah ahli waris raja. Padahal mereka memiliki hak waris itu melalui Kristus. Mereka hidup seperti petani rohani yang miskin ketika mereka seharusnya hidup sebagai raja. Menurut Rasul Paulus, orang percaya “adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus” (Galatia 3:26). Ia juga mengatakan, “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa.’ Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah” (4:6,7)

Allah telah memberi kita segala yang kita perlukan untuk hidup penuh kemenangan dan kelimpahan. Jangan hidup seperti “petani miskin” -RWD

28 November 2005

Perubahan yang Menyegarkan

Nats : Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! (2 Korintus 9:15)
Bacaan : 2Korintus 8:1-9

Mulai setiap Oktober, katalog yang menawarkan pakaian, alat rumah tangga, sepatu, lilin, buku, musik akan memenuhi kotak surat saya-melebihi yang saya perlukan atau inginkan untuk saya sendiri atau orang-orang terkasih pada hari Natal.

Tetapi ada satu katalog yang saya terima November lalu, membuat perubahan yang menyegarkan. Katalog itu berisi cara yang untuk berbagi dengan anak yatim piatu, orang miskin, kelaparan, sakit, dan cacat melalui pelayanan internasional kristiani. Tulisan di bagian depan katalog itu berbunyi: “Bagikanlah terang dan kasih Yesus Kristus dengan orang yang hidup penuh dengan kegelapan dan keputusasaan.” Memikirkan hal lain selain membeli satu barang lagi untuk seseorang yang telah mempunyai begitu banyak barang adalah hal yang sangat melegakan!

Jemaat Makedonia adalah sebuah contoh tentang kemurahan hati (2 Korintus 8:1-6). Mula-mula mereka memberikan diri kepada Tuhan, kemudian mereka membantu orang-orang yang kekurangan di Yerusalem. Paulus pun kemudian mendorong jemaat Korintus untuk mengikuti teladan mereka dan teladan Kristus, yang telah memberikan diri-Nya dan “menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (ayat 9).

Apakah Anda menginginkan perubahan yang menyegarkan pada Natal tahun ini? Pertimbangkanlah cara baru untuk memberikan diri kepada Tuhan dan kepada mereka yang kekurangan. Inilah cara penuh arti untuk bersyukur kepada Allah atas “pemberian-Nya yang tak terlukiskan”, yaitu keselamatan melalui Putra-Nya -AMC

5 Februari 2006

Anugerah Pancaindra

Nats : Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas (Yakobus 1:17)
Bacaan : Keluaran 37:1-9

Pemenuhan kepuasan pancaindra kita telah mendapat kesan yang buruk, mungkin karena kita hidup di dunia yang terobsesi dengan kesenangan. Namun, Allah mengizinkan kita mengalami kesenangan yang pada tempatnya, yang diperoleh melalui pancaindra.

Pertama, Allah menciptakan alat pengindra-penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, peraba-dan semua yang Dia ciptakan baik adanya.

Kedua, Allah membuat keadaan yang menyentuh perasaan sebagai bagian penyembahan. Renungkan tata penyembahan formal mula-mula kepada Allah: Kemah Suci (Tabernakel). Ada banyak hiasan di sana, tabut terbalut emas untuk menyimpan loh-loh batu yang Allah berikan kepada Musa di Gunung Sinai. Allah menyukai keindahan. Di kemah itu terdapat mezbah pembakaran ukupan tempat para imam membakar campuran rempah-rempah berbau harum buatan ahli parfum. Allah menghargai bau-bauan yang wangi. Di kemah itu terdapat meja yang dikerjakan secara teliti, tempat berbagai piring dan cawan minuman. Allah menghargai makanan dan minuman lezat. Di sekeliling tabernakel ada tirai dari kain wol warna-warni dan kain lenan halus yang benangnya dipintal. Allah menghargai keindahan warna dan tekstur. Musik juga bagian dari penyembahan, seperti yang kita pelajari dari 2Tawarikh 29:28. Allah menghargai suara yang merdu.

Ya, Allah menghargai hal-hal menyenangkan yang terlihat, terdengar, tercium, tercecap, dan dapat dirasakan. Namun, Dia tidak ingin kita menyembah hal-hal itu. Dia ingin kesukaan dan ucapan syukur yang kita rasakan mendorong kita untuk menyembah-Nya, Sang Pencipta dan Pemberi semua hal yang baik --JAL

28 Juni 2006

Berterima Kasih

Nats : Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kolose 3:17)
Bacaan : Kolose 3:12-17

Tolong dan terima kasih adalah sebagian dari kata-kata pertama yang diajarkan kepada kita. Tak ada yang segembira orangtua atau kakek dan nenek, saat seorang anak mengucapkan kata-kata itu untuk pertama kalinya dan tahu hubungan antara meminta dengan sopan dan menerima dengan berterima kasih.

Namun saya yakin bahwa saat kita tumbuh dewasa, kita lebih terlatih untuk berkata "tolong" daripada "terima kasih", terutama kepada Bapa surgawi. Kita lebih memusatkan perhatian kepada kebutuhan yang mendesak daripada apa yang sudah kita terima; kita lebih banyak memohon daripada menaikkan pujian. Allah memang mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita, tetapi Dia juga mendorong kita untuk membiasakan diri berterima kasih.

Dalam Kolose 3:15, Paulus mengajarkan kepada setiap pengikut Yesus Kristus "hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu". Dan tiga kali ia mengingatkan kita untuk tetap bersyukur kepada Allah: "bersyukurlah" (ayat 15); bernyanyi dengan penuh syukur kepada Tuhan (ayat 16); "lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (ayat 17).

Dr. Michael Avery, presiden Sekolah Alkitab Allah di Cincinnati, Ohio, berkata, "Aroma harum dari jiwa yang bersyukur menghormati dan memuliakan Allah. Hal itu mengusir kemuraman dan mendatangkan kedamaian yang indah serta pengharapan yang penuh berkat. Rasa syukur mendorong kemurahan hati."

Bersyukur kepada Allah itu baik --DCM

26 Juli 2006

Kemakmuran dan Kemalangan

Nats : Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku (Amsal 30:8)
Bacaan : Amsal 30:1-9

Kemakmuran dan kemalangan merupakan penghancur yang setara. Kerasnya hidup dapat membahayakan karena orang yang kaya dapat menemui kesulitan yang sama dengan orang yang tak berpunya.

Agur, penulis Amsal 30, semestinya sudah merasakan bahaya ini ketika ia berdoa, "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku" (Amsal 30:8,9).

Permohonan yang sama terdapat di dalam kidung pujian yang indah karya Benjamin Harlan:

Tuliskanlah nama-Mu yang kudus,

Di hatiku, ya Tuhan,

Terukir di sana tak terhapuskan

Sehingga kemakmuran maupun kemalangan

Takkan menjauhkanku dari kasih-Mu.

Fokus dari Amsal 30 adalah keadaan sekitar, sementara kidung pujian di atas mengacu pada keadaan hati kita. Mungkin kita perlu berdoa agar Allah melindungi kita di kedua area kehidupan kita itu.

Mendiang Dr. Carlyle Marney, seorang pendeta ternama, kerap berkata bahwa kebanyakan kita perlu mencukupkan "keinginan kita yang semakin bertambah". Daripada selalu meminta, kita seharusnya mencari keseimbangan yang diungkapkan dalam Amsal 30.

Saat kita mengundang Tuhan agar memiliki hidup kita, berarti kita mengakui pemeliharaan-Nya yang penuh kasih dan berhikmat bagi seluruh kebutuhan kita --DCM

30 Oktober 2006

Apa yang Ada di Mulutku?

Nats : Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini" (Mazmur 126:2)
Bacaan : Mazmur 126

Para ahli komunikasi mengatakan bahwa kata yang diucapkan orang rata-rata setiap hari cukup untuk memenuhi 20 halaman dengan spasi tunggal. Ini berarti mulut kita meluncurkan kata-kata yang cukup untuk mengisi 2 jilid buku sebanyak 300 halaman kertas setiap bulan, 24 buku setiap tahun, dan 1.200 buku dalam 50 tahun berbicara. Dengan adanya telepon, pesan suara, dan percakapan tatap muka, kata-kata mengisi sebagian besar hidup kita. Itu sebabnya, jenis kata-kata yang kita gunakan sangatlah penting.

Mulut pemazmur penuh dengan puji-pujian ketika ia menulis Mazmur 126. Tuhan telah melakukan perkara besar untuk Daud dan rakyatnya. Bahkan bangsa-bangsa di sekitarnya pun mengakuinya. Dengan mengingat berkat Allah, Daud berkata, "Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai" (ayat 2).

Kata-kata apa yang akan Anda gunakan pada ayat 3 seandainya Anda yang menulis Mazmur ini? Kerap kali sikap kita mungkin seperti ini: "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada saya, dan saya --

.... tidak dapat mengingat satu perkara pun saat ini."
.... sedang menebak-nebak apa yang hendak Dia lakukan untuk saya selanjutnya."
.... menginginkan lebih banyak."

Ataukah Anda akan mengakhirinya dengan berkata, "Saya memuji dan bersyukur atas kebaikan-Nya"? Jika Anda mengingat anugerah Allah pada hari ini, ungkapkanlah puji-pujian Anda kepada-Nya -AMC

19 November 2006

Menikmati Pemberian Allah

Nats : Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang (Yakobus 1:17)
Bacaan : Yakobus 1:13-21

Untuk menghadiri retret pelayanan wanita di Tallinn, Estonia, Eropa Timur, Kara dan April meninggalkan Rusia Tengah dan menempuh perjalanan melintasi enam zona waktu yang berbeda. Karena beberapa bandara berkabut dan ada penerbangan yang dialihkan, mereka harus mengeluarkan uang tambahan sebesar 600 dolar. Kara merasa bersalah karena meninggalkan suaminya bersama kedua putrinya, demi mengikuti retret. Pengeluaran yang tak terduga tadi juga menambah rasa bersalahnya. Hal ini yang membuat Kara akhirnya mengirim e-mail kepada suaminya untuk mengabarkan bahwa ia sangat sulit menikmati retret tersebut.

Suami Kara menasihatinya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pengeluaran yang berlebih itu. Ia berkata, "Lagi pula, Dia adalah Allah yang telah menjadikan kita ahli waris-Nya dan kita menjadi ahli waris yang setara dengan Kristus. Dia adalah yang memberikan Hawa kepada Adam. Dia adalah Allah yang senang memberikan hal-hal baik untuk anak-anak-Nya. Surga adalah karunia terbesar bagi kita ... tetapi kupikir Dia memberi hal baik untuk dinikmati -- memberi kita waktu untuk menikmati berkat-berkat-Nya. Dan saat ini adalah waktu yang diberikan kepadamu. Jangan khawatir, pengorbanan kami menunggumu akan terbalas jika kau kembali." Kita dapat menarik hal baru dari tanggapan suami Kara ini.

Sama seperti Kara yang akhirnya bisa menikmati retretnya, kita pun sebagai anak Allah dapat menikmati hal baik yang telah diberikan Tuhan tanpa merasa bersalah (1 Timotius 6:17). Selanjutnya, kita dapat menggunakan hal baik itu untuk menyalurkan berkat kepada orang lain --DCE

1 Januari 2007

Memperlambat Diri

Nats : Kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan ... merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2)
Bacaan : Mazmur 1

Resolusi Tahun Baru kerap kali justru mempercepat gerak hidup kita, bukannya menolong kita memperlambatnya. Agar lebih produktif dan efisien, kita justru memadatkan agenda, tergesa-gesa menyelesaikan makan, mengemudi dengan tidak sabar, lalu bertanya-tanya mengapa kita tidak bisa bersukacita.

Carol Odell, seorang penulis sebuah kolom konsultasi bisnis, mengatakan bahwa mem-perlambat gerak hidup dapat memberi dampak positif bagi kita di tempat kerja dan di ru-mah. Ia percaya ketergesa-gesaan dapat memengaruhi pengambilan keputusan kita dan menyebabkan kita mengabaikan hal-hal penting serta orang-orang terkasih. Itu sebabnya Carol menganjurkan setiap orang untuk memperlambat gerak hidup, dan bahkan menyarankan ide radikal untuk sengaja menunggu lampu lalu lintas menjadi merah dan menggunakan waktu itu untuk meditasi.

Dalam Mazmur 1, kita tidak menemukan gambaran tentang gerak hidup yang begitu cepat. Perikop itu justru melukiskan seseorang yang menikmati berkat Allah. Ia tidak berpikir dan bertindak seperti mereka yang jarang memikirkan hal-hal rohani, sebaliknya "Kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan ... merenungkan Taurat itu siang dan malam" (ayat 2). Hasilnya, ia memiliki hidup yang berbuah dan jiwa yang sehat (ayat 3).

Yesaya menulis, "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya" (Yesaya 26:3). Hari ini, cobalah renungkan ayat tersebut setiap kali Anda harus menunggu sesuatu. Bukankah sudah waktunya bagi kita semua untuk memperlambat gerak hidup dan menikmatinya? --DCM

14 Juni 2007

Makanan Secukupnya

Nats : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11)
Bacaan : Matius 6:9-13

Belum lama berselang, saya pergi ke Republik Demokrat Kongo untuk memimpin sebuah konferensi Alkitab. Saya menikmati keindahan Hutan Nyungwe dan Sungai Ruzizi, yang memisahkan Kongo dari Rwanda. Saya merasakan keramahan yang menakjubkan dari orang Kongo, dan hati saya tersentuh oleh ketulusan iman mereka akan pemeliharaan Allah.

Pengangguran, kemiskinan, dan kekurangan gizi menjadi masalah serius di sana. Masyarakat kerap tidak tahu dari mana mereka akan mendapat makanan selanjutnya. Karena itu, setiap kali mereka duduk dan makan, mereka bersyukur kepada Allah dan memohon makanan yang berikutnya kepada-Nya.

Doa mereka sangat serupa dengan doa Yesus dalam Matius 6:11, "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." Kata makanan berarti makanan apa saja. Kata "hari ini" menunjukkan pemeliharaan yang datang pada mereka tiap-tiap hari.

Banyak pekerja pada abad pertama mendapatkan bayaran harian, sehingga apabila mereka sakit selama beberapa hari berarti itu merupakan tragedi bagi mereka. Kata "hari ini" dapat diartikan menjadi "untuk setiap hari yang menjelang". Dengan begitu doa tersebut bisa berbunyi demikian: "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami untuk setiap hari yang menjelang." Itu menjadi doa yang sangat penting bagi mereka yang hidup pas-pasan.

Doa ini meminta para pengikut Yesus di mana pun untuk mengakui bahwa kemampuan kita untuk bekerja dan mendapatkan makanan secukupnya itu berasal dari tangan Allah --MW


Tuhan, terima kasih atas makanan kami sehari-hari
Dan segala sesuatu yang Kausediakan;
Tambahkan iman dan bantulah kami untuk mengerti
Betapa persediaan-Mu itu luas dan dalam. --Sper

18 Juni 2007

Gunakan dengan Bijak

Nats : Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mazmur 24:1)
Bacaan : Kejadian 1:27-31; 2:8-15

Allah memberi kita hadiah yang luar biasa -- dunia yang indah tempat kita tinggal. Namun, tatkala hidup bersama dengan banyak orang lain di planet ini, tentu kita menghadapi kemungkinan menyaksikan sirnanya keindahan dan habisnya berbagai sumber alam.

Walau kita berhak memakai berbagai sumber alam yang Allah tempatkan di dalam dan di atas bumi, harus diakui, kita bertanggung jawab menghargai bumi sebagai milik-Nya dan memelihara berbagai sumber alam bagi generasi selanjutnya.

Dalam Kejadian, Tuhan memberi tahu Adam (yang juga berlaku bagi kita semua) untuk "mengusahakan dan memelihara" bumi ini (2:15). Karena tak tahu kapan Yesus akan datang lagi, kita akan menjadi penatalayan yang tak bertanggung jawab bila tidak menyisakan anak dan cucu kita sumber alam yang Allah berikan juga bagi mereka.

Mungkin kita menganggap usaha pribadi kita untuk memelihara dunia milik Allah ini tidak berarti. Namun, kita semua bisa bekerja sama untuk mengerjakan bagian kita. Mengurangi kebiasaan berbelanja dan mengonsumsi segala sesuatu, mulai menjalani hidup sederhana, memupuk sikap suka memperbaiki bukannya mengganti barang yang rusak, memakai kembali barang yang sudah ada, dan mendaur ulang sampah merupakan tindakan pengelolaan yang baik.

Satu cara yang dapat membuktikan kasih kita kepada Allah dan mengungkapkan rasa syukur atas segala tindakan-Nya adalah mengusahakan dan memelihara bumi ini beserta segala isinya. Mari kita kelola dunia ini dengan bijak sampai Tuhan datang --JDB


Alam lingkungan yang Allah ciptakan
Diberikan kepada kita dan harus kita wariskan;
Kiranya generasi-generasi yang akan datang
Bersyukur atas kepedulian kita. --D. De Haan

10 Maret 2008

Mengampuni Seperti Mawar

Nats : Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demi (Kolose 3:13)
Bacaan : Kolose 3:1-17

Banyak pasangan bercerai, salah satunya karena kurangnya pengampunan. Katakata kasar menembus sampai ke hati, sehingga pribadi yang terluka sulit memaafkan. Banyak keluarga juga mengalami keretakan relasi, karena antara orangtua dan anak atau antarsaudara sulit untuk saling memaafkan kesalahan. Banyak kolega dalam pekerjaan juga terpisahkan karena pengampunan sulit diberikan.

Alkitab menyatakan bahwa pengampunan sejati diberikan oleh Tuhan Yesus. Bahkan, Yesus memberikan pengampunan tanpa batas kepada kita yang menanggung banyak dosa. Oleh pengampunan-Nya, kita dibebaskan dari hukuman atas dosa. Bacaan firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk bersikap sabar dan suka mengampuni seorang terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita (Kolose 3:13). Inilah salah satu ciri manusia baru.

Sebuah kalimat bijak berkata, "Pengampunan seperti mawar yang memancarkan keharuman bagi orang yang menginjaknya." Yesus telah memberi teladan yang sempurna dalam hal ini. Dia rela memberikan diriNya disalibkan dan dihina, namun Dia "memancarkan keharuman" yang menuntun kita kepada keselamatan kekal. Inilah prinsip yang Yesus ajarkan. Dan, sebagai manusia baru yang terus-menerus diperbarui hingga serupa dengan Dia (ayat 10), kita perlu mengedepankan pengampunan, bahkan jika kita tak berada dalam posisi salah sekalipun!

Mari kita mempraktikkan pengampunan dalam hidup kita. Mengampuni seperti Tuhan Yesus, mengampuni orang yang bahkan menurut ukuran dunia tidak pantas diampuni -MZ

18 Juni 2008

Sapaan Damai

Nats : Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai (Yakobus 3:18)
Bacaan : Yakobus 3:13-18

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara sejak perang Korea lebih dari setengah abad lalu, tidak pernah reda. Bahkan, isu nuklir Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir membuat hubungan mereka semakin kritis. Upaya diplomasi melalui perundingan berjalan sangat alot.

Atas prakarsa bersama, rombongan musik New York Philharmonic dari Amerika, menggelar konser musik di Teater Agung Pyongyang, ibukota Korea Utara, pada tanggal 26 Februari 2008. Konser yang diusung oleh tim berjumlah 350 orang itu mendapat sambutan luar biasa. Banyak orang yang menyaksikan langsung atau melalui siaran televisi, terharu dan meneteskan air mata. Konser itu berhasil merengkuh hati warga Korea. Rupanya cara ini telah menjadi sapaan damai yang lebih ampuh ketimbang gunboat diplomacy (diplomasi ancaman perang) dan ancaman embargo.

Di dunia ini, sebuah dalil berkata, "Untuk menegakkan perdamaian, kita harus siap berperang." Namun kiranya dalil ini tak dianut oleh anak-anak Tuhan yang memiliki hikmat "dari atas". Firman Tuhan mengajak kita untuk menegakkan perdamaian dengan cara yang berkebalikan dengan dalil dunia; kita harus menunjukkan kelemahlembutan (ayat 13)! Kita juga harus rela menghilangkan segala keirihatian, egoisme, dan sifat memegahkan diri—yang kerap kali menjadi pemicu ketidakdamaian (ayat 16). Selanjutnya kita diminta untuk memiliki hati yang murni, pendamai, peramah ... (ayat 17). Melalui jalan inilah kita akan menuai damai (ayat 18). Inilah tantangan kita hari ini; menjadi pembawa damai di mana pun kita berada —NDA

13 Agustus 2008

Cara Pandang

Nats : Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Bilangan 14:8)
Bacaan : Bilangan 14:1-14

Seorang ibu meminta anak sulungnya membeli sebotol minyak. Dalam perjalanan pulang, si sulung terjatuh. Minyak dalam botolnya tumpah separuh. "Bu, tadi saya jatuh dan menumpahkan minyak setengah botol," katanya. Hari berikutnya, giliran si bungsu yang diminta sang ibu untuk membeli minyak. Kejadian yang sama terulang. Dalam perjalanan pulang si bungsu terjatuh dan minyak yang dibawanya tumpah separuh. "Bu, tadi saya jatuh. Minyaknya tumpah, tetapi saya berhasil menyelamatkan separuhnya," katanya.

Kejadiannya sama, tetapi ada satu hal yang membedakan, yaitu cara pandang. Si sulung melihat pengalamannya secara negatif, sedang si bungsu melihat pengalamannya secara positif. Itu pula yang terjadi pada kedua belas orang pengintai yang diutus oleh Musa. Mereka melihat kenyataan yang sama. Namun, mereka pulang dengan laporan yang jauh berbeda. Sepuluh orang pengintai melihat dengan mata pesimis bahwa tantangan yang mereka lihat tidak mungkin diatasi. Sedangkan dua pengintai lainnya, Yosua dan Kaleb, melihat dengan optimis bahwa dengan pertolongan Tuhan Yang Mahabesar mereka akan mampu mengatasi segala tantangan yang ada di depan.

Kuncinya adalah berfokus pada hal-hal yang positif. Seperti si bungsu dalam cerita di atas, berfokus pada separuh minyak yang berhasil ia selamatkan; Yosua dan Kaleb, juga berfokus pada kasih, penyertaan, dan pemeliharaan Tuhan. Apakah kenyataan yang sedang Anda hadapi saat ini? Coba buat daftar hal baik apa saja yang ada di baliknya. Lalu fokuskan pikiran dan hati Anda pada hal-hal baik itu. Efeknya akan sangat berbeda -AYA



TIP #15: Gunakan tautan Nomor Strong untuk mempelajari teks asli Ibrani dan Yunani. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA