17 Mei 2008

Meredam Pertengkaran

Topik : Kekekalan

Nats : Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan (Amsal 26:21)
Bacaan : Kejadian 26:12-31

Dalam sebuah bukunya, Anthony de Mello menceritakan kisah ini: Ada dua orang bijak yang selama puluhan tahun tinggal bersama dengan damai. Tak pernah sekali pun mereka cekcok. Suatu hari, seorang dari mereka berkata, "Bagaimana kalau hari ini kita mencoba untuk bertengkar?" Yang lain setuju, "Baik, mari kita pertengkarkan sepotong roti ini." Lalu mereka bersiap-siap memulai pertengkaran itu. Orang pertama berkata, "Roti ini punyaku. Ini milikku semua." Orang bijak kedua menyahut, "Tidak apa-apa. Silakan saja ambil semua." Pertengkaran itu pun gagal.

Dalam bacaan kita hari ini, para gembala Ishak dan gembala Gerar mempertengkarkan sumur yang digali untuk memberi minum ternak mereka. Sumur itu layak menjadi rebutan karena airnya yang berbual-bual (ayat 19). Namun, Ishak tidak mau berlama-lama dalam pertengkaran itu. Ia pun memilih pindah ke tempat lain dan menggali sumur yang baru. Sikap Ishak itu pun menuai simpati. Si orang Gerar kemudian memutuskan untuk berdamai (ayat 28,29).

Keinginan untuk menguasai adalah akar masalah dalam relasi antarmanusia. Biasanya pertengkaran dipicu dan dipacu oleh sifat lebih suka menerima daripada memberi; mempertahankan, menuntut, meminta bagian kita. Kita hanya berfokus pada bagaimana orang memerhatikan, menghormati, bersimpati dengan kita. Kita hanya mau didengar, dituruti, dan dimengerti. Sayangnya, kita tidak mau melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Padahal tidak jarang, justru dengan memberi kita mendapatkan. Ishak telah membuktikannya -AYA



TIP #05: Coba klik dua kali sembarang kata untuk melakukan pencarian instan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA