22 Februari 2008

Bang Salim

Topik : Penghiburan

Nats : ... supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara ... dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kejadian 1:26)
Bacaan : Kejadian 1:26-31

Pertemuan dengan Bang Salim di penangkaran penyu sisik di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, membuat saya termenung. Sosoknya sederhana dan jauh dari gelegar retorika. Ia menceritakan bagaimana telur penyu sisik diambil dari Pulau Peteloran, dilindungi dari hama, ditunggu sampai menetas semi alamiah, di-hindarkan dari predator, sampai akhirnya tukik (bayi penyu sisik) dilepaskan ke laut bebas.

Namun, sorot mata yang tajam tak dapat menyembunyikan komitmennya yang teguh. Selama lebih dari 19 tahun, ia berhasil melepas 6.000 tukik per tahun. Tak hanya itu. Ia juga melestarikan hutan bakau (mangrove) seluas 39,5 ha di Kepulauan Seribu. Bertahun-tahun, seorang diri dan dengan biaya sendiri, ia melakukan penjagaan pulau konservasi dan taman laut seluas 2.475 ha dengan perahu sederhananya. Tak salah jika akhirnya pemerintah menganugerahkan penghargaan Kalpataru 2006 kepadanya.

Manusia diciptakan dengan keistimewaan: serupa dan segambar dengan Sang Pencipta (ayat 26). Keistimewaan ini diikuti oleh tanggung jawab yang sangat besar dan mulia, yaitu menjaga dan memelihara alam ciptaan-Nya (ayat 26-28). Tanpa banyak bekal teori, Bang Salim telah mewujudkan ketaatan yang konkret atas ayat ini.

Selain bersyukur akan kekayaan tanah air, kita juga perlu sadar akan tanggung jawab kita. Mari kita cintai negeri ini dengan memelihara dan menjaga kelestarian alam sekitar kita, sejauh yang kita mampu. Tuhan sudah memberi kita sangat banyak. Mari kita rawat dan jagai semuanya sebagai wujud ketaatan kita kepada-Nya --WP



TIP #23: Gunakan Studi Kamus dengan menggunakan indeks kata atau kotak pencarian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.00 detik
dipersembahkan oleh YLSA