26 Mei 2004

Allah Hidup!

Topik : Rasa Syukur/Ucapan Syukur

Nats : Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu (Mazmur 30:13)
Bacaan : Mazmur 30

Martin Luther, teolog besar abad ke-16, pernah merasa khawatir dan putus asa dalam waktu lama. Suatu hari istrinya berpakaian kabung berwarna hitam.

“Siapa yang meninggal?” tanya Luther.

“Allah,” sahut istrinya.

“Allah!” tukas Luther terkejut. “Bagaimana kamu bisa berkata begitu?”

Istrinya menjawab, “Yang kumaksud caramu menjalani hidup saat ini.”

Luther menyadari cara hidupnya saat itu menggambarkan seolah Allah telah mati dan tak lagi melindungi mereka dengan kasih-Nya. Ia pun mengubah penampilannya yang murung menjadi penuh rasa syukur.

Terkadang cara hidup kita pun menggambarkan seolah-olah Allah telah mati. Ketika putus asa, kita dapat membaca kitab Mazmur. Sebagian penulis kitab itu menghadapi masa-masa yang suram dan susah, tetapi mereka memiliki satu kebiasaan yang menjaga agar mereka tidak makin tenggelam, yakni bersyukur kepada Allah. Misalnya, Daud menulis, “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari ... Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu” (Mazmur 30:12,13).

Menghadapi segala situasi dengan penuh syukur bukanlah suatu bentuk penyangkalan atas kesulitan. Cara itu justru menolong kita melihat situasi tersebut melalui cara pandang Allah, yakni melihat sebagai kesempatan untuk merasakan kuasa dan kasih-Nya.

Tiap kali Anda mengucap syukur kepada Allah di tengah situasi yang sulit, sesungguhnya Anda sedang menyatakan, “Allah hidup!” —Joanie Yoder



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.00 detik
dipersembahkan oleh YLSA