Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: ROMA, SURAT KEPADA

ROMA, SURAT KEPADA

ROMA, SURAT KEPADA [ensiklopedia]

I. Garis besar isi

a. Pendahuluan (Rm 1:1-15)

Rasul Paulus mengemukakan salam yg cukup panjang, disusuli alasan-alasan mengapa ia ingin mengunjungi jemaat Roma.

b. Doktrin (Rm 1:16; 8:39)

Tema utama Rm ialah kebenaran Allah.

(i) Yahudi dan semua bangsa non-Yahudi adalah sama-sama tidak benar di hadapan Allah yg benar (Rm 1:18; 3:20) sekalipun Yahudi beroleh beberapa hak istimewa.

(ii) Kendati demikian, Allah berprakarsa memperbaiki keadaan itu. Allah menyediakan pendamaian dalam Kristus. (Rm 3:21-26). Karena nampak pengorbanan Kristus hanya dapat diperoleh dengan iman, maka jalan keselamatan terbuka bagi Yahudi dan non-Yahudi (Rm 3:27-31). Teladan Abraham menunjukkan bahwa pembenaran adalah karena iman, bukan karena aural perbuatan (Rm 4:1-25). Tersedia cukup berkat menyertai pembenaran orang beriman (Rm 5:1-11). Sama seperti dosa datang melalui Adam melanda segala sesuatu, demikian juga kehidupan datang melalui Kristus (Rm 5:12-21).

(iii) Kebenaran harus diterapkan dalam kehidupan. Ini dapat dicapai melalui persekutuan dengan Kristus, karena orang beriman mati bersama Kristus dan sekarang hidup dalam Kristus (Rm 6:1-14). Kehidupan yg baru ini mencakup pengabdian baru, karena orang beriman -- sekalipun telah dimerdekakan dari Taurat -- menjadi pelayan Allah (Rm 6:15; 7:6). Taurat tidak menolong proses pengudusan, karena Taurat justru menimbulkan pertentangan batiniah (Rm 7:7-25). Tapi hidup dalam Roh mendatangkan kemenangan bagi orang beriman, karena kuasa dosa telah dihancurkan dan kedudukan baru sebagai anak menggeser keterhambaan atas dosa (Rm 8:1-17). Orang beriman mempunyai pengharapan yg kukuh akan masa datang, bahkan makhluk ciptaan lainnya pun mempunyai pengharapan demikian (Rm 8:18-25). Hidup sekarang dikuatkan oleh syafaat Roh dan keamanan berkat pemberian kasih Allah (Rm 8:26-39).

c. Masalah Israel (Rm 9:1; 11:36)

Tema kebenaran Allah sekarang disajikan berkaitan dengan sejarah, untuk menjawab persoalan yg timbul akibat penolakan Israel.

(i) Kebajikan-kebajikan Allah adalah sahih berdaulat dan adil. Makhluk ciptaan tidak layak dan tidak berhak mempertanyakan keputusan-keputusan Allah (Rm 9:1-29).

(ii) Penolakan Israel bukanlah masalah sepele, melainkan murni kesalahan sendiri, karena mereka mempunyai kesempatan yg luas untuk bertobat (Rm 9:30; 10:21).

(iii) Kendati demikian Israel dapat mengharapkan pemulihan. Allah selalu memelihara yg sisa (Rm 11:1-6). Kegagalan Israel sendiri menyebabkan non-Yahudi dimasukkan dalam warga ilahi (Rm 11:7-12), dan yg akan menjadi peranti pemulihan Israel (analogi pohon zaitun) (Rm 11:13-24). Keadaan final Israel berada dalam tangan Allah yg kebijakanNya tidak terduga (Rm 11:25-36).

d. Peringatan-peringatan praktis (Rm 12:1; 15:13)

(i) Kewajiban-kewajiban pribadi dan kewajiban umum sebagai dampak dari penyerahan diri (Rm 12:1-21).

(ii) Kewajiban-kewajiban sosial seperti ketaatan kepada pemerintah, keramah-tamahan dan perilaku tulus (Rm 13:1-14).

(iii) Pentingnya toleransi kristiani. Tuntutan akan hal ini mencolok khususnya dalam masalah makanan (Rm 14:1; 15:13).

e. Penutup (Rm 15:14; 16:27)

(i) Alasan menulis surat (Rm 15:14-21).

(ii) Rencana masa depan (Rm 15:22-29).

(iii) Permohonan akan dukungan doa untuk kunjungannya ke Yerusalem (Rm 15:30-33).

(iv) Beberapa orang Kristen dikirimi salam pribadi (Rm 16:1-16).

(v) Peringatan tentang guru-guru palsu (Rm 16:17-19).

(vi) Salam pribadi, berkat dan pujian (Rm 16:20-27).

II. Jemaat Kristen di Roma

Pada masa Paulus kota Roma sangat penting. Paulus sendiri menyatakan betapa kuat keinginannya untuk memberitakan Injil di sana. Sebagai ahli siasat memberitakan Injil, ia menyadari pentingnya peranan jemaat Kristen di pusat kerajaan Romawi itu dan, boleh jadi hal ini mempengaruhi bentuk Surat Rm. Asal usul jemaat yg begitu penting ini tidak kita diketahui, dan mereka-rekanya tidaklah berfaedah. Mungkin jemaat itu didirikan oleh orang-orang yg bertobat pada hari Pentakosta, yg kembali ke rumah mereka di Roma dengan luapan kegembiraan karena iman mereka yg baru. Tapi kendati orang Roma disebut dalam Kis 2, tidaklah dirinci apakah mereka bertobat dan menjadi pengikut Kristus pada hari itu. Perjalanan antara Roma dan kota-kota propinsi relatif mudah zaman itu, dan tentu banyak pengikut Kristus yg bepergian melalui jalan raja kerajaan. Ketika Paulus menulis kepada jemaat Roma, jemaat itu sudah cukup besar. Kaisar Klaudius mengusir orang Yahudi dari Roma, yg menurut Suetonius adalah karena 'Chrestus'. Jika pengusiran itu berkaitan dengan jemaat Kristen, maka mungkin jumlah anggota jemaat Roma sudah sangat besar.

Apa hubungan Petrus dengan jemaat Roma sukar dijawab. Memang jelas ia bukan pendiri jemaat Roma, karena ia masih di Yerusalem waktu maklumat Klaudius diterbitkan, dan jemaat Roma tentu sudah mulai beberapa tahun sebelum itu. Paulus juga tidak menyebut Petrus dalam Suratnya, hal yg sukar dijelaskan seandainya Petrus benar pimpinan jemaat Roma, dan pernyataan Paulus dalam 15:20 melawan kemungkinan itu. Tradisi bahwa Petrus dan Paulus mati martir di Roma cukup kuat, dan Klement dari Roma (kr 85 M) bersaksi tentang hal itu.

Besar kemungkinan bahwa anggota jemaat Roma terdiri dari Yahudi dan non Yahudi, dan kelompok terakhir adalah mayoritas. Komposisi demikian cocok dengan keadaan kota metropolitan di mana Yahudi adalah minoritas, dan kemungkinan ini didukung oleh Rm. Nampaknya Paulus kadang-kadang berbicara khusus kepada kelompok Yahudi, seperti teracu dalam sebutan Abraham 'bapak kits' (4:1) dan acuan pembicaraan langsung dengan para penanya Yahudi dalam ps 2; pada bagian lain ia berbicara kepada non-Yahudi (1:5 dab; Rm 11:13, 28-31). Hanya ada sedikit acuan bahwa tradisi jemaat Roma mengikuti aliran Kristen-Yahudi yg berpandangan sempit, maka wajar menduga bahwa masyarakat Kristen Roma sepaham dengan Paulus. Juga tidak ada bukti perihal ketegangan antara Yahudi dan non-Yahudi seperti nyata dalam Surat Gal.

III. Tarikh dan tempat penulisan

Acuan-acuan dalam Surat Rm mengenai lokasi di mana Paulus menulis Rm, menunjukkan masa ia tinggal di Yunani pada akhir safari ketiga penginjilannya (Kis 20:2). Ia memusatkan perhatiannya ke dunia barat, karena itu ia ingin segera mengunjungi Roma bahkan Spanyol (Rm 15:24, 28). Safari penginjilannya di timur sudah berakhir, dan ini sesuai situasi Kis 20. Lagipula, Paulus di Akhaya dalam perjalanan menuju Yerusalem, dan menurut Rm 15:25 ia berharap ke Yerusalem dengan uang persembahan dari jemaat-jemaat untuk membantu orang-orang Kristen yg miskin di sana. Tak dapat diragukan bahwa Paulus menulis Rm tepat sebelum tahapan akhir dari safari ketiga penginjilannya.

Kesimpulan ini didukung oleh acuan dalam ps 16 tentang Korintus sebagai tempat pengiriman surat (perlu diingat, tidak semua ahli sependapat tentang hal ini, karena beberapa ahli berpikir, Ps 16 dikirim ke Efesus bukan ke Roma, lih di bawah). Paulus meminta perhatikan terhadap Febe yg melayani jemaat di Kengkrea, salah satu dari dua pelabuhan Korintus. Gayus yg memberi tumpangan kepada Paulus pada waktu penulisan surat, mungkin adalah orang Kristen yg disebut dalam 1 Kor 1:14 (*GAYUS). Dan Erastus dalam Rm 16:23 adalah Erastus dalam 2 Tim 4:20 yg ditinggalkan di Korintus, mungkin tidaklah pasti. Rujukan pada Timotius dan Sopater (Sosipater) dalam Rm 16:21, adalah penting keduanya menyertai Paulus pada kunjungannya ke Yerusalem (Kis 20:4).

Karena itu tarikh penulisan Rm dapat ditentukan dengan ketepatan relatif, kendati masalah kronologi umumnya, dan kronologi Paulus khususnya, tidak memungkinkan penentuan mutlak. Nampaknya waktu antara thn 57 dan 59 M cocok dengan semua data yg tersedia.

IV. Tujuan

Keadaan tertentu mendorong menulis Rm. Niat Paulus memberitakan Injil di Spanyol menyebabkan dia meminta bantuan jemaat Roma mendukungnya melaksanakan niat itu (bnd Rm 15:24). Saat memikirkan kunjungannya ke jemaat Roma, ia terpikir mungkin karunia rohaninya dapat ia layankan kepada mereka, dan ia maupun mereka akan terhibur dan ditopang (1:11-12).

Mungkin Paulus telah mendengar beberapa kesulitan praktis yg dialami orang Kristen Roma, jadi dalam suratnya pada bagian etika (terutama ps 14) ia berusaha memperbaiki penekanan yg salah itu. Dalam 16:17-19 disinggung tentang guru palsu yg harus dihindari, tapi ini tak dapat dianggap tujuan utama Rm, kendati hal itu muncul kemudian sebagai renungan. Dan adalah jelas, bahwa tujuan menentang ajaran palsu tidak mendominasi Rm.

Tapi tujuan insidental bungkam mengenal bentuk teologis dari bagian utama Surat Rm. Mengapa Paulus memberikan uraian teologis yg begitu panjang? Tidak perlu berbuat demikian kalau tujuannya untuk membangkitkan minat pada rencananya memberitakan Injil di dunia Barat. Ia pasti mempunyai tujuan lain. Setelah+pendahuluan (1:1-15) sebelas ps pertama lebih bersifat risalah ketimbang surat, justru penting menyelidiki kenapa demikian.

Pendapat bahwa Paulus ingin melayankan pandangan teologisnya kepada jemaat Roma memang terpuji. Dalam Surat Rm dilestarikan bagi generasi selanjutnya beberapa ajaran mulia dari kekristenan yg dengan tepat dihormati dalam teologi Kristen. Tapi harus dibedakan pemakaian surat itu oleh orang Kristen dan tujuan Paulus menulisnya. Tak dapat dipertahankan pendapat bahwa Paulus bermaksud meletakkan dasar teologi 'Paulinis' dengan cara demikian. Lagipula, beberapa segi teologi Paulus alga dalam Rm, misalnya eskatologi dan ajaran tentang gereja, sehingga tidak mungkin memandang Rm sebagai pernyataan utuh dari ajaran Paulus. Namun Rm memberikan penyajian logis tentang beberapa tema paling utama dalam pemikirannya, dan boleh jadi Paulus hendak memberitahukan itu dulu kepada jemaat Roma sebelum kunjungannya sehingga bila ia tiba mereka telah memahami ajarannya.

Sangat mungkin Paulus menyadari bahwa peranannya sebagai pelayan Injil sudah memasuki grafik menurun, dan ia sedang memikirkan beberapa gagasan utama yg menjadi bagian ajarannya. Dalam keadaan demikianlah ia mungkin memasukkan perenungan matang itu ke dalam Surat Rm, karena pada saat itu ia mengarahkan pandangannya ke kota itu. Tapi mengingat Paulus sendiri menilai betapa pentingnya jemaat Roma, maka lebih baik menduga bahwa kesadarannya akan hal itu mempengaruhi sifat suratnya.

Masalah yg terlebih penting berkaitan dengan tujuan dogmatic Surat Rm, ialah ps mengenal kedudukan orang Yahudi (9-11). Beberapa ahli (ump aliran Tubingen) menganggap bagian itu adalah inti surat, guna mendamaikan anggota jemaat unsur Yahudi dengan non-Yahudi. Tapi kini teori ini sama sekali ditolak. Bagian itu wajar menyusuli uraian terdahulu yg bersifat teologis. Dalam ps-ps itu dibicarakan kesulitan untuk mengkaitkan kebenaran Allah, tema dari ps-ps terdahulu, dengan penolakan Israel yg berarti janji-Nya yg dahulu tidak tergenapi. Tema ini pasti sangat menarik bagi orang Kristen Yahudi, dan relevan dalam surat kepada jemaat mana saja yg anggotanya seperti orang Kristen di jemaat Roma itu.

V. Keutuhan surat

Keotentikan surat ini hampir tidak pernah dipersoalkan. Keberatan yg pernah dikemukakan sama sekali tidak berdasar dan subyektif. Tapi banyak ahli mempersoalkan ps 16, dan yang dipersoalkan bukanlah tentang Paulus sebagai penulisnya, melainkan ps itu dikatakan bukan termasuk Rm. Beberapa alasan dikemukakan antara lain banyaknya salam pribadi dikatakan tidak cocok dengan jemaat yg tidak pernah dikunjungi Paulus; bahwa Akwila, Priskila dan Epenetus lebih mempunyai hubungan dengan Asia ketimbang dengan Roma (sekalipun kedua orang pertama berasal dari Roma); himbauan untuk menghormati Febe dianggap aneh, karena Rm dialamatkan kepada jemaat yg tidak mengenal Paulus; singgungan pada ajaran palsu dalam ay 17-19 di luar dugaan; 15:33 cocok sebagai penutup surat.

Alasan-alasan itu tidak meyakinkan dan dapat disanggah. Bukanlah kebiasaan Paulus menonjolkan dini pada jemaat yg sudah mengenal dia; mengingat mudahnya perjalanan pada zaman itu, maka tidaklah aneh jika banyak kenalan Paulus yg tinggal di Roma, atau orang Asia yg sekarang tinggal di kota itu. Jadi karena Paulus cukup dikenal di jemaat Roma, adalah wajar jika ia menulis surat kepada mereka dan menghimbau mereka untuk menghormati Febe. Peringatan terhadap guru-guru palsu yg dikatakan di luar dugaan, mungkin saja hal itu terjadi karena Paulus memberi perhatian kepada mereka atau itu dia sengaja muncul pada akhir surat agar tidak terlalu menekannya. Ps 15:33 memang bisa sebagai penutup surat, tapi gaya demikian tidak kita temukan dalam surat Paulus yg lain. Bukti-bukti internal tidak mendukung pandangan bahwa ps 16 terpisah dan dikirimkan ke alamat lain, apakah Efesus atau tempat lain mana pun.

Tentang bagian penutup Rm perlu dikemukakan sekedar komentar, kendati bukan di sini tempat untuk membahasnya secara tuntas. Cukup mengatakan bahwa ada perbedaan nuansa naskah perihal posisi berkat (benedictio) dan doksologi dan adanya beberapa variasi bila merujuk ke kota Roma dalam 1:7, 15. Bahkan ada petunjuk bahwa di beberapa daerah Surat Rm beredar tanpa kedua ps penutup. Nampaknya hal ini dihubungkan terutama dengan Marcion. Sulit menemukan teori untuk menerangkan semua variasi dalam naskah, dan sekian hipotesa yg diusulkan berbeda satu dari yg lain. Beberapa menganggap ps 1-14 adalah asli yg lain menganggap ps 1-15 atau 1-16. Mungkin Surat Rm dalam bentuknya yg sekarang dalam Alkitab adalah sesuai dengan aslinya, tapi Marcion memperpendeknya dan karena itu naskah Marcion menjadi akar dari silang pendapat tentang Rm.

VI. Tema utama surat

a. Kebenaran Allah

Di awal surat Paulus mengemukakan tema kebenaran Allah, dan ia menyatakan itu kepada orang percaya (1-17). Untuk memahami perkembangan argumentasi Paulus sebagai keseluruhan, maka penting sekali untuk menalar maksud Paulus menggunakan istilah dikaiosune (kebenaran). Juru ulas Sanday dan Headlam (A Critical and Exegetical Commentary on the Epistle to the Romans, 1895, hlm 34-39), menunjukkan empat segi yg berbeda dari pernyataan kebenaran Allah dalam Rm. Pertama, kesetiaan; sebab janji-janji Allah harus genap sesuai sifat ilahi (3:3, 4). Kedua, murka; segi khas kebenaran yg sangat bertentangan dengan semua bentuk dosa, jadi bukan suatu sifat yg bertentangan dengan kebenaran seperti sering diduga (bnd 1:17; 2:5). Kebenaran dan murka sesungguhnya tak terpisahkan. Hanya penafsiran yg keliru yg membicarakan kebenaran Allah tanpa menerima berperannya murka Allah. Ketiga, manifestasi kebenaran dalam kematian Kristus; pernyataan klasik tentang hal itu terdapat dalam 3:25 dab. Mengenai hal ini akan dilanjutkan kemudian, tapi perlu dicatat bahwa karunia Allah -- Kristus -- sebagai korban pendamaian menyatakan kebenaran Allah: bukan sewenang-wenang tapi mutlak benar dan adil. Hanya dengan demikian salib dapat menyatakan kebenaran. Keempat, kebenaran dihubungkan dengan iman. Dapat dikatakan adalah khas sifat teologi Paulus, bahwa kebenaran Allah yg telah dinyatakan dapat diperoleh dengan iman. Kebenaran Allah dinalar aktif dan juga pasif, dan dalam peranan aktif-Nya Ia menyatakan benar mereka yg pada dasarnya bermusuhan dengan Allah (lih 5:10). Itulah arti pembenaran: bukan bahwa manusia dibuat benar, melainkan bahwa manusia dihitung benar. Segenap surat menjelaskan tema itu, yg menjadi asas teologi Paulus dan teologi reformasi.

b. Kebaikan Allah

Dalam Rm Paulus banyak bicara tentang sifat 'Allah adalah kasih' (1 Yoh 4:8, 16) (janganlah kita berpikir bahwa konsepsi Paulus tentang Allah dipengaruhi hanya oleh kebenaran dengan mengabaikan sifat-Nya yg lain). Fakta nyata bahwa kebenaran Allah dinalar aktif dalam penyelamatan manusia, menunjuk pada motif kasih yg padu dengan kekudusan. Paulus khusus mengarahkan perhatian kepada kemurahan, kesabaran dan kelapangan hati Allah (2:4). Manifestasi tertinggi perihal kasih Allah adalah dalam fakta yg luar biasa bahwa Kristus mati bagi kita kendati kita masih pendosa (ay 8). Ungkapan klasik tentang kualitas kekekalan kasih terdapat dalam Rm 8:35 dab; di mana Paulus tak dapat memikirkan apa pun, baik yg jasmani maupun yg rohani, yg mungkin dapat memisahkan kita dari kasih Allah.

Berkaitan dengan penolakan atas Israel, Paulus menonjolkan kemurahan Allah dan tegas menolak kemungkinan Allah bisa tidak adil (Rm 9:15). Untuk mendukung keyakinannya itu ia mengutip pernyataan Yesaya, bahwa sepanjang hari Allah mengulurkan tangan-Nya kepada umat Israel yg tidak taat (Rm 10:21). Dan bicara tentang kekerasan Allah, Paulus segera mengingatkan pembacanya tentang kebaikan Allah kepada mereka yg terus tinggal di dalam Dia (Rm 11:22), dan Allah murah hati (Rm 11:32). Pada bagian praktis sering Paulus berpikir mengenai rahmat Allah. KehendakNya baik, dapat diterima, dan sempurna (Rm 12:2). Allah menerima orang lemah dan orang kuat, dan disebutkan alasan mengapa seseorang jangan menghakimi orang lain. Allah disebut Allah ketabahan dan penghiburan (tes hypomones kai tes parakleseos, Rm 15:5) dan ini mendasari nasihat untuk mengembangkan kualitas yg sama dalam dini kits. Karena Allah adalah Allah pengharapan (Rm 15:13) maka orang Kristen oleh kuasa Roh harus berlimpah-limpah dalam pengharapan. Memang, sepanjang Rm pikiran Paulus dikuasai oleh konsepsinya tentang Allah.

c. Kedaulatan Allah -- pusat pemikiran Rm 9-11

Paulus membicarakan nasib Israel dan hubungannya dengan nasib non-Yahudi. Tema ini segera menimbulkan masalah tentang keadilan Allah, dan Paulus mengemukakan perihal kedaulatan Allah menentukan pilihan-Nya. Paulus melukiskan pandangannya dengan merujuk pada zaman Bapak-bapak leluhur dan zaman Musa. Untuk meyakinkan pembaca yg mempersoalkan kedaulatan Allah menentukan pilihan-Nya sepanjang sejarah Israel, ia menggunakan ilustrasi tentang tukang periuk dan tanah fiat (Rm 9:19 dab), untuk memperlihatkan bahwa kuasa kedaulatan Allah senantiasa padu dengan kemurahan. Tujuan kedaulatan-Nya terlihat dalam terhisabnya non-Yahudi dalam penyelamatan, juga dalam janji pemulihan Israel. Sepanjang pembahasan itu Paulus sengaja menekankan kedaulatan Allah sekalipun hal itu menimbulkan masalah. Keyakinan bahwa tindak kebijakan Allah pasti adil, menuntun Paulus menyanyikan puji-pujian (Rm 11:33-36).

d. Kasih karunia (anugerah) Allah

Bobot dan kualitas kasih karunia Allah baru dapat dimengerti sepenuhnya, jika bobot bahaya kengerian dosa manusia diketahui, dan itu digambarkan jelas dalam Rm. Tiga ps pertama memperlihatkan ketidakmampuan manusia untuk mencapai kebenaran Allah. Paulus bukan hanya menginventarisir dosa-dosa non-Yahudi (ps 1), tapi ia menunjukkan juga kesalahan Israel kendati mereka mempunyai hak-hak istimewa. Dalam uraiannya Paulus menekankan keberdosaan harkat manusia dengan memakai istilah 'daging' (sari), dan maksudnya adalah dosa moral bukan fisik. Dan dalam mengaitkan sari dengan Kristus, Paulus sangat hati-hati guna membedakan daging-Nya, yg hanya serupa dengan daging berdosa, yakni daging manusia. Kristus harus menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Keharusan itu asasi dalam ajaran Paulus tentang dua Adam (5:12 dab). Dalam menceritakan pengalamannya sendiri bergumul dengan dosa (ps 7), Paulus menunjukkan kepekaan terhadap kuasa dosa. Boleh dikatakan dosa merupakan musuh pribadi yg berusaha sekuat tenaga untuk merusakkan jiwa. Dosa memanfaatkan daging. Dosa memperhamba semua anggota tubuh untuk berjuang melawan hukum, dan Paulus menyebutnya hukum dosa (Rm 7:23). Dosa memerosotkan manusia sampai pada keadaan yg sangat menyedihkan, dari mana hanya Allah melalui Kristus dapat melepaskannya.

Alternatif ini menuntun kita kepada pemikiran tentang tindakan Allah yg menyelamatkan manusia dalam Kristus. Telah banyak perbincangan mengenai makna kata hilasterion (pendamaian, Rm 3:25), tapi perlu diperhatikan bahwa segi yg terpenting ialah Allah sendiri yg berprakarsa. Ini sesuai dengan seluruh pendekatan Paulus terhadap proses penyelamatan dalam Rm. Karya Kristus di tiang salib nampak jelas sebagai korban obyektif yg disediakan Allah melulu supaya dosa dapat diampuni.

Dalam ps 6 Paulus bicara tentang berperannya anugerah Allah. Ia menandaskan bahwa berlimpahnya anugerah Allah sama sekali tidak boleh dipandang sebagai alasan untuk berbuat dosa lagi. Ini tak boleh terjadi karma orang percaya berada dalam Kristus -- ajaran yg begitu penting dalam pemikiran Paulus. Ilustrasi baptisan dipakai untuk melukiskan perubahan yg terjadi. Dosa tidak lagi berkuasa karma sekarang orang berada di bawah anugerah (Rm 6:14). Tapi anugerah menjadikan orang warga kerajaan Allah, sehingga kewajiban yg baru menggantikan kewajiban yg lama (Rm 6:20).

e. Hukum Allah

Penilaian Paulus yg begitu tinggi akan hukum Yahudi dijelaskan dalam pernyataannya, bahwa hukum Taurat adalah kudus, benar dan baik (Rm 7:12). Paulus juga mengakui manfaat fungsi hukum dalam menyatakan watak dosa (Rm 7:7). Namun, ia mengakui berdasarkan pengalaman pahit, bahwa Taurat sama sekali tidak berguna sebagai alat penyelamatan, bukan karena kelemahan Taurat itu sendiri (manusia suka akan hukum, Rm 7:22), melainkan karena kelemahan manusia itu sendiri.

Tapi sementara menalar hukum Allah, Paulus menyadari bahwa bagi orang Kristen hukum itu mencakup bukan hanya redaksional hukum Musa, melainkan juga 'hukum Roh' (Rm 8:2). Dan ajarannya tentang Roh Kudus, terutama pekerjaan Roh Kudus dalam pengudusan (ps 8), tidak boleh terlepas dari hubungannya yg erat dengan hukum Allah. Di bawah perjanjian baru hukum Taurat dinukil di lubuk hati, yg bisa terjadi hanya melalui kehadiran Roh, yg memperkenalkan cara baru untuk menalar tuntutan Allah, karena ini menjadi peraturan dari Bapak dalam hubungan yg sama sekali baru.

Roh Allah dipertentangkan dengan daging (Rm 8:4), memberikan hidup ganti maut (Rm 8:11), bersaksi tentang orang Kristen sebagai anak Allah (Rm 8:14), dan mendoakan mereka sesuai kehendak Allah (Rm 8:26). Dengan demikian kehidupan Kristen bukanlah ihwal tunduk kepada hukum yg sah melainkan kehidupan yg dituntun dan dihidupi oleh Roh berdasarkan hukum baru, mencakup kualitas-kualitas kebenaran, kegembiraan, dan kasih (bnd Rm 5:3; 12:11; 14:17; 15:13, 30).

KEPUSTAKAAN. Buku tafsiran R Haldane, 1874, cetak ulang 1958; C Hodge, 1886, cetak ulang 1951; H. G Moule, EB, 1893; J Denney, EGT, 1900; W Sanday dan A. C Headlam, ICC, 1902; C. H Dodd, MNT, 1932; K Barth, 1933; O Michel, KEK 12, 1963; C. K Barret, 1957; J Murray, NLC, 1960, 1965; F. F Bruce, TNTC, 1963; F. J Leenhardt, 1957; M Black, 1973; C. E. B Cranfield, ICC 1, 1975; T. W Manson, 'St. Paul's Letter to the Romans -- and Others', BJRL 31, 1947-1948, hlm 224 dst; D Guthrie, New Testament Introduction, 1970, hlm 393 dst. DG/BS/HAO




TIP #05: Coba klik dua kali sembarang kata untuk melakukan pencarian instan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.04 detik
dipersembahkan oleh YLSA