Daftar Isi
BROWNING: MESIAS
ENSIKLOPEDIA: MESIAS

Messiah

Dalam versi-versi Alkitab:

al-Masih: KL1863
Almasih: KL1870
Djoeroe-Slamat: KL1863
Elmesehh: LDKDR
Masehi: SBDR
Masiha: BABA
Mesias: BIS ENDE FAYH TB WBTCDR
Messias: TL
Raja Penyelamat: BIS

MESIAS [browning]

Kata Ibrani yang berarti 'yang diurapi', orang yang akan menjadi *juruselamat umatnya. Dalam PL digunakan baik untuk raja-raja dan untuk imam-imam, terutama Raja Daud dan para penggantinya, tetapi juga untuk *Koresy (Yes. 45:1). Dalam pengharapan eskhatologis nabi-nabi, diharapkan seorang raja yang kelak akan memerintah dalam keadilan dan dalam damai (Yes. 11:1-5), namun kata 'mesias' itu sendiri tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan mereka. *Gulungan Laut Mati menunjuk pada kedatangan dua tokoh imamat dalam tradisi *Melkisedek, yang menyatakan kedua fungsi itu, yaitu raja dan imam, dalam dirinya. Pada perumpamaan-perumpamaan Kitab Henokh (Henokh 37-71), dari pertengahan abad pertama M, ada pula disebut seorang Mesias yang adalah *Anak Manusia surgawi. Jadi, inti referensinya adalah Allah yang turun tangan dalam sejarah manusia dengan mengutus utusan-Nya. Para pembaca Kristen kemudian mendapatkan petunjuk-petunjuk dalam PL bahwa Mesias ini harus menderita (mis. Mzm. 22:6-8). Dalam PB 'mesias' Ibrani ini menjadi 'Kristus' (bah. Yunani: Christos). Tetapi petunjuk kepada Yesus sebagai Mesias sangat jarang terdapat dalam Injil-injil Sinoptik. Sedikitnya petunjuk ini mencerminkan tradisi bahwa Yesus sendiri tidak suka memakai gelar-gelar seperti ini untuk diriNya sendiri. Sekalipun demikian, cerita masuknya Yesus ke Yerusalem (Mrk. 11:1-10) dan pemurnian Bait Allah (Mrk. 11:15-19) memperlihatkan adanya pengertian pada-Nya tentang pembebasan umat-Nya, seperti dinubuatkan *Maleakhi (3:1). Waktu Yesus disebut Kristus oleh Petrus, Petrus ditegur (Mrk. 8:29) dan disuruh diam mengenai hal itu. Hanya pada *pengadilanNya Yesus mengiakan pertanyaan-pertanyaan Imam Besar mengenai kemesiasan itu (Mrk. 14:61 dst.). Dalam Mat. 26:64, jawaban Yesus itu berbunyi: 'engkau telah menyatakannya', yang mengecilkan artinya untuk pengadilan-Nya sekarang, tetapi segera Yesus pasti akan menerima kedudukan yang mengukuhkan kehormatan mesianikNya 'di sebelah kanan Allah'. Suatu ucapan penghujatan yang tidak memerlukan bukti lain dalam pengadilan. Jawaban Yesus kepada *Pilatus (Mat. 27:11) juga merupakan pengakuan kemesiasan-Nya, tetapi tanpa penjelasan atau pembenaran -- kecuali dalam Injil (Yohanes 18:36) ada pernyataan: 'Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini'. Pada waktu kebanyakan anggota Gereja tidak lagi berkebangsaan Yahudi, sebutan 'Kristus' kehilangan anti aslinya sebagai Mesias, yang diurapi. Orang-orang bukan Yahudi tidak berkepentingan akan seorang Mesias, yang akan membangun kembali kerajaan Israel. Maka Kristus menjadi kata sifat untuk Yesus (mungkin dicampuradukkan dengan kata 'Chrestos', yang berarti 'baik'). Kemudian Kristus ini menjadi nama kecil. Malah Paulus, yang adalah seorang Yahudi, sudah mulai menggunakan sebutan 'Kristus' sebagai ganti nama Yesus, atau digabungkan bersamanya.

MESIAS [ensiklopedia]

I. Dalam PL

Istilah Mesias, yg dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yg dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari Yudaisme masa kemudian. Tentu pemakaian Istilah itu dikukuhkan oleh PB, tapi dalam PL hanya terdapat dua kali (Dan 9:25-26).

Pemikiran tentang mengurapi, dan pemikiran tentang orang yg diurapi, adalah lazim dalam PL (*URAP, PENGURAPAN). Satu contoh istimewa, yg kadang-kadang menimbulkan kesukaran bagi mahasiswa-mahasiswa PL, ternyata secara khusus adalah sangat berguna membatasi Istilah mi. Dalam Yes 45:1 Koresy, raja Persia, disapa sebagai (mesyikho) 'yg Ku-urapi'. Di sini ada lima unsur yg jika ditinjau dengan terang Alkitab bagian yg lain, jelas menentukan garis pikiran utama tertentu mengenai mesianisme PL. Koresy ialah orang yg dipilih Allah (Yes 41:25), ditetapkan untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umat Allah (45:11-13), dan menggenapi hukuman terhadap musuh-musuh-Nya (Yes 47). Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa (45:1-3); dan dalam semua tindakannya, yg sesungguhnya bertindak ialah Yahweh sendiri (45:1-7).

Kedudukan 'yg diurapi' dari Koresy, dengan jelas menunjukkan bahwa dapat dikatakan ada pemakaian 'sekular' dari Istilah mesianik (bnd 'pengurapan' Hazael, 1 Raj 19:15). Walaupun bukan maksud kita untuk membuktikan suatu soal PL dengan mengandalkan dogma PB, tapi jelas sekali bahwa kelima pokok di alas sungguh-sungguh benar terterap kepada Tuhan Yesus Kristus, yg memandang diriNya sebagai penggenapan atas harapan-harapan mesianik PL. Dengan memakai terang suluh ini, rencana yg terbaik dan yg paling sederhana bagi penelitian kita, ialah menerima sebagai mesianik semua nubuat yg menempatkan seseorang dalam sorotan sebagai tokoh penyelamat (demikian Vriezen).

Sudah berapa lama umur harapan-harapan yg bersifat mesianik ini? Suatu garis utama pemikiran mengenai soal ini (yg diberikan oleh Mowinckel) yakni: Mesias ialah tokoh eskatologi dalam arti kata yg setepat-tepatnya. Artinya, Dia bukanlah melulu tokoh yg diharapkan pada masa yg akan datang, tapi yg akan muncul pada 'hari terakhir'. Karena semua bagian PL mengenai eskatologi tepat, semua eskatologis terkait menoleh kembali kepada kerajaan Daud yg sudah runtuh, sebagai fakta sejarah dari masa silam, maka kata Mowinckel, Mesias harus tergolong pada masa sesudah pembuangan, dan tidak muncul dalam naskah-naskah sebelum pembuangan sebagai pokok nubuat. Nampaknya ps-ps mesianik yg tergolong kepada zaman raja-raja, harus ditafsirkan sebagai melulu sapaan kepada raja yg sedang memerintah dan tidak mengandung makna mesianik, artinya tanpa makna eskatologi. Penulis naskah yg kemudian -- seperti pernah dikemukakan -- mungkin mencocokkannya sehingga berciri mesianik, dan penulis-penulis mesianik berikutnya mungkin mengambil dari yg berciri mesianik itu beberapa pemikiran, tapi yg pada dirinya sendiri, dan atas nalar yg cermat, ps-ps itu tidaklah mesianik.

Menentang pemikiran di atas telah dikemukakan (ump oleh Knight) dengan nalar yg benar-benar berbobot, bahwa sukar diterima akal raja-raja yg kita kenal dalam Kitab Raj, sungguh-sungguh digambarkan dengan istilah-istilah yg dipakai ump dalam Mazmur-mazmur Kerajaan. Hal itu akan dibicarakan lebih lanjut, maka cukuplah mengatakan bahwa ps-ps seperti itu merujuk kepada konsep kerajaan Israel, dan kepada suatu harapan yg terdapat dalam jabatan raja itu.

Sekalipun pendapat Mowinckel benar, bahwa Mesias haruslah tokoh eskatologi, toh semua ahli PL tidak setuju bahwa eskatologi harus terjadi sesudah pembuangan (bnd ump Vriezen); memang dapat dipersoalkan apakah batasan konsep eskatologi Mowinckel tidak terlalu kaku. Jika ump, batasan itu menolak untuk menerima sebagai 'eskatologis' setiap ps yg menggambarkan keselamatan dan kehidupan dari sisa Israel sesudah Allah campur tangan, maka konsekuensi logisnya ialah juga menyangkal Tuhan Yesus Kristus sebagai tokoh eskatologi, dan dengan demikian menentang pandangan Alkitab mengenai 'zaman akhir' (ump Ibr 1:2; 1 Yoh 2:18). Akan lebih memuaskan jika Mesias disebut 'tokoh teleologis'. Yg unik pada bangsa Israel ialah pengertian mereka akan tujuan dalam hidup mi. Mereka memiliki kesadaran demikian sejak dari semula (bnd Kej 12:1-3), dan hal ini membuat hanya merekalah ahli sejarah yg sebenarnya dari dunia kuno.

Bahwa harapan ini khusus dihubungkan dengan seorang tokoh raja di masa yg akan datang, sama sekali tidak tergantung pada runtuhnya kerajaan Israel secara historis, sebab garis keturunan Daud sudah merupakan kegagalan dari awalnya, dan penanti-nantian, bahkan kerinduan, akan Raja Mesias tidak perlu ditempatkan sesudah zaman Salomo. Kebijakan yg tepat ialah mencari dalam PL seorang 'tokoh penyelamat', dan pencarian ini akan lebih dihubungkan dengan teologi Israel ketimbang dengan eskatologi yg dibatasi secara sempit Dengan berbuat demikian ada alasan-alasan yg tepat untuk mempertahankan bahwa harapan seperti itu sudah sejak semula dianut oleh umat terpilih ini, yg saat timbulnya dimulai dari 'proto-injil' yg termasyhur yaitu Kej 3:15.

a. Mesias sebagai pola dari tokoh-tokoh sejarah

Pandangan Israel mengenai hidup di dunia ini, yg bersifat teleologis, berakar pada pengetahuan akan Allah yg tunggal, yg menyatakan diriNya kepada mereka. Sifat Allah, yaitu setia dan konsekuen, memberi kunci masa depan kepada mereka, seberapa jauh iman mereka perlu melihat hal-hal yg akan terjadi. Allah melalui tokoh-tokoh akbar dan peristiwa-peristiwa tertentu pada masa lampau bertindak menurut 'pola' istimewa, dan karena Allah tidak berubah, maka Dia akan bertindak lagi menurut pola itu. Tiga dari tokoh akbar masa lampau secara khusus ditempatkan pada garis Mesias yaitu Adam, Musa dan Daud.

1. Mesias dan Adam. Ada segi-segi tertentu dari masa depan Mesias yg sangat jelas mengingatkan keadaan Taman Eden. Segi-segi itu dapat dikelompokkan dalam judul: kemakmuran (Ams 9:13; Yes 4:2; 32:15, 20; 55:13; Mzm 72:16) dan kedamaian (yaitu keselarasan di tengah-tengah dunia makhluk hidup: Yes 11:6-9; dan keselarasan hubungan dlm dunia umat manusia: Yes 21:1-8). Memperhatikan akibat-akibat kejatuhan dalam dosa yg menimpa dunia ini, maka nampak kedua unsur di ataslah yg hilang tatkala kutuk Allah mulai diberlakukan. Tatkala kutuk sudah dihapus dan Hamba Allah memulihkan segala sesuatu, keadaan Eden pulih kembali. Ini bukanlah impian belaka, tapi lanjutan yg logis dan tepat tentang ajaran penciptaan yg dilakukan oleh Allah yg kudus.

Semua ps yg dikutip di atas adalah mengenai Raja Mesias, watak pemerintahan-Nya dan kerajaan-Nya. Di sinilah rekapitulasi yg sebenarnya dari manusia pertama, sebab dia 'berkuasa' atas semua ciptaan lainnya (Kej 1:28; 2:19, 20), tapi pada saat dia jatuh kekuasaannya itu pun dirampas (bnd Kej 3:13). Kekuasaan dipulihkan kembali dalam dini Mesias. Harus diakui bahwa pikiran tentang Mesias sebagai Adam yg baru, bukanlah dikembangkan bertele-tele atau secara khusus, 'tapi bukanlah tidak mungkin kita mempunyai bukti, bahwa ideologi kerajaan kadang-kadang dipengaruhi oleh gambaran raja Firdaus' (Mowinckel). Ajaran tentang 'Adam kedua' dalam PB jelas mempunyai akan dalam PL pada ps-ps yg sudah dikutip.

2. Mesias dan Musa. Tidak usah heran Jika berita Keluaran dan pemimpinnya terukir dalam sekali di hati bangsa Israel, sehingga masa depan mereka lihat sebagai ulangan dari peristiwa itu. Pola Keluaran pertama seperti dicatat dan diceritakan kepada anak cucu bangsa ini turun-temurun, merupakan pernyataan kekal dari Allah (Kel 3:15). Gambaran 'Keluaran kedua' tidak selalu dalam rangka khas mesianik. Kadang-kadang ditekankan bahwa Allah akan berbuat lagi apa yg telah diperbuat-Nya pada Keluaran (pertama), hanya caranya melebihi yg pertama, tapi tanpa menyebut satu orang pun melalui siapa Ia akan bekerja seperti dulu Ia bekerja melalui Musa (ump Hos 2:14-23; Yer 31:31-34; Yeh 20:33-44 -- mungkin sekali Musa disebut 'raja' dlm Ul 33:5). Tapi kadang-kadang nubuat mengenai Keluaran kedua itu berciri mesianik. Ay-ay seperti itu ialah Yes 51:9-11; 52:12; Yer 23:5-8. Sekali lagi harus diakui, bahannya tidak diungkapkan secara terbuka. Tapi dalam hal Musa masalahnya dapat kita teliti selangkah lebih jauh, sebab nubuatnya sendiri tercatat dalam Ul 18:15-19 bahwa seorang nabi 'seperti aku' akan dibangkitkan oleh Yahweh.

Umumnya tafsiran Ul 18:15-19 cenderung membela salah satu pandangan: apakah di sini datangnya Mesias yg dinubuatkan, atau melulu hanya menyinggung adanya keturunan nabi yg bersinambungan. Dalam tulisan-tulisan pada akhir-akhir ini, pandangan yg terakhir mendapat dukungan yg lebih benar, walau kadang-kadang disetujui bahwa anti mesianik boleh juga diterima, dalam anti sekunder. Tapi perikop ini agaknya menuntut kedua tafsiran itu, sebab beberapa ciri di dalamnya hanya dapat digenapi oleh garis nabi-nabi, dan yg lain oleh Mesias.

Ay-ay sekitar perikop ini sangat mendukung pandangan pertama. Musa yg terus-menerus mengingatkan pendengarnya akan kejijikan orang Kanaan, secara istimewa menekankan supaya menolak praktik pertenungan tentang masa depan. Peringatan ini ditopang oleh nubuat tentang datangnya nabi khusus ini. Di sinilah, kata Musa, ada jalan keluar bagi Israel untuk menolak pertenungan; orang hidup tidak boleh bertanya kepada (roh) orang mati, sebab Allah bangsa Israel akan berbicara kepada umat-Nya melalui seorang nabi, yg akan dibangkitkan-Nya untuk maksud itu. Nampaknya ini merupakan janji tentang penyataan yg bersinambungan; nubuat tentang kedatangan seorang Mesias di masa yg masih jauh sekali tidak akan bersesuaian dengan bimbingan yg dibicarakan oleh Musa.

Juga ay 21-22, yg menyediakan cara untuk menguji seorang nabi apakah benar atau palsu, dapat dianggap mengantisipasi keadaan yg sering timbul pada zaman nabi-nabi Alkitab, dan yg menimbulkan perasaan yg begitu pahit dalam hail Yeremia (23:9 dab). Tapi pertimbangan ini tidak sama bobotnya dengan yg terdahulu, sebab wajarlah suatu cara menguji Mesias disediakan. Mesias palsu sama seperti nabi palsu, dan memang, untuk tidak memperpanjang soal itu, Yesus sendiri mengalaskan ke-Mesias-an-Nya kepada satunya perkataan-Nya dengan perbuatan-Nya, sementara orang-orang Yahudi yg menentang-Nya terus mendesak meminta tanda mesianik yg mencolok dan tidak meragukan.

Jika kita menerima ucapan Musa itu sebagai nubuat adanya garis nabi-nabi, tentulah hal itu sudah digenapi secara melimpah. Tiap nabi yg benar 'serupa dengan Musa', sebab dia ada untuk mengajarkan doktrin Musa. Baik Yeremia (23:9 dab) maupun Yehezkiel (13:1-14:11) membedakan nabi yg benar dari nabi palsu berdasarkan isi berita mereka: nabi yg benar mempunyai amanat menentang dosa, nabi palsu tidak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teologi nubuat yg benar memancar dari Sinai. Kebenaran ini diajarkan juga dalam Ul, sebab ps 13 sudah membicarakan masalah nabi palsu, dan tuntutan yg setepatnya ialah supaya setiap nabi harus diukur dengan patokan penyataan Keluaran (ay 5, 10) dan ajaran Musa (ay 18). Musa adalah patokan nabi; setiap nabi yg benar ialah nabi 'seperti Musa'.

Tapi ada segi lain dari tafsiran perikop ini. Menurut Ul 34:10 Musa ialah nabi yg unik, dan yg sama dengan dia belum ada. Pandangan mana pun yg dianut mengenai tarikh Ul, ay ini menunjukkan bahwa Ul 18:15-19 diartikan sebagai nubuat mesianik: sebab jika tarikh Ul sebelia anggapan beberapa ahli, atau jika 34:10 menyajikan ulasan redaksi yg kemudian, maka di sini kepada kita diinformasikan bahwa tidak seorang nabi pun, baik kelompok nabi seluruhnya, yg dipandang sudah menggenapi nubuat 18:15 ini.

Selanjutnya, mengamati perikop itu, perlu diberikan perhatian khusus kepada istilah-istilah yg persis tepat dalam pembandingan dengan Musa. Perikop ini tidak berkata -- dalam arti umum dan tidak terbatas -- bahwa akan timbul seorang nabi 'sama seperti Musa', tapi khusus seorang nabi, yg dini dan pekerjaannya dapat dibandingkan dengan Musa di G Horeb (ay 16). Pembandingan ini tidak digenapi oleh nabi mana pun dalam PL. Musa di Horeb adalah pengantara perjanjian Sinai; para nabi adalah pemberita dari perjanjian ini dan menubuatkan penggantinya. Musa adalah pemula; para nabi penyiar. Dengan Musa agama Israel memasuki masa baru; para nabi berjuang agar masa itu ditegakkan dan tetap ada, dan menyediakan jalan bagi masa yg menyusul, yg mereka idam-idamkan. Maka tuntutan ay 15-16 dapat digenapi hanya oleh Mesias.

Bagaimanakah kedua tafsiran ini dapat dicocokkan? Telah kita lihat bertalian dengan kebutuhan Israel yg terus menerus akan suara Allah, bahwa seorang Mesias yg masih jauh hari kehadiran-Nya tidaklah memenuhi kebutuhan tsb. Dalam mengatakan yg demikian, kita berkata seolah-olah informasi abad 20 ini adalah bagi Israel kuno. Pasti perikop ini menubuatkan nabi -- Mesias, tapi tidak mengatakan apa-apa mengenai diriNya 'di saat yg masih jauh'. Hanya perjalanan waktu yg dapat menunjukkan itu. Justru di sinilah kecocokannya: bertalian dengan peran nabi-nabi, keadaan Israel persis sama dengan peran raja-raja (lih lebih lanjut di bawah). Urutan raja berjalan dalam terang janji akan datangnya Raja Agung, dan tiap raja pengganti dielu-elukan dengan memakai istilah-istilah mesianik, untuk mengingatkan dia akan panggilannya menjadi raja dengan sifat tertentu, juga untuk mengungkapkan kerinduan nasional agar Mesias kiranya datang.

Demikian juga halnya dengan para nabi. Mereka hidup dalam bayangan janji; mereka juga harus memenuhi pola tertentu. Tiap raja harus, semampu-mampunya, menyerupai raja yg sudah lampau (yaitu raja Daud), sampai yg Satu itu datang, yg sanggup menata kembali pola raja Daud dan menjadi raja masa depan; begitu juga tiap nabi harus, semampu-mampunya, menyerupai nabi yg sudah lampau (yaitu nabi Musa), sampai yg Satu itu datang, yg sanggup menata kembali pola nabi Musa dan menjadi nabi, pembuat hukum, dan pengantara pada masa yg akan datang -- perjanjian baru.

3. Mesias dan raja Daud. Waktu Yakub menjelang ajalnya dikatakan (tidak ada alasan untuk meragukan ucapan ini), bahwa dia bernubuat mengenai masa depan anak-anaknya. Nubuat mengenai Yehuda mencolok menyita perhatian (Kej 49:9-10). Perdebatan berpusat pada arti 'ad khi yavo' syiloh. Yeh 21:27 agaknya menyarankan tafsir 'sampai ia datang yg berhak atasnya', dan pasti inilah pendekatan yg paling tua atas soal itu. Pendapat modern mengatakan bahwa pada kutipan di atas terselip satu kata pinjaman dari Akadia, yg berarti 'penguasaannya (= nya = Yehuda)'.

Tidak perlu mendebat pendapat ini. Bagaimanapun juga pemerintahan Israel sudah ditentukan di Yehuda, dan penguasa Yehuda yg mulia dilihat sebagai penggenapan dari kedaulatan itu. Dalam tingkat permulaan, dan serentak dalam tingkat patokan, hal ini terjadi dalam raja Daud dari Yehuda, dan dengan dialah semua raja yg menyusul -- dari segi baik atau jahat -- dibandingkan (ump 1 Raj 11:4, 6; 14:8; 15:3, 11-14; 2 Raj 18:3; 22:2). Namun gampang mengakui bahwa Daud menjadi raja patokan, tapi sulit menerangkan mengapa dia menjadi patokan dari raja yg akan datang itu. Nubuat nabi Natan (2 Sam 7:12-16) tidak merujuk kepada hanya satu raja saja sebagai penggenapannya, tapi menubuatkan suatu keturunan, kerajaan, dan takhta yg tetap teguh bagi Daud. Kita harus mengandaikan bahwa sesudah kegagalan yg berturut-turut menimpa takhta Daud, zaman pemerintahan Daud bersinar (dan tepat) makin terang benderang dalam ingatan umat Israel, dan pengharapan ditumpukan dalam dini 'Daud' masa depan (ump Yeh 34:23). Bagaimanapun juga, demikianlah pengharapan itu, seperti diperlihatkan secara khusus oleh dua kelompok berita dalam Alkitab PL.

(i) Mazmur-mazmur. Kita tidak membicarakan tata ibadah mana yg dilakukan untuk menyanyikan Mazmur-mazmur Kerajaan; yg hendak kita soroti ialah isinya. Beberapa mazmur tertentu terpusat sekitar Raja. Dengan membatasi penyelidikan kita atas mazmur-mazmur itu, mazmur-mazmur tertentu tadi dengan cermat melukiskan watak dan tugas raja itu. Dengan ringkas dapat dikatakan Sang Raja menghadapi perlawanan dunia (Mzm 2:1-3; 110:1), tapi sebagai pemenang (Mzm 45:4-6; 89:23, 24), oleh kegiatan Yahweh (Mzm 2:6,8; 18:47-51; 21:2-14; 110:1-2), Dia mendirikan pemerintahan sedunia (Mzm 2:8-12; 18:44-46; 45:18; 72:8-11; 89:26; 110:5-6), berpusat di Sion (2:6), ditandai perhatian utama terhadap moralitas (Mzm 45:5, 7-8; 72:2-3, 7; 101:1-8). Pemerintahan-Nya kekal (Mzm 21:5; 45:7; 72:5), kerajaan-Nya damai sejahtera (Mzm 72:7), makmur (Mzm 72:16), ketaatanNya terhadap Yahweh tak tergoyahkan (Mzm 72:5). Yg paling dihormati di antara segenap umat (Mzm 45:3, 8), Dia sahabat orang miskin dan musuh para penindas (Mzm 72:2-4; 12-14). Dalam zamannya orang adil berkembang (Mzm 72:7). Dia diingat selama-lamanya (45:18), nama-Nya kekal (Mzm 72:17), dan Ia menerima syukur yg tak putus-putusnya (Mzm 72:15). Bertalian dengan Yahweh, Dia-lah yg menerima berkat Yahweh selama-lamanya (45:3). Dia-lah pewaris perjanjian Yahweh dengan Daud (Mzm 89:29-38; 132:11-12) dan dari keimaman menurut Melkisedek (Mzm 110:4). Dia kepunyaan Yahweh (Mzm 89:19) dan taat kepada Yahweh (Mzm 21:2, 8; 63:2-9, 12). Dia Anak Yahweh (Mzm 2:7; 89:28), duduk di sebelah kanan-Nya (Mzm 110:1), dan Dia sendiri ilahi (45:7).

Pola mesianik yg kelihatan pada Koresy seperti telah disinggung jelas ada di sini. Tak mungkin catatan-catatan seperti itu diterapkan langsung dan secara pribadi kepada garis keturunan para raja yg mengganti raja Daud di Yehuda. Maka di sini kita menghadapi bualan yg paling lompong atau ungkapan cita-cita yg agung. Sekedar komentar tentang rujukan kepada Allah dalam Mzm 45:7, yg diterjemahkan oleh Bode, 'Bahwa arasy-Mu, ya Allah! Kekal selamanya'; oleh TBI, 'Takhta-Mu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya'. Mengingat di tempat lain dalam PL ada pengharapan tentang kedatangan seorang Mesias yg ilahi, maka tidak ada alasan untuk membuang terjemahan Bode itu. Kita dapat menerima terjemahan bahwa Raja yg disapa adalah Allah. Memang ay 8 dari Mzm 45 masih terus menyapa Raja dengan 'Allah, Allah-mu', tapi ini tidak dapat dijadikan alasan menentang terjemahan lama tsb. Jelas bahwa tetap ada perbedaan Allah dari Raja itu, kalaupun Raja itu disapa sebagai 'Allah'. Tapi hal ini tidak perlu mengherankan kita, sebab hal yg sama persis terjadi dalam seluruh penantian Mesias seperti akan kita lihat nanti. Hal yg sama terjadi juga tentang *Malaikat Yahweh, yg ilahi, tapi dibedakan dari Allah.

(ii) Yes 7-12, dll. Yesaya menghadapi raja Ahas pada masa yg sangat kritis bagi wangsa Daud. Pada tahun-tahun sesudah raja Daud, anak menggantikan bapaknya tanpa putus-putusnya atau tanpa ancaman alga keturunan. Tapi sekarang, dan untuk pertama kalinya, nampaknya pemerintahan wangsa Daud akan berakhir. Kerajaan-kerajaan utara, Siria dan Efraim yg bermaksud menyatukan Palestina, bila perlu dengan kekuatan senjata untuk melawan Asyur, bermaksud memasuki Yehuda, merebut Yerusalem, dan mengangkat seorang raja boneka. Ucapan Yesaya bermakna ganda: demi Nama Yahweh ia nyatakan bahwa ancaman ini tidak akan berlangsung lama dan tidak akan digenapi (7:7, 16), namun saat ini sangat menentukan bagi wangsa Daud. Kerajaan Daud tidak akan runtuh karena kekuatan utara, tapi dapat hancur karena ketidakpercayaan (7:9).

Segala sesuatu tergantung pada cara Ahas menghadapi krisis ini. Kalau dia menghadapinya dengan mengandalkan iman kepada janji janji Yahweh mengenai Daud dan Sion, semuanya akan berjalan baik; tapi kalau ia mengandalkan kejituan politik dan meminta pertolongan Asyur, maka dia -- perhatikan bagaimana Yesaya mengidentikkan Ahas begitu ketat dengan wangsa Daud (ay 2, 12, 17) -- sama sekali tidak mempunyai harapan masa depan. Dengan maksud untuk menimbulkan iman dalam hati raja yg tak beriman itu, Yesaya menawarkan suatu tanda (ay 11) tapi raja menolaknya. Jalan iman disingkirkan, dan bentuk kemusnahan dikokohkan. Sebagai hukuman atas kedurhakaan ini, 'Tuhan Sendiri' akan memberikan tanda: Imanuel akan lahir, ahli waris dari kemusnahan yg ditimbulkan oleh raja Ahas. Sebelum anak itu berumur beberapa tahun ancaman itu sudah lenyap. Tapi kemakmuran negerinya dan bangsanya turut lenyap, sebab orang Asyur bukanlah sahabat atau penyelamat, melainkan pembinasa yg hanya menelantarkan sisa-sisa penduduk di negeri yg ditaklukkannya (ay 21) dan membuatnya menjadi negeri tandus yg ditumbuhi duri dan rumput (ay 23-24).

Tapi segera sesudah Yesaya menyatakan kelahiran Imanuel yg akan serta-merta itu, ia langsung mengalihkannya kepada kelahiran anaknya sendiri, Maher-Syalal Hasy-Bas. Karena alasan yg akan segera kelihatan, kelahiran anak inilah yg bermakna ganda, yaitu pertanda dan faktor waktu dalam melenyapkan ancaman dari utara (8:1-4). Orang Asyur tampil lagi sebagai pemusnah, dan sekarang negeri Imanuel-lah (ay 8) yg akan diinjak-injaknya; tapi bagaimanapun Imanuel-lah jaminan bahwa tidak satu pun niat jahat orang asing akan menang (ay 9-10). Kendati demikian, bagi bangsa yg sudah menolak Allah, hanya pembuanganlah yg menyusul kemudian (ay 19-22).

Tapi bukan inilah yg menjadi akhirnya, sebab 'di kemudian hari' (8:23) akan nampak terang besar (9:1), sukacita akan berlimpah-limpah (ay 2), perhambaan akan hapus (ay 3), kemenangan akan datang (ay 4), dan semuanya ini disebabkan oleh lahirnya seorang Raja yg mempunyai 4 nama (ay 5). Dia Penasihat, artinya pemberi nasihat sedemikian rupa, sehingga harus disebut 'Penasihat Ajaib' (pele, bnd 28:29); Dia Allah yg perkasa, mempunyai kodrat ilahi (bnd 10:21); Dia akan memerintah selama-lamanya dengan kemurahan seorang bapak, dan sebagai Raja Dia akan memberikan kepada umat-Nya kepenuhan kesejahteraan hati dan jiwa, badani dan sekitarnya, yg diungkapkan dalam bh Ibrani dengan kata syalom (damai sejahtera). Sesudah Dia duduk di takhta Daud, kekuasaan-Nya tidak akan mengenai batas waktu dan tempat (ay 6). Perhatian-Nya yg utama tertuju kepada pemerintahan yg adil dan benar, dan yg menjamin kedatangan-Nya dan Kerajaan-Nya ialah 'kecemburuan Yahweh'.

Menyimak bagian ini sebagai satu kesatuan, maka tak mungkin lagi menyangsikan bahwa Imanuel sama dengan 'raja yg bernama empat' itu (9:5) dan kesamaan makna mesianik di sini dengan maknanya dalam Mzm sangat mencolok. Mula-mula Yesaya menjunjung tinggi di hadapan Alias pengharapan yg terkandung dalam wangsa Daud, yaitu Raja ilahi yg akan datang itu. Dengan memakai ungkapan yg umum dikenal di kalangan raja, Yesaya mengizinkan raja yg malang itu memandang dari jauh penggenapan janji yg sudah lama dinanti-nantikan, dalam rangka kemusnahan yg menimpa bangsa itu karena rajanya tidak percaya. Lalu Yesaya mengalihkan faktor waktu kepada Maher-Syalal Hasy-Bas, yg namanya berlipat empat penuh nubuat. Kemudian, sesudah menjelaskan bahwa Imanuel memang sungguh ahli waris Daud yg dinanti-nantikan, Yesaya mengangkat tinggi-tinggi di depan mata bangsa yg sudah terhukum dan sekarat itu, harapan akan kelahiran Imanuel, yg kendati masih jauh tapi pasti.

Inti bagian Alkitab yg mulai dari 9:7 ialah bahwa kerajaan Israel Utara akan runtuh karena menolak firman Allah. Dan Yesaya menunjukkan bahwa walaupun Yehuda tidak akan dilemparkan ke pembuangan oleh Asyur, namun pembuangan itu adalah mutlak pasti; tapi yg juga adalah pasti ialah pengumpulan kembali sisa-sisa Israel dan Yehuda (10:5-23). Yehuda diberi semangat untuk melawan Asyur (10:24-34), dan sesudah siksaan yg dahsyat, sekali lagi untuk menguatkan iman akan bangkit Raja keturunan Daud, yg khas dikaruniai Roh Allah, kerajaan-Nya adalah kerajaan moral dan keadilan rohani (11:1-6), penuh damai sejahtera ilahi (ay 6-9), meliputi bangsa-bangsa (ay 10), dan Israel akan dipulihkan (ay 11-16). Raja yg sama, pribadi dan sifat-sifat umum yg sama, dan kerajaan yg sama tampil lagi dalam ps 32. Tidak perlu memperinci sifat raja ini: sebab sama dengan yg digambarkan dalam Mzm. Tapi perlu dicatat secara khusus, bahwa di sini juga keilahian-Nya dikemukakan tepat seperti biasanya. Dia adalah Allah ('el) (9:6), tapi kerajaan-Nya ditegakkan oleh 'kecemburuan Yahweh'.

b. Tokoh-tokoh mesianik lainnya

1. Hamba Yahweh. Mengikuti cara melukiskan Raja dalam Yes 7 dll, di sini disajikan kesatuan pemaparan Hamba Yahweh dalam Yes 40 dll. Dalam ps 40 umat Allah berada dalam keadaan sulit, terbuang di Babel, mula-mula tidak disebut tapi kemudian diungkapkan (43:14 dll). Kelepasan mereka adalah pasti, sebab tidak ada Allah selain Allah mereka. Dalam maksud-Nya untuk melepaskan mereka, Yahweh membangkitkan seorang pembebas (ps 41). Jadi kepastian dalam pikiran Yesaya akan kelepasan bangsa Israel secara teologi didasarkan pada kebesaran Allah Israel, sebagai satu-satunya Allah, Allah Pencipta dan satu-satunya Penggerak dalam sejarah. Dan semakin ia meninggikan Yahweh, nampak semakin lompong allah-allah bangsa-bangsa, dan semakin mengerikan keadaan orang-orang yg tunduk kepada allah-allah demikian (40:18 dab; 41:6 dab; 21 dab).

Kesadaran nabi Yesaya akan kegelapan yg melingkupi bangsa-bangsa meningkat sampai puncaknya pada Yes 41:28-29; di situ dia kemukakan masalah dari jumlah terbesar umat manusia. Tapi hanya Allah yg satu-satunya yg mempunyai jawab atas masalah ini: Hamba Yahweh akan membawa penyelamatan ('pengajaran', 42:4) kepada bangsa-bangsa. Jadi Hamba Yahweh, tanpa perkenalan dan identifikasi din, tapi dengan pra-anggapan bahwa Israel yg dimaksud, tampil membawa misi untuk bangsa-bangsa (42:1-4). Tapi misi ini baru dijelaskan (42:5-17), tatkala dipaparkan keadaan yg sebenarnya dari Hamba Yahweh, yaitu Israel (42:18-25): buta, tuli, dipenjarakan, dan (ay 25) dihinggapi kedunguan rohani sedemikian rupa, sehingga tujuan pengajaran dari pembuangan itu belum dilihat dan moral bangsa itu tidak berubah.

Tema kebutuhan nasional dan rohani Israel inilah yg menyibukkan nabi Yesaya sampai 48:22. Raja Koresy diberitakan akan menjadi penyelamat nasional, dan berulangkali ditegaskan bahwa Yahweh akan mengampuni dosa Israel. Namun kita lihat Israel keluar dari Babel tanpa mengenal damai sejahtera Allah (48:20-22). Tapi Yahweh memiliki jawaban atas kebutuhan rohani umat-Nya. Koresy akan membawa mereka pulang dari Babel; Hamba Yahweh akan mengembalikan mereka kepada Yahweh (49:1-6). Hamba Yahweh itu disebut Israel (ay 3), bukan karena sebagai satu bangsa atau sebagian daripadanya -- dalam keadaannya yg sebenarnya ataupun berdasarkan suatu mode yg dicita-citakan -- adalah hamba yg dimaksud, tapi adalah karena bangsa itu telah kehilangan makna nama itu (48:1), dan hanya Hamba Yahweh-lah yg berhak memakai nama itu. Umat Israel telah diperas menjadi Satu.

Sesudah tugas ganda Hamba Yahweh dikukuhkan kembali (49:7-13), Yesaya selanjutnya menjelaskan beda Dia dari bangsa itu: bangsa Israel tawar hati (49:14-26) dan tak mau menjawab (50:1-3), tapi Hamba Yahweh penuh harapan, dan taat kendati harus menanggung penderitaan yg berat (50:4-9). Sekarang Hamba Yahweh ini mulai menjulang tinggi karena keunggulan pribadi-Nya. Dan orang Israel yg setia dianjurkan untuk meneladani hidup-Nya (50:10-11). Hal ini menunjukkan bahwa Dia tak dapat disamakan dengan 'sisa' bangsa itu, terutama karena sisa bangsa itu dipanggil untuk melihat penyelamatan yg besar, secara nasional (51:1-3) dan universal (51:4-6) yg akan digenapi-Nya. Justru segi-segi nasionallah yg utama (walau tidak mengucilkan hal-hal lain, lih 52:10) menyita perhatian nabi sampai tiba saatnya ia bisa menunjukkan 'Penuntas Agung' pada 52:13: 'Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil'.

Tugas Hamba Yahweh itu disimpulkan dalam 3 ay (13-15): ditinggikan, yg didahului oleh penderitaan, dampaknya meliputi seluruh dunia. Ps 53 memperincinya sebagai: 1. Hamba Yahweh hidup di tengah-tengah manusia (ay 1-3); 2. kematian-Nya bersifat menggantikan (ay 4-9); dan 3. dasar rohani dari semuanya adalah kehendak Yahweh, yg menghantar HambaNya kepada kemenangan dan kehidupan sesudah penderitaan-Nya (ay 10-12). Dua ps berikutnya melengkapi cerita ini; ps 54 memanggil Israel kepada perjanjian baru, dan dalam Ps 55 himbauan ditujukan kepada semua orang yg membutuhkan supaya masuk dalam penyelamatan yg membebaskan itu.

Ringkasan yg nampaknya tergesa-gesa ini paling sedikit menunjukkan pekerjaan Hamba itu. Dan di sini nampak segi baru, yg memperkenalkan doktrin Hamba-Mesias ke dalam konsep mesianik: penyelamatan melalui kematian-Nya yg menggantikan orang-orang berdosa, baik Yahudi maupun bangsa-bangsa non-Yahudi. Penting diperhatikan pertanda berkaitan dengan diriNya. Yg paling mencolok dari semua tanda itu ialah bahwa Dia manusia dan di antara manusia (49:1; 50:4b; 53:2-3, 7-9). Yg juga mencolok ialah Ia mendapat karunia-karunia khas dari Allah: Roh Allah (52:1) dan Firman (49:2; 50:4).

Dua hal lagi perlu diperhatikan. Pertama, agaknya dalam 55:3-4 Hamba ini disamakan dengan Raja Mesias dari suku Daud. Pasti berdasarkan pekerjaan Hamba inilah perjanjian yg kekal itu didirikan (bnd 55:3 dgn 54:10 dan 53:5b). Perjanjian ini sekarang diterangkan sebagai 'kasih setia kerajaan Daud', dan pemimpin yg ditawarkan kepada bangsa itu ialah Daud. Kedua, dapat dikemukakan bahwa dengan menyebut Hamba itu 'Tangan Yahweh', maka Yesaya membenarkan bahwa Hamba itu sama dengan Allah dan serentak dibedakan dari Allah, keadaan yg sudah dikemukakan dalam hal tokoh-tokoh mesianik lainnya. Pasti Tangan Yahweh yg ia sapa itu dalam 51:9 adalah sebagai pribadi dan diakuinya bahwa tindakan Tangan itu merupakan tindakan Yahweh sendiri. Dalam 53:1 dikatakannya, 'Siapakah yg percaya kepada berita yg kami dengar? Dan siapakah yg dapat melihat di situ tangan Yahweh?' (terjemahan Mowinckel). Jelas, Hamba Yahweh dilukiskan di sini dalam sifat-sifat ilahi, serentak disamakan dengan dan dibedakan dari Yahweh.

2. Penakluk yg diurapi. Yesaya menunjukkan seorang Raja yg memerintah orang Yahudi dan bangsa-bangsa non-Yahudi (11), tapi tidak dijelaskannya bagaimana bangsa-bangsa non-Yahudi itu terhisab di dalamnya. Melalui ajarannya tentang Hamba ia tuntaskan gambaran itu. Ia melukiskan penyelamatan meliputi seluruh dunia sehingga semua yg diselamatkan dimasukkan dalam pemerintahan Daud. Tapi dalam unsur rajawi dan Hamba (ump 9:3-5; 42:13, 17; 45:16, 24; 49:24-26) jelas diungkapkan bahwa pekerjaan Raja dan Hamba itu mencakup pembalasan terhadap musuh-musuh Yahweh. Dalam ciri ketiga khas mesianik Yesaya menguraikan pokok ini dengan teliti sekali. Seorang seperti Raja (11:2, 4) dan Hamba Yahweh (42:1; 49:2), diurapi dengan Roh Kudus dan Firman tampil tiba-tiba (seperti tokok-tokoh lainnya di tempatnya) dalam 59:21. Ps 56-59 mencatat kebejatan moral umat Israel dan ketidakmampuan mereka melakukan hukum Taurat dan menyelamatkan dini mereka sendiri. Yahweh sendiri memakai peranti penyelamatan (Yes 59:16 dab), dan dengan itu Ia akan menjungkirbalikkan musuh-musuh-Nya dan melepaskan umat-Nya. Tapi perjanjian berikutnya dibuat oleh pengantara yg diterangkan dengan kata-kata yg pasti, mengingat kedua tokoh mesianik lain yg diucapkan oleh Yesaya, seperti diungkapkan di atas. Sukacita penyelamatan ini, yg dinikmati baik oleh Yahudi maupun non-Yahudi, dan yg membuat bangsa Israel mengungguli segala bangsa (bnd 45:14-25), disajikan dalam ps 60.

Dalam ps 61 Orang yg dikaruniai Roh Kudus dan Firman itu tampil lagi, dan secara pribadi menyatakan pekerjaan-Nya, yakni memberitakan tahun rahmat Yahweh dan hari pembalasan Yahweh (61:1-3). Tugas ini dikukuhkan lagi oleh Yahweh dalam ay 4-9, kemudian pembicara kembali memberi kesaksian tentang sukacitanya mengenakan perlengkapan penyelamatan. Dengan mengenakan peranti demikian, 'Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa' (61:11). Artinya, Dia terlibat dalam suatu upaya yg meliputi seluruh dunia, tapi bagaimanapun juga Yahweh sendirilah Pelakunya. Ps 62 menyajikan gambaran menyeluruh tentang upaya ini berkaitan dengan dampaknya terhadap Sion dan bangsa-bangsa (bnd hubungan 51:17-52:12 dgn 52:13 dab). Dan dalam 63:1-6 Penakluk yg diurapi itu dengan mengenakan pakaian-Nya yg telah ditentukan, melaksanakan pembalasan dan penyelamatan. Dalam dirinya, Penakluk mesianik ini hampir tidak berbeda dari Raja dan Hamba Yahweh. Dia mendapat karunia-karunia rohani yg sama; Dia manusia di antara manusia. Tapi ada dua lagi keterangan yg diberikan. Pertama, Dia digambarkan sebagai penakluk Edom, suatu tugas yg tak pernah dilakukan oleh raja Israel manapun kecuali Daud (bnd Bil 24:17-19). Nampakkah kepada kita di sini, bahwa Penakluk yg diurapi itu sama orangnya dengan Raja Mesias dari wangsa Daud? Kedua, dalam perkembangan tema ini, Dia-lah yg akhirnya mengenakan perlengkapan penyelamatan dan pembalasan, yg kelihatan dipakai oleh Yahweh sendiri (Yes 59:16 dab). Sekali lagi nabi Yesaya memperkenalkan gagasan mesianik itu: kesamaan dan perbedaan Yahweh dengan yg diurapi-Nya.

3. Tunas Daud. Dengan tema mesianik ini terdapat beberapa nubuat dalam PL, yg dipersatukan dengan indah sekali. Yer 23:5 dab dan 33:14 dab benar-benar sama. Yahweh ingin menumbuhkan suatu Tunas 'bagi Daud'. Dia adalah Raja dan pada zaman-Nya Israel akan diselamatkan. Pemerintahan-Nya ditandai dengan keadilan dan kebenaran. Nama-Nya ialah 'Yahweh Keadilan kita'.

Bagian kedua perikop ini menghubungkan nubuat tentang Tunas dengan kepastian bahwa imam-imam 'tidak akan terputus mempersembahkan korban bakaran'. Hal ini bisa kelihatan agak ganjil, seandainya Zakharia tidak melukiskan tokoh mesianik yg sama. Dalam Za 3:8 dinyatakan bahwa Yosua dan imam-imam seangkatannya merupakan tanda dari maksud Yahweh untuk mendatangkan 'HambaKu, sang Tunas', yg akan menyelesaikan tugas imam dengan menghapuskan kejahatan negeri itu dalam satu hari. Sekali lagi dalam 6:12 dab Zakharia kembali membicarakan Tunas yg akan menjadi besar di tempatnya, akan membangun Bait Yahweh, menjadi imam di atas takhtanya, dan menikmati damai sejahtera dengan Allah, yg sempurna dan disepakati. Maka jelas, bahwa Tunas itu ialah Mesias dalam jabatan Raja dan jabatan Imam-Nya. Dia-lah yg menggenapi Mzm 110, yg menyatakan Raja itu sebagai 'Imam kekal menurut Melkisedek'.

Sekarang pada tempatnyalah membicarakan Yes 4:2-6. Rujukan mesianik pada ay 2 menjadi bahan perdebatan, dan sering disangkal, tapi karena ay-ay berikutnya cocok sekali dengan pemakaian Tunas dalam ps-ps tersebut di atas, maka sulit menolak kesimpulan bahwa Mesias terdapat juga di sini. Dia-lah Tunas Yahweh, dan Dia dihubungkan dengan pekerjaan menyucikan putri Sion dari segala kekotorannya dan dengan pemerintahan Raja Yahweh di Yerusalem (ay 5, 6). Lukisan Tunas ini meringkaskan dalam satu gambar apa yg di tempat lain diperluas dan diuraikan oleh nabi Yesaya sebagai tugas Raja, Hamba dan Penakluk. Pola pikir mesianik tentang kemanusiaan dan keilahian, dan pola pikir 'sama dengan Allah' dan 'berbeda dari Allah' -- disajikan, sebab Tunas itu di satu pihak adalah 'milik Daud' tapi di pihak lain 'milik Yahweh' -- yaitu ucapan-ucapan yg mengiaskan asal mula dan wataknya; Dia 'HambaKu', namun nama-Nya 'Yahweh Keadilan kita'.

4. Keturunan perempuan. Telah kita perhatikan bahwa sifat kemanusiaan Mesias jelas ditekankan. Secara khusus, sering melalui garis ibu-Nya-lah asal mula kemanusiaanNya dijelaskan. Mudah sekali terjebak memberi penekanan berlebihan pada soal-soal kecil, namun patut dicatat bahwa baik Imanuel (Yes 7:14) maupun Hamba Yahweh (Yes 49:1) adalah contoh. Sama seperti itu Mi 5:2 bicara tentang 'perempuan yg akan melahirkan', dan mungkin sekali ay yg sukar, Yer 31:22, mengacu kepada pengandungan dan kelahiran seorang bayi ajaib.

Nubuat yg paling pokok mengenai keturunan perempuan, dan ay yg mungkin menjadi dasar untuk timbulnya gagasan itu, disajikan dalam Kej 3:15. Tapi para ahli hampir sepakat menolak adanya rujukan mesianik di sini, juga menganggap ay ini hanyalah 'melulu pernyataan umum mengenai umat manusia dengan ular, dan pernyataan permusuhan kedua pihak' (Mowinckel). Tapi sebagai soal mengenai tafsiran ps Kej ini, dan sama sekali lepas dari masalah benar tidaknya secara historis ataupun unsur lain, tidaklah jujur memisahkan ay ini dari kait naskahnya dan menalarnya berdasarkan aetiologi.

Untuk melihat kekuatan janji dalam 3:15, kita harus mengindahkan peranan ular dalam tragedi kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kej 2:19 menunjukkan keunggulan manusia atas makhluk binatang. Dalam kasih karunia-Nya Pencipta memberitahu manusia itu bahwa dia berbeda dari makhluk binatang: manusia bisa memaksakan kehendaknya atas binatang, tapi di antara binatang tidak ditemukan 'penolong yg sepadan dengan dia'. Yg serupa dengan manusia tidak ada dalam makhluk binatang.

Tapi dalam ps 3 fenomena lain muncul: seekor binatang berbicara, yg bagaimanapun juga telah melampaui harkatnya dan kedudukannya, menempatkan dirinya sama dan sebagai sesama manusia, sanggup terlibat dalam pembicaraan akali, bahkan sebagai yg lebih unggul dalam arti sanggup mengajar manusia peni ihwal yg tentangnya manusia itu sebelumnya (seolah) disesatkan, dan memberi tahu manusia itu pengertian yg benar akan hukum dan dini Allah. Ular itu berbicara sebagai benar-benar mempunyai kebolehan dan sanggup menimbang Allah dalam piring neraca dan menemukan bobot Allah kurang, sanggup membaca pikiran-pikiran batiniah Yg Mahakuasa dan menelanjangi alasan-alasan-Nya yg tersembunyi! Bahkan sang ular menyatakan permusuhan terbuka melawan Allah; sangat membenci watak Allah, siap untuk memusnahkan rencana penciptaan-Nya, mengejek dan mengolok-olok Yg Mahatinggi.

Tidak cukup melihat dalam ular itu melulu hanya hati manusia yg ingin tahu dan tak terkendalikan (Williams), atau sesuatu yg serupa dengan itu. Alkitab mengenal hanya satu oknum yg melakukan kecongkakan yg begitu fasik, kebencian yg begitu keji terhadap Allah, dan nalar ilmu tafsir menuntut bahwa ular yg di Firdaus itu adalah alai dari 'Si ular tua, yaitu Iblis yg adalah Satan' (Why 20:2). Tapi di mana dosa merajalela di situ kasih karunia melimpah, dan itulah yg terjadi di sini. Justru pada saat Iblis nampak menggondol kemenangan gemilang, pada saat itu pula dinyatakan bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan dan menghancurkan dia Keturunan perempuan itu memang akan remuk memar dalam proses pertarungan itu, tapi Ia akan mendapat kemenangan. Keturunan perempuan ini akan membalikkan seluruh bencana kejatuhan dalam dosa.

5. Anak Manusia. Kita akhiri telaah mengenal ke-Mesias-an PL ini dengan uraian pendek tentang penglihatan Daniel akan Anak Manusia (Dan 7:1-28). Dalam suatu soal, yg menimbulkan begitu banyak pembicaraan dan silang pendapat, kita hanya dapat melakukan di sini seperti yg dilakukan dalam seluruh artikel ini, yaitu menyatakan suatu titik pandang saja. Inti penglihatan itu ialah pemandangan penghakiman; di sana Yg Lanjut Usia-nya melenyapkan semua kekuasaan duniawi yg bersifat bermusuhan -- sambil lalu baiklah dicatat di sini timbulnya kembali pola kerajaan dari Mzm 2 -- dan dibawalah ke hadapan-Nya 'dengan awan-awan dari langit seorang seperti Anak Manusia', kepada-Nya diberikan kekuasaan meliputi seluruh dunia dan yg kekal selama-lamanya. Sudah jelas, bahwa suasana umum di sini, adalah berhubungan dengan pemerintahan yg meliputi seluruh dunia, yg umumnya telah kita amati dalam ps-ps tentang ke-Mesias-an. Tapi apakah 'seorang seperti Anak Manusia' itu ialah Mesias secara perseorangan, atau dimaksudkan pempersonifikasian umat Allah, janganlah diselesaikan secara ringkas demikian. Dan 7:18, 22 membicarakan tentang penghakiman dan pemerintahan yg diberikan kepada 'orang-orang kudus milik Yg Mahatinggi'; maka nalar menuntut bahwa penerima yg samalah yg dimaksud dengan tokoh tunggal dalam Dan 7:13, 14.

Tapi boleh juga kita catat, bahwa ada keterangan rangkap tentang binatang-binatang, yg menjadi musuh dari orang-orang kudus. Dan 7:17 berkata bahwa binatang-binatang besar ... ialah 'empat raja' dan Dan 7:23 berkata 'binatang yg keempat itu ialah kerajaan yg keempat'. Yg digambarkan ialah dua-duanya, perseorangan (raja-raja) dan sekelompok (kerajaan-kerajaan). Kita harus terima keterangan pendahuluan yg sama bagi 'seorang seperti Anak Manusia. Selanjutnya, harus kita pandang hubungan raja kerajaan ini dengan pengertian PL. Raja itulah yg utama, kerajaannya adalah yg kedua. Bukanlah kerajaan itu yg membentuk rajanya, tapi sebaliknya. Mengenai raja-raja binatang itu, merekalah musuh-musuh pribadi dari kerajaan orang-orang kudus, dan mereka melibatkan kerajaan-kerajaannya dengan dini mereka; sama seperti itu 'seorang seperti Anak Manusia' menerima pemerintahan alam semesta, dan di sini sudah terlibat pemerintahan umat-Nya (bnd pemerintahan Israel dlm pemerintahan penakluk, Yes 60).

Berdasarkan ini telah ditekankan pendapat, bahwa 'seorang seperti Anak Manusia' itu ialah perseorangan yg bersifat Mesias. Dalam pengertian ini, dia cocok dengan gambaran umum, yg terdapat dalam seluruh urutan harapan di atas: dia Raja, ditentang oleh dunia, tapi mencapai pemerintahan seluruh dunia dengan mengandalkan kecemburuan Yahweh, yaitu dari Yg Lanjut Usia-nya dalam penglihatan Daniel; dia seorang manusia, yg ternyata dari gelarnya, kendati demikian tidak berasal dari tengah-tengah umat manusia, tapi datang 'dengan awan-awan dari langit', suatu kedudukan yg khas ilahi (lih ump Mzm 104:3; Yes 19:1). Di sini terdapat lagi pembedaan yg manusiawi dari yg ilahi, yg terdapat hampir tanpa kekecualian dalam ke-Mesias-an PL, dan yg pada saat genap waktunya disempurnakan penuh seutuhnya dalam Nabi, Imam dan Raja, Yesus Mesias!

II. Dalam PB

Kata Ibrani masyiakh atau Aram mesyikha' dua kali ditransliterasikan dalam bh Yunani dengan messias (Yoh 1:41; 4:25; dan di kedua tempat itu ditambah keterangan dgn khristos). Di tempat lain kata itu diterjemahkan dengan kata Yunani Khristos, dari kata kerja khrio, yg berarti 'mengurapi'. Dalam TBI diterjemahkan baik dengan Kristus maupun Mesias, kecuali dalam Kis 4:26; Why 11:15; 12:10; di situ dipakai 'yg diurapi'.

Mesias ialah Yesus dari Nazaret, yg pada saat baptisanNya diurapi 'dengan Roh Kudus dan kuat kuasa' (Kis 10:38; bnd maksud dari hal Yesus mengutip Yes 61:1 dlm Luk 4:18). Tapi Yesus sendiri jarang memakai istilah itu, dan tanpa diragukan sebabnya ialah kesalahpahaman yg bisa timbul karena pemakaian istilah itu. Tatkala Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Yesus-lah Kristus, Dia terima Nama pertanda itu, tapi memerintahkan murid-murid-Nya jangan menceritakan itu kepada siapa pun (Mrk 8:29-30).

Dalam percakapan-Nya dengan perempuan Samaria (Yoh 4:25-26) istilah itu pasti dipahami dalam terang pengharapan orang Samaria, bahwa akan datang seorang Taheb atau 'yg membetulkan', nabi seperti Musa, yg dijanjikan dalam Ul 18:15-19. Tapi, waktu Dia ditantang oleh Imam Besar pada saat penghakiman-Nya, supaya mengatakan apakah Dia 'Mesias, Anak dari Yg Terpuji atau tidak, Dia mengaku, dan kata-kata dari ucapan-Nya dijadikan dasar dakwaan bahwa Dia benar menghujat Allah (Mrk 14:61-64). Hukuman ini, yg mendatangkan hukuman mati, dibalikkan oleh Allah, yg membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan meninggikan Dia ke 'sebelah kanan-Nya', dan dengan demikian menyatakan bahwa Yesus yg sudah disalibkan, itulah 'Tuhan dan Kristus' (Kis 2:36; bnd Rm 1:4).

Tapi pengertian Yesus akan dan cara-Nya untuk menggenapi panggilan ke-Mesias-an-Nya berbeda dari gambaran umum tentang Mesias yg diharapkan. Suara dari sorga pada saat pembaptisan-Nya (Mrk 1:11) menyambut Dia sebagai Mesias dari suku Daud, dengan kata-kata dari Mzm 2:7: 'AnakKu-lah Engkau'. Tapi dengan menambahkan kata-kata dari Yes 52:1 yg memperkenalkan Hamba Yahweh, diberi pertanda bahwa ke-Mesias-an-Nya akan menggenapi gambaran Hamba itu, rendah hati, taat, menderita, menggenapi tugas-Nya dengan menjalani maut, sambil menyerahkan pembelaan atas diriNya kepada Allah dengan hati yg percaya. Pelayanan Yesus yg dimahkotai dengan penderitaan-Nya, ditandai dengan selalu berpegang teguh pada jalan yg ditentukan bagi-Nya oleh BapakNya. Maka karena itu Yesus memberikan pengertian baru kepada kata 'Mesias', yg mengatasi setiap arti yg sebelum itu dimilikinya.

KEPUSTAKAAN.

1. PL. H Ringgren, The Messiah in the OT, 1956; A Bentzen, King and Messiah, 1956; S Mowinckel, He that Cometh, 1956; J Klausner, The Messianic Idea in Israel, 1956; H. L Ellison, The Centrality of the Messianic Idea for the Old Testament, 1953; B. B Warfield, 'The Divine Messiah in the OT', dlm Biblical and Theological Studies, 1952; H. H Rowley, The Servant of the Lord, 1952; A. R Johnson, Sacral Kingship in Ancient Israel, 1955;1DB, lih Mesias, Y Kaufmann, The Religion of Israel, 1961; G. A. F Knight, A Christian Theology of the OT, 1959; J. A Motyer, 'Context and Content in the Interpretation of Is. 7:14', TynB 21, 1970; G. J Wenham, 'BETULAtt, Girl of Marriageable Age', VT 22, 1972, hlm 326-347; E. J Young: Daniel's Vision of the Son of Man, 1958; P E Achtemeier, The OT Roots of our faith, 1962.

2. PB. W Manson, Jesus the Messiah, 1943; T. W Manson, The Servant-Messiah, 1953; V Taylor, The Names of Jesus, 1953; The Person of Christ in NT Teaching, 1958; O Cullmann, The Christology of the NT (khusus ps 5) 1959; R. H Fuller, The Foundations of NT Christology, 1965; F Hahn, The Titles of Jesus in Christology, 1969; F. F Bruce, This is That, 1968; R. N Longenecker, The Christology of Early Jewish Christianity, 1970; G. E Ladd, A Theology of the NT, 1974, hlm 135 dst, 328 dst, 408 dst. JAM/FFB/MHS/HAO




TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.15 detik
dipersembahkan oleh YLSA