: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Kezib | Kezis | Khabiru | Khalaik | Kheluhi | Khotbah di Bukit | Kiblat | Kibrot-Taawa | Kibroth-Hattaavah | Kibzaim | Kidon
Daftar Isi
KECIL: Khotbah di Bukit
BROWNING: KHOTBAH DI BUKIT
ENSIKLOPEDIA: KHOTBAH DI BUKIT

Khotbah di Bukit

Khotbah di Bukit [kecil]

KS.- Lihat Bahagia, Ucapan --> 19798
[PB] pasal Mat 5:1-7:29; Luk 6:20-49

KHOTBAH DI BUKIT [browning]

Menurut kerangka karangan Matius, pemberitaan Yesus di Mat. 5-7 sejajar dengan berita Musa yang menerima *Dasa Titah di Gunung *Sinai. Sebutan Khotbah di Bukit pertama kali diberikan oleh Santo Augustinus (sekitar 392 M). Sebagian bahannya terdapat juga dalam Luk. 6:20-49, yang lebih singkat, yang dikatakan disampaikan Yesus di dataran. Akan tetapi, Lukas menambahkan pada empat *ucapan bahagia Yesus, juga empat ucapan 'celakalah' yang bersangkut paut dengan kehidupan Kristen dalam Gereja, Yang memang pokok khas dari Lukas: perhatikan tambahan kata 'setiap hari' dalam Luk. 9:23 (yang tidak ada di Mrk. 8:34). Khotbah di Bukit ini adalah suatu kumpulan perkataan Yesus yang disusun oleh penulis Injil. Perkataan-perkataan itu disampaikan pada berbagai kesempatan dan sekarang disusun untuk menampilkan Yesus sebagai Musa baru, menyampaikan kebenaran baru untuk para *murid-Nya. Khotbah di Bukit ini adalah suatu bagian integral dari keseluruhan Injil, tetapi dapat ditinjau sebagai satu unit khusus. Bagian pertama (Mat. 5:1-12) terdiri dari sembilan *ucapan bahagia atau berkat, yang menyatakan bahwa dalam *Kerajaan Surga (atau Allah) akan ada pembalikan nilai-nilai secara besar-besaran. Ucapan-ucapan bahagia disampaikan dalam bentuk indikatif, bukan imperatif. Ucapan-ucapan itu adalah pernyataan mengenai suatu kehidupan yang sama sekali lepas dari suatu persekutuan tertentu, Yahudi ataupun Kristen. Berlaku untuk semua orang. Para murid disapa (5:1), tetapi juga orang banyak (7:28). Imperatifnya tentu ada -- bagaimana para murid harus mengikuti kehidupan ideal di mana pun. Sejumlah contoh praktis menyusul memaparkan cita-cita kerajaan dalam keadaan hidup ini: pembunuhan, perzinahan, sumpah dan permusuhan semuanya dilarang oleh ukuran mutlak dari kerajaan itu. Kemudian menyusul (Mat. 6:1-7:12) suatu kumpulan *pengajaran Yesus mengenai *kebenaran di hadapan Allah; kemurahan dan pengendalian diri; berpuasa yang tersembunyi dan memberi sedekah yang benar; kepercayaan yang sempurna dan sikap yang tidak menghakimi. Pusat dari bagian ini adalah '*Doa Bapa Kami' (6:9-13) dan diakhiri dengan *kaidah atau hukum utama (7:12). Interpretasi dari perintah-perintah ini terpecah. Pada satu pihak, ada (kebanyakan Katolik) yang menganggapnya sebagai perintah untuk ditaati sebagaimana bunyinya: sebab dengan *anugerah Allah semua itu dapat dilakukan, paling tidak oleh mereka dengan panggilan khusus, seperti mereka yang masuk ke dalam ordo-ordo. Di lain pihak, ada (kebanyakan Protestan) yang memandang Khotbah di Bukit ini memberi ideal untuk diupayakan; sebab, suatu tuntutan untuk mengasihi Allah sebagaimana Allah mengasihi (5:46), adalah tuntutan mustahil untuk menjadi sempurna (Mat. 5:48) dan sesungguhnya menghukum pembacanya karena ketidaksempurnaannya, dan Injil Lukas misalnya sudah memperlunaknya dengan mengatakan: 'Hendaklah engkau murah hati seperti Allah bermurah hati' (Luk. 6:36). Satu bagian dari Khotbah di Bukit itu (Mat. 5:17-48) menunjukkan perbedaan antara kebenaran yang dituntut oleh hukum *Taurat dengan apa yang dihadapkan kepada murid-murid Yesus dalam bentuk 'antitesis'. Dalam bentuk ekstrem, itu dimaksudkan untuk menggiring para pembaca Injil Matius untuk melakukan perbuatan yang dijiwai kasih (Mat. 22:39), tetapi itu juga berarti peningkatan dari hukum Taurat dan bukan meniadakannya.

KHOTBAH DI BUKIT [ensiklopedia]

Judul biasa bagi ajaran Yesus yg tertulis dalam Mat 5-7. Apakah judul itu tepat dipakai untuk bagian Luk (Luk 6:20-49) yg memang sejajar, bergantung pada tafsiran mengenai hubungan sastra dari kedua bagian itu. Ay-ay dalam Luk sering disebut Khotbah Di Dataran, alasannya, hal itu terjadi di 'suatu tempat yg datar' (Luk 6:17), bukan 'di bukit' (Mat 5:1). Tapi ungkapan ini mungkin mengartikan tempat yg sama, ditinjau dari dua arah; lih W. M Christie, Palestine Calling, 1939, hlm 35 dab.

Canon Liddon menunjuk kepada khotbah ini sebagai 'bagan asli dari intisari Kekristenan'. Jika Khotbah Di Bukit diartikan sebagai pesan Kekristenan untuk dunia kafir, pengertian itu harus ditangkis dengan peringatan bahwa Khotbah Di Bukit adalah didakhe (ajaran), bukan kerygma (pesan). Atas dasar apapun Khotbah Di Bukit tak dapat dipandang sebagai 'kabar baik' bagi seseorang, jika ia harus ,menggenapi tuntutan ajaran itu supaya ia dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Bayangkanlah seseorang yg di luar Kristus, yg tanpa kemampuan yg diberikan oleh Roh Kudus, mencoba melebihi keadil-benaran ahli Taurat dan Farisi). Khotbah Di Bukit adalah bagan watak dari orang yg sudah masuk ke dalam Kerajaan Allah, dan keterangan sifat kesusilaan yg diharapkan dari mereka. Hanya dalam arti inilah Khotbah Di Bukit berarti 'intisari Kekristenan'.

I. Susunan

Dahulu Khotbah Di Bukit dianggap pasti adalah ceramah yg diberikan Yesus pada suatu kesempatan tertentu. Memang demikian halnya dalam laporan Mat. Murid-muridNya datang (ay' 1) lalu Yesus berbicara mengajar mereka (ay 2). Usai ceramah itu, orang banyak takjub mendengar ajaran-Nya (7:28).

Tapi, kebanyakan ahli masa kini berpendapat bahwa Khotbah Di Bukit sebenarnya merupakan bunga rampai ucapan-ucapan Tuhan Yesus, 'semacam ringkasan dari semua khotbah yg pernah dikhotbahkan Yesus' (W Barclay, The Gospel of Matthew, 1, hlm 79). Dasar pikirannya ialah: (1) Dalam Khotbah Di Bukit terlalu banyak bahan tertumpuk untuk hanya satu khotbah. Murid-murid, yg kemampuan nalar rohaninya tidak begitu tajam, tak mungkin mampu menyerap ajaran kesusilaan yg begitu kaya. (2) Deretan topik yg begitu luas (uraian ttg kebahagiaan dlm Kerajaan Allah, nasihat ttg perceraian, teguran mengenai kekuatiran) bertentangan dengan keutuhan dari satu ceramah. (3) Dalam Khotbah Di Bukit beberapa bagian timbul mendadak (ump ajaran mengenai doa dlm Mat 6:1-11) dan sangat menarik perhatian. (4) Ada 34 ay terdapat dalam konteks yg lain, dan di antaranya ada yg lebih cocok, dan ini terasa sepanjang Injil Luk (ump 'Doa Bapak Kami' dlm Luk didahului oleh permintaan murid Yesus, supaya Dia mengajar mereka berdoa, Luk 11:1); ucapan tentang pintu yg sesak muncul sebagai jawaban atas pertanyaan, 'Sedikit sajakah orang yg diselamatkan?' (Luk 13:23). Dan lebih besar kemungkinannya bahwa Matius memindahkan ucapan-ucapan Tuhan Yesus ke dalam Khotbah Di Bukit ketimbang Lukas mendapatinya di sana, lalu ditaburkan di seluruh Injilnya. (5) Memang adalah sifat Matius mengumpulkan bahan-bahan ajaran Yesus dalam judul-judul tertentu dan menyisipkannya ke dalam cerita tentang hidup Yesus (bnd B. W Bacon, Studies in Matthew, 1930, hlm 269-325), karena itu Khotbah Di Bukit-lah bagian pertama dari ajaran ini. (Bg-bg lain membicarakan tema sebagai murid Yesus, 9:35-10:42; Kerajaan Allah, ps 13; jiwa besar yg sebenarnya, ps 18; dan akhir zaman ps 24-25).

Tapi pertimbangan-pertimbangan di atas tidaklah mendorong seseorang untuk memandang Khotbah Di Bukit sebagai suatu susunan yg semena-mena. Kerangka sejarah dalam Mat 4:23-5:1 memandu kita untuk menantikan ceramah yg penting, yg dilakukan pada suatu peristiwa khusus. Dalam Khotbah Di Bukit itu sendiri ada beberapa urutan yg kelihatannya merupakan 'Khotbah-khotbah pendek' Yesus, bukan kumpulan topik dari ucapan-ucapan (logia) terpisah. Jika Khotbah Di Bukit Matius dibandingkan dengan Khotbah Di Dataran Lukas, akan kelihatan banyak hal yg sama (keduanya mulai dgn Ucapan-ucapan Bahagia, dan diakhiri dgn perumpamaan pembangun rumah) dan sajian Lukas yg menyela, yaitu tentang mengasihi musuh (Luk 6:27-36) dan menghakimi orang (Luk 6:37-42), berada dalam urutan yg sama seperti dalam Mat 7, untuk mengisyaratkan bahwa kedua berita ini mempunyai sumber yg sama.

Sebelum salah satu penulis ini menuliskan Injilnya, boleh jadi sudah tersedia kerangka tulisan primitif yg benar-benar sesuai percakapan yg sesungguhnya, yg terjadi pada suatu waktu tertentu. Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah Khotbah Di Bukit Matius lebih dekat kepada aslinya daripada Khotbah Di Dataran Lukas, atau apakah kerangka tulisan yg diikuti Matius tersedia dalam sumber yg lebih tua, masih tetap dibahas oleh para ahli. Bagi tujuan kita cukup menyimpulkan, bahwa Matius memakai sumber Khotbah yg mula-mula dan memperluasnya demi tujuannya yg khas, dengan bahan-bahan yg terkait.

II. Bahasa khotbah ini

Pada beberapa tahun terakhir ini pakar bh Aram menyumbang banyak tentang pemahaman 'Syair Tuhan Yesus' (meninjau judul buku C. F Burney, The Poetry of Our Lord, 1925). Dalam terjemahan Indonesia pun nampak berbagai jenis kesejajaran yg merupakan ciri khas syair bh Semit. Ump Mat 7:6 adalah contoh yg indah dari kesejajaran searti: 'Janganlah kamu memberikan barang yg kudus kepada anjing, dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi'.

Nampaknya 'Doa Bapak Kami' adalah syair yg terdiri dari 2 bait, masing-masing mempunyai 3 baris dan tiap baris 4 ketuk (bnd Burney, hlm 112 dst). Makna praktis mengenal syair, jika ada, ialah bahwa kita tidak akan serta-merta menafsirkannya dengan arti harfiah yg kaku, seperti yg akan kita lakukan sekiranya menafsirkan prosa. Betapa ngerinya jika seseorang secara harfiah harus 'mencungkil matanya' atau 'memenggal tangannya' (dan sejarah mencatat bahwa ada yg melakukannya) karena ingin membuang nafsu syahwat. AN Hunter mencatat bahwa 'amsal-amsal memang merupakan asas-asas yg diungkapkan dalam sifat keterlaluan'. Harus selalu kita hindari untuk menafsirkan pertentangan-pertentangan semu dengan keharfiahan yg kaku. Lebih baik mencari asas yg mendasari amsal itu (Design for Life, hlm 19-20).

Dalam hubungan ini perlu kita sadari sifat kemutlakan dalam perintah-perintah kesusilaan Yesus. Ay-ay seperti Mat 5:48, 'Karena itu haruslah kamu sempurna...' lama mencemaskan hati manusia. Sebagian jawabnya ialah bahwa perintah-perintah ini bukanlah 'hukum-hukum baru', tapi asas-asas yg luas yg dijabarkan dalam tindakan. Perintah-perintah ini termasuk kelompok amanat nabi-nabi, yg selalu lebih dalam dan unggul dari kalimat hukum Taurat. Dan perintah-perintah itu ialah kesusilaan untuk hidup baru, yg dimaksudkan bagi orang yg sudah mendapat kekuatan baru (bnd AN Wilder, 'The Sermon on the Mount', IB, 7, 1 hlm 163; J. R. W Stott, 'Khotbah Di Bukit', jilid 1 d 1989).

III. Keadaan

Matius dan Lukas menempatkan Khotbah Di Bukit pada tahun pertama Yesus melayani masyarakat umum; Matius menempatkannya lebih dini sedikit daripada Lukas, yaitu segera sesudah pemilihan 12 murid, dan hal itu menyarankan bahwa Khotbah Di Bukit hendaknya dimengerti sebagai 'khotbah pentahbisan'. Dalam kedua hal itu Khotbah Di Bukit telah luas dikenal sebelum guru-guru agama Yahudi dapat mengatur perlawanannya, dan nama Yesus telah tersebar ke seluruh negeri. Yesus memanfaatkan bulan-bulan pertama pelayanan-Nya di Galilea untuk berkhotbah di sinagoge. Tapi luapan pengikut-Nya yg begitu banyak dan sangat tertarik, mengharuskan pelayanan-Nya itu dilaksanakan di luar rumah atau di lapangan. Bertalian dengan pelayanan itu terjadi pula perubahan dalam sifat amanat-Nya. Himbauan semula, 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!' (Mat 4:17), sekarang beralih kepada penguraian kodrat Kerajaan itu kepada orang yg sungguh ingin mengetahuinya.

Karena Khotbah Di Bukit termasuk dalam pelayanan Yesus di Galilea, maka wajar menganggap bahwa Khotbah Di Bukit diucapkan di salah satu bukit yg mengelilingi tanah datar yg di utara. Dan karena tidak lama kemudian -- seusai pertemuan itu Yesus sampai di Kapernaum (Mat 8:5), maka tentu tempat itu berada di sekitar daerah itu. Tradisi Latin, bertarikh kr abad 13, menyebut bukit kembar, Karn Hattim, yg letaknya sedikit di arah selatan, tapi hanya para pemandu jalan dan para wisata yg menerima ini.

Khotbah Di Bukit dialamatkan terutama kepada murid-murid Yesus. Inilah pengertian nyata dalam Mat 5:1-2 dan Luk 6:20. Dari cara Lukas menggunakan sebutan orang kedua dalam Ucapan bahagia, seperti 'Kamulah garam dunia' (Mat 5:13), dan susila Khotbah Di Bukit yg begitu luhur dalam keseluruhannya, mencuat anti bahwa khotbah itu dimaksudkan bagi orang yg sudah meninggalkan hidup kekafiran demi hidup dalam Kerajaan Allah. Namun dari akhir kedua penyajian itu (Mat 7:28-29; Luk 7:1) kita ketahui turut hadirnya sejumlah besar orang lain. Agaknya dapat disimpulkan bahwa orang banyak itu hadir di sana dan mendengar ceramah Yesus, tapi ceramah itu terutama diarahkan kepada murid-murid. Ungkapan yg sesekali muncul seperti 'celakalah' dalam Luk 6:24-26, kalau bukan retorika agaknya ditujukan ke 'samping' kepada beberapa orang yg mungkin sedang mendengarkan nasihat itu dan membutuhkannya.

IV. Uraian

Tidak menjadi soal apakah Khotbah Di Bukit dianggap ringkasan dari suatu ceramah yg sungguh terjadi, atau sebagai lukisan indah yg tersusun dari puluhan ucapan susila yg disusun oleh Matius. Sebab adalah pasti bahwa Mat 5-7 merupakan kesatuan yg nyata, ditandai oleh perkembangan logis dari tema asasi. Tema ini disajikan dalam Ucapan Bahagia dan dapat disebut sebagai 'kualitas dan sifat hidup di Kerajaan Allah'. Sajian berikut ini adalah analisis yg menerangkan isi Khotbah Di Bukit.

a. Kebahagiaan orang yg berada dalam Kerajaan Allah, 5:3-16

(i) Ucapan Bahagia (5:3-10).

(ii) Perluasan Ucapan Bahagia yg terakhir dan pergeseran dari tema utama untuk menunjukkan peranan murid Yesus dalam dunia yg tidak percaya (5:11-16).

b. Hubungan amanat Yesus dengan orde lama, 5:17-48

(i) Tesis Yesus dinyatakan (5:17). Amanat Yesus 'menggenapi' hukum Taurat dengan memasuki jiwa kalimat Taurat itu sambil menerangkan asas-asas yg mendasarinya, dan dengan demikian menggenapinya tuntas seutuhnya.

(ii) Tesis diuraikan lebih luas (5:18-20).

(iii) Tesis diilustrasikan (5:21-48).

1. Dalam hukum 6 jangan membunuh', amarah ialah unsur yg lazim mendatangkan hukuman (5:21-26).

2. Perzinahan ialah buah dari hati yg jahat, yg dipupuk dengan keinginan yg najis (5:27-32).

3. Keadil-benaran Kerajaan Sorga menuntut kejujuran nyata sehingga tak perlu sumpah menyumpah (5:33-37).

4. Hukum balas-membalas (Lex talionis) harus tergusur oleh roh yg tidak mau membalas (5:38-42).

5. Kasih kepada sesama harus diterapkan secara universal (5:43-48).

c. Petunjuk-petunjuk praktis bagi kelakuan dalam Kerajaan Sorga, 6:1-7:12

(i) Jagalah dirimu terhadap kesalehan palsu (6:1-18).

1. Dalam pemberian sedekah (6:1-4).

2. Dalam doa (6:5-15).

3. Dalam berpuasa (6:16-18).

(ii) Membuang rasa kuatir dengan percaya tanpa ragu (6:19-34).

(iii) Hidup dengan penuh kasih terhadap sesama (7:1-12).

d. Tantangan supaya hidup pasrah, 7:13-29

(i) Sempit jalan hidup (7:13-14).

(ii) Pohon yg baik memberi buah yg baik (7:15-20).

(iii) Kerajaan Sorga adalah orang yg mendengar dan melakukan kehendak Tuhan Yesus.

V. Tafsiran

Penafsiran Khotbah Di Bukit mempunyai sejarah yg panjang dan aneka ragam. Agustinus, yg menulis pembahasan mengenai Khotbah Di Bukit sewaktu masih uskup di Hipo (393-396 M), bagi dia khotbah itu adalah 'aturan atau pola hidup Kristen yg sempurna' -- hukum yg baru sebagai lawan dari hukum yg lama. Orde-orde biara menafsirkannya sebagai 'petunjuk menuju kesempurnaan', yg dimaksudkan bukan untuk masyarakat banyak, tapi untuk sejumlah kecil orang pilihan. Para reformator menganggapnya sebagai pengungkapan keadil-benaran Allah yg tak dapat ditawar-tawar, yg ditujukan kepada semua orang'.

Tolstoy, novelis Rusia dan (pada bg akhir hidupnya) pembaru hidup sosial, menguraikannya menjadi 5 perintah (menentang segala kemarahan, supaya hidup bersih, memantangkan sumpah, jangan melawan, mengasihi musuh tanpa syarat), yg jika ditaati secara harfiah akan membuang segala kejahatan yg ada dan mulai mendirikan kerajaan Utopia. Weiss dan Schweitzer menganggap tuntutan itu keterlaluan untuk segala waktu, sehingga mereka menyebutnya 'susila selang waktu' bagi orang Kristen pertama, yg mempercayai bahwa akhir zaman telah dekat. Pendapat yg lain lagi, yg banyak mempersoalkan lambang bahasa, memahami Khotbah Di Bukit sebagai pengungkapan jalan pikiran yg luhur -- suatu ajaran yg lebih membicarakan apa sepatutnya manusia itu ketimbang apa yg sepatutnya diperbuatnya.

Jadi penafsir abad 20 menyajikan puluhan 'kunci' yg membingungkan untuk membuka intisari pengertian Khotbah Di Bukit. Bersama Kittel seorang penafsir dapat menerima tuntutan itu sebagai sengaja dilebih-lebihkan, dengan maksud mendorong orang kepada perasaan gagal (dan karena itu mendorong bertobat dan percaya). Atau, bersama Windisch membeda-bedakan tafsiran sejarah dari tafsiran teologi, dan mempertahankan bahwa tuntutan Khotbah Di Bukit dapat dipraktikkan. Juga bersama Dibelius menafsirkan perintah-perintah susila mutlak sebagai etika Kerajaan Sorga yg sudah masuk ke bumi, atau bersama golongan Dispensasionalis menangguhkan seluruh Khotbah Di Bukit itu ke pemerintahan Kristus yg akan datang pada masa Kerajaan 1.000 thn.

Bagaimanakah seharusnya Khotbah Di Bukit ditafsirkan? Sajian berikut ini paling sedikit memberikan tuntunan bagi kita: (1) Walaupun diungkapkan dalam bentuk syair dan lambang, namun Khotbah Di Bukit masih menuntut kualitas perilaku susila yg bobotnya teramat andal dalam segala dimensinya. (2) Tuhan Yesus bukanlah menetapkan suatu norma undang-undang baru mengenai peraturan-peraturan yg sah, melainkan mengumumkan dasar-dasar susila yg luhur dan bagaimana pengaruh peraturan-peraturan ini terhadap hidup orang-orang yg berada dalam Kerajaan Sorga. (3) Khotbah Di Bukit bukanlah program untuk memperbaiki dunia ini secara langsung, tapi ditujukan kepada orang-orang yg sudah menyangkal dunia ini dengan maksud hendak masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (4) Khotbah Di Bukit bukanlah cita-cita yg tidak praktis maupun suatu kemungkinan yg seluruhnya mustahil dicapai. Mengutip S. M Gilmour, 'Khotbah Di Bukit adalah etika dari tatanan transendental yg masuk dalam sejarah pada diri Yesus Kristus, membangun dirinya sendiri dalam sejarah di dalam gereja, tapi penggenapannya yg sempurna ada di luar sejarah dunia ini, apabila Allah menjadi semua di dalam semua' (1 Kor 15:28) (Journal of Religion, 21, Juli 1941, hlm 263).

KEPUSTAKAAN. Artikel dalam kamus Alkitab yg lain (lih khususnya tulisan Votaw dlm HDB, jilid khusus, hlm 1-45); H. K McArthur, Understanding the Sermon on the Mount, 1960; J. W Bowman dan R. W Tapp, The Gospel from the Mount, 1957; W. D Davies, The Setting of the Sermon on the Mount, 1964; M Dibelius, The Sermon on the Mount, 1940; A. M Hunter, Design for Life, 1953; D. M Lloyd-Jones, Studies in the Sermon on the Mount, 1, 1959, 2,1960; Artikel AN Wilder's dalam IB, 7, 1951, hlm 155-164; H Windisch, The Meaning of the Sermon on the Mount, 1951, terjemahan yg sudah ditinjau ulang dari Der Sinn der Bergpredigt, terbitan pertama, 1929; D Bonhoeffer, The Cost of Discipleship, 1948; C. F. H Henry, Christian Personal Ethics, 1957, hlm 278-326; J Jeremias, Die Bergpredigt 7, 1970; J. R. W Stott, Christian Counter-Culture, 1978. RHM/MHS




TIP #18: Centang "Hanya dalam TB" pada Pencarian Universal untuk pencarian teks alkitab hanya dalam versi TB [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA