Daftar Isi
BROWNING: KENOSIS
ENSIKLOPEDIA: KENOSIS

Kenosis

KENOSIS [browning]

Kata Yunani yang berarti 'pengosongan diri' dan digunakan oleh Paulus dalam Flp. 2:7, mengacu pada penolakan Yesus untuk tinggal dalam keadaan *kemuliaan bersama sang Bapa dan memilih hidup dan mati manusia. 'Teori Kenosis dari *inkarnasi yang diusulkan oleh berbagai teolog Lutheran Jerman dan teolog Inggris (Charles Gore, PT. Forsyth) merupakan suatu usaha untuk menyatukan Kristologi Ortodoks dengan pengakuan bahwa kemanusiaan Yesus mencakup keterbatasan zamannya. Kemahakuasaan Yesus ditinggalkan; Yesus tentu tidak mengenal kritik Alkitab, sehingga baginya Mzm. 110 dianggap dituliskan oleh *Daud (Mrk. 12:36) sedangkan sekarang diketahui bahwa mazmur ini dituliskan jauh kemudian.

KENOSIS [ensiklopedia]

Kata Yunani ini berasal dari kata kerja heauton ekenosen, 'ia mengosongkan diriNya sendiri', Flp 2:7.

Sebagai kata benda kenosis dipakai dalam arti teknis, tentang teori Kristologis yg 'menunjukkan bagaimana Oknum kedua dalam Trinitas dapat memasuki kehidupan manusia, sehingga memungkinkan adanya pengalaman manusia sejati yg diuraikan oleh para penginjil' (H. R Mackintosh). Dalam bentuk klasiknya, teori Kristologis ini dikemukakan pada pertengahan abad 19 oleh Thomasius dari Erlangen, Jerman. Intisari pandangan kenotik asli dinyatakan dengan jelas oleh J. M Creed, 'Logos Ilahi oleh Inkarnasi-Nya telah melepaskan sifat keilahian-Nya, yaitu kemahatahuan dan kemahakuasaan, sehingga dalam hidup-Nya di dunia ini Oknum Ilahi semata-mata dinampakkan hanya melalui kesadaran seorang manusia' (artikel 'Recent Tendencies in English Christology' dlm Mysterium Christi, red Bell dan Deissmann, 1930, hlm 133). Pernyataan Kristologi ini terbuka terhadap keberatan-keberatan teologis yg hangat dan juga tak dapat didukung atas dasar penafsiran ay.

Kata kerja kenoun hanya berarti 'mengosongkan'. Dalam arti harfiah, kata itu digunakan umpamanya: Ribka mengosongkan air dari buyungnya ke dalam palungan (Kej 24:20, terjemahan LXX: kata kerjanya ialah exekenosen), Dalam Yer 14:2; 15:9 LXX menggunakan kata kerja kenoun untuk mengartikan bentuk pu'al dari 'amal, 'merana', dan terjemahan ini menunjuk kepada penggunaan yg bersifat kiasan, yg merintis jalan bagi penafsiran ay dalam Flp. Penggunaan kenoun di situ dalam bentuk aktif adalah khas dalam PB, dan seluruh rangkaian kata itu, yg memakai bentuk 'refleksif' bukan saja tidak mencerminkan gaya bh Paulus tapi juga tidak mencerminkan gaya bh Yunani. Fakta ini mendukung pendapat bahwa rangkaian kata itu mengambil alih gaya bh Semit ke dalam gaya bh Yunani secara harfiah.

Baru-baru ini beberapa ahli teologia (H. W Robinson, J Jeremias) mengusulkan bahwa bentuk aslinya ialah Yes 53:12, 'Ia telah mencurahkan nyawanya ke dalam maut'. Dalam rangka penafsiran Flp 2:7 ini, 'kenosis' tidak berarti penjelmaan-Nya menjadi manusia tapi penyerahan akhir dari hidup-Nya, dengan mengorbankan diriNya di kayu salib. Meskipun tafsiran yg baru ini bisa dianggap agak dipaksakan, namun tafsiran ini mengarahkan kita pada jalan yg benar. Kata-kata 'mengosongkan diriNya' dalam Flp 2:7 sama sekali bukan berkata bahwa Dia melepaskan sifat-sifat ilahi, dan karena itu teori 'kenosis' adalah tafsiran yg keliru tentang istilah-istilah Kitab Suci. Menurut Ilmu Bahasa, 'mengosongkan diri sendiri' harus ditafsirkan sesuai dengan kata-kata berikutnya. Yg dimaksudkan di sini adalah 'pelepasan hak-hak sebelum inkarnasi bertautan dengan tindakan mengambil rupa seorang hamba' (V Taylor, The Person of Christ in New Testament Teaching, 1958, hlm 77).

Hal mengambil rupa seorang hamba menyangkut juga pembatasan yg perlu terhadap kemuliaan, yg ditanggalkan supaya Ia bisa dilahirkan menjadi 'sama seperti manusia'. Kemuliaan dalam kesatuan-Nya dengan Bapak (Yoh 17:5, 24) yg sudah dari semula dimiliki-Nya, karena dari kekal Dia 'dalam rupa Allah' (Flp 2:6), kemuliaan itu yg tersembunyi dalam 'rupa seorang hamba' yg Dia ambil pada waktu Ia mengambil hakikat dan rupa manusia (menjadi manusia). Dalam menerima kemanusiaan kita, Dia menerima juga panggilan-Nya sebagai hamba Tuhan yg merendahkan diriNya sendiri sampai mengorbankan diriNya sendiri di Golgota. Jadi kenosis itu mulai di hadirat BapakNya dengan pilihan-Nya yg mendahului penjelmaan itu untuk mengambil rupa manusia. Pilihan itu membawa-Nya pada ketaatan terakhir di kayu salib, ketika Dia sepenuh-penuhnya menyerahkan nyawa-Nya sampai mati (lih Rm 8:3; 2 Kor 8:9; Gal 4:4-5; Ibr 2:14-16; 10:5 dab).

KEPUSTAKAAN. Pembahasan paling lengkap mengenai ajaran kenosis, baik secara historis maupun teologis, dilakukan oleh P Henry, artikel 'Kenose' dalam Suplement au Dictionnaire de la Bible, ps 24, 1950, kolom 7-161; D. G Dawe, The Form of a Servant, 1964; T. A Thomas, EQ 42, 1970, hlm 142-151. Untuk pembahasan teologis modern, lih R. S Anderson, Historical Transcendence and the Reality of God, 1975. RPM/SS




TIP #05: Coba klik dua kali sembarang kata untuk melakukan pencarian instan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA