Daftar Isi
BROWNING: KEBANGKITAN YESUS

KEBANGKITAN YESUS

KEBANGKITAN YESUS [browning]

Ada beberapa pemberitahuan tentang kebangkitan Yesus sendiri dalam Mrk. 8:31; 9:31; dan 10:34, tetapi ketepatannya 'pada hari ketiga' justru memperlihatkan bahwa ucapan itu mestinya tidak berasal dari Yesus sendiri, tetapi dari Gereja. Mungkin Gereja menerangkan suatu kemungkinan yang dinyatakan Yesus mengenai semacam pembenaran terakhir. Dalam Injil Yohanes (Yoh. 11:1-44) pembangkitan *Lazarus menjadi semacam prediksi mengenai kebangkitan Yesus sendiri. Hal itu menyatakan kuasa kebangkitan yang diberikan Bapa kepada Yesus (bnd. Yoh. 12:24). Tetapi, kebangkitan Lazarus, seperti juga kebangkitan anak *Yairus (Mrk. 5:42-43) adalah suatu pengembalian kehidupan. Mereka kembali pada kehidupan biasa yang fana, sampai kematian mereka secara alami. Sedangkan kebangkitan Yesus dilukiskan dalam PB sebagai suatu transformasi ke dalam kehidupan tubuh yang baru. Kebangkitan Yesus adalah suatu peristiwa *eskhatologis lebih daripada suatu peristiwa historis. Bahwa Allah membangkitkan Yesus dari mati adalah suatu kepercayaan kemenangan yang mengelilingi hampir setiap kitab PB, tetapi penuh dengan persoalan. Sebab, tidak ada tindakan Allah yang di liar pengertian manusia yang gamblang untuk diselidiki, seolah-olah itu hanya suatu kejadian lain dalam sejarah. Tindakan Allah itu bukan suatu kejadian kasat mata. Itulah sebabnya Injil Markus berakhir pada Mrk. 16:8, tanpa laporan apa pun tentang peristiwa kebangkitan atau tentang penampakan diri Yesus yang bangkit. Namun, ada beberapa jalan untuk menetapkan kepercayaan Kristen mengenai kebangkitan Yesus atas dasar kesaksian PB. Banyak bergantung pada kesaksian tertua yang ada: Paulus. Dalam 1Kor. 15:3-8 ia memberi suatu kesimpulan dari apa yang ia secara pribadi dan dengan penuh wibawa ajarkan kepada Gereja di Korintus itu, sekitar 50 M. Dalam kurun waktu dua dasawarsa dari *Paskah pertama itu, Paulus memberitakan kebangkitan Yesus tersebut. Lebih dari itu, Paulus mengunjungi Yerusalem sebelum melewati tahun 35 M, segera setelah ia menerima panggilannya di jalan ke Damaskus (Gal. 1:18-19), dan di sana ia berbicara dengan Petrus. Dapat dipastikan bahwa berita kebangkitan Yesus yang terawal mereka bicarakan pada waktu saling bertemu. Maka, Paulus mendapatkan kepastian mengenai pengalaman pribadinya dalam pertemuan dengan Kristus yang bangkit. Dan Paulus bertemu dengan jemaat Yerusalem yang masih muda yang merupakan bukti nyata dari kebenaran kebangkitan Yesus. Pengalamannya di jalan ke Damaskus dipandang Paulus sebagai sama dengan penampakan-penampakan yang lain dari diri Yesus Kristus (1Kor. 15:8). Sebab, berbeda dari Lukas (Luk. 24:41), Paulus ternyata menolak keadaan tubuh lahiriah dari tubuh Yesus yang bangkit (1Kor. 15:20, dan 50). Kitab-kitab Injil ternyata mengembangkan suatu pembelaan kebangkitan yang lain: kubur itu kosong pada pagi hari *Paskah. Menurut suatu pandangan yang dianut banyak ahli, berita-berita Injil itu dibuat kemudian untuk mendukung kepercayaan yang ada berdasarkan kesaksian penampakan diri Yesus. Ada terlalu banyak hal yang tidak bersesuaian dalam berita-berita Injil ini (misalnya jumlah perempuan yang berada di kubur dan juga *malaikatnya; mengenai tujuan dari kunjungan para perempuan itu, dan apa yang mereka buat dengan pesan yang akan mereka sampaikan). Juga ada beberapa hal yang tidak mungkin diterima sebagai berita sejarah yang terpercaya (bangkitnya pahlawan-pahlawan Yahudi yang berkeliaran di jalan-jalan, Mat. 27:52-53, 62-66). Lagi, cerita Lukas mengenai penampakan diri Yesus, yang diberi makan dan yang mestinya berpakaian, namun dapat menembus pintu-pintu tertutup (Luk. 24:36) -- toh Yesus tidak dikenali oleh kedua orang rekan-Nya yang bercakap-cakap dengan Dia di jalan ke Emaus (24: 16). Semua itu lebih merupakan interpretasi teologi ketimbang cerita sejarah. Perjamuan makan di Emaus mengingatkan pada *Perjamuan Tuhan: kemudian di Yerusalem diceritakan bahwa Yesus makan sepotong ikan (Luk. 24:42). Lukas menekankan kelanjutan identitas Yesus yang bangkit dengan Yesus dari masa pelayanan-Nya. 'Daging dan tulang' (Luk. 24:39) yang dibarui menyatakan suatu keyakinan teologis mengenai nilai tetap dari tubuh manusia dan pengalaman-pengalamannya. Inilah pandangan kebanyakan pengertian ilmiah bahwa pernyataan awal Paulus harus dilihat sebagai lebih mewakili kepercayaan Kristen awal daripada pernyataan Kitab-kitab Injil. Satu pandangan radikal dari beberapa ahli PB (khususnya Rudolf *Bultmann) ialah bahwa tidak ada penampakan objektif dari Yesus yang bangkit. Kebenaran historisnya ialah ada sejumlah 'kebangkitan pada kehidupan baru'. Para murid Yesus dibawa pada keputusan-keputusan baru dan radikal mengenai diri mereka. Mereka itu tahu bahwa dari dirinya sendiri mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Sekarang mereka dapat benar-benar hidup. Bagi para murid Yesus, dulu maupun sekarang, cerita kebangkitan Yesus harus dimengerti sebagai pemberitaan Kristen untuk memastikan kemenangan *salib. Penyaliban adalah kejadian sejarah di bawah Pontius *Pilatus, yang pada dirinya bukan suatu kejadian yang menyelamatkan. Baru apabila diberitakan dan dipercaya salib itu menjadi peristiwa menyelamatkan. Dan kebangkitan adalah undangan untuk menghayati arti kemenangan salib dalam *iman dan untuk mengalami kuasa pembebasannya. Dalam hal ini kita mengenali diri kita sebagaimana kita ada sebenar-benarnya. Namun, pengertian Bultmann tentang kebangkitan ini (yang adalah pengertian menurut filsafat eksistentialis) tidak secara memuaskan memperhitungkan kuasa baru yang telah menguasai para murid Yesus itu. 'Kebangkitan pada kehidupan baru' bukanlah arti dari kebangkitan Kristus itu, melainkan implikasi atau akibat dari iman kebangkitan yang ada pada bukan sejumlah pribadi, melainkan sejumlah kelom manusia (1Kor. 15:3-8). Ada pula orang-orang yang membela nilai historis dari cerita kubur kosong. Diakui adanya perbedaan antara keempat cerita kubur kosong itu dalam Kitab-kitab Injil. Tetapi, mereka justru menyatakan bahwa sekiranya tidak ada perbedaan pada waktu tradisi itu terbentuk, maka akan ada kecurigaan bahwa itu suatu cerita tipuan orang Kristen. Kalaupun ada tambahan-tambahan legenda dalam ceritanya, cukup menarik bahwa berita dari Paulus yang diterima oleh banyak ahli, menyebutkan bahwa Kristus dikuburkan dan dibangkitkan (1Kor. 15:12, 20). Yang tersirat adalah bahwa kubur itu kosong; dan lagi keterangan 'pada hari ketiga' yang menyimpang dari pengharapan para *rabi tentang kebangkitan umum dari bangsa itu, yakni 'pada hari ketujuh', memperkuat pernyataan kubur kosong itu; karena sekiranya tradisi Kristen itu keliru, orang Kristen akan memilih hari lain. Paulus yang tinggal di kota itu selama dua minggu, kira-kira enam tahun setelah penyaliban Yesus, mestinya mendengar berita mengenai kubur itu. Suatu bukti berikut yang memperkuat tradisi tersebut adalah pemberitahuan para perempuan, yang sesungguhnya merendahkan para murid. Juga dikemukakan bahwa kepercayaan pada kebangkitan Yesus tidak mungkin bertahan apabila ada kuburan berisikan tubuh Yesus -- suatu kepercayaan yang cepat dapat disangkal oleh orang Yahudi dengan jalan memperlihatkan tubuh Yesus itu. Namun, ada kesulitan-kesulitan untuk pembelaan kebenaran cerita-cerita kubur kosong tersebut. Injil Markus berakhir pada Mrk. 16:8, dengan cerita para perempuan yang lari ketakutan dan tidak menceritakan kepada siapa pun tentang apa yang mereka lihat. Hal itu rupanya adalah penjelasan Markus, bahwa cerita kubur kosong itu tidak umum diketahui orang. Cerita kubur kosong itu bukan bagian dari pemberitaan (*kerygma) Kristen pertama. Injil Matius memperluas berita Markus, tetapi tambahan Injil Matius lebih menyerupai cerita Gereja dan orang Yahudi pada paro kedua dari abad pertama, dan tidak seperti laporan Paskah pertama. Cerita Lukas secara historis harus dipertanyakan, karena ia menyebutkan sejumlah kejadian untuk waktu sehari yang tidak mungkin (Luk. 24:29) -- suatu perjalanan kembali ke kota sejauh 12 km di malam hari, suatu penampakan kepada para murid, perjalanan kaki ke *Betania, dan doa di Bait Suci (Luk. 24:53). Tetapi, apabila cerita-cerita kubur kosong itu adalah suatu apologi Kristen jauh kemudian, maka sudah sangat terlambat bagi orang Yahudi untuk memperlihatkan tubuh sebagai bantahan atas cerita kubur kosong itu. Kebangkitan Yesus dapat dipandang oleh orang Kristen sebagai pengesahan Allah atas nilai-nilai Yesus, sang Guru dan Orang Kudus. Sesudah kebangkitan-Nya Yesus, menurut Injil-injil, dikenali oleh para murid-Nya sebagai yang sudah mereka kenal, yaitu seorang yang berkeliling melakukan kebaikan (Kis. 10:38). Penampakan Yesus yang bangkit oleh Markus dan Matius ditempatkan di *Galilea ('wilayah orang-orang *bukan Yahudi', Yes. 8:2-3; 9:1), tempat pelayanan Yesus yang utama; tetapi menurut Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, tempatnya adalah Yerusalem. Sesuai dengan penampilan Yerusalem oleh Lukas sebagai tempat penyataan, maka Lukas yang menuliskan Injilnya untuk bangsa-bangsa lain bermaksud mengingatkan mereka bahwa *keselamatan itu adalah pertama-tama dari 'orang Yahudi'.



TIP #31: Tutup popup dengan arahkan mouse keluar dari popup. Tutup sticky dengan menekan ikon . [SEMUA]
dibuat dalam 0.07 detik
dipersembahkan oleh YLSA