: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Jethro | Jetur | Jeuel | Jeush | Jeuz | Jew | Jewish | Jews | Jezaniah | Jezebel | Jezer
Daftar Isi
GAMBAR: Yahudi Yehuda
BROWNING: ORANG YAHUDI YEHUDA
LAMBANG: Yahudi
BIOTOKOH PL: YEHUDA
ENSIKLOPEDIA: YEHUDA

Jew

Dalam versi-versi Alkitab:

orang Yahudi: BIS TB TL
orang Yehuda: BIS TB
orang-orang Yahudi: BIS TB
orang-orang Yehuda: BIS TB
segala orang Yehuda: TL
semua orang Yehuda: TB
seorang Yahudi: TB TL
seorang Yehuda: TB
si Yahudi: TB
Yahudi: FAYH
Yehuda: FAYH

Gambar

Yahudi: selebihnya..
Topik: Jews and Gentiles - One in Christ; The Jews Are Saved
Yehuda: selebihnya..
Topik: Ahaziah King of Judah; Allotment for Judah; Judah and Tamar; Judgment on Judah and Israel; King over Judah; Portraits of Judah, Son of Jacob; The Man of God from Judah; The Restoration of Israel and Judah

ORANG YAHUDI [browning]

Penduduk negara atau provinsi di sekitar Yerusalem setelah kembali dari *pembuangan di *Babel. Nama ini juga digunakan untuk menyebut kelompok etnik -- religius yang tetap tinggal di sana atau yang hidup di mana pun sebagai *diaspora, untuk membedakannya dengan bangsa-bangsa lain yang disebut orang-orang *bukan Yahudi (atau kafir).

YEHUDA [browning]

Anak *Yakub dengan *Lea (Kej. 29:35), yang namanya digunakan untuk suku yang tinggal di Palestina Selatan, dan kemudian juga dipakai sebagai nama daerah itu sendi *Daud diurapi sebagai raja Yehuda (2Sam. 2:4), namun setelah merebut Yerusalem, ia juga menjadi raja wilayah Utara (Israel), dan dengan demikian, *keduabelas suku Israel dipersatukan hingga kematian *Salomo. Setelah perpisahan atau perpecahan (922 sM), terjadi perang saudara antara Yehuda dan Israel. Namun, posisi geografis Yehuda memberi keuntungan untuk bertahan, dan ketika Israel serta negara-negara lainnya dilibas oleh *Asyur, Yehuda tetap bertahan, bahkan ketika *Sanherib menyerbu Yerusalem pada 701 sM. Sejarah keagamaan negara ini silih-berganti antara kolusi dengan penduduk non-Israel, dengan jalan melegalkan penyembahan Kanaan, diikuti oleh reformasi kaum Yahwis, seperti pada masa pemerintahan *Hizkia (727-698 sM; 2Raj. 18:2) dan *Yosia (639-609 sM; 2Raj. 22:3-20). Yosia terbunuh di *Megido ketika berupaya mencegah pasukan Mesir yang bermaksud membantu Asyur yang merana akibat serangan *Babel yang sedang menanjak (2Raj. 23:29). Setelah Babel mengalahkan *Mesir di *Karkhemis pada 605 sM, Yehuda menjadi wilayah kekuasaannya, namun Raja *Yoyakhim memberontak, dan Yerusalem jatuh ke tangan Babel pada bulan Maret 597 sM, diikuti pembuangan penduduk yang terkemuka ke Babilon (Babel). Lebih serius lagi, pemberontakan *Zedekia berikutnya menyebabkan *Nebukadnezar menyerang Yerusalem selama dua tahun dan menghancurkan kota itu pada 586 sM, diikuti dengan *pembuangan sebagian besar penduduknya (2Raj. 25:11), meskipun Nabi *Yeremia, yang lebih senang menyerah kepada Babel, ditangkap oleh sekelompok nasionalis dan bersama mereka dilarikan ke Mesir. Sebagai kerajaan mandiri, Yehuda berakhir hingga kaum *Makabe berhasil menyingkirkan kuk *Seleukid. Kemudian lahirlah Kerajaan *Hasmonean Yehuda yang mandiri, dari 164 sM hingga kemenangan *Pompey pada 63 sM.

Yahudi [lambang]

METAFORA penyembah sejati Allah, yang tidak harus berasal dari keturunan Yahudi. Za 8:23; Rm 2:28, 29. Lihat juga ISRAEL.

YEHUDA [biotokoh pl]

Arti nama:PUJUAN
AyahYakub - Kejadian 29:35; 35:23
IbuLea - Kejadian 29:35; 35:23
IstriSua - Kejadian 38 ; 3-5, 27-30 (berhubungan dengan Tamar)
Anak laki-lakiEr, Onan, Sela, Forez dan Zara - Kejadian 38:3-5, 27-30
Saudara laki-lakiSaudara kandung : Ruben, Simeon, Lewi, Isakhar dan Zebulon - Kejadian 35:23
Saudara perempuanDina - Kejadian 30:21
KeturunanKristus - Kejadian 49:10, Ibrani 7:14
Disebut pertamaKejadian 29:35
Namanya disebut43 kali
Kitab yang menyebut8 buku : Kejadian, Keluaran, Bilangan, Rut, 1 Tawarikh, Nehemia, Matius dan Lukas
Tempat kelahiranHaran - Kejadian 29:4, 35
Terakhir disebutLukas 3:33
Fakta pentingIA PUTRA YAKB YANG KE EMPAT DAN MENURUT GARIS KETURUNANNYA LAHIR KRISTUS (KEJADIAN 49:10, IBRANI 7:14).

YEHUDA [ensiklopedia]

I. Putra Yakub

Putra Yakub yg ke-4 dari Lea (Kej 29:35) disebut Yehuda (yehuda); arti nama itu diterangkan di sana sebagai 'bersyukur', akar katanya dari ydh, yg artinya 'bersyukur kepada atau memuji'. Kej 49:8 bermain kata tentang pengertian ini. Banyak ahli menolak muasal akar kata itu, tapi tak satu pun etimologi lain yg sudah disarankan yg diterima secara umum (mengenai kepustakaannya, lih Kohler dan Baumgartner, Lexicon in Veteris Testamenti Libros). Yehuda sudah sejak dini memimpin kakak adiknya, seperti terungkap dalam cerita Yusuf (Kej 37:26-27; 43:3-10; 44:16-34; 46:28). Kej 38, walaupun hanya sekilas menerangkan permulaan suku Yehuda, tapi jelas menunjukkan pertentangan sifat Yehuda dengan sifat Yusuf. Dan walaupun Kej 49:8-12 bukanlah harfiah menjanjikan kerajaan kepada Yehuda, dan kendati hanya menjanjikan kepemimpinan, kemenangan, dan stabilitas suku itu, tapi janji mengenai 'dia yg berhak atasnya' pada akhir sekali mencakup kerajaan. Silsilah keturunan Yehuda terdapat dalam 1 Taw 2-4.

II. Orang-orang lain dengan nama yg sama

Sesudah Pembuangan ke Babel nama 'Yehuda' menjadi salah satu nama yg makin digemari di antara orang Yahudi. Ada 5 orang dalam PL memakai nama ini, yaitu seorang Lewi, leluhur Kadmiel (Ezr 3:9), mungkin bapak atau anak Hodawya (Ezr 2:40); seorang Lewi yg pulang bersama Zerubabel (Neh 12:8); teman sebaya Ezra, dari suku Lewi (Ezr 10:23); seorang Benyamin yg berjiwa pemimpin pada zaman Nehemia (Neh 11:9); seorang imam pada zaman Nehemia (Neh 12:36). Dalam Neh 12:34 boleh jadi anggota suku ini pada umumnya disebut dengan nama 'Yehuda'. Dalam Pa nama itu diganti dengan Yudas, yaitu bentuk yg di-Helenis-kan. Bentuk Ibrani (Yehuda) dipertahankan untuk garis leluhur Yesus yg disebut dalam Mat 1:2-3 dan Luk 3:30.

III. Suku Yehuda

a. Dari masa Keluaran sampai raja Saul

Tidak ada peranan khusus suku Yehuda dalam peristiwa Keluaran dan pengembaraan di padang gurun, namun perlu diperhatikan bahwa suku ini berada di barisan paling depan (Bil 2:9). Dalam kedua cacah jiwa yg dilakukan pada masa ini (Bil 1:27; 26:22) tidak ada perubahan yg berarti.

Akhan, dari suku Yehuda, adalah penyebab kekalahan Israel menghadapi bangsa Ai (Yos 7). Boleh jadi inilah alasan menimpakan tugas khusus kepada Yehuda untuk melakukan serangan tersendiri terhadap bangsa-bangsa Kanaan (Hak 1:1-2). Memang tidak ada keterangan yg diberikan, tapi jelas bahwa bagian milik pusaka Yehuda tidak ditentukan dengan undi di Silo (Yos 18:1-10) sebelum negeri itu ditaklukkan (Hak 1:3). Milik pusaka Yehuda dibatasi di utara oleh milik pusaka suku Dan dan Benyamin, di sebelah timur oleh Laut Mati, di sebelah barat oleh Laut Tengah, di sebelah selatan oleh keempat desa Gibeon (Yos 9:17) dan meluas sejauh lahan yg dapat ditanami (bnd Yos 15).

Mula-mula Yehuda menaklukkan bagian terbesar dataran pantai, yg tidak lama kemudian diduduki oleh orang Filistin (Hak 1:18), tapi mereka segera menarik diri dari pertempuran (Hak 1:19; 3:3; Yos 11:22; 13:2-3). Karena daerah yg terbaik itulah yg ditentukan menjadi milik pusaka Yehuda tapi kemudian dengan ikhlas diberikannya kepada Simeon (Yos 19:1, 9), maka sangat mungkin bahwa Yehuda mengharapkan daerah Simeon itu menjadi penyanggah antara Yehuda dan dataran pantai yg belum ditaklukkan.

Penaklukan daerah selatan yg dicatat dalam Hak 1:1-17 ditafsirkan sangat luas seolah-olah mengandung pengertian, bahwa Yehuda (dan suku-suku lain) memasuki tanah Kanaan dari selatan sebelum penyerbuan Yosua (bnd H. H Rowley, From Joseph to Joshua, 1950, hlm 4 dst, 101 dst, 110 dst, dgn kepustakaannya), tapi seluruh perkembangan arkeologi modern kelihatannya tidak mendukung teori ini, yg memang tidak dapat diterima berdasarkan alasan-alasan lain, yg bersifat umum.

Kegagalan mempertahankan Yerusalem (Hak 1:8, 21), ditambah adanya empat desa Gibeon yg setengah merdeka (Yos 9; 2 Sam 21:1-2), menciptakan kendala psikologi antara Yehuda dan suku-suku yg bermukim di pusat. Walaupun tidak ada rintangan untuk melintasi negeri ini (bnd Hak 19:10-13), Yehuda makin lebih mengarahkan pandangannya ke selatan ke Hebron, daripada ke tempat kudus yg di Silo. Dan kendati hakim pertama berasal dari suku Yehuda, yaitu Otniel (Hak 3:9-11), dan Yehuda turut dalam gerakan menentang Benyamin (Hak 20:18), agaknya ia tidak diharapkan turut dalam gerakan melawan Yabin dan Sisera (Hak 5). Akibatnya, tatkala Yehuda harus membayar upeti kepada Filistin (Hak 15:11), nampaknya mereka tidak mengharapkan reaksi dari suku-suku lain, dan suku-suku lain itu pun agaknya tidak memusingkannya.

Fakta keterpisahan ini agaknya diterima secara umum, sebab pada zaman Saul kontingen Yehuda dihitung terpisah (1 Sam 11:8; 15:4; 17:52; 18:16).

b. Pada zaman Daud dan Salomo

Sesudah kematian Saul perpecahan yg semakin meruncing itu dilestarikan lagi dengan dimahkotainya Daud menjadi raja Yehuda di Hebron (2 Sam 2:4). Boleh jadi A Alt benar dalam mengemukakan ('The Formation of the Israelite State in Palestine', Essays on OT History and Religion, 1966, hlm 261 dst) bahwa pemahkotaan Daud menjadi raja atas 'seluruh Israel' (2 Sam 5:1-5), membuat dia raja dari dua kerajaan yg di dalamnya Yehuda mempertahankan identitasnya terpisah. Memang benar, selama pemberontakan Absalom agaknya Yehuda mempertahankan kenetralannya, sedang bagian utara mengikuti pemberontak.

Tak ada bukti bahwa Yehuda diistimewakan oleh Salomo jika dibandingkan dengan suku-suku lainnya, sebab kalimat 'dan dialah satu-satunya kepala daerah yg ada di tanah itu' (1 Raj 4:19), menunjuk kepada Yehuda saja.

IV. Kerajaan Yehuda

a. Hubungannya dengan Israel

Jika pandangan A Alt benar, maka Yehuda dan Israel dalam mengangkat raja-raja yg berbeda, bertindak sesuai hak-hak mereka sebagai kekuatan politik yg sah dan terpisah-pisah. Kecuali Yerobeam, kelihatannya raja-raja Israel tidak menginginkan keruntuhan Yehuda (bnd 2 Raj 14:13-14), dan tak pernah para nabi mempersoalkan hak keberadaan Israel sebagai satu kerajaan, walau mereka sudah terlebih dahulu melihat saatnya Israel akan kembali taat kepada 'Daud'.

Warisan kekayaan peninggalan Salomo kelihatannya menopang Yehuda saat terjadinya perpecahan, kendati tanahnya kurang subur dan penduduknya sedikit dibandingkan penduduk kerajaan Utara. Walaupun ada yg mengatakan kebalikannya, tapi tidak ada bukti bahwa kemudian Rehabeam melanggar perintah Semaya (1 Raj 12:22-24) sehingga menyerang Yerobeam. Isyarat bahwa serangan Sisak terhadap Yehuda (1 Raj 14:25-26) bermaksud menopang Yerobeam, sekutunya itu, tak mempunyai bukti positif. Lenyapnya harta kekayaan peninggalan Salomo sebagai akibat serangan Sisak, dan walaupun kelihatannya Israel juga menderita kerugian akibat serangan Sisak itu, menunjukkan bahwa sekarang dalam hal kekayaan harta benda Yehuda tetap berada pada posisi lebih rendah dibandingkan Israel. Kenyataan membuktikan bahwa Yehuda membutuhkan Israel yg makmur untuk kemakmurannya sendiri.

Suatu tolok ukur kejayaan mutlak Yehuda -- jadi bukan yg relatif, ialah kemampuannya menguasai Edom, atau mengerahkan tenaga sejauh yg diperlukan untuk melindungi jalur perdagangan ke Teluk Akaba. Rehabeam tidak berusaha melanjutkan tuntutan bapaknya yg kurang beralasan atas daerah itu. Nampaknya Yosafat-lah yg menundukkan seluruh negeri itu (1 Raj 22:47), tapi kemudian dia harus mengangkat seorang raja bawahan (2 Raj 3:9, 'raja Edom').

Pada pemerintahan Yoram, anaknya, Edom mendapat kemerdekaannya kembali (2 Raj 8:20-22). Kira-kira setengah abad kemudian Amazia menaklukkan Edom lagi (2 Raj 14:7). Sekali ini penaklukan itu lebih berhasil, sebab barulah pada masa kesukaran dalam pemerintahan Ahas, yaitu 60 thn kemudian, Edom berhasil membebaskan dirinya (2 Raj 16:6). Sesudah saat ini agaknya tak pernah lagi Yehuda berusaha menaklukkan Edom.

Hanya kemenangan Abia (Abiam) yg begitu menentukan yg memulihkan keseimbangan kedua kerajaan itu. Asa, yg berhadapan dengan Baesa yg kuat, dapat mempertahankannya hanya dengan mempersekutukan dirinya dengan Ben-Hadad, raja Damsyik (1 Raj 15:18-20).

Dinasti Omri, yg terancam oleh kekuasaan Damsyik yg makin meningkat, dan lebih-lebih lagi oleh Asyur, berdamai dengan Yehuda, yg kemudian dikukuhkan oleh perkawinan Atalya, putri Ahab, atau barangkali adiknya (2 Raj 8:26), dengan Yoram. Banyak yg berpendapat bahwa pada saat ini Yehuda merupakan taklukan Israel. Sebaliknya kenyataan mengisyaratkan bahwa Yosafat memanfaatkan Israel sebagai daerah penyanggah antara dia dan Asyur. Inilah keterangan yg paling mungkin mengapa Yehuda tak terdapat baik dalam daftar musuh-musuh Salmaneser pada pertempuran Karkar, maupun di 'Tiang Batu Hitam'. Agaknya dia mengamati dulu, kecuali pertempuran di Ramot-Gilead (1 Raj 22:1-38) sebagai satu-satunya kekecualian, sementara Israel dan Damsyik bertempur mati-matian saling menghancurkan. Maka menjelang akhir pemerintahannya yg panjang, Yosafat merasa cukup kuat menolak permintaan Ahazia melakukan usaha gabungan ke Ofir, sesudah usaha pertama gagal (1 Raj 22:48-49; bnd dgn 2 Taw 20:35-37). Kekuatan kedua kerajaan itu agak berimbang saat ini terlihat pada kenyataan bahwa Yehu, yg sudah membunuh Ahazia, raja Yehuda (2 Raj 9:27), tidak berani melancarkan gerakan anti-Baalnya di tanah Yehuda, dan pada pihak lain, Atalya tidak berusaha membalaskan kematian anaknya itu.

Dalam kurun waktu antara penobatan Yehu naik takhta dan kematian Yerobeam II dan Uzia, agaknya keadaan Yehuda sama dengan Israel, baik dalam penderitaan maupun keberuntungan. Boleh jadi keberuntungan datang terlambat ke selatan, dan alpanya kemujurannya itu diungkapkan beberapa saat kemudian daripada di Israel. *RAJA-RAJA, KITAB.

b. Musuh-musuh luar negeri yg terdahulu

Sampai kepada runtuhnya kerajaan Israel, Yehuda secara istimewa tidak goyah oleh ancaman dari luar. Serbuan Sisak adalah goncangan terakhir dari pihak penguasa Mesir kuno, dan kebangkitan Asyur hanya memaksa Yehuda untuk membenahi pertahanannya. Orang Filistin sudah sedemikian lemahnya, sehingga tampil sebagai penyerang hanya bila Yehuda berada pada keadaan paling lemah, yaitu pada zaman Yoram (2 Taw 21:16) dan Ahas (2 Taw 28:18). Pada puncak kekuasaan Hazael, tatkala Israel sudah hampir dimusnahkannya, Yoas dipaksa membayar upeti kepada Damsyik, tapi ini tak dapat berlangsung lama. Kedua ancaman paling berbahaya pada saat ini ialah serangan-serangan mendadak bangsa-bangsa pengembara dan semi pengembara dari gurun pasir yg dilancarkan secara periodik. Zerah, 'orang Etiopia itu' (2 Taw 14:9) lebih mungkin adalah orang Arab (bnd Kej 10:7) ketimbang orang Etiopia, yaitu seorang Sudan. Bahaya kedua adalah serangan mendadak penduduk padang tandus Transyordan (2 Taw 20:1, 10).

c. Yehuda dan Asyur

Sudah dikatakan di atas bahwa kebangkitan Asyur terdahulu tidak mempengaruhi Yehuda. Tatkala Damsyik dan Israel menyerang Ahas (2 Raj 16:5), itulah usaha terakhir untuk mempersatukan sisa-sisa negeri-negeri Asia Barat untuk menghadapi kebangkitan Tiglat-Pileser III. Tak ada alasan untuk menyangka Yehuda terancam oleh Asyur, sebab sebelum Asyur tampil menentang Mesir, mereka tidak akan gegabah buru-buru bergerak menuju perbatasan gurun pasir. Dengan mengakui keunggulan Asyur secara nyata Ahas memeteraikan nasib Yehuda. Di satu pihak Yehuda tetap menjadi bangsa taklukan sampai dapat diduga kehancuran Asyur yg makin mendekat (612 sM); di pihak lain, Yehuda terjaring dalam persekongkolan yg diprakarsai oleh Mesir, dan akibatnya Yehuda menderita secara wajar.

Pemberontakan Hizkia pada thn 705 sM, yg dipadamkan oleh Sanherib 4 thn kemudian, menciutkan Yehuda menjadi tinggal bayang-bayang dari dirinya semula. Paling sedikit dua pertiga penduduknya meninggal atau dibawa sebagai tawanan, dan bagian terbesar daerahnya hilang. Mengenai perinciannya lih J Bright, A History of Israel, 1960, hlm 267-271, 282-287.

d. Bangkit kembali, kemudian runtuh

Gelora keagamaan dan nasionalisme bangkit kembali pada pemerintahan raja Yosia yg muda, segera sesudah Asyurbanipal meninggal (thn 631 sM), tatkala kelemahan Asyur makin parah dan nyata. Usaha-usaha pembaruan seperti dicatat dalam 2 Taw 34:3, 8 menunjukkan bagaimana agama dan politik saling terkait, sebab setiap kebijakan pada dirinya adalah penolakan akan agama Asyur, dan itu berarti menolak kekuasaan politik Asyur. Menjelang puncak pembaruan itu pada thn 621 sM, secara nyata Yosia sudah merdeka, dan praktis tidak lagi membayar upeti kepada Asyur. Dengan atau tanpa izin penguasa Asyur -- tuannya yg sudah tidak berkuasa lagi, Yosia mengambil alih propinsi-propinsi Asyur, yaitu Samaria dan Galilea Timur (2 Taw 34:6) dan tanpa ragu-ragu merebut kembali daerah yg hilang pada zaman Hizkia sebagai hukuman karena pemberontakannya. Tak ada bukti yg dapat dipercaya bahwa serbuan orang Skit, yg menimbulkan luka yg begitu mematikan pada Asyur, mempengaruhi atau melanda Yehuda.

Tak ada tanda bahwa untuk membantu Asyur pada thn 616 sM Yosia menentang gerakan militer Firaun Psamatik, tapi waktu gerakan militer itu diulangi oleh Firaun Nekho pada thn 609 sM, Yosia tahu jelas bahwa dalam suasana baru internasional kebijakan satu-satunya untuk mempertahankan kemerdekaan Yehuda ialah berperang. Dalam pertempuran berikutnya di Megido ia menjumpai ajalnya. Tidak ada bukti bagi pendapat bahwa dia bersekutu dengan Babel yg bintangnya sedang cemerlang, walaupun itu mungkin.

Mesir menunjukkan keperkasaannya dengan menurunkan Yoahas, anak Yosia dari takhta dan menggantinya dengan adiknya, Yoyakim, tapi dia harus mengakui Babel sebagai tuan segera sesudah Nebukadnezar menang dalam pertempuran di Karkemis (thn 605 sM; Dan 1:1; 2 Raj 24:1). Thn 601 sM serangan Nebukadnezar dipatahkan oleh Nekho dalam suatu pertempuran dekat perbatasan Mesir, dan sewaktu Nebukadnezar mundur ke Babel, Yoyakim memberontak. Yehuda dihancurkan oleh tentara Babel dan sekutunya (2 Raj 24:2). Yoyakim mati dengan cara yg kurang jelas dalam bln Desember 598 sM, sebelum ia menjalani tuntas seluruh hukuman yg ditimpakan kepadanya karena pemberontakannya itu. Dan Yoyakhin, anaknya yg berumur 18 thn, menyerahkan Yerusalem kepada Nebukadnezar pada tgl 16 Maret 597 sM.

Zedekia -- adik dari Yoyakim -- menjadi raja Yehuda yg terakhir, tapi ia memberontak pada thn 589 sM. Menjelang Januari 588 sM tentara Babel sudah di depan tembok-tembok Yerusalem. Bulan Juli 587 sM tembok-tembok itu diruntuhkan dan Zedekia ditangkap. Ia dihukum sebagai pengkhianat (2 Raj 25:6-7); sebulan kemudian kota itu dibakar habis dan tembok-temboknya dihancurkan sama sekali.

e. Hidup keagamaan dalam zaman kerajaan Israel

Agama rakyat di Yehuda boleh jadi direndahkan dengan pengertian-pengertian agama alam seperti di Israel, tapi keterasingan Yehuda yg relatif dan keterbukaannya terhadap padang gurun membuat Yehuda kurang dipengaruhi oleh bentuk-bentuk agama Kanaan. Kurangnya tempat-tempat kudus utama -- yg kita kenal hanya Hebron dan Bersyeba dan Gibeon di Benyamin -- meningkatkan pengaruh Yerusalem dengan Bait Suci Salomonya. Masih dipertanyakan apakah ada raja Israel yg mampu sekalipun hanya mencoba mengadakan pembaruan keagamaan di pusat Yerusalem seperti Hizkia dan Yosia. Perjanjian Allah kepada Daud (2 Sam 7:8-16), yg jauh melebihi suasana umum dari 'Tanah Sabit yg Subur', membuat raja Yehuda menjadi pemimpin mutlak agama nasional, kendati ia tidak boleh melakukan tugas-tugas ibadah keagamaan (2 Taw 26:16-21).

Kekuasaan raja nampaknya dapat digunakan untuk tujuan-tujuan baik, seperti pembaruan, tapi jika kebijaksanaan nasional kelihatannya menuntut supaya menerima penyembahan Baal, seperti pada zaman Yoram, Ahazia dan Atalya, atau supaya mengakui dewa-dewa bintang Asyur, seperti pada zaman Ahas dan Manasye, tak ada kekuasaan yg mampu menolak kehendak raja. Kekuasaan raja dalam ihwal agama, menjerumuskan ibadah resmi menjadi umumnya hanyalah lahiriah dan formalitas saja.

f. Pembuangan (597-538 sM)

Di luar jumlah tawanan biasa yg tidak dirinci, yg dimaksudkan menjadi budak-budak, bagian inti penduduk Yehuda dibuang oleh Nebukadnezar pada thn 597 sM (2 Raj 24:14; Yer 52:28; perbedaan jumlah haruslah dikaitkan dgn perbedaan golongan-golongan tawanan yg dimaksud). Sekelompok kecil, termasuk keluarga raja, menjadi 'tamu' raja Nebukadnezar di Babel; orang-orang lain, ump nabi Yehezkiel, tinggal dalam kelompok-kelompok persekutuan di Babel, dan di situ kelihatannya mereka mempunyai kebebasan penuh, kecuali untuk pindah tempat tinggal; para pengrajin yg menjadi bagian angkatan kerja yg mudah bergerak, yg dimanfaatkan oleh Nebukadnezar dalam gerakan pembangunannya. Keruntuhan Yerusalem memperbesar jumlah tawanan (2 Raj 25:11), dan Yer 52:29 menunjukkan adanya kelompok lain dari orang-orang buangan untuk maksud tertentu. Pembunuhan Gedalya, yg diangkat oleh Nebukadnezar menjadi gubernur Yehuda, membuat sejumlah besar orang Yahudi lari ke Mesir (2 Raj 25:25-26; Yer 41:1-43:7). Hal ini kemudian pada thn 582 sM disusuli oleh gelombang buangan yg lain ke Babel, yg jelas sifatnya hukuman (Yer 52:30).

Akibat pembuangan dan larinya orang Yahudi, tanah Yehuda tertinggal hampir kosong, dan tetap demikian selama suatu kurun waktu (lih W. F Albright, The Archaeology of Palestine2, 1954, hlm 140-142). Daerah sebelah selatan garis Bet-Zur dan Hebron agaknya sudah dirampas dari Yehuda pada thn 597 sM; dan orang Edom berangsur-angsur pindah ke situ. Akibatnya, daerah ini hilang dari tangan Yehuda sampai direbut kembali oleh Yohanes Hirkanus sesudah thn 129 sM, dan ia men-Yahudi-kan penduduknya secara paksa. Sisa-sisanya ditempatkan dalam kekuasaan gubernur Samaria dan tetap dibiarkan hampir kosong. Tidak ada bukti bahwa di kemudian hari ada bangsa-bangsa lain yg menghuninya. Dapat diduga bahwa Nebukadnezar ingin mengikuti kebiasaan Asyur-Babel, yakni meng-'impor' bangsa lain dari daerah taklukan yg lain, tapi entah apa sebabnya ia tidak melakukannya.

V. Yehuda sesudah Pembuangan

a. Pemulihan

Pada thn 539 sM Koresy menaklukkan Babel dan thn berikutnya ia memerintahkan membangun kembali Bait Suci Yerusalem (Ezr 6:3-5). Perintah ini disertai izin bagi para buangan dan keturunannya kembali ke tanah Yehuda (Ezr 1:2-4). Daftar nama dalam Ezr 2, yg mencatat kr 43.000 orang seluruhnya, mungkin mencakup masa thn 538-522 sM, tapi tak ada alasan yg kuat untuk mengatakan bahwa mereka tidak segera menanggapi perintah Koresy itu.

Sesbazar -- anggota keluarga raja Daud -- agaknya menjadi komisaris tinggi Koresy untuk mengawasi pembangunan kembali Bait Suci; mungkin ia kembali (atau mati?) sesudah fondasi Bait Suci selesai dibangun (Ezr 5:14, 16). Tak ada bukti bahwa Yehuda secara politik terpisah dari daerah Samaria sampai zaman Nehemia; gelar pekha (Ezr 5:14, 'bupati') yg diberikan kepada Sesbazar tidak mengandung kedudukan politik. Zerubabel, berdasarkan garis keturunan boleh jadi pewaris takhta kerajaan Daud, kelihatannya tidak pernah mempunyai kedudukan resmi; gelar pekha yg disebut dalam Hag 1:1; 2:21 barangkali hanyalah penghormatan saja. Perlu diperhatikan bahwa namanya tidak tampil dalam Ezr 5:3-17. Pemimpin Yahudi yg lain, yg dilantik oleh Persia, disebut pekha pada tahun-tahun kemudian.

Zaman Ezra pada paroan kedua abad 4, banyak orang sudah melihat bahwa kemerdekaan politik dan pemulihan kerajaan Daud tinggal pengharapan saja, yg masih jauh di hari depan. Ezra mengalihkan bangsa Yahudi dari suatu negara nasional menjadi suatu 'gereja', dengan membuat penggenapan Taurat tujuan keberadaan mereka. Keadaan Yehuda yg dari sudut politik kurang berarti pada zaman kerajaan Persia, dan yg keadaannya boleh dikatakan aman, memungkinkan berlangsungnya upaya mengajar rakyat terus-menerus tentang Taurat. Barangkali kemelut politik yg satu-satunya pada zaman itu ialah pembuangan sekelompok orang ke Babel dan Hirkania, walaupun banyak ahli kurang percaya bahwa hal itu terjadi (bnd Jos., Contra Ap. 1. 194).

b. Akhir Yehuda

Aksi-aksi militer yg dilancarkan oleh Iskandar Agung hampir tidak mempengaruhi Yudea. Tapi setelah ia membangun kota Aleksandria, tersedialah di barat pusat kegiatan bagi orang Yahudi yg berserakan, yg sebagian besar dengan sukarela berserak. Pusat ini segera bersaing dengan pusat di Babel dan Persia perihal jumlah penduduk, dan mengungguli keduanya dalam hal kekayaan dan pengaruh. Terpecah-pecahnya kerajaan Iskandar Agung oleh para jenderalnya mengakibatkan Palestina menjadi negeri sengketa bagi Siria dan Mesir. Sampai thn 198 sM biasanya negeri itu dalam tangan penguasa-penguasa Ptolemeus Mesir, tapi kemudian menjadi bagian kerajaan Seleukus dari Siria.

Golongan atas di Yerusalem (termasuk bg terbesar golongan imam) hidup boros mengikuti cara hidup Helenisme. Usaha-usaha yg tidak wajar dari Antiokhus Epifanes (175-163 sM) untuk meng-Helenis-kan kerajaannya, mendorong dia melarang sunat dan mengindahkan hari Sabat dan menuntut supaya dewa-dewa Yunani disembah. Kedua hal ini menciptakan gabungan semangat agamawi dengan nasionalisme yg sedang loyo. Mula-mula orang Yahudi mencapai otonomi agamawi, kemudian kebebasan politik (thn 140 sM) untuk pertama kalinya sejak raja Yosia. Sekitar thn 76 sM perbatasan negeri Yehuda secara praktis adalah perbatasan tradisional dari Dan sampai Bersyeba. Mengenai kebangkitan tiba-tiba dan keruntuhan mendadak ini. *ISRAEL.

Waktu orang Roma memusnahkan sisa-sisa terakhir dari kemerdekaan politik thn 70 M, dan terutama sesudah pemberontakan Bar Kokhba dihancurkan pada thn 135 M, Yudea berakhir sebagai negeri Yahudi, tapi nama Yehuda dalam bentuk Yahudi menjadi gelar bagi semua orang yg berserak di seluruh dunia, yg masih kuat memeluk hukum Taurat Musa, tidak menjadi soal dari suku atau bangsa mana asalnya.

KEPUSTAKAAN. Temuan arkeologi membuat semua pembahasan terdahulu mengenai pokok ini agak atau sangat ketinggalan zaman. Suatu uraian modem dan berimbang menyebut kepustakaan yg paling utama, diberikan oleh John Bright, A History of Israel, 1972. AR Milliard, 'The Meaning of the Name Judah', ZAW 86, 1974, hlm 246 dst. Mengenai Kitab Raj lih J. A Montgomery dan H. S Gehman, The Books of Kings, ICC, 1951.: Tentang naskah di luar Alkitab yg menyebut Yehuda, lih J. B Prichard, ANET 3, 1969, dan DOTT. Tentang zaman sesud2ah Pembuangan, lih W. O. E Oesterley, A History of Israel, 1932; F. F Bruce, Israel and the Nations, 1963. HLE/MHS/HAO




TIP #02: Coba gunakan wildcards "*" atau "?" untuk hasil pencarian yang leb?h bai*. [SEMUA]
dibuat dalam 0.10 detik
dipersembahkan oleh YLSA