: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Imam | Imam Agung | Imam Agung atau Imam Besar | Imam Besar | Imam Kepala | IMAM-IMAM DAN GOLONGAN LEWI | Imam-imam Kepala | Iman | Imer | Imlah | Immer
Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: IMAM-IMAM DAN GOLONGAN LEWI

IMAM-IMAM DAN GOLONGAN LEWI

IMAM-IMAM DAN GOLONGAN LEWI [ensiklopedia]

Hubungan antara para imam, yg adalah keturunan Harun, dan golongan Lewi -- yakni anggota tertentu dari suku Lewi, merupakan salah satu persoalan rumit dari agama PL. Setiap pembahasan mengenai golongan Lewi harus membicarakan bukti alkitabiah penilaian Wellhausen tentang itu, dan cara-cara yg ditempuh para ahli masa kini yg menanggapi pendekatannya yg evolusioner itu.

I. Data alkitabiah

a. Pentateukh

Golongan Lewi menonjol dalam Pentateukh berkaitan dengan Musa dan Harun (Kel 2:1-10; 4:14; 6:16-27). Setelah Harun memimpin umat Israel murtad dengan penyembahan anak lembu emas (Kel 32:25 dab), para putra Lewi menuntut bela atas kehormatan Allah dengan menghukum banyak orang fasik. Salah satu bagian dari pernyataan kesetiaan kepada Allah itu, mungkin juga dapat diartikan sebagai menerangkan tanggung jawab yg disumbangkan suku itu dalam perundang-undangan Pentateukh.

Peranan golongan Lewi sebagai pelayan di kemah suci, yg jelas dirinci dalam Bit, telah didahului dalam Kel 38:21, di mana mereka bekerja sama membangun kemah suci di bawah pengawasan putra Harun, Itamar. Di dalam perangkat hukum yg mempersiapkan bangsa itu memulai perjalanan di padang gurun, Allah memisahkan suku Lewi dari suku-suku lainnya, dan ditugasi mengawasi, membongkar, mengangkut dan mendirikan kembali kemah suci (Bil 1:47-54). Para putra Lewi berkemah di sekitar kemah suci, dan agaknya berperan sebagai penyangga guna melindungi sesama suku mereka dari murka Allah, yg mengancam mereka jika tanpa diketahui berhubungan dengan kemah suci atau peralatannya (Bil 1:51, 53; 2:17).

Orang Lewi dilarang untuk melayani sebagai imam dengan ancaman hukuman mati, sebab pelayanan ini adalah sesuatu yg telah dikhususkan bagi putra-putra Harun (Bil 3:10). Orang Lewi diperuntukkan bagi suatu pelayanan guna membantu para imam, khususnya yg berhubungan dengan keterampilan tangan untuk mengangkut kemah suci (Bil 3:5 dab). Sebagai tugas tambahan, mereka melakukan suatu pelayanan penting bagi suku-suku lainnya, dengan menjadi ganti bagi setiap anak sulung suatu keluarga, yg harus diserahkan kepada Allah, karena Allah telah menyelamatkan anak sulung bangsa Israel pada malam Paskah di Mesir (bnd Kel 13:2 dab, 13). Sebagai wakil dari anak-anak sulung suku-suku itu, orang Lewi menjadi bagian dari 'asas perwakilan yg jauh jangkauannya', yg dengannya konsepsi tentang ketergantungan mutlak dan sempurna suatu bangsa dan penyerahannya yg total dan menyeluruh kepada Allah dibentangkan (bnd H. W Robinson, Inspiration and Revelation in the Old Testament, 1953, hlm 219-221).

Masing-masing ketiga puak Lewi mempunyai tugas-tugas khusus. Para putra keturunan Kehat (berjumlah 2.750 dlm kelompok umur 30-50 thn menurut Bil 4:36), bertugas untuk mengangkut peralatan kemah suci setelah alat-alat itu dengan hati-hati ditutupi oleh para imam, satu-satunya kelompok orang yg diperbolehkan menyentuhnya (Bil 3:29-32; 4:1 dab). Puak Kehat diawasi oleh Eleazar, anak Harun. Para putra keturunan Gerson (2.630; Bit 4:40) bertugas merawat tudung kemah, tirai pintu-pintu, layar pelataran dan pintu-pintunya, mezbah dan tali-talinya, di bawah pengawasan Itamar, anak Harun (Bil 3:21-26; 4:21 dab). Para putra keturunan Merari (3.200; Bit 4:44) bertugas mengangkut dan mendirikan kerangka kemah suci dan menata halamannya (Bil 3:35-37; 4:29 dab).

Tugas perwakilan golongan Lewi dilambangkan dalam upacara-upacara penyucian dan penahbisan (Bil 8:5 dab). Umpamanya, kedua kenyataan bahwa umat Israel (barangkali melalui pemimpin suku mereka) menumpangkan tangan kepada golongan Lewi (8:10), mengakui golongan Lewi itu sebagai ganti mereka (bnd Im 4:24, dll), dan kenyataan bahwa para imam mempersembahkan golongan Lewi sebagai persembahan unjukan (barangkali dgn menuntun mereka ke dan dari mezbah) yg berasal dari umat (8:11). Upacara itu memberi kesan bahwa golongan Lewi itu, oleh orang Israel diberikan untuk melayani putra-putra Harun sebagai ganti mereka. Gagasan ini jelas dalam 8:16 dab, di mana para anak Lewi disebut netunim, 'pemberian'.

Mereka mulai melayani pada umur 25 thn dan berlangsung hingga umur 50 thn, pada waktu mana orang Lewi memasuki semacam masa semi pensiun dengan tugas-tugas terbatas (Bil 8:24-25). Mungkin ada semacam masa magang atau latihan keterampilan, karena agaknya tanggung jawab penuh mengangkut kemah suci dan peralatannya baru diserahkan kepada orang yg berumur 30 thn hingga 50 thn (Bil 4:3 dab). Ketika Daud menentukan tempat yg tetap bagi tabut, batas usia itu diturunkan menjadi 20 thn karena tidak diperlukan lagi orang Lewi dewasa yg terus bertugas sebagai pengangkut (1 Taw 23:24 dab).

Tanggung jawab orang Lewi mewakili umat itu dibarengi hak-hak khusus tertentu. Sekalipun mereka tidak memperoleh tanah warisan (ump tidak ada lahan yg ditetapkan untuk mereka olah sebagai milik pusaka mereka sendiri: Bil 18:23, 24; Ul 12:12 dab), namun mereka ditunjang oleh persepuluhan-persepuluhan umat. Sedang para imam menerima bagian dari persembahan-persembahan yg tidak dikorbankan, anak sulung kawanan domba dan ternak lainnya, dan sepersepuluh dari persepuluhan orang Lewi (Bil 18:8 dab; 18:21 dab; bnd Ul 18:1-4). Kadang-kadang baik imam-imam maupun golongan Lewi mendapat bagian dari jarahan perang (ump Bil 31:25 dab). Sebagai tambahan, golongan Lewi mendapat izin untuk tinggal di 48 kota yg diperuntukkan mereka gunakan (Bil 35:1 dab; Yos 21:1 dab). Di sekitar tiap kota ada sebidang padang rumput yg juga diperuntukkan bagi mereka. Enam dari kota itu berada pada kedua tepian sisi S Yordan, masing-masing 3, berfungsi sebagai kota perlindungan.

Peralihan dari hidup mengembara di padang gurun ke hidup menetap di Kanaan (Bil 35, didahului dgn penetapan kota-kota bani Lewi) berdampak timbulnya dalam diri bani Lewi baik keinginan untuk bertambah makmur maupun perluasan tugas mereka, agar sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan cara hidup yg didesentralisasikan. Dalam Ul sangat ditekankan tanggung jawab orang Israel terhadap putra-putra Lewi, yg harus mendapat bagian dalam kesejahteraan semua suku (12:12), dalam persembahan-persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan tertentu (Ul 12:18, 19; 14:28, 29) dan dalam hari-hari raya utama mereka, khususnya hari raya Tujuh Minggu dan Pondok Daun (16:11-14). Golongan Lewi yg tersebar di seluruh negeri itu harus mendapat bagian yg sama dalam pelayanan dan persembahan-persembahan dengan para saudara mereka yg berdiam di pusat -- di Bait Suci (18:6-8).

Sementara Bil secara khusus menyebut para imam sebagai anak-anak lelaki Harun, Ul sering memakai ungkapan imam-imam orang Lewi. Sekalipun beberapa ahli (lih di bawah) berpendapat tidak ada perbedaan antara imam dan orang Lewi dalam Ul, namun ternyata beberapa bagian dinyatakan adalah sebagai hak para imam dalam Ul 18:3 dab, dan dibedakan hak bani Lewi dalam 18:6 dab. Hal itu memberi kesan bahwa perbedaan itu memang ada. Ungkapan 'imam-imam orang Lewi' (Ul 17:9, 18; 18:1; 24:8; Ul 27:9; bnd Yos 3:3; 8:32) agaknya berarti 'imam-imam dari suku Lewi'. Kepada mereka Ul memberikan bermacam-macam tugas yg ditambahkan kepada perawatan Bait Suci; mereka melayani sebagai hakim dalam soal-soal yg menuntut keputusan-keputusan yg sulit (17:8,9), mengatur pengawasan para penderita kusta (24:8), menjaga kitab hukum Taurat (17:18) dan membantu Musa dalam upacara pembaharuan perjanjian (Ul 27:9).

Dalam puak Kehat pelayanan imam besar (Ibrani hakkohen, 'imam' [Kel 31:10, dll]; hakkohen hammasyiakh, 'imam yg ditahbiskan' [Im 4:3, dll]; hakkohen haggadol, 'imam besar' [Im 21:10, dll]) diwakilkan kepada yg tertua dari keluarga Eleazar, kecuali sangsi-sangsi Im 21:16-23 dapat diterapkan atasnya. Ia ditahbiskan dengan cara yg sama dengan imam-imam yg lain dan mendapat bagian dalam tugas-tugas rutin mereka. Ia sendirilah yg memakai pakaian khusus (Kel 28); dan menafsirkan firman Tuhan (*URIM DAN TUMIM). Pada hari Pendamaian ia mewakili umat yg terpilih itu di hadapan hadirat Tuhan, memercikkan darah kambing yg dikorbankan tutup pendamaian. *DAMAI, HARI PENDAMAIAN.

b. Nabi-nabi terdahulu

Dalam Yos para imam memegang peranan yg lebih penting daripada orang Lewi, khususnya dalam peristiwa penyeberangan S Yordan dan penaklukan Yerikho. Kadang-kadang mereka disebut 'para imam yg memang suku Lewi' (ump Yos 3:3; 8:33) dan lebih sering hanya 'imam'nya saja (ump Yos 3:6 dab; 4:9 dab). Mereka mempunyai tugas yg penting sekali, yakni mengangkut tabut perjanjian Tuhan. Tapi kemah suci, yg diangkut oleh orang Lewi, tidak disebut (kekecualian yg mungkin dari 6:24), hingga kemah itu ditempatkan di Silo (18:1; 19:51) setelah penaklukan Kanaan. Agaknya pengangkutan tabut itu lebih dipercayakan kepada para imam ketimbang puak Kehat (bnd Bil 4:15), karena betapa pentingnya perjalanan-perjalanan ini: Allah, yg kehadiran-Nya dilambangkan oleh tabut, sedang bergerak maju menaklukkan dan untuk menaklukkan. Para orang Lewi tampil ke depan hanya ketika pembagian tanah dilakukan (bnd Yos 14:3 dab). Pembedaan antara imam-imam dan orang Lewi jelas disebut: para orang Lewi mengingatkan Eleazar, sang imam, dan Yosua, tentang perintah Musa mengenai kota-kota orang Lewi (Yos 21:1-3); kaum Kehat dibagi menjadi dua kelompok -- mereka yg diturunkan dari Harun (para imam) dan sisanya (Yos 21:4, 5).

Kelemahan umum kebaktian kepada Tuhan pada masa antara penaklukan Kanaan dan didirikannya kerajaan, dilukiskan dalam kedua cerita tentang orang Lewi dalam Hak. Orang Lewi milik Mikha (Hak 17; 18) dikatakan keluar dari Betlehem dan dari keanggotaan kaum Yehuda (17:7). Bagaimana mungkin ia dapat menjadi seorang Lewi sekaligus anggota kaum Yehuda? Jawabnya tergantung pada persoalan apakah orang Levi itu sama dengan Yonatan, anak Gerson (Hak 18:30). Jika keduanya adalah pribadi yg sama (agaknya memang demikian), maka hubungan orang Lewi itu dengan Yehuda harus dipandang bersifat geografis, bukan genealogis, sekalipun ada ungkapan 'dari kaum Yehuda' (17:7). Jika tidak, maka orang Lewi itu adalah contoh dari kemungkinan bahwa orang dari lain suku, pada kurun waktu ini, dapat menggabungkan diri kepada suku imamat. Inilah mungkin yg terjadi dengan Samuel, seorang dari Efraim (bnd 1 Sam 1:1; 1 Taw 6:28). Ada beberapa bukti bahwa istilah orang Lewi mungkin menjadi suatu gelar yg menunjukkan fungsi, yg berarti 'seseorang yg dijanjikan oleh sumpah' disamping menunjuk kepada sukunya (bnd W. F Albright, Archaeology and the Religion of Israel3, 1953, hlm 109, 204 dst). Tapi T. J Meek (Hebrew Origins3', 1960, hlm 121 dst) mempertahankan bahwa semula orang Lewi adalah suatu suku duniawi yg mengambil suatu fungsi imamat, bukan hanya di Israel tapi barangkali juga di Arabia.

Peristiwa ngeri yg menimpa seorang Lewi dan gundiknya (Hak 19) menjadi kesaksian tentang rute perpindahan orang Lewi dan tentang kelemahan zaman ini pada umumnya. Tidak adanya kekuasaan pusat mengakibatkan kurangnya pengawasan yg seharusnya diterapkan atas tempat suci pusat di Silo (Hak 18:31), dan memungkinkan timbulnya banyak tempat suci yg memberikan hanya sedikit perhatian kepada peraturan-peraturan Musa.

Dalam sisa kitab-kitab nabi-nabi terdahulu orang Lewi jarang sekali muncul. Biasanya hanya dalam hubungan peranan mereka mengangkut tabut (1 Sam 6:15; 2 Sam 15:24; 1 Raj 8:4). Ketika Yerobeam I mendirikan tempat suci tandingan di Dan dan Betel, ia melengkapinya dengan pejabat-pejabat yg bukan imam dari suku Lewi, barangkali untuk memutuskan semua hubungan dengan Bait Suci Yerusalem setuntas mungkin (1 Raj 12:31; bnd 2 Taw 11:13, 14; 13:9, 10). Pengawasan raja atas pusat kebaktian di kedua kerajaan itu menjadi ciri khusus dari Kerajaan.

c. Kitab-kitab Taw

Perspektif imami dari penulis Kitab Taw cenderung menekankan peranan orang Lewi dan menguraikan pelayanan mereka dengan banyak rincian, yg ditiadakan oleh penulis-penulis Raj. Dalam silsilah 1 Taw 6, yg juga menguraikan peranan anak-anak Harun (6:49-53) dan penyebaran kota-kota orang Lewi (6:54-81), perhatian khusus diarahkan kepada penyanyi-penyanyi orang Lewi, Heman, Asaf, Etan dan anak-anak mereka, yg diserahi tanggung jawab musik Bait Suci oleh Daud (6:31 dab; bnd 1 Taw 15:16 dab). Daftar orang Lewi dalam 1 Taw 9 penuh persoalan. Kesamaan antara 1 Taw 9 dengan Neh 11, telah membuat sementara orang menganggapnya sebagai daftar orang Lewi yg telah kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan (bnd 1 Taw 9:1). Orang lain (ump C. F Keil) memandangnya sebagai daftar penduduk kuno dari Yerusalem. Keduanya, penetapan tugas-tugas yg diatur dengan sungguh-sungguh, dan bilangan orang Lewi yg termasuk di dalamnya (bnd 212 penjaga pintu gerbang dlm 1 Taw 9:22 dgn 93 yg disebut dlm 1 Taw 26:8-11), mengacu kepada suatu kurun waktu setelah kurun waktu Daud.

Kerja sama yg erat antara orang Lewi dan anak-anak para imam (bnd 1 Taw 9:28 dab), dan kenyataan bahwa orang Lewi merawat beberapa dari perabot-perabot kudus dan membantu menyiapkan roti sajian, dapat menunjukkan bahwa pembagian yg tajam dari tugas-tugas dalam Bil 4 dan 18 merosot selama zaman Raja-raja, barangkali karena anak-anak Harun tidak cukup banyak (angka 1.760 dlm 1 Taw 9:13 barangkali menunjuk kepada jumlah sanak saudara, bukan kepada jumlah kepala rumah tangga) untuk menangani tuntutan-tuntutan pelayanan mereka. Karena itu disamping mengemban tugas-tugas tetap sebagai penyanyi dan pemain musik, penjaga pintu gerbang, pengangkut, dsb, maka kepada orang Lewi ditambahkan tugas harus membantu anak-anak Harun mempersiapkan korban-korban, memelihara' halaman-halaman dan kamar-kamar, membersihkan benda-benda kudus dan menyiapkan roti sajian, persembahan-persembahan padi-padian, roti yg tak beragi, persembahan-persembahan matang, dsb (23:14).

Peraturan Daud dalam 1 Taw 23 melukiskan dua faktor yg dominan, yg mengakibatkan adanya perubahan-perubahan hakiki dalam pelayanan orang Lewi. Pertama, ketentuan tempat menetap bagi tabut di Yerusalem, yg dengan sendirinya membuat usang segala peraturan mengenai fungsi orang Lewi sebagai pengangkut tabut. Kedua, pemusatan pertanggungan jawab bagi agama resmi (seperti halnya dgn segala persoalan hidup yg lain) kepada raja. Pandangan Ibrani tentang 'kepribadian masyarakat' (corporate personality) melihat raja sebagai bapak akbar bangsa, yg sifat hakikinya dititiskan daripadanya. Seperti Daud telah membawa tempat suci pusat ke Yerusalem (1 Taw 13:2 dab) dan telah menetapkan pola-pola fungsinya (1 Taw 15:1 dab; 23:1 dab) sesuai asas-asas peraturan Musa, demikianlah Salomo membangun, meresmikan dan mengawasi Bait Suci dan cara memuja sesuai rencana ayahnya (1 Taw 28:11-13, 21; 2 Taw 5-8; perhatikan khususnya 8:15, 'Mereka tidak menyimpang dari perintah raja mengenai para imam dan orang-orang Lewi dim perkara apa pun...').

Demikian juga Yosafat mengangkat pembesar-pembesar dari orang Lewi dan para imam, untuk mengajarkan hukum Taurat di seluruh Yudea (2 Taw 17:7 dab) dan menetapkan orang Lewi, imam-imam serta kepala-kepala keluarga tertentu sebagai hakim-hakim di Yerusalem (2 Taw 19:8 dab) di bawah pengawasan imam besar. Yoas (2 Taw 24:5 dab), Hizkia (2 Taw 29:3 dab) dan Yosia (2 Taw 35:2 dab) mengawasi para imam dan orang-orang Lewi serta menetapkan mereka kembali dalam fungsi mereka menurut pola Daud.

Hubungan antara pelayanan orang Lewi dan pelayanan para nabi mewujudkan suatu persoalan yg sedang diperbincangkan. Apakah di antara orang Lewi ada yang menjadi nabi pemujaan? Tidak mungkin ada jawaban yg pasti, tapi ada beberapa petunjuk bahwa kadang-kadang ada orang Lewi yg melakukan aktivitas kenabian: Yahaziel, seorang Lewi dari keturunan Asaf, menubuatkan kemenangan Yosafat atas koalisi bangsa Moab dan Amon (2 Taw 20:14 dab), dan Yedutun, seorang Lewi, disebut pelihat raja (2 Taw 35:15).

d. Nabi-nabi yg kemudian

Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel menyinggung sedikit peranan orang Lewi setelah zaman Pembuangan. Yes 66:21 membicarakan tentang usaha Allah mengumpulkan orang Israel yg tercerai berai (atau barangkali para kafir yg bertobat) untuk melayani-Nya sebagai imam dan orang Lewi. Yeremia (33:17 dab) melukiskan suatu perjanjian ilahi dengan imam-imam dari suku Lewi (atau barangkali imam-imam dan orang Lewi; bnd Syr dan Vulg) yg sama mengikat seperti perjanjian Allah dengan keluarga Daud (bnd 2 Sam 7). Yehezkiel menandaskan perpisahan yg tajam antara imam-imam dan suku Lewi, yg disebutnya anak-anak Zadok (ump Yeh 40:46; 43:19) dan orang Lewi. Yg pertama dianggap tetap setia kepada Allah (Yeh 44:15; 48:11), sedang yg kedua menyimpang menyembah berhala, justru tak boleh menghampiri mezbah atau menangani hal-hal yg paling kudus (Yeh 44:10-14). Sebenarnya kesan yg diberikan Yehezkiel nampak sebagai kembali kepada pembedaan tajam antara imam dan orang Lewi, yg terdapat dalam Bil, dari pandangan yg agak lebih longgar yg ada selama zaman Raja-raja.

e. Penulis-penulis setelah zaman Pembuangan

Di bawah Yosua dan Zerubabel 341 orang Lewi kembali (Ezr 2:36 dab) dengan 4.289 anggota keluarga imam, dan 392 pelayan Bait Suci (netinim, 'yg diberikan', 'yg ditetapkan', yg nampaknya adalah keturunan para tawanan perang yg dipaksa menjadi pelayan Bait Suci; bnd Yos 9:23,27; Ezr 8:20). Perbedaan antara jumlah imam yg terhitung besar dan jumlah orang Lewi yg terhitung kecil, mungkin penyebabnya ialah banyak orang Lewi mengambil kedudukan imam selama zaman Pembuangan itu. Orang-orang Lewi lainnya yg bertanggung jawab atas tugas-tugas kasar di Bait Suci agaknya segan kembali (Ezr 8:15-20). Para Lewi mengambil bagian terpenting dalam meletakkan dasar (Ezr 3:8 dab) dan dalam meresmikan Bait Suci (Ezr 6:16 dab). Ezra, setelah menghimpun orang Lewi bagi rombongannya (Ezr 8:15 dab) mengadakan pembaharuan melalui kebijaksanaan melarang perkawinan dengan orang asing, di mana juga para imam dan orang Lewi tersangkut (Ezr 9:1 dab; 10:5 dab).

Demikian juga dalam Neh, para Lewi dan imam-imam dilibatkan dalam rangkaian 'tugas penuh'. Setelah memperbaharui sebagian tembok (Neh 3:17) para Lewi disibukkan dengan memberi pengajaran hukum Taurat (Neh 8:7-9), dan ikut serta dalam hidup keagamaan umat (Neh 11:3 dab; 12:27 dab). Mereka harus menerima persepuluhan dari umat, dan sebaliknya mereka harus memberi persepuluhan dari persepuluhan-persepuluhan tadi kepada anak-anak Harun (Neh 10:37 dab; 12:47). Kebutuhan akan adanya kewibawaan pusat untuk memaksakan peraturan-peraturan para Lewi, ditonjolkan oleh kemerosotan pemujaan selama Nehemia tidak berada di Yerusalem: Tobia, orang Amon, diperkenankan mengambil tempat di Bait Suci, yg seharusnya dipakai sebagai gudang bagi persepuluhan orang Lewi (Neh 13:4 dab). Karena kehilangan sokongan, para Lewi mengabaikan Bait Suci dan lari ke ladang-ladang mereka untuk mencukupi kebutuhan din mereka sendiri (Neh 13:10 dab).

Mungkin pada kurun waktu ini imam-imam lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada tanggung jawab yg berdasarkan perjanjian untuk mengajarkan hukum Taurat, dan mereka menerima korban-korban yg cemar (Mal 1:6; 2:4 dab). Maleakhi, melihat penyucian anak-anak Lewi sebagai salah satu dan misi eskatologis sentral dalam maksud Allah (3:1-4).

Jabatan imam besar tetap berada pada keluarga Eleazar sampai zaman Eli, yg diturunkan dari Itamar. Komplotan Abyatar menyebabkan Salomo memecatnya (1 Raj 2:26 dab). Demikianlah pelayanan itu kembali ke rumah Eleazar dalam diri Zadok, dan tetap berada pada keluarga itu hingga intrik-intrik politik menyebabkan penurunan Onias III dad jabatannya oleh raja Seleukus, Antiokhus Epifanes (kr 174 sM). Setelah itu jabatan itu menjadi pemberian dari para penguasa yg memerintah.

f. PB

Pembedaan tradisional antara imam dan orang Lewi dipertahankan dalam PB, seperti nampak pada perumpamaan orang Samaria yg baik hati (Luk 10:31, 32), dan pada para utusan orang Yahudi kepada Yohanes Pembaptis (Yoh 1:19). Penginjil Barnabas adalah seorang Lewi (Kis 4:36).

II. Rekonstruksi Wellhausen

Perkembangan hipotesa dokumenter dengan penekanannya pada penanggalan setelah zaman pembuangan bagi penyelesaian kode imamat (*PENTATEUKH) mendapatkan suatu penilaian baru dari perkembangan agama Israel. Bentuk klasik dari penilaian kembali ini dinyatakan oleh Julius Wellhausen (1844-1918) dalam bukunya Prolegomena to the History of Israel (1878; E. T 1885).

Wellhausen menerima bahwa sebagai hal yg menentukan dalam hubungan antara imam dan orang Lewi, ialah tindakan Yehezkiel yg melarang orang Lewi melakukan tugas imamat (Yeh 44:6-16). Dari pernyataan Yehezkiel itu Wellhausen menarik dua kesimpulan: satu, pemisahan yg kudus dari yg duniawi bukanlah bagian dari tata cara Bait Suci, seperti yg ditunjukkan oleh penugasan pelayan-pelayan kafir di situ; kedua, Yehezkiel-lah yg pertama mengurangi jumlah orang Lewi, yg hingga zamannya melakukan tugas imamat, menjadi budak-budak Bait Suci. Anak-anak Zadok dibebaskan dari dakwaan Yehezkiel karena mereka melayani di Bait Suci pusat di Yerusalem, dan berbeda dari orang Lewi, mereka tidak menajiskan diri mereka dengan pelayanan di tempat-tempat tinggi di seluruh negeri. Ketika anak-anak Zadok menolak untuk melepaskan pengawasan mereka, Yehezkiel merencanakan dasar-dasar 'moral' guna mempertahankan eksklusifitas mereka, sekalipun sebenarnya pembedaan antara imam dan orang Lewi hanya bersifat kebetulan, bukan bersifat moral (para imam kebetulan berada di Yerusalem, sedang orang Lewi di tempat-tempat tinggi). Mengingat bahwa pembedaan antara imam dan orang Lewi seperti digariskan oleh Yehezkiel, nampak mewujudkan suatu pembaharuan -- bukan tindakan kembali ke pola-pola Bil maka Wellhausen menyimpulkan bahwa hukum Taurat dalam Bil tidak ada pada zaman Yehezkiel.

Karena imamat Harun ditekankan hanya dalam kode imamat, maka Wellhausen menganggap imamat Harun itu sebagai cerita rekaan, untuk memberikan kepada imamat itu suatu 'sejarah' pada kurun waktu Musa. Silsilah dalam Taw merupakan sarana untuk menghubungkan anak-anak Zadok dengan Harun dan Eleazar.

Ihwal inti dalam penyusunan kembali oleh Wellhausen, ialah pertentangan mencolok antara 'mekanisme terperinci' dari pemujaan di padang gurun dan pendesentralisasian pada kurun waktu para Hakim, ketika ibadat nampaknya dianggap tidak penting menurut Hak 3-16. Kurun waktu yg terakhir ini dipandang oleh Wellhausen sebagai zaman asli dari asal mula ibadat Israel. Mulai ketika beberapa kepala keluarga mempersembahkan korban mereka sendiri-sendiri, dan yg berkembang ketika keluarga-keluarga tertentu (ump keluarga Eli di Silo) menjadi penting di tempat suci yg khusus. Contoh mencolok antara tata agama padang gurun yg berbelit-belit dan tata agama sederhana pada zaman Israel menetap di Kanaan, ialah bahwa Samuel, orang Efraim, bermalam tidur di samping tabut (1 Sam 3:3), di tempat yg menurut Im 16 hanya boleh dimasuki imam besar sekali setahun.

Ketika Salomo membangun tempat suci yg permanen bagi tabut, kedudukan tinggi para imam di Yerusalem diteguhkan. Seperti halnya Yehuda, demikian juga Israel: tempat suci Yerobeam menjadi tempat suci kerajaan dan para imamnya secara langsung bertanggung jawab kepada raja (Am 7:10 dab). Di Yehuda proses sentralisasi mencapai puncaknya ketika pembaharuan Yosia meniadakan tempat-tempat tinggi, menurunkan kedudukan imam mereka pada pembantu di tempat suci pusat dan memberikan panggung bagi pengumuman Yehezkiel yg penting itu.

Dengan kerangka yg evolusionistis ini, Wellhausen membanding-bandingkan lapisan yg bermacam-macam dari Pentateukh dan mendapati banyak persesuaian. Di dalam hukum-hukum J (Kel 20-23; 34) imamat tidak disebutkan, sedang bagian-bagian lain dari J memperhatikan Harun (Kel 4:14; 32:1 dab) dan Musa (Kel 33:7-11) sebagai pendiri imamat. Disebutkannya imam-imam yg lain (ump Kel 19:22; 32:29) diabaikan oleh Wellhausen, yg memandang bagian-bagian ini sebagai sisipan. Di D-lah (Ul 16:18-18:22) ia melihat awal pemakaian sebutan orang-orang Lewi bagi imam-imam. Sifat turun-temurun dari imamat bukan dari Harun (yg menurut Wellhausen 'semula tak ada di J, melainkan dimunculkan oleh redaktur yg menggabungkan J dan E'), tapi pada zaman raja-raja dengan anak-anak Zadok Dengan mengakui keaslian asasi dari dimasukkannya Lewi ke dalam berkat-berkat suku sesuai Kej 49, Wellhausen yakin, bahwa suku ini 'mati pada zaman yg dini', dan bahwa ikatan yg diandaikan antara pemakaian resmi istilah orang Lewi dan suku Lewi itu adalah buatan.

Kode imamat (P) bukan hanya menguatkan tangan para imam, tapi juga mengantarkan pembagian yg asasi ke dalam tingkatan-tingkatan imamat -- pemisahan para imam (anak-anak Harun) dari para Lewi (sisa suku itu). Karena itu, sementara penulis Ul berbicara tentang imam-imam dari suku Lewi, penulis-penulis dari golongan imam, khususnya penulis Taw, berbicara tentang imam-imam dan orang Lewi. Tokoh lain yg juga terkait ialah imam besar, yg disebut lebih sering dalam Kel, Im, dan Bil daripada di tempat-tempat lain dalam tulisan-tulisan sebelum pembuangan. Dalam kitab-kitab yg memuat sejarah, raja menguasai ibadat, tapi dalam kode imamat, imam besarlah yg berkuasa. Kedudukan imam besar sebagai raja, menurut Wellhausen, hanya dapat merujuk kepada suatu kurun waktu ketika pemerintahan sipil Yehuda berada di tangan orang asing, sedangkan keberadaan Israel nampak lebih sebagai gereja ketimbang sebagai bangsa -- pada zaman setelah pembuangan. Maka 'kode imamat' mewujudkan suatu usaha untuk memberikan akar-akar dalam sejarah zaman Musa kepada realitas hidup keagamaan pada zaman setelah pembuangan.

Orang hanya perlu mempelajari tulisan yg terkenal seperti tulisan Max Loehr, A History of Religion in the Old Testament, 1936, ump hlm 136, 137; W. O. E Oesterley dan T. H Robinson, Hebrew Religion, 1930, ump hlm 225; dan R. H Pfeiffer, Introduction to the Old Testament, 1948, ump hlm 556, 557, untuk melihat kebengalan mempertahankan rekonstruksi Wellhausen.

III. Beberapa reaksi alas rekonstruksi Wellhausen

Di antara teolog konservatif yg menentang susunan Wellhausen, ada tiga nama yg patut dicatat: James Orr (The Problem of the Old Testament, 1906), O. T Allis (The Five Books of Moses2, 1909, hlm 185-196), G. Ch Aalders (A Short Introduction to the Pentateuch, 1949, hlm 66-71).

Dasar rekonstruksi Wellhausen ialah anggapan, bahwa para Lewi yg dalam Ul 18:6,7 diundang untuk melayani di tempat suci pusat, adalah imam-imam yg telah dicabut hak mereka dengan ditiadakannya tempat-tempat tinggi mereka selama pembaharuan Yosia. Tapi bukti bagi anggapan ini tidak ada. Sesungguhnya, 2 Raj 23:9 meneguhkan kebalikannya: para imam dari tempat-tempat tinggi itu bukan muncul di mezbah Tuhan di Yerusalem. Pandangan kritis bahwa imam-imam dan orang Lewi dalam Ul tidak dibedakan dengan jelas, telah dibicarakan di atas di mana nampak pembedaan yg jelas antara mereka mengenai tanggung jawab umat terhadap mereka (Ul 18:3-5, 6-8). Juga pandangan bahwa ungkapan 'imam-imam orang Lewi' (Ul 17:9, 18; 18:1; 24:8; 27:9 dan tidak terdapat di tempat lain dlm Pentateukh) menjadi bukti bagi identitas imam-imam dan orang Lewi dalam Ul tak dapat dipertahankan. Ungkapan itu hanya berfungsi untuk menghubungkan para imam dengan suku mereka. Hal ini dibenarkan oleh 2 Taw 23:18 dan 30:27, di mana 'imam-imam orang Lewi' dibedakan dari orang-orang Lewi lainnya (30:25), penjaga-penjaga pintu gerbang, dll (33:19). Kecenderungan Wellhausen dan pengikutnya untuk menganggap ay-ay yg menggoyahkan teori mereka adalah sisipan, jelas dari perlakuan mereka terhadap hunjukan-hunjukan kepada imam-imam dan orang-orang Lewi pada saat pengangkatan tabut ke Bait Suci Salomo (1 Raj 8:4).

Oleh Wellhausen dan pengulas lainnya, perhatian telah sering diarahkan kepada ketidaksesuaian antara hukum tentang persepuluhan dalam Bil 18:21 dab (bnd Im 27:30 dab), yg mengkhususkan persepuluhan bagi para Lewi, dan imbangannya dalam Ul 14:22 dab, yg memperbolehkan orang Israel memakan jamuan dari persepuluhan dalam suatu perjamuan korban, jika mereka menikmatinya bersama para Lewi. Biasanya agama Yahudi mendamaikan bagian-bagian ini dengan menyebut persepuluhan dalam Ul itu 'persepuluhan kedua', ump dalam traktat Talmud Ma'aser Sheni. Keterangan ini mungkin tidak seberterima keterangan James On (hlm 188, 189): hukum-hukum Ul, menurut dia, diterapkan pada suatu waktu ketika hukum-hukum persepuluhan (dan hukum-hukum yg dihubungkan dgn kota-kota orang Lewi) tak dapat sepenuhnya diberlakukan, karena penaklukan belum sempurna dan tak ada kewibawaan pusat untuk memaksakannya. Dengan lain perkataan, Bil 18:21 dab membicarakan cita-cita Israel, sedang Ul 14:22 dab mewujudkan suatu program sementara bagi zaman penaklukan dan permukiman di Kanaan. Suatu pandangan kritis berkata bahwa orang-orang Lewi adalah imam-imam yg dipecat pada zaman Yosia, namun juga berkata bahwa mereka didukung setelah pemecatan mereka oleh hukum persepuluhan yg rumit yg ditulis pada kurun waktu setelah pembuangan; pemikiran ini jelas keliru.

Pusat rekonstruksi Wellhausen ialah penafsirannya mengenai pengaduan Yehezkiel terhadap para Lewi (Yeh 44:4 dab), di mana ia mendapat muasal perpisahan antara para imam (anak-anak Zadok) dan para Lewi (imam-imam yg semula melayani penyembahan berhala di tempat-tempat tinggi). Tapi penafsiran Wellhausen itu bukanlah satu-satunya penafsiran mengenai bagian itu. James On (hlm 315-319, 520) minta perhatian kepada keadaan yg tercela dari imamat yg belum lama mendahului zaman Yehezkiel; On menunjukkan bahwa Yehezkiel tidak meneguhkan hukum Taurat, tapi meneguhkannya kembali dengan mencabut hak-hak khusus para Lewi, yg sebenarnya bukan hak mereka yg telah mereka rebut selama zaman raja-raja, dan dengan menurunkan imam-imam berhala itu kepada tingkatan orang Lewi yg lebih rendah, yg memang telah lama ada.

Selanjutnya, hubungan yg ideal dari pernyataan Yehezkiel memberi kesan, bahwa penurunan pangkat yg dimaksud mungkin tidak pernah dilaksanakan, paling tidak secara harfiah. Nada Yehezkiel bertentangan dengan nada kode imamat dalam hal ini. Kode imamat tidak tahu apa-apa tentang penurunan tingkat para imam, tapi menekankan pengangkatan ilahi. Ditambahkan pula, para imam di P bukanlah anak-anak Zadok, tapi anak-anak Harun. Agaknya tidak masuk akal bahwa perubahan-perubahan yg begitu gamblang diterima begitu saja oleh suatu bangsa yg memelihara ingatan sejarahnya, kepekaannya terhadap zamannya yg telah lampau (bnd J Pederson, Israel, 3, 4, 1940, hlm 189).

Sebagian besar pelayanan imam besar digeser oleh aliran Wellhausen ke kurun waktu setelah pembuangan. Sekalipun gelar itu hanya muncul dalam Yeh 12:10; 22:4, 8; 33:4 pada tulisan-tulisan sebelum pembuangan (biasanya ahli kritik dokumen tanpa alasan menganggapnya sebagai sisipan-sisipan dari zaman setelah pembuangan), adanya jabatan itu nampaknya dinyatakan oleh gelar 'sang imam' atau 'imam itu' (ump Ahimelekh, 1 Sam 21:2; Yoyada,2 Raj 11:9, 10, 15; Uzia, 2 Raj 16:10 dab; dim bh Indonesia tidak jelas, karena tidak ada kata sandang tertentu); memang benar, bahwa suatu imamat bagaimanapun kecilnya tentu membutuhkan seorang kepala administratif, juga seandainya raja menjadi kepala peribadatan (bnd J Pederson, Israel, 3,4, hlm 189).

Kritik Y Kaufmann tajam sekali atas rekonstruksi Wellhausen. Dalam The Religion of Israel, 1960, ahli ini, yg adalah seorang Yahudi, meneliti sejumlah kesimpulan kunci Wellhausen dan menganggapnya kurang. Imam besar, ump sama sekali bukanlah tokoh kerajaan yg mencerminkan pemimpin keagamaan pada zaman setelah pembuangan, tapi dengan setia mencerminkan keadaan-keadaan perkemahan militer yg takluk kepada kewibawaan Musa, bukan Harun (hlm 184-187).

Menurut Kaufmann, hukum-hukum persepuluhan dari Bil 18 pasti berasal dari zaman sebelum pembuangan dan tidak diperhatikan dalam Bait Suci yg kedua (hlm 187-193). Kaufmann mengarahkan perhatiannya kepada 'satu-satunya tiang dari susunan Wellhausen yg belum digoyahkan oleh kritik yg kemudian' -- rekonstruksi dari hubungan antara imam dan orang Lewi. Dengan memperhatikan tidak adanya bukti bagi penurunan pangkat imam-imam pedesaan, ia lalu minta perhatian kepada suatu kelemahan yg asasi dalam pandangan dokumenter: 'Tidak ada yg dapat membenarkan suatu teori, bahwa imam-imam yg telah menurunkan pangkat para rekan mereka menganggap layak untuk mendukung mereka dengan pendapatan yg terbesar; teori ini makin tidak mungkin, jika diingat bahwa jumlah imam adalah besar, sedang jumlah orang Lewi terasa sangat kurang pada zaman pembangunan' (4.289 imam, Ezr 2:36 dab; 341 orang Lewi ditambah dgn 392 pelayan Bait Suci, Ezr 2:43 dab), demikian Kaufmann (hlm 194).

Kaufmann bertanya, di mana hukum-hukum imamat yg mengatur kasus imam-imam yg harus diturunkan pangkatnya? Selanjutnya, mengapa para imam merawat cerita tentang kesetiaan para Lewi selama penyelewengan Harun (Kel 32: 26-29), sedang mereka menutupi keterangan tentang penyembahan berhala, yg oleh Wellhausen dipandang sebagai alasan atas penurunan pangkat mereka, sehingga mereka menghormati orang Lewi karena penetapan Ilahi dan tidak mengecamnya karena hukuman? Setelah menegaskan bahwa para Lewi jelas mewujudkan suatu kelompok tersendiri di dalam pembuangan, Kaufmann menunjukkan bahwa mereka tidak dapat berkembang sebagai suatu kelompok tersendiri dalam kurun waktu yg singkat, antara pembaharuan Yosia (dgn tidak menyebut apa-apa ttg dakwaan Yehezkiel) dan kembalinya dari pembuangan; apalagi kalau diingat, bahwa Israel pada waktu itu berada di negeri asing.

Rekonstruksi Kaufmann sendiri mungkin tidak seluruhnya memuaskan. Ia menyangkal adanya suatu hubungan keturunan antara anak-anak Harun dan para Lewi, sebab ia menganggap keturunan Harun sebagai imamat Israel kuno yg kafir (hlm 197), dan dengan demikian ia menolak tradisi Alkitab yg kuat, yg menghubungkan Musa, Harun dan para Lewi (bnd Kel 4:14). Dalam peristiwa anak lembu emas, suku duniawi Lewi yg kuno bersatu dengan Musa menentang Harun, tapi dipaksa untuk menyerahkan hak khusus atas pelayanan mezbah kepada keturunan Harun (hlm 198), sedang mereka sendiri harus puas menjadi pembantu imam. Ini menimbulkan persoalan tentang bagaimana, jika mereka tak punya hubungan dengan Musa, bagaimana keturunan Harun mengatasi bencana anak lembu emas dan yg seterusnya disebut imam. Pendapat Kaufmann -- bahwa perundang-undangan Ul disusun pada bagian akhir zaman raja-raja, dan karena itu ditulis jauh setelah ditulisnya tulisan-tulisan para imam, mungkin adalah lebih cenderung berbalik kepada posisi kritik kuno (kritik Th Noeldeke dll) ketimbang suatu tikaman baru terhadap Wellhausen.

W. F Albright mempersoalkan sejumlah dasar anggapan dalam aliran Wellhausen. Dengan menolak pandangan evolusi langsung yg menjadi landasan pokok panggung Wellhausen, Albright mengemukakan bahwa Israel akan mempunyai ciri khas di tengah-tengah tetangganya, seandainya Israel selama kurun waktu para hakim dan kurun waktu sesudahnya tidak menikmati peranan seorang imam besar, yg biasanya disebut (sesuai praktik kaum Semit) imam itu (Archaeology and the Religion of Israel3, 1953, hlm 107108). Kurangnya ditonjolkan pelayanan imam besar selama zaman raja-raja menunjukkan suatu kemunduran, sedang setelah kerajaan hancur, peranan imam besar kembali tampil hingga menjadi suatu kedudukan yg menentukan. Albright menyetujui peranan historis Harun, dan tidak menemukan alasan apa pun untuk tidak menganggap Zadok keturunan Harun. Albright menunjukkan bahwa orang Lewi mungkin kadang-kadang dipromosikan menjadi imam, dan bahwa 'kita tidak dibenarkan baik membuang patokan tradisi Israel mengenai imam-imam dan orang Lewi, ataupun menganggap kelompok-kelompok ini sebagai kelompok keturunan yg totok dan ketat' (hlm 110).

Anggapan bahwa kemah suci di padang gurun adalah suatu idealisasi dari Bait Suci dan secara historis tak pernah ada, pandangan yg begitu mendasar dalam rekonstruksi Wellhausen, kini sebagian besar telah ditinggalkan (sekalipun bnd R. H Pfeiffer, Religion in the Old Testament, 1961, hlm 77-78). Kedua-duanya tabut-tabut dan tempat-tempat suci kemah yg dapat diangkut ditemukan di antara negeri tetangga Israel, seperti telah diungkapkan oleh arkeologi. Menurut John Bright, semua ini sama sekali bukan bayangan dari kurun waktu yg kemudian, melainkan 'warisan peninggalan imam Israel yg masih bersahaja ketika berada di padang gurun' (A History of Israel, 1960, hlm 146-147).

Jelas bahwa kata terakhir belum diucapkan mengenai persoalan yg menjadi teka-teki tentang hubungan antara imam dan orang Lewi. Data dari kurun waktu penaklukan dan permukiman sangat sedikit. Sangat mungkin bahwa perundang-undangan Pentateukh yg sering mewakili hal yg dicita-citakan itu, tidak pernah dilaksanakan secara harfiah. Juga raja-raja yg begitu perkasa seperti Daud, Yosafat dan Yosia, tidak dapat menjamin pelaksanaan yg sempurna dari pola keagamaan Musa. Tapi bahkan lebih salah lagi bila karena hukum-hukum tidak ditaati, maka dianggap hukum-hukum itu tidak ada. Penggabungan argumentasi yg didasarkan pada apa yg tidak disebutkan, rekonstruksi evolusionistis yg langsung, dan perbaikan-perbaikan naskah serta penghapusan bagian-bagian yg terbukti sulit, telah menghasilkan beberapa penafsiran tentang sejarah alkitabiah yg tak dapat berdiri tetap menghadapi pengetahuan baru tentang data-data alkitabiah dan kebudayaan Semit. Rekonstruksi Wellhausen mengenai sejarah orang Lewi, tak juga dapat berdiri.

KEPUSTAKAAN. Sebagai tambahan kepada tulisan-tulisan yg telah dikutip di atas, R Brinker, The Influence of Sanctuaries in Early Israel, 1946, hlm 65 dab; R de Vaux, Les Institutions de l'Ancien Testament, 2, 1960, hlm 195 dab; A Cody, A History of the OT Priesthood, 1969; M Haran dll, 'Priests and Priesthood', EJ 13, 1970; H-J Kraus, Worship in Israel, 1966. DHT/HH




TIP #25: Tekan Tombol pada halaman Studi Kamus untuk melihat bahan lain berbahasa inggris. [SEMUA]
dibuat dalam 0.08 detik
dipersembahkan oleh YLSA