Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: TEMPAT TINGGI

Bamah

Dalam versi-versi Alkitab:

bukit: TL
Tempat Tinggi: FAYH TB
Tempat-tempat tinggi: BIS

TEMPAT TINGGI [ensiklopedia]

Ibrani bama, diterjemahkan 'tempat tinggi' yg artinya dan penggunaannya sangat besar bedanya.

1. Pemakaiannya dalam bentuk jamak, harfiah dapat berarti 'tempat-tempat yg tinggi', yaitu puncak-puncak gunung. Hal ini mungkin pengertian primitif, sebab ada kata-kata sejajar dalam bh Akad dan Ugarit.

2. Karena tempat-tempat pemujaan umumnya dibangun di puncak-puncak bukit 'di atas setiap bukit yg tinggi' (1 Raj 14:23), maka kata ini dapat mengacu kepada tempat pemujaan itu sendiri atau letaknya yg baik.

3. Pada zaman raja-raja, tempat pemujaan 'dibangun' di kota-kota dan 'pintu-pintu gerbangnya' (2 Raj 23:8), yg digambarkan sebagai 'Bukit Pengorbanan'.

Butir 1 meliputi beberapa petunjuk puitis mengenai pertempuran dan kemenangan atas musuh-musuh (Ul 32:13; Hak 5:18; 2 Sam 1:19, 25). Dalam hal itu gunung-gunung dilihat sebagai benteng; dalam Ul 32:13, LXX menerjemahkannya dengan ten ischyn tes ges. Dalam Yes 14:14 kata bamot secara benar diterjemahkan 'ketinggian', dan dalam keadaan sama dapat dipakai di mana-mana (yaitu Mi 3:12).

Dalam butir 2, muncul 'bukit' yg biasanya 'didaki' Samuel untuk membawa korban (1 Sam 9:12). Di sini jelas bamot mengacu kepada letaknya yg tinggi, dan sehubungan dengan itu terdapat juga mezbah (walaupun hal ini tidak disebut secara langsung), 'ruang utama' atau 'pendopo' (9:22), dan mungkin juga bangunan-bangunan yg lain. Kata ini kembali dipakai ketika Saul dan rombongannya mendekati 'bukit Allah', di mana mereka bertemu dengan rombongan para nabi 'turun dari bama' (1 Sam 10: 5,13). Sama seperti yg ada kaitannya dengan Samuel, maka mungkin bama itu adalah tempat tinggi yg digunakan untuk ibadah.

Bamot dalam 3 adalah daerah-daerah Gibeon yg tinggi letaknya, 'tempat tinggi yg agung' terdapat dalam 1 Raj 3:1-4; 2 Taw 1:2-6, di mana Salomo mengorbankan seribu ekor domba jantan. Gibeon adalah tempat yg tertinggi di daerah itu. LXX menerjemahkannya hypselotate, bukan megale. Tidak ada petunjuk mengenai pemujaan berhala, tapi nampaknya penulis menolaknya; umat itu (lih 1 Raj 3:2) dimaafkan 'karena sampai pada waktu itu belum ada rumah yg dibangun bagi Tuhan'.

Dengan dibangunnya Bait Allah, pemberontakan Yerobeam, dan berkembangnya pemujaan berhala maka kata bama mendapat anti baru dan yg jelek. Dan bertentangan dengan berbakti di Bait Allah, Yerobeam mendirikan ilah anak lembu emas di Betel dan di Dan. Ia jelas mengikuti jejak Harun (1 Raj 12:28; lih Kel 32:4, 8), dan dengan demikian 'mendatangkan dosa kepada Israel'. Ia juga mendirikan rumah di bukit pengorbanan (bet bamot), dan melengkapinya dengan para imam dari golongan rendah (1 Raj 12:32). Mungkin ia melakukan hal itu dengan memakai nama Yahweh untuk menipu umat, tapi Allah tidak dapat ditipu, dan Yerobeam dicela (1 Raj 13:1-6).

Sementara itu, di bawah pemerintahan Rehabeam umat Yehuda jatuh ke dalam penyembahan berhala orang Kanaan. Mereka 'mendirikan bukit-bukit pengorbanan, tugu-tugu berhala dan tiang-tiang berhala di atas setiap bukit yg tinggi dan di bawah setiap pohon yg rimbun' (1 Raj 14:23), dengan segala sesuatu yg 'tercela'. Terjebak ke dalam dosa demikian selalu dihukum keras. Musa sendiri jauh sebelumnya telah melihat bahaya ini, lalu menghukum orang-orang yg mempunyai tiang-tiang berhala dan Asyerim, lambang-lambang dari Baal dan Asyera (Kel 34:12 dab; Ul 12:2 dab; 16:21 dab).

Tapi ada tempat-tempat pengorbanan lainnya yg mempunyai arti lain dan dapat diterima. Demikianlah dalam catatan mengenai raja Asa, dikatakan bahwa 'ia melakukan hal-hal yg benar di mata Tuhan', dan dicatat mengenai semangatnya membuang semua tanda penyembahan berhala; kemudian dikatakan bahwa 'bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkannya' (1 Raj 15:11-14); hal ini diulangi lagi berkaitan dengan raja-raja lainnya yg bersemangat untuk Tuhan. Di sini nadanya sama dengan 1 Raj 3:2, dan kita dirangsang berpikir bahwa tempat mempersembahkan korban itu adalah setaraf dengan Gibeon, dan mungkin sama dengan yg didirikan Samuel di Rama. Berbakti di tempat-tempat ini dan di tempat-tempat yg sama seperti itu yg sama-sama ditujukan kepada Tuhan, tapi karena Bait Allah sebagai pusat kebaktian yg benar, maka tempat-tempat berbakti tadi tidak lagi sah. Akhirnya tempat-tempat itu dihancurkan oleh Hizkia (2 Raj 18:4, 22).

Teori Wellhausen dan yg diterima dengan agak ragu-ragu oleh banyak sarjana modern, adalah berbeda. Menurut teori ini 'Kitab Perjanjian' (Kel 20-24) adalah sebuah dokumen kerajaan awal yg memberi izin untuk mendirikan (Kel 20:24) tempat-tempat suci secara lokal, atau tempat-tempat tinggi. Semuanya itu dijauhkan oleh Hizkia, tapi secara tuntas adalah oleh reformasi 'Deuteronomi' di bawah pimpinan Yosia (2 Raj 23). (*HUKUM, dan lih G. T Manley, The Book of the Law, 1957, bab 9.) Hal ini jelas bukanlah pendapat penulis dari kedua Raj, yg nyatanya berada dalam keadaan bisa mengetahui kebenarannya.

Ada dugaan bahwa orang Israel tanpa pamrih mengambil alih 'bukit pengorbanan' orang Kanaan. Penyelidikan arkeologi menunjukkan di Gezer dan tempat-tempat lain, ada batu-batu karang di tempat-tempat tinggi yg dipakai sebagai tempat menyembah sesuai cara-cara primitif. Sebagian dari tempat-tempat itu memiliki timbunan batu yg besar. 'Bukit-bukit pengorbanan' buatan, juga terdapat di rumah-rumah sembahyang pada pertengahan Zaman Perunggu, seperti di Megido dan di Nahariyah (di pantai selatan Tirus) di mana onggokan batunya ditutupi oleh suatu lapisan berminyak, nampaknya adalah sisa-sisa lelehan korban persembahan. Sebuah tiang batu berdiri tegak pada sisi timbunan batu itu. Bentuk mezbah seperti itu bertahan dan dipakai juga oleh orang-orang Israel yg murtad. Dilaporkan bahwa Manasye 'membangun kembali' bukit-bukit pengorbanan yg telah dijauhkan Hizkia (2 Raj 21:3); bukit-bukit pengorbanan ini ditemukan para pengikut Yosia di dalam 'kota-kota Yehuda' dan sekurang-kurangnya satu di salah satu pintu gerbang Yerusalem (2 Raj 23:5, 8). Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa bukit-bukit pengorbanan itu dibangun dalam ukuran sedang, cukup untuk membakar dupa atau korban bakaran, dan karena itu tidak terlalu kuat, sehingga tanpa kesulitan dapat dihancurkan dan dibakar. Tempat-tempat pengorbanan yg didirikan oleh Salomo di luar Yerusalem berukuran lebih besar, karena itu hanya dinajiskan saja (ay 13, tidak dibinasakan).

Mungkin beberapa timbunan batu berukuran besar di bagian barat Yerusalem adalah bamot orang-orang Yehuda. Penggalian meneruskan jalan menanjak menuju puncak dan barang-barang pecah belah bertarikh abad 7. Untuk apa tempat itu digunakan tidaklah jelas, tapi pasti bukan kuburan.

Penyelidikan akhir-akhir ini mengatakan bahwa bama agamawi, aslinya adalah sepotong tanah yg tinggi, mungkin kuburan dari orang-orang penting, ditandai oleh satu kuburan atau sebuah batu, membentuk suatu tempat yg baik sebagai pusat berkumpul para penyembahnya. Di kota-kota kecil, hal ini dapat dilakukan pada sebuah anak bukit buatan, di mana upacaranya dapat diadakan di depan mata para penyembahnya.

KEPUSTAKAAN. W. F Albright, The High Place in Ancient Palestine, Supplement to VT 4, 1957, hlm 242-258; L. H Vincent, 'La Notion Biblique du Haut-Lieu', RB 55, 1948, hlm 245-278, 438-445; M Dothan, 'Nahariyah', IEJ 6, 1956, hlm 14-25; R. B. K Amiran, 'The Tumuli West of Jerusalem', IEI3, 1953, hlm 205-227; P. H Vaughan, The Meaning of bama in the OT, 1974. GTM/JTW/JMP/HAO




TIP #29: Klik ikon untuk merubah popup menjadi mode sticky, untuk merubah mode sticky menjadi mode popup kembali. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA