Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: BAIT SUCI, BAIT ALLAH

BAIT SUCI, BAIT ALLAH

BAIT SUCI, BAIT ALLAH [ensiklopedia]

I. Latar belakang sejarah

Beberapa bangunan paling tua yg dibangun oleh manusia berupa bait atau kuil, adalah tempat di mana mereka menyembah (beribadah kepada) ilahnya di 'rumah' ilah itu (lih K. M Kenyon, Archaeology in the Holy Land, hlm 41, 51, ttg kuil-kuil zaman Mesolit dan zaman Neolit di Yerikho). Menara Babel adalah bangunan pertama yg disebut dalam Alkitab, yg mencakup adanya bait (Kej 11:4; *BABEL), Walaupun kelihatannya yg dimaksud ialah suatu tempat untuk berjumpa dengan Allah, tapi itu melambangkan kepercayaan diri manusia untuk mendaki ke atas menuju sorga, lalu oleh keangkuhan hati seperti itu ia kena hukum.

Di Mesopotamia, negeri yg ditinggalkan Abraham, ada kuil di tiap tempat yg dikeramatkan bagi dewa pelindungnya. Dewa itu dianggap sebagai pemilik tanah, dan jika tanah tidak diberkatinya, tidak akan memberi hasil, yg akan mengakibatkan pembayaran pajak yg sangat sedikit bagi kuilnya itu. Raja atau penguasa setempat bertindak sebagai agen bagi sang dewa.

Bapak-bapak leluhur Israel yg masih setengah mengembara, tidak membangun 'kuil' khusus bagi Allah mereka Allah menyatakan diriNya menurut yg disukai-Nya dan di mana disukai-Nya. Peristiwa-peristiwa seperti itu kadang-kadang ditandai dengan membangun mezbah korban persembahan, dan ada yg diberi tanda peringatan dengan tugu (Kej 22:9; 28:22).

Sesudah Israel berkembang menjadi suatu bangsa, di rasakanlah perlunya suatu tempat ibadah pusat, dan merupakan keharusan sebagai tempat berkumpul bagi seluruh umat itu, yg menjadi lambang dari kesatuan mereka dalam ibadah kepada Allah mereka. Kebutuhan ini dipenuhi oleh Kemah Suci selama pengembaraan di padang gurun, dan juga oleh tempat-tempat ibadah yg diakui selama zaman para hakim (ump Sikhem, Yos 8:30 dab; 24:1 dab; Silo, 1 Sam 1:3).

Bangsa-bangsa Kanaan memiliki kuil-kuil mereka sendiri, yg biasa disebut 'kuil Dagon' atau kuil dari dewa pelindung lainnya (Ibrani betdagon, 1 Sam 5:5; bet `asytarot; 1 Sam 31:10; bnd bet yhwh, Kel 23:19). Sisa-sisa kuil banyak ditemui di beberapa tempat, mis Betsan dan Hasor.

Alpanya suatu tempat ibadah bagi Yahweh terasa menggelisahkan hati, tatkala Daud sudah mempersatukan seluruh kekuasaannya dan sudah membangun baginya sendiri istana besar dan menetap. Raja Daud berkata, 'Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda' (2 Sam 7:2). Tapi izin tidak diberikan kepadanya untuk membangun Bait Suci, sebab tangannya dinodai oleh darah musuh-musuhnya, namun bahan-bahan dikumpulkannya, harta ditumpuknya, dan tanah untuk tempat Bait Suci dibelinya (1 Taw 22:8, 3; 2 Sam 24:18-25). Pembangunan Bait Suci dimulai oleh raja Salomo pada thn ke-4 pemerintahannya dan selesai 7 thn kemudian (1 Raj 6:37-38).

II. Bait Suci bangunan Salomo

a. Letaknya

Bahwa Bait Suci yg dulu ada di tempat Bait yg sekarang yg disebut 'Haram esy-Syerif di sebelah timur 'Kota Tua Yerusalem', itu tak diragukan. Nama tempat yg setepat-tepatnya di dalam lahan yg luas dan berpagar itu, memang masih kurang pasti. Bagian yg paling tinggi dari bukit itu (sekarang ditempati oleh mesjid yg terkenal dengan nama 'Mesjid el-Haram') mungkin itulah tempat letaknya bagian yg mahakudus, atau mezbah untuk korban bakaran yg di halaman luar (2 Taw 3:1). Bukit ini diduga termasuk bagian dari tempat pengirikan Arauna yg dibeli oleh Daud dengan harga 50 syikal perak (2 Sam 24:24) atau 600 syikal emas (1 Taw 21:25).

Dari bangunan Bait Suci Salomo tak ada yg tinggal di atas tanah, begitu juga tak ada didapati suatu bekas yg jelas dalam penggalian-penggalian yg dibiayai oleh Dana Penelitian Palestina (Palestine Exploration Fund). Agaknya pekerjaan meratakan bukit itu dulu dan pembangunan tembok penahan yg besar untuk halaman Bait Suci bangunan Herodes, menghancurkan tuntas gedung Bait pertama.

b. Denah

Ps-ps Alkitab 1 Raj 6-7 dan 2 Taw 3-4 pasti merupakan dasar dari kerangka atau gambar dasar Bait Suci Salomo. Keterangan-keterangan terperinci demikian belum mencakup setiap bagian, tidak seluruhnya dapat dimengerti, dan nampaknya tidak sepakat dalam beberapa hal (ump 1 Raj 6:2 dan 16 dab). Ketidaksepakatan informasi demikian adalah karena adanya singgungan-singgungan di sana sini dan juga informasi tentang Bait Suci Yehezkiel, yg merupakan versi yg diperluas dari Bait Suci bangunan Salomo (Yeh 40-43). Bait Suci itu sendiri merupakan gedung yg memanjang dari timur ke barat. Dapat diduga bahwa Bait Suci didirikan di atas suatu alas yg tinggi seperti Bait Suci Yehezkiel (bnd Yeh 41:8). Mengenai lingkungan sekitarnya tidak ada ukuran-ukuran yg diberikan. Sekali lagi menurut rencana Yehezkiel, agaknya ada dua halamannya, satu di dalam dan satu di luar; pemikiran ini ditopang oleh 1 Raj 6:36; 7:12; 2 Raj 23:12; 2 Taw 4:9.

Mezbah tembaga untuk korban bakaran ada di halaman dalam (1 Raj 8:22,64; 9:25). Mezbah itu berbentuk segi empat dengan sisi 20 hasta dan tingginya 10 hasta (2 Taw 4:1). Di antara mezbah tembaga ini dengan balai, ada bejana tembaga tempat air untuk pembersih pada setiap upacara ritual (1 Raj 7:23-26). Bejana besar ini, yg garis tengahnya 10 hasta, didukung oleh empat kelompok dari patung empat lembu tembaga, yg berdiri menghadap keempat mata angin. Bejana ini disingkirkan oleh raja Ahas (2 Raj 16:17).

Waktu Bait Suci Salomo ditahbiskan, Salomo berdiri di atas mimbar tembaga (2 Taw 6:12 dab; Ibrani ki yyor, kata yg di salah satu tempat dipakai untuk 'bejana', Kel 30:18 dab; di sini barangkali yg dimaksud ialah 'kerangka tangga'), yg sejajar dengan seni patung Siria dan Mesir dan mungkin juga dengan seni patung Akad (lih W. F Albright, Archaeology and the Religion of Israel', 1953, hlm 152-154).

Ada jalan tangga dari halaman dalam ke balai Bait Suci (Ibrani 'ulam). Pada kiri kanan pintu masuk ada dua sokoguru dengan kepala tiang (TBI, 'ujung', Kel 36:38) yg dihiasi secara megah luar biasa dan indah. Tujuannya belum dapat ditentukan; kedua sokoguru ini tidak termasuk bagian dari bangunan itu. Mungkin ada gerbang yg menutup jalan ini (bnd Yeh 40:48).

Panjang balai 10 hasta dan lebarnya 20 hasta (mengenai panjangnya satu hasta, *UKURAN DAN TIMBANGAN). Tinggi balai itu dikatakan 120 hasta (2 Taw 3:4), tapi hal ini tentu suatu kesilapan karena bagian gedung yg tinggal hanya 30 hasta tingginya. Di sebelah barat dari balai ini terdapat ruang besar tempat melaksanakan upacara-upacara biasa. 'Tempat kudus' (Ibrani hekhal, kata yg diturunkan dari bh Sumer E. GAL, 'gedung besar') panjangnya 40 hasta, lebarnya 20 hasta dan tingginya 30 hasta. Bagian ini disekat dari balai oleh pintu kembar kayu saru, masing-masing dibuat dengan dua daun pintu. Kalimat yg mengatakan bahwa tiang-tiang pintu itu bersegi empat (Ibrani mezuzot me'et rebi'it, 1 Raj 6:33) sukar sekali diterangkan. Mungkin yg dimaksud adalah lebar gang yg adalah 5 hasta, yaitu seperempat dari lebar dinding penyekat.

Jendela-jendela yg rapat bidainya di dekat langit-langit, menerangi tempat kudus (1 Raj 6:4). Di sinilah terdapat mezbah pedupaan atau mezbah pembakaran ukupan (Kel 30), meja untuk roti sajian dan kelima pasang kandil, bersama dengan alat-alat untuk korban-korban persembahan. Pintu-pintu kembar dari kayu saru yg menuju ke tempat mahakudus (Ibrani devir, 'tempat yg paling dalam') jarang dibuka, barangkali hanya bagi imam besar waktu upacara hari raya pendamaian. Tiang-tiang pintu dan ambang atas dikatakan mempunyai ukuran seperlima (Ibrani ha'ayil mezuzot khamisysyit, 1 Raj 6:31; TBI 'segi lima'). Seperti dalam hal hekhal, ini barangkali bisa diterangkan seperlima dari dinding penyekat, yaitu 4 hasta.

Tempat mahakudus merupakan kubus yg sempurna dengan sisi 20 hasta. Walaupun kita mengharapkan bahwa lantainya dibuat lebih tinggi dari hekhal, tak ada acuan untuk ini. Di dalamnya ada dua patung kayu berdampingan, tingginya 10 hasta. Dua dari sayap patung itu saling menyentuh di tengah-tengah di atas tabut perjanjian, dan sayap yg satu lagi dari setiap patung itu menyentuh dinding utara dan dinding selatan secara berurutan (1 Raj 6:23-28). Di tempat mahakudus inilah Allah menampakkan kehadiranNya dengan awan (1 Raj 8:10 dab).

Tiap bilik dilapisi dengan kayu aras dan lantainya dilapisi dengan papan kayu saru atau kayu sanobar (Ibrani herosy). Dinding-dinding dan pintu-pintu diukir dengan gambar-gambar bunga, pohon korma (1 Raj 6:29) dan kerub-kerub serta disalut dengan emas. Tidak ada batu kelihatan (1 Raj 6:18).

Dinding luar tempat mahakudus dan tempat kudus terbuat dari dua bagian yg tebalnya 1 hasta. Gunanya ialah menopang balok-balok penahan untuk tiga tingkat bilik yg kecil di sekeliling dinding itu. Jadi bilik-bilik di lantai dasar, lebarnya 5 hasta, yg di atasnya 6 hasta, dan yg paling atas 7 hasta. Suatu pintu di sebelah selatan merupakan jalan masuk ke suatu tangga melingkar menuju ke lantai-lantai atas. Bilik-bilik ini menjadi tempat penyimpanan berbagai barang persediaan dan pakaian-pakaian jabatan, barangkali juga tempat penginapan bagi imam-imam yg bertugas, dan tempat penyimpanan uang persembahan dan barang-barang, yg datang dari orang-orang yg beribadah.

Ada ahli yg menekankan bahwa istana raja dekat ke Bait Suci, dan mengambil kesimpulan bahwa Bait Suci itu ialah 'Tempat ibadah raja'. Kalaupun disetujui adanya hubungan seperti itu (yg ditekankan oleh jalan yg menghubungkan kedua gedung itu, 2 Raj 16:18), tapi perlu diingat, bahwa memang layaklah bagi raja, sebagai wakil Yahweh untuk tinggal dekat rumah Allah; masuk ke Bait Suci tidak dibatasi bagi raja-raja Israel.

Salomo menggaji seorang Tirus untuk mengawasi pembangunan Bait Suci dan mengerahkan tukang-tukang orang Fenisia (1 Raj 5:10, 18; 7:13-14). Justru tidaklah mengherankan jika ada kesamaan denah Bait Suci dan dekorasinya dengan karya-karya kerajinan tangan Fenisia atau Kanaan yg masih tersimpan. Denah dasarnya sangat serupa dengan denah dasar kuil kecil dari abad 9 sM yg digali di Tel Tainat di S Orontes. Denah ini menunjukkan tiga bilik, sebuah mezbah di tempat yg paling dalam dan dua soka guru di balai, tapi sokoguru ini menopang atapnya (lih R. C Haines, Excavations in the Plain of Antioch, 2, 1971). Di Hazor ada satu kuil yg berasal dari Zaman Perunggu Akhir, mempunyai tiga bagian juga, dan dibangun dengan kayu di antara lapis-lapis batu (Yadin, Hazor, 1972, hlm 89-9 1; bnd 1 Raj 5:18; 6:36). Banyak lempeng gading berukir (berasal dari dinding-dinding dan peralatan istana-istana) yg ditemukan di seluruh Asia Barat Kuno, adalah hasil kerja pengrajin Fenisia, dan sering disertai tema-tema Mesir. Di antara hiasan paling umum ialah bunga, pohon korma dan sefinks-sefinks yg bersayap, dan hal ini pasti dapat dibandingkan dengan ukiran-ukiran di Bait Suci. Seperti pada pelapisan Bait Suci, ukiran-ukiran ini disaluti dengan emas, dan ditatah dengan batu-batu berwarna.

c. Dalam kurun sejarah yg kemudian

Kuil kuno umumnya merupakan rumah perbendaharaan negeri, yg dikosongkan waktu membayar upeti, dan dipenuhi dengan barang jarahan sesuai dengan keperkasaan negeri itu. Jika, karena suatu alasan seorang penguasa kurang memperhatikan kuilnya, ia akan kehilangan pendapatan dan akan cepat runtuh (bnd 2 Raj 12:4-15).

Bait Suci Salomo juga tidak terkecuali. Harta-harta yg dikumpulkannya di dalam Bait Suci, waktu pemerintahan anaknya, Rehabeam, dijarah oleh Sisak raja Mesir (1 Raj 14:26). Raja-raja yg kemudian, termasuk raja Hizkia, yg menghiasi Bait Suci (2 Raj 18:15 dab), menggunakan harta benda Bait Suci untuk membayar sekutu-sekutunya (Asa, 1 Raj 15:18) atau untuk membayar upeti dan menyuap penyerbu (Ahas, 2 Raj 16:8). Raja-raja penyembah berhala menambahkan lagi peralatan dari kuil Kanaan, termasuk lambang dewa-dewa kafir (2 Raj 21:4; 23:1-12), sedang Ahas memelopori pemberlakuan jenis mezbah Asyur, dan memindahkan bejana pembasuhan, sebagai tanda ketaklukannya kepada Tiglat-Pileser III(2 Raj 16:10-17). Menjelang zaman Yosia (kr 640 sM), yaitu 3 abad sesudah Bait Suci didirikan, keadaan Bait Suci itu menuntut pemugaran menyeluruh, dan dananya harus datang dari sumbangan orang-orang yg beribadah (2 Raj 22:4). Pada thn 587 harta benda Bait Suci dirampas oleh Nebukadnezar (2 Raj 25:9, 13-17). Kendati Bait Suci sudah dihancurkan, orang-orang masih berdatangan di sana untuk mempersembahkan korban (Yer 41:5).

III. Bait Suci Yehezkiel

Orang Israel yg berada di pembuangan dihibur dalam dukacita mereka (Mzm 137) oleh penglihatan akan Bait Suci baru, yg diberikan kepada nabi Yehezkiel (Yeh 40-41, kr 571 sM). Perincian mengenai Bait Suci ini lebih banyak diberikan ketimbang Bait Suci Salomo, walaupun Bait Suci ini belum didirikan. Gedungnya sendiri tidak seberapa berbeda, kecuali dalam ukuran-ukurannya (balai 20 hasta panjangnya, dan 12 hasta lebarnya dan 40 hasta panjangnya; tempat mahakudus sisinya 20 hasta). Dinding-dindingnya dilapisi dan diukir dengan gambar-gambar pohon korma dan kerub. Gedung itu didirikan di atas suatu alas yg tinggi; dan ke situ orang naik tangga, jumlah anak tangganya 10. Di kiri kanan tangga ini ada dua sokoguru tembaga. Tiga baris bilik mengelilingi tempat maha kudus dan tempat kudus. Penglihatan Yehezkiel memberi keterangan tentang lingkungan sekitarnya, sesuatu yg alpa dalam informasi pertama tentang Bait Suci. Sebidang tanah, 500 hasta persegi, ditutup oleh suatu tembok, yg ditembus oleh hanya satu pintu gerbang ditiap tembok, di utara, timur, selatan dan barat. Ada 3 lagi gerbang di hadapan yg pertama, menuju ke halaman dalam. Di situ ada mezbah untuk korban-korban di hadapan tempat kudus. Semua gerbang ini dilengkapi dengan sarana yg kokoh untuk mencegah masuknya orang non-Israel. Ada beberapa rumah di halaman Bait Suci itu, gunanya untuk tempat menyimpan barang-barang dan untuk dipakai oleh para imam.

IV. Bait Suci kedua

Usia Bait Suci ini hampir 500 thn, lebih lama dari usia Bait Suci pertama maupun dan Bait Suci zaman Herodes. Tapi pengetahuan kita tentang Bait Suci kedua ini hanya samar-samar dari beberapa acuan yg kebetulan ada. Orang-orang buangan yg kembali ke tanah Israel (kr 537 sM) membawa kembali alat-alat yg dulu dijarah oleh Nebukadnezar, dan surat kuasa dari Koresy untuk membangun Bait Suci kembali. Agaknya lahan tempat letak Bait Suci terdahulu dibersihkan dan segala reruntuhan, di situlah didirikan sebuah mezbah dan pembangunan dasar bangunan dimulai (Ezr 1; 3:2-3, 8-10).

Sesudah pada akhirnya Bait Suci itu selesai dibangun, panjangnya 60 hasta dan tingginya 60 hasta, tapi dasarnya sendiri pun menunjukkan, bahwa Bait Suci Salomo lebih unggul dari Bait Suci ini (Ezr 3:12). Sekeliling tempat kudus dan tempat mahakudus ada beberapa gudang dan tempat-tempat para imam. Dan antara merekalah Tobia, orang Amon, diusir oleh Nehemia (Neh 13:4-9). 1 Makabe 1:21; 4:49-51 merupakan sumber beberapa keterangan tentang peralatan Bait itu. Tabut perjanjian yg telah hilang pada waktu pembuangan, sejak itu tak pernah dijumpai kembali atau diganti. Sebagai pengganti kesepuluh kandil dari zaman Salomo, ditaruhlah pegangan lilin yg bercabang tujuh di tempat kudus, bersama dengan meja untuk roti sajian dan mezbah ukupan. Semua yg terakhir ini dibawa oleh Antiokhus IV Epifanes, raja Siria, keturunan Seleukus sebagai jarahan (175-163 sM), yg mengakibatkan 'pembinasaan yg keji' (yaitu penempatan patung kafir) pada 15 Desember 167 sM (1 Makabe 1:54). Golongan Makabe yg pada akhirnya menang, menyucikan Bait Suci dari kenajisan ini dan mengganti peralatan itu pada akhir thn 164 sM (I Makabe 4:36-59). Mereka mengubah juga daerah tertutup itu menjadi benteng yg begitu kuat, sehingga dapat bertahan terhadap pengepungan Pompius selama 3 bulan (thn 63 sM).

V. Bait Suci bangunan Herodes

Pembangunan Bait Suci zaman Herodes yg dimulai pada awal thn 19 sM, lebih merupakan suatu upaya untuk memperdamaikan orang Yahudi dengan raja Idumea, raja mereka, ketimbang memuliakan Allah. Selama pembangunan bait itu berjalan, penjagaan sangat ketat, supaya orang menghormati daerah suci itu, malahan 1.000 orang imam dilatih menjadi tukang khusus untuk membangun tempat kudus dan mahakudus. Walaupun bangunan pokok sudah selesai dalam 10 thn (kr 9 sM), tapi pembangunan itu berjalan terus sampai thn 64 M.

Sebagai pondasi untuk gedung Bait Suci dan untuk ruangan tempat berkumpul, diratakanlah sebidang tanah yg kr 450 m panjangnya dari utara ke selatan, dan kr 300 m lebarnya dari timur ke barat. Beberapa bagian permukaan yg berbatu-batu dari lahan bukit itu dilinggis, tapi sebagian besar ditimbun dengan puing-puing, lalu seluruh pertapakan dasar itu ditutup dengan tembok terdiri dari susunan batu-batu besar (biasanya kr 1 m tingginya dan sampai 5 m panjangnya; bnd Mrk 13:1). Di penjuru sebelah tenggara, dari mana bisa memandang ke lembah Kidron, berada halaman dalam 'kr 50 m di atas lembah itu. Barangkali sandaran dinding yg di atas penjuru ini ialah *bubungan Bait Suci (Mat 4:5). Bagian-bagian dari tembok ini masih berdiri sekarang di sana.

Sebuah pintu gerbang menembus tembok utara (namanya Gerbang Tadi), tapi kelihatannya tak pernah dipakai, dan satu menembus tembok yg di timur di bawah Pintu Gerbang Emas sekarang. Sisa-sisa dari kedua Pintu Gerbang Herodes di sebelah selatan, masih tetap ada dan nampak di bawah Mesjid el-Agsa. Ada jalan-jalan lereng ke atas dari pintu-pintu gerbang ini ke tingkat halaman Bait Suci. Empat pintu gerbang menghadap ke kota di sebelah barat. Orang bisa mendekati gerbang-gerbang ini melalui jembatan layang melalui lembah Tiropuon (*YERUSALEM). Di penjuru barat laut, daerah tertutup ini, bagian terluas denahnya disita oleh benteng Antonia. Di sinilah para wali negeri tinggal jika mereka di Yerusalem, dan tentara pendudukannya selalu siaga untuk mengamankan tiap huru-hara bila timbul di wilayah Bait Suci (bnd Luk 13:1; Kis 21:31-35). Jubah-jubah imam besar disimpan di sana sebagai tanda kepatuhan.

Halaman luar Bait Suci dikelilingi oleh tiang-tiang yg berdiri di pelataran bagian dalam. Menurut keterangan Yosefus (Ant Kis 15:10-16), di balai selatan ada 4 baris tiang dan disebut Balai Raja. Di tiap gang pada sisi-sisi lainnya ada 2 baris tiang. Serambi Salomo melintang di sebelah timur (Yoh 10:23; Kis 3:11; 5:12). Di antara tiang-tiang inilah dilangsungkan sekolah ahli Taurat dan perdebatan-perdebatannya (bnd Mrk 11:27; Luk 2:46; 19:47), dan di situlah berjejer meja para penukar uang dan tempat-tempat pedagang (Luk 19:45-46; Yoh 2:14-16). Bagian dalam sedikit lebih tinggi dari pelataran tempat berkumpul para pengunjung dari bangsa-bangsa lain, dan dikelilingi oleh birai. Peringatan-peringatan keras dalam bh Yunani dan Latin mengumumkan, bahwa tidak ada pertanggungjawaban mengenai kematian seseorang non-Yahudi bila mencoba memasuki bagian dalam. Dua di antara tulisan ukir ini telah ditemukan. Empat pintu gerbang menjadi jalan masuk di sebelah utara dan selatan dan sate di sebelah timur. Daun pintu pada yg terakhir ini terbuat dari perunggu hasil pengrajin dari Korintus, dan mungkin inilah Gerbang Indah yg disebut dalam Kis 3:2.

Di halaman pertama bagian dalam (Halaman Perempuan) terdapat kas persembahan untuk biaya upacara kebaktian (Mrk 12:41-44). Laki-laki diizinkan memasuki Halaman Israel, yg lebih tinggi dari Halaman Perempuan, dan pada waktu Hari Raya Pondok Daun boleh memasuki Halaman paling dalam (yaitu Halaman para Imam) untuk bersama-sama mengelilingi mezbah. Mezbah ini dibuat dari batu yg tidak dipahat, 22 hasta jauhnya dari balai (bnd Mat 23:25). Denah bangunan induk Bait Suci itu meniru denah Bait Suci Salomo. Balainya 100 hasta lebarnya dan 100 hasta tingginya. Satu pintu yg 20 hasta lebarnya dan 40 hasta tingginya menjadi jalan masuk, dan pintu yg setengah dari ukuran itu menuju ke tempat kudus yg panjangnya 40 hasta dan lebarnya 20 hasta.

Sehelai tirai menyekat tempat kudus dari tempat mahakudus (tabir, Mat 27:5 1; Mrk 15:38; bnd 2 Taw 3:14). Lantai tempat mahakudus persegi empat, sisinya 20 hasta dan tingginya 40 hasta, sama dengan tempat kudus. Lalu di atas tempat kudus dan tempat mahakudus menjulanglah ke atas ruangan kosong setinggi balai, yaitu 100 hasta, dan dengan demikian atap Bait Suci menjadi rata. Gedung tingkat tiga mengelilingi sisi utara, selatan dan barat setinggi 40 hasta. Paku-paku emas ditancapkan ke atap Bait Suci untuk mencegah burung-burung hinggap di sana.

Bangunan megah itu yg dibuat dari batu putih dan emas, baru saja selesai (64 M) sebelum dihancurkan oleh tentara Roma (70 M). Pegangan lilin yg dari emas, meja untuk roti sajian dan barang-barang lain dibawa ke Roma sebagai tanda kemenangan: gambarannya diukir pada Lengkungan Titus di situ. KEPUSTAKAAN. Uraian ringkas yg paling baik ialah buku A Parrot, The Temple of Jerusalem, 1957, disertai kepustaka an yg agak lengkap. Tentang penelitian terperinci lih L. H Vincent, Jerusalem de l'Ancien Testament, 1954; J Simons, Jerusalem in the Old Testament, 1952; T. A. Busink, Der Tempel von Jerusalem, 1970. Mengenai model-mode1 dari Bait Suci Salomo, lih G. E Wright, BA 18, 1955, hlm 41-44.

VI. 'Bait Suci' dalam PB

Dua kata Yunani yaitu hieron dan naos, diterjemahkan 'Bait Suci'. Kata pertama menunjuk kepada kumpulan gedung-gedung yg seluruhnya membentuk Bait Suci yg di Yerusalem. Kata kedua khusus menunjuk ke tempat kudus yg ada di dalamnya. Para penafsir Alkitab biasanya memberi perhatian kepada kenyataan, bahwa kata yg lebih di sukai oleh para penulis PB untuk menggambarkan gereja sebagai Bait Suci Allah, ialah naos. Tapi pemakaian naos dalam Mat 27:5 dan Yoh 2:20 membatasi seseorang supaya jangan terlalu mementingkan kenyataan tadi. Dalam hal Mat 27:5 istilah naos itu sudah hampir pasti harus diartikan dalam pengertian hieron. Kalau tidak, kita akan menghadapi kesukaran yg pelik untuk menerangkan, bagaimana Yudas bisa menyusup masuk sampai ke daerah dalam, yg tetap tertutup bagi semua orang, kecuali para imam. Mengenai pernyataan orang-orang Yahudi dalam Yoh 2:20, bahwa untuk membangun naos itu diperlukan 46 thn, tak mungkin hanya tempat kudus itu yg dimaksud. Pemakaian naos dengan pengertian yg sama dengan hieron terdapat juga dalam Herodotus (2:170) dan Yosefus (BJ 5:207-211).Mengenai pemakaian harfiah kata 'Bait Suci' dalam PB, bnd 'rumah' (oikos) dan 'tempat' (topos). Mengenai gambaran Bait Suci di Yerusalem pada zaman Tuhan Yesus, lih bagian V di atas. Pemakaian 'Bait Suci' secara kiasan harus dibandingkan dengan pemakaian 'rumah', 'bangunan' (oikodome),'kemah' (skene),'tempat tinggal' (katoiketerion).

a. 'Bait Suci' dalam Kitab-kitab Injil

Sikap Yesus terhadap Bait Suci yg di Yerusalem mengandung dua sisi yg bertentangan. Pada satu pihak, Yesus sangat menghormatinya; tapi pada pihak lain la menganggapnya tidak begitu penting. Maka, la menyebut Bait Suci 'Rumah Allah' (Mat 12:4; bnd Yoh 2:16). la mengajarkan bahwa segala sesuatu yg ada di dalamnya, kudus karena dikuduskan oleh Allah yg diam di dalamnya (Mat 23:17, 21). Gairah terhadap Rumah BapakNya mendorong Dia untuk menyucikannya (Yoh 2:17), dan keprihatinan-Nya akan hukuman yg mengancam kota suci Yerusalem mendorong Dia menangis (Luk 19:41 dab). Berlawanan dengan itu ialah ay-ay di mana Yesus menurunkan martabat Bait Suci ke kedudukan yg rendah. Dia lebih akbar dari Bait Suci (Mat 12:6). Bait Suci telah dipakai menjadi alat penutup bagi kegersangan rohani Israel (Mrk 11:12-26 dgn ps-ps sejajar). Bait itu segera akan binasa, sebab kenajisan yg mengerikan akan membuatnya tidak layak untuk tetap ada (Mrk 13:1 dab, 14 dab). Lih juga Mrk 14:57 dab; 15:29 dab dan ps-ps sejajar. Tapi sikap yg berbeda-beda ini bukanlah tanpa alasan.

Pada awal pelayanan-Nya, Yesus berbicara kepada orang Yahudi dan memanggil seluruh Israel supaya bertobat. Walaupun Israel melancarkan perlawanan, kita lihat Yesus menghimbau Yerusalem (Mrk 11:1 dab dan ps-ps sejajar). Bait Suci itu disucikan dengan maksud memperbaharui orde yg ada (11:15 dab dan ps-ps sejajar). Tapi jalinan pikiran ke-Mesias-an yg ada dalam tindakan ini (Mal 3:1 dab; bnd Psalms of Solomon 17:32 dab; Mrk 11:27 dab) malahan makin menimbulkan permusuhan yg lebih besar di pihak para pemimpin agama, dan Yudaisme, yg tak putus-putusnya bertegar hati dan tak mau diperbaharui, akhirnya dihukum sebagai tidak layak menerima kehadiran ilahi (Mrk 12:1-12).

Jadi Yesus yg mula-mula menghormati Bait Suci, akhirnya mengumumkan bahwa, karena Israel menolak Dia dan membunuh-Nya, itu akan bermuara pada keruntuhan Bait Suci itu sendiri. Maka tuduhan yg dilontarkan pada waktu peradilan dengan mengutip ucapan Yesus, 'Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Ku-dirikan yg lain, yg bukan buatan tangan manusia' (Mrk 14:58; bnd 15:29), merupakan kata-kata akhir yg tepat dengan himbauan Tuhan Yesus kepada umat Yahudi.

Tapi Markus mempertanggungkan ungkapan ini kepada saksi-saksi palsu, dan di mana letaknya kepalsuan dari kesaksian itu, tetap tinggal dugaan di tengah-tengah para ahli. Barangkali yg paling bijaksana ialah, supaya tuduhan ini dimengerti sebagai suatu tindakan yg lihai, yg membaurkan pra ucapan Tuhan Yesus, bahwa Bait Suci Yerusalem akan dimusnahkan (Mrk 13:2 dan ps-ps sejajar) dengan ucapan bahwa Anak Manusia akan dibunuh dan bangkit kembali pada hari yg ketiga (Mrk 8:31; 9:31; 10:34 dan ps-ps sejajar). Artinya, kepalsuan itu terletak dalam kesalahan menalar sesuatu yg sebenarnya diajarkan oleh Yesus. Satu alasan mengapa Markus tidak berusaha untuk memperbaiki salah ungkapan itu, barangkali disebabkan oleh kenyataan bahwa tuduhan itu memang benar dengan arti yg lebih dalam dari apa yg ada dalam benak saksi-saksi itu. Memang ternyata bahwa kematian Yesus mengakibatkan Bait Suci Yerusalem diganti, dan kebangkitan-Nya menempatkan yg lain sebagai gantinya. Bait Suci baru ialah gereja akhir zaman, milik Yesus, Mesias itu (Mat 18:20; bnd Yoh 14:23). Karena itu Lukas dan Yohanes tidak menyinggung para saksi palsu ini, karena tatkala Injil mereka ditulis, mereka lihat bahwa tuduhan itu tidak berdasar lagi.

b. 'Bait Suci' dalam Kisah Para Rasul

Suatu kurun waktu harus berlalu dulu sebelum cabang-cabang pekerjaan Mesias kentara seutuhnya, dan dalam Kis kita lihat para rasul terus beribadah di Bait Suci Yerusalem (Kis 2:46; 3:1 dab; 5:12, 20 dab; bnd Luk 24:53). Kelihatannya, golongan Yahudi-Helenistik yg diwakili oleh Stefanus, adalah yg pertama menyadari, bahwa percaya kepada Yesus sebagai Mesias yg dijanjikan, berarti menghapus tata hidup yg dilambangkan oleh Bait Suci Yerusalem (Kis 6:11 dab). Justru pembelaan Stefanus menjadi suatu serangan terhadap Bait Suci, atau lebih tepat, terhadap sikap hati, yg ditimbulkan oleh Bait Suci (Kis 7). Beberapa ahli tafsir berpendapat, bahwa dalam penolakan Stefanus akan Bait Suci ini terdapat suatu acuan tentang Bait Suci baru yg tidak dibuat oleh tangan manusia; tapi ini agak tidak pasti. Dasar yg lebih teguh ialah Kis 15:13-18. Arti pertama dari 'Pondok Daud' dalam Am 9:11 ialah tentang keturunan raja (atau kerajaan) Daud, tapi pemakaian ay PL ini dalam eskatologi Kaum Perjanjian yg di Qumran untuk menopang pikiran baru mereka mengenai suatu bait suci rohani (CDC 3:9), mengizinkan kita untuk melihat di sini suatu bayangan dari ajaran tentang gereja sebagai Bait Suci Allah yg baru, yg begitu jelas dalam Surat-surat Kiriman.

c. 'Bait Suci' dalam Surat-surat Kiriman

Ajaran tentang gereja sebagai realisasi Bait Suci Mesianik yg terkandung dalam eskatologi PL dan eskatologi antar perjanjian sangat menonjol dalam tulisan-tulisan Paulus. Lih 1 Kor 3:16-17; 6:19; 2 Kor 6:16-7:1; Ef 2:19-22. Keterkaitannya dengan nubuat secara khas sangat kuat dalam 2 Kor 6:16 dab; di sini dikutip dua bagian PL (Im 26:12; Yeh 37:27), yg sudah biasa diterapkan dalam eskatologi Yahudi kepada Bait Suci zaman Mesias (Yobel 1:17). Sifat khas dari sosok Bait Suci dalam 1 dan 2 Kor ialah pengenaannya yg bersifat mengingatkan dan menasihati.

Karena orang Kristen adalah realisasi dari pengharapan yg sudah lama diidam-idamkan sebagai Bait Suci yg mulia, maka mereka sepatutnyalah hidup kudus (2 Kor 7:1; bnd 1 Kor 6:18 dab). Justru kesatuan hati mempersatukan mereka. Dan karena Allah esa, maka hanya satu tempat menjadi tempat tinggal-Nya. Perpecahan berarti menajiskan Bait Suci, dan patut mendapat hukuman maut yg sama ngerinya (1 Kor 3:5-17). Dalam Ef sosok Bait Suci dipakai demi kepentingan ajaran kepercayaan.

Dalam pemikiran penulis, sifat utama gereja ialah tidak membedakan ras. Bahasa kalimat Ef 2:19-22 menjelaskan, bahwa rasul Paulus secara bebas meminjam harapan PL akan pengumpulan Israel dan semua bangsa lain di dalam Bait Suci eskatologis yg di Yerusalem. Ump kata-kata' jauh' dan 'dekat' dalam ay 13 dan 17 (bnd Yes 57:19; Dan 9:7) merupakan terminus technicus (istilah khas) untuk orang kafir dan orang Yahudi (Numbers Rabbah 8:4). Begitu juga kata 'damai sejahtera' dalam ay 14 dan 17 merujuk kepada damai sejahtera akhir zaman yg harus berlaku paling mencolok, bilamana Israel dan bangsa-bangsa dipersatukan dalam ibadah yg satu di G Sion (Yes 2:2 dab; Mi 4:1 dab; Henokh 90:29 dab).

Memang Paulus tanpa diragukan memandang hasil penginjilannya di tengah-tengah orang kafir, sebagai penggenapan dari agama dan pengharapan Yahudi dalam pengungkapannya yg seluas-luasnya. Pengharapan kuno tentang umat manusia dipersatukan kembali, dirohanikannya. Ia menggambarkan orang Yahudi dan orang kafir sebagai kedua dinding dari bangunan yg satu, yg dipersatukan oleh Mesias dan beralas pada Mesias, yaitu batu penjuru paling utama (Ef 2:19-22). Kalimat yg berkata bahwa bangunan itu 'tumbuh' (ay 21) (auksein) menjadi 'bait Allah', memperkenalkan gambaran yg lain, yaitu gambaran tubuh manusia, dan membaurkan kedua gambaran itu. 'Bait' dan 'tubuh' adalah dua istilah ide gereja yg hampir searti. Perhatikanlah, bahwa kedua ide ini dipakai berdampingan dalam Ef 4:12,16.

Hal-hal yg sejajar dengan penggunaan kiasan seperti dilakukan oleh Paulus, yg dapat ditemukan dalam 1 dan 2 Kor, sudah berulang-ulang dicari dalam tulisan-tulisan Filo dan golongan Stoa, dimana perseorangan yg benar disebut 'bait'. Tapi tindakan itu hampir tak ada gunanya. Memang yg dimaksud oleh 1 Kor 6:19-20 ialah perseorangan, tapi hanya sebagai anggota masyarakat, yg bila dipersatukan merupakan bait Allah. Filo dan para humanis Yunani-Roma merohanikan kata 'bait' demi antropologi, sedangkan Paulus terpusat pada eklesiologi dan eskatologi, dan memberi perhatian hanya sedikit sekali terhadap antropologi. Jika seseorang membutuhkan perbandingan, dapat memeriksanya dengan lebih teliti dalam naskah Perjanjian di Qumran (CDC 5:6; 8:4-10; 9:56).

Mengenai 'bait suci' dalam Surat-surat Paulus bnd'rumah' dalam 1 Ptr 2:4-10; di sini jelas sekali bahwa singgungan yg begitu banyak dalam PB tentang hidup Kristen yg bersifat mengorbankan dan beriman, berasal dari pengertian gereja sebagai tempat kudus Allah. Lih juga 'rumah' dalam Ibr 3:1-6.

d. 'Bait Suci' dalam Surat Ibr dan Why

Ide tentang Bait Suci sorgawi, yg lazim di antara masyarakat Semit, dan yg membantu menopang pengharapan Yahudi tatkala kebutuhan-kebutuhan yg mendesak pada zaman antar perjanjian, memperlihatkan bahwa Bait Suci Yerusalem kapan pun tak kunjung menjadi metropolis dunia, dianut oleh orang-orang Kristen perdana. Hal demikian disinggung dalam Yoh 1:51; 14:2 dab; Gal 4:21 dab; dan mungkin dalam Flp 3:20. Kalimat, 'Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita', yg terdapat dalam 2 Kor 5:1-5, bagian yg sudah terkenal sukarnya itu, mungkin juga ada hubungannya dengan ide tadi. Tentu pengertian ini paling banyak diuraikan dalam Surat Ibr dan Why.

Menurut penulis Ibr, tempat kudus yg di sorga ialah contoh (typos), artinya yg asli (bnd Kel 25:8 dab), dan yg dipakai di bumi oleh umat Yahudi ialah suatu 'gambaran dan bayangan' (Ibr 8:5). Maka tempat kudus sorgawi ialah tempat kudus yg sebenarnya (Ibr 9:24). Hal itu menjadi milik dari umat PB (Ibr 6:19-20). Lagipula, kenyataan bahwa Mesias, Imam Besar, memasuki tempat kudus ini, berarti kita walaupun masih berada di bumi ini, sudah turut dalam ibadah itu (10:19 dab; 12:22 dab). Apakah Bait Suci ini? Penulis menyediakan kunci untuk memahaminya waktu dia berkata, bahwa tempat kudus sorgawi ditahirkan (9:23), artinya dibuat sedia untuk dipakai (bnd Bil 7:1). Jemaat anak-anak sulung (Ibr 12:23), artinya, gereja sudah menang, dan itulah Bait Suci sorgawi.

Bait Suci sorgawi dalam Why ialah bagian dari rencana pengrohanian yg dilakukan oleh penulis. Perlu juga diperhatikan G Sion sorgawi (Why 14:1; 21:10) dan Yerusalem baru (Why 3:12; 21:2 dab). Dalam kenyataannya yg ditunjukkan kepada nabi yg di Patmos ialah dua Bait Suci, satu yg di sorga dan yg satu lagi di bumi. Yg terakhir inilah yg dimaksud dalam 11:1 dab. Gereja Kristen yg teguh ulet kendati menghadapi bermacam kendala, digambarkan dengan samaran Bait Suci Yerusalem, atau lebih tepat, dengan samaran tempat kudus dalam Bait Suci Yerusalem, sebab halaman muka, yaitu golongan yg suam-suam yg ada di pinggir gereja, dikucilkan dari patok ukuran. Gambaran itu sedikit menyerupai Za 2:5, dan kelihatannya artinya sama dengan orang yg 144.000 yg dimeteraikan dalam 7:1-8. Yg diukur itu, atau yg dihitung, ialah orang pilihan yg dilindungi Allah.

Pengrohanian sejajar jelas ada dalam penglihatan penulis tentang Bait Suci yg di sorga. Di puncak bukit Sion yg dilihatnya bukanlah suatu bangunan yg sangat indah, tapi kumpulan orang-orang yg sudah ditebus (14:1; bnd 13:6), Bahwa Yohanes bermaksud supaya pembacanya memandang kumpulan orang-orang martir sebagai pengganti Bait Suci, sudah disinggung dalam Why 3:12, 'Barangsiapa yg menang, ia akan Ku-jadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu.' Maka Bait Suci sorgawi 'tumbuh', seperti bait padanannya yg ada di bumi (lih di atas Ef 2:21 dab), sesudah tiap orang yg setia memeteraikan kesaksiannya dengan meterai martir. Akhirnya bangunan itu akan menjadi lengkap seutuhnya, bila jumlah yg sudah ditetapkan dari orang-orang pilihan sudah genap (6:11). Dari Bait Suci yg terdiri dari insan-insan hidup inilah dicurahkan Allah hukumanNya kepada bangsa-bangsa yg tidak mau bertobat (Why 11:19; 14:15 dab; 15:5-16:1), tepat seperti Dia pada suatu kali telah menentukan nasib bangsa-bangsa dari Bait Suci Yerusalem (Yes 66:6; Mi 1:2; Hab 2:20).

Di Yerusalem baru tak ada Bait Suci (Why 21:22). Dalam Kitab seperti Why, yg begitu ketat mengikuti gambaran-gambaran dan pola-pola pikiran tradisional, gambaran Yerusalem tanpa Bait Suci benar-benar suatu hal yg baru. Pernyataan Yohanes bahwa dia 'tidak melihat Bait Suci di dalamnya, sudah diterima dengan pengertian bahwa seluruh kota itu merupakan satu Bait Suci; perhatikanlah bahwa kota itu berbentuk kubus (Why 21:16), seperti tempat mahakudus di Bait Suci Salomo (1 Raj 6:20). Tapi bukan itu yg dikatakan Yohanes. Dia menyatakan dengan sederhana bahwa Allah dan Anak Domba itulah Bait Suci. Apa yg sangat mungkin dimaksudkannya ialah, bahwa pengganti Bait Suci adalah Allah dan AnakNya.

Memang agaknya inilah yg menjadi kesimpulan luhur, dan ke arah itulah pembaca dipersiapkan oleh penulis. Pertama-tama diumumkannya secara dramatis bahwa Bait Suci sorgawi sudah dibuka dan isinya terbentang bagi mata manusia (11:19). Kemudian ditunjukkanlah isyarat bahwa tempat berdiam Allah tak lain tak bukan ialah Allah sendiri (21:3; perhatikanlah permainan kata ttg skene dan skenosei). Akhirnya diungkapkannya secara terang-terangan bahwa Bait Suci ialah Allah Yahweh Yg Mahakuasa dan Anak Domba. Satu demi satu pemisah yg memisahkan manusia dari Allah disingkirkan, sampai tak ada suatu apa pun yg dapat menyembunyikan Allah dari umat-Nya. 'Mereka akan melihat wajah-Nya' (22:3 dab; bnd Yes 25:6 dab). Inilah hak istimewa yg gilang-gemilang bagi semua orang yg masuk ke Yerusalem baru.

Maka pemakaian pola pikiran kuno, yaitu pengumpulan dan penyatuan Israel dengan bangsa-bangsa di Bait Suci akhir zaman itu, oleh penulis Why berbeda dari pemakaian Paulus, walaupun benar ada sifat melengkapi juga. Paulus, seperti sudah dikemukakan di atas, mengenakannya kepada gereja di bumi ini; Yohanes memproyeksikannya ke keadaan yg di sorga dan ke keadaan dunia yg akan datang. Perbedaannya ialah lukisan yg lain mengenai sifat kelihatan gambar sosok Bait Suci.

KEPUSTAKAAN. P Bonnard, Jesus-Christ edifiant son Eglise, 1948; A Cole, The New Temple, 1950; Y. M. J Congar, The Mystery of the Temple, 1962; M Fraeyman, 'La Spiritualisation. de l'Idee du Temple dans les Epitres pauliniennes', Ephemerides Theologicae Lovanienses, 23, 1947, hlm 378-412; G Kittel, TWNT, lih hieron, naos, oikodome, oikos; M Simon, 'Le discours de Jesus sur la ruine du temple', RB 56, 1949, hlm 70-75; P Vielhauer, Oikodome, dissertation, 1939; H Wenschkewitz, 'Die Spiritualisierung der Kultusbegriffe Tempel, Priester and Opfer im Neuen Testament', Angelos 4, 1932, hlm 77-230; B Gartner, The Temple and the Community in Qumran and the New Testament, 1965; R. J McKel-vey, The New Temple, 1969; TDNT 3, hlm 230-247; TDNT 4, hlm 880-890; TDNT 5, hlm 119-130, 144-147; NIDNTT 3, him 781-798. ARM/RJMcK/MHS




TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.05 detik
dipersembahkan oleh YLSA