: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
2576 | 2577 | 2578 | 2579 | 258 | 2583 | 2584 | 2585 | 2586 | 2587 | 2588
Daftar Isi
BARCLAY: 2583
HAAG: Kanon
BROWNING: KANON

2583

[Barclay]

Strongs #2583:

onov [maskulin] batas, daerah kerja; patokan

Kanon [haag]

Kanon.

  1. (I). PENGERTIAN. Pengertian dasar kata Yun. "kanon" adalah sama dengan kata Ibr. "kaneh": teberau. Lewat arti "teberau pengukur" timbul arti kiasan "alat pengukur", "norma" (Hal itu dapat dilihat pada PB: 2Kor 10:13-16; Gal 6:16). Sejak pertengahan abad 4 kumpulan buku Alkitab disebut K. Suatu tulisan yang "diinspirasikan", oleh karena tulisan itu berasal dari Allah. Sebuah tulisan adalah "kanonik", apabila asal ilahinya dikenal oleh Gereja dan diakui secara resmi. Di dalam bahasa ungkapan pengertian katolik diadakan pembedaan antara kitab-kitab protokanonik (: masuknya kitab-kitab tersebut pada ~K tidak pernah diragukan di dalam Gereja) dan kitab-kitab deuterokanonik (: mengenai inspirasi untuk kitab-kitab tersebut tersangkal pada saat-saat tertentu atau pada tempat-tempat tertentu). Tujuh buah Kitab PL (: Tob., Ydt., Bar., Keb., Sir., 1 Mak.) pada akhir abad 1 sesudah Mas. tidak dimasukkan ke dalam ~K oleh bangsa Yahudi. Oleh karena itu di dalam Gereja Katolik dianggap menjadi Kitab Deuterokanonik. Tata penggunaan bahasa kristen protestan membedakan Kitab-kitab Apokrif (: Katolik adalah Kitab Deuterokanonik) dan Kitab-kitab pseudoepigraf (: Katolik adalah apokrif).
  2. (II). KANON PL.
    1. (1) ~K Yahudi. Bangsa Yahudi menggunakan kata-buatan "ternak" untuk menyebut Alkitab (: diambil dari awal huruf: Torah, Nebiim, Ketubim = Hukum, para nabi dan kitab-kitab (lainnya). Torak (: Pentateukh) dianggap sebagai inti wahyu illahi dan memiliki kewibawaan tertinggi. Di dalam Kitab-kitab para nabi tradisi Yahudi membedakan antara para nabi "yang lebih kuno" (Yes., Hak., Sam., dan Raj.) serta para nabi "yang lebih muda waktunya" (Yes., Yer., Yeh., dan Kitab ke-12 nabi). Kelompok ketiga, yang masih disebut "Kitab-Kitab" secara samar ialah gabungan apa saja yang masih terdapat di dalam sastra Alkitab, pada waktu setelah kedua kelompok pertama itu ditutup. Di dalam prakata yang dilakukan oleh penterjemah Yunani pada Kitab Sir. (sekitar 130 seb. Mas.) telah diketemukan ketiga pembagian itu: Hukum, Nabi-nabi, Kitab-kitab (para bapa) lainnya. Pembagian itu dipakai juga di dalam PB. Tetapi di dalam PB sering terungkap kata "hukum" untuk menyebutkan keseluruhan Kitab PL. Sejak abad 4 seb. Mas. Pentateukh dan Kitab para Nabi dipandang sebagai kesatuan-kesatuan besar yang harmonis (Kitab Dan yang ditambahkan di waktu kemudian tidak ikut dihitung). Mengenai keseluruhan isi Kitab LXX Yahudi tidak ada kejelasan. Naskah-naskah yang tertua berasal dari abad 4 ses. Mas. dari tangan para penulis Kristen. Namun, yang jelas adalah kenyataan, bahwa para penterjemah LXX juga memasukkan kitab-kitab lain di dalam terbitannya dan melampaui batas-batas ~K - Yahudi yang resmi. Kelunakan yang sama, yang dahulu menguasai pandangan mengenai isi ~K bagi tradisi Yahudi pada abad 3-1 seb. Mas., dapat pula dilihat kembali pada abad 1 ses. Mas.: Beberapa nukilan pada PB merupakan sindiran-sindiran mengenai kitab-kitab deuterokanonik. Setidak-tidaknya sekali ada kutipan jelas - sebagai nubuat -, dari kitab apokrif (Ydt 14:1 = Henokh). Jemaat Kumran menggunakan pula Kitab-kitab deuterokanonik. Nampaknya mereka samakan kitab-kitab mereka dengan Kitab Suci dari Yudaisme resmi. Sinode Yahudi dari Yabne (90/95 ses. Mas.) menetapkan ~K dari 24 Kitab: Kej., Kel., Im., Bil., Ul., Yos., Hak., Sam., Raj., Yes., Yer., Yeh., XII Nabi, Mazm., Ayub, Ams., Rut., Kid., Pkh., Rat., Est., Dan., Ezr./Neh. dan Taw.
    2. (2) ~K kristen. Meskipun ditemukan perlawanan dari beberapa perorangan Bapa Gereja pada abad 3-5, namun Gereja mengambil-alih K LXX yang diperluas sebagai miliknya. Tetapi di dalam tradisi LXX itu juga tidak ditemukan adanya sebuah kesatuan. Pada waktu sekarang ini, bila kita perhatikan terbitan cetak tangan dari Swete dan Rahifs, maka di situ tidak hanya ditemukan semua kitab deuterokanonik bersama tambahan-tambahannya pada Dan. dan Est., melainkan juga 2 Ezr., 3/4 Mak., Mazm. Salomo dan Doa Manasye. Melito dari Sardes (+ sekitar 190) merupakan Bapa Gereja pertama yang meninggalkan sebuah petunjuk daftar ~K kepada kita. Di situ hanya dimuat kitab-kitab protokanonis tanpa Est. Hampir semua para Bapa Gerejani Yunani dan Latin berpegang teguh pada Kitab-kitab Deuterokanonik. Di bawah pengaruh Agustinus timbullah putusan-putusan pertama lewat konsili dalam abad ke-4: Penetapan kitab-kitab biblik pada konsili regional dari Hipo (393) dan pada konsili ke-3 serta ke-4 dari Kartago (397; 419). Putusan itu diambil-alih oleh konsili Trente.- Yang pertama kali membuka diskusi tentang ~K di kalangan para Reformator adalah Karlstadt (1520). Di situ diadakan diskusi yang melulu didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sejarah. Luther mengambil kriterium ~K dari kedekatan jarak suatu Kitab pada pewartaan kristen dan menaruh kitab-kitab Deuterokanonis maupun Est., Taw., dan Pkh., di luar K. Di kemudian waktu pandangannya ditinjau kembali olehnya. Alkitab Gereja Ortodoks sama isinya dengan Alkitab Gereja Katolik, yang masih ditambah dengan kitab-kitab Ezr. dan 3 Mak.
  3. (III). ~K DARI PB. Gereja purba bukan hanya memandang PL sebagai kesaksian yang tidak boleh diabaikan dari wahyu dan diselesaikan dengan kedatangan Yesus Kristus, oleh karena itu, semakin kuat Yudaisme menggunakan kesempatan untuk memakai PL sebagai alat melawan iman terhadap Kristus, maka semakin kuat pula Gereja menerima PL menjadi Alkitab mereka. Penggunaan kitab-kitab kristen yang tertua (surat-surat, injil-injil) sebagai kitab bacaan liturgi dan semakin meluasnya penyaluran kewibawaan sabda Yesus, ajaran para rasul dan para muridnya, yang di dalam pewartaan dan perbuatannya membenarkan kitab-kitab, maka kesaksian-kesaksian mengenai pewartaan dan perbuatan mereka lambat-laun menyebabkan, bahwa tulisan-tulisan itu ditangkap sebagai "Kitab Suci" Gereja dan disejajarkan dengan PL. Keempat Injil memperoleh wibawa kanonik sejak pertengahan abad kedua. Surat-surat Paulus baru dikutip sebagai Kitab Suci pada sekitar tahun 180 sesudah Masehi. Usaha Marcion untuk memperkecil jumlah dokumen perwahyuan dan membanjirnya kitab-kitab baru, membuktikan perlunya diadakan perlindungan terhadap tradisi para rasul atas aliran-aliran yang dapat memalsukannya. Baru pada pertengahan kedua dari abad ke-4 instansi gereja bisa mengakhiri suasana tidak menentu yang sudah lama berkemelut. Kumpulan 27 Kitab ~K yang untuk pertama kalinya dihitung oleh Athanasius (367) cepat sekali meluas di Barat dan pelan-pelan dapat meluas pula di daerah Timur. Akhirnya ditetapkan secara definitif oleh dekrit konsili Trente pada tahun 1546 perihal jumlah dan luas maupun panjangnya kitab-kitab itu.

KANON [browning]

Dalam bahasa Yunani kata ini berarti 'penggaris' atau 'ukuran', dan dikenakan pada kitab-kitab dalam Alkitab yang dianggap otoritatif. Namun, baik dalam PL, maupun dalam PB, proses finalisasi kanon berlangsung secara bertahap dari kontroversial. Orang Yahudi sepakat bahwa *Pentateukh dalam bentuk akhirnya setelah *pembuangan di *Babel merupakan asas. Setelah itu, Kitab Nabi-nabi, yang meliputi Yosua dan kitab-kitab historis, sebagai mana halnya dengan Nabi-nabi Besar dan Nabi-nabi Kecil, diterima, tetapi tidak diterima oleh *orang Samaria. Akhirnya bagian yang disebut Kitab-kitab (Ketubim), yang terdiri dari 11 kitab Ibrani lainnya, diterima pada abad pertama M, meskipun tidak selalu dalam urutan yang sama. Para rabi yang mengajar di *Yamnia dianggap bertanggung jawab atas finalisasi kumpulan kitab-kitab itu. Di atas semua itu, yang mereka lakukan adalah mengeluarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Yunani, yang secara luas dibaca di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Kitab-kitab itulah yang kemudian dikenal sebagai Kitab-kitab *Apokrifa. Namun, pada abad pertama M pikiran mengenai kanon PL yang pasti masih sangat longgar, sehingga dapat dimengerti jika Surat Yudas (ayat 14-16) mengutip dari 1 Enokh, seakan-akan Kitab Suci, sekalipun kitab itu tidak diterima sebagai kitab kanonik. Umat Kristen yang hidup dalam dunia Helenistis, memang menerima PL Yun yaitu *Septuaginta (LXX), sebagai Kitab Sucinya. Septuaginta memuat juga kitab-kitab yang dikeluarkan dari kanon Ibrani, seperti Kebijaksanaan Salomo, Yesus ben Sirakh, 1 dan 2 Makabe. Ketika Hieronimus menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin, ia belajar dari para sarjana Yahudi bahwa kitab-kitab tersebut dianggap sebagai kitab sekunder (meskipun oleh orang-orang Yahudi Helenis). Dengan demikian ia menolak memasukkannya ke dalam Alkitab Latinnya. Namun demikian, pandangan Hieronimus tidak diterima umum Kitab-kitab itu, yang disebut '*deuterokanonik' (derajat kedua), digabungkan ke dalam *Vulgata dari versi Latin tua dan otoritasnya dipertahankan, sebagaimana berlanjut menjadi doktrin Gereja Katolik Roma. Pada waktu Reformasi Kitab-kitab Apokrifa dikeluarkan oleh kaum Protestan dari Kitab Suci yang otoritatif. Dengan demikian, ketika artikel 6 dari 39 Artikel Anglikan menyatakan bahwa PL (Kitab-kitab Ibrani) dan PB berisi segala hal yang perlu bagi *keselamatan, hal tersebut menegaskan bahwa Alkitab memuat jumlah maksimum kitab-kitab rohani, yang dapat dianggap memiliki otoritas bagi umat Kristen Anglikan. Namun demikian, Kitab-kitab Apokrifa selalu dicetak di antara kedua Perjanjian dan bagian-bagiannya dimasukkan ke dalam *bacaan-bacaan alternatif dalam ibadah umum. Namun, kenyataannya proses tersebut membutuhkan waktu, seperti halnya dalam finalisasi daftar PB. Banyak perkataan Yesus yang jarang diucapkan (yang dikenal sebagai *agrafa) dan beberapa kitab, kadang-kadang dikutip oleh Bapa-bapa Gereja Perdana sebagai kitab-kitab otoritatif, meskipun kitab-kitab itu tidak termasuk ke dalam kanon terakhir, dengan 27 kitab itu. Tahap-tahap penting proses pengakuannya adalah sebagai berikut: 1. Surat-surat dialamatkan ke berbagai jemaat, mereka simpan, dan pada waktunya, surat-surat Paulus membentuk suatu kumpulan. Menurut perkiraan, hal tersebut merupakan jasa *Onesimus; dan Surat Efesus, yang meringkaskan pemikiran-pemikiran pokok Paulus, merupakan pengantar editorial untuk korpus ini. Tradisi lisan mengenai Yesus tetap diulang-ulang dan banyak yang bernilai sebagai 'tradisi hidup' (*Papias). Namun, pada waktunya tradisi tersebut diteruskan ke dalam bentuk tertulis, yakni dalam keempat *Injil, Yang secara regular dikutip, sejak pertengahan abad kedua M. Penerimaan *kodeks (kitab) oleh umat Kristen, sebagai pengganti gulungan, mungkin berpengaruh pada komposisi kanon. Keempat Injil yang dengan baik sekali dikemas ke dalam kodeks tersendiri cenderung mengesampingkan pesaing-pesaing alternatifnya. 2. Bidat *Marcion, sekitar tahun 140 M, menerbitkan PB-nya sendiri, yang terdiri dari sebagian besar Luk. dan 10 surat-surat Paulus, yang tampaknya bertentangan dengan kumpulan yang lebih besar yang telah beredar dalam Gereja Katolik. 3. *Irenaeus, sekitar tahun 180 M, mengutip sebagian besar kitab-kitab PB yang dianggap mempunyai wibawa sederajat dengan PL. 4. Fragmen *Muratori, mungkin dari sekitar tahun 190 M, memberikan daftar yang mencakup: empat Injil (Matius secara kesimpulan -- bagian awal dokumen ini hilang), Kisah Para Rasul, 13 surat Paulus, Surat-surat Yohanes, Yudas dan Wahyu. Tetapi, tidak memuat Ibrani, Yakobus, 1 dan 2 Petrus. Gembala Hermas diterima sebagai bacaan pribadi, dan diakui bahwa mengenai Wahyu Petrus, Gereja terbagi. 5. Klemens dari Aleksandria (meninggal tahun 215 M) mengakui 14 surat Paulus (Ibrani termasuk di dalamnya). Yakobus, 2 Petrus, 3 Yohanes tidak disebut, tetapi ia menerima Gembala Hermas. 6. Eusebius (...340 M) memiliki tiga klasifikasi, yaitu: kitab-kitab yang diterima, yang dipermasalahkan, dan yang ditolak. Yang termasuk dalam kategori pertama adalah: empat Injil, Kisah Para Rasul, 14 surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes, dan (dengan ragu-ragu) Wahyu. Pada kategori kedua, Yakobus, Yudas, 2 Petrus, serta 2 dan 3 Yohanes, dianggap sebagai yang secara luas diakui, dan yang lebih rendah dari itu adalah: *Didakhe, Kisah Para Rasul, Wahyu Petrus, Gembala Hermas, dan Surat Barnabas. Kitab-kitab yang ditolak sama sekali adalah: Injil Petrus, Injil Tomas dan Injil Matias. 7. Athanasius dari Aleksandria menulis sepucuk surat pada tahun 367 M, memberikan daftar 27 kitab PB (dan beberapa yang lain hanya untuk bacaan pribadi). Hal ini menjadi bukti pertama kanon akhir lengkap dari Kekristenan Timur. 8. Kriteria Augustinus diterima secara umum dan pada tahun 393 jemaatnya di Afrika Utara mengikuti Athanasius. Hieronimus menerbitkan Vulgatanya pada tahun 405, dan di Barat hal ini bersifat menentukan bagi mapannya isi kanon. Namun, Hieronimus menerima Surat Ibrani dan Wahyu dengan segan, hanya dengan dasar bahwa kedua kitab tersebut diakui oleh Bapa-bapa Gereja Perdana. 9. Konsili Kartago (397 M) melarang kitab-kitab non-kanonik dibaca secara umum, dan melampirkan daftar resmi ke-27 kitab. Ketetapan kanon resmi merupakan pertahanan Katolikisme Ortodoks dalam melawan aliran bidat-bidat seperti *Gnostikisme dan Montanisme. Kriteria penerimaannya antara lain: kepenulisannya oleh seorang rasul; reliabilitas dari saksi Yesus Kristus, dan kesepakatan luas Gereja-gereja. Pada saat Reformasi, Martin Luther menerjemahkan semua kitab PL dan PB ke dalam bahasa Jerman, namun menggeser Kitab-kitab Apokrifa PL menjadi apendiks (lampiran), juga Yakobus, Ibrani, Yudas dan Wahyu (tidak menjadi preseden yang diikuti oleh Gereja-gereja Lutheran modern).



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA