kecilkan semua
Teks -- Mazmur 119:156 (TB)

Paralel
Ref. Silang (TSK)
Ref. Silang (FULL)
ITL
Nama Orang, Nama Tempat, Topik/Tema Kamus



kecilkan semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per frasa)
Full Life -> Mzm 119:1-176
Full Life: Mzm 119:1-176 - HIDUPNYA TIDAK BERCELA.
Nas : Mazm 119:1-176
Mazmur ini mengungkapkan kasih yang agung untuk firman Allah yang
tertulis. Firman Allah disebutnya sebagai janji, perintah, p...
Nas : Mazm 119:1-176
Mazmur ini mengungkapkan kasih yang agung untuk firman Allah yang tertulis. Firman Allah disebutnya sebagai janji, perintah, pedoman, kesaksian, ajaran, hikmat, kebenaran, keadilan, dan teguran. Firman Allah disajikan sebagai penghiburan, perlindungan, harta, patokan hidup, kebahagiaan hati dan jiwa, dan sumber jawaban segala kebutuhan.
- 1) Pemazmur mengungkapkan kasih yang mendalam bagi Allah dengan membaca, merenungkan, dan mendoakan Firman-Nya. Ia mengajarkan bahwa kita akan bertumbuh dalam kasih karunia dan kebenaran hanya bila kasih akan Firman itu bertumbuh dalam diri kita.
- 2) Mazmur ini disebut sebagai akrostik abjad karena ke-22 baitnya (atau alinea) yang terdiri dari delapan ayat masing-masing cocok dengan ke-22 huruf abjad Ibrani. Setiap ayat dari setiap alinea dimulai dengan huruf yang dipakai untuk bait itu.
Jerusalem -> Mzm 119:1-176
Jerusalem: Mzm 119:1-176 - Bahagianya orang yang hidup menurut Taurat TUHAN Sajak yang paling panjang dalam seluruh kitab Mazmur ini boleh juga diberi judul: Pujian atas Taurat yang membahagiakan manusia. Mazmur ini berasal da...
Sajak yang paling panjang dalam seluruh kitab Mazmur ini boleh juga diberi judul: Pujian atas Taurat yang membahagiakan manusia. Mazmur ini berasal dari kalangan orang berhikmat (dan ahli-ahli Taurat) dan muncul di zaman belakangan. Ia tersusun menurut abjad Ibrani, bdk Maz 9:1-10:18+, begitu rupa sehingga tiap-tiap kali delapan ayat berturut mulai dengan huruf yang sama lalu menyusul delapan ayat yang diawali huruf abjad yang berikut. Begitu terbentuk 22 bait. Susunan semacam itu agak dibuat-buat. Selebihnya tiap-tiap ayat (kecuali ayat 122 dalam naskah Ibrani) memuat salah satu kata yang searti dengan "Taurat". Hanya istilah "taurat" perlu di mengerti secara luas, bdk Ula 4:5+ Yang dimaksud ialah seluruh wahyu Tuhan serta penyataannya yang menjadi pemimpin manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan. Pemazmur sungguh pencinta Taurat sebagai karunia Tuhan yang unggul. Dengan sebulat hati ia menyerahkan diri kepada Taurat oleh karena dengan jalan itu ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan sendiri Mazmur yang panjang ini sudah mendapat pendahuluannya dalam Maz 19:8-14 dan menyatakan semangat yang sama, Maz 119 menjadi semacam tugu peringatan kesalehan yang menjadi milik khas umat Israel sesudah masa pembuangan. Di dalamnya dipersatu-padukan aliran kenabian, aliran hikmat dan aliran "ahli-ahli Kitab" yang jatuh cinta kepada Tuhan dan sekuat tenaga berusaha mewujudkannya dalam hidupnya.
Ende -> Mzm 119:1-176
Ende: Mzm 119:1-176 - -- Mazmur kebidjaksanaan ini, lagu pudjian atas Taurat, adalah jang lebih pandjang
dalam Kitab Mazmur. Ia tersusun menurut abdjad Hibrani, hingga tiap2 b...
Mazmur kebidjaksanaan ini, lagu pudjian atas Taurat, adalah jang lebih pandjang dalam Kitab Mazmur. Ia tersusun menurut abdjad Hibrani, hingga tiap2 bagian (22 djumlahnja) mulai dengan huruf jang berikut. Lagi pula setiap ajat bagian masing2 mulai dengan huruf jang sama, hingga delapan kali huruf jang sama diulangi. Tambahan dalam tiap2 ajat terdapat suatu perkataan jang berarti: Taurat (ketjuali ajat 122(Maz 119:122) dalam naskah Hibrani, jang agaknja harus diperbaiki). akibat semuanja itu ialah: Mazmur ini sangat buat2an
Taurat disini (dan kata2 jang sama artinja) bukan artinja perintah2 dan hukum2 sadja, melainkan semua djandji, adjaran dan antjaman allah, hingga Taurat hampir sama dengan agama, seperti itu patut dilakukan oleh manusia. Mazmur 110 (Maz 110) menjerupai Maz 19:7-14.
Ref. Silang FULL -> Mzm 119:156
Ref. Silang FULL: Mzm 119:156 - Rahmat-Mu berlimpah // Tuhan, hidupkanlah // dengan hukum-hukum-Mu · Rahmat-Mu berlimpah: Neh 9:27; Neh 9:27; Yak 5:11
· Tuhan, hidupkanlah: Mazm 119:25
· dengan hukum-hukum-Mu: Mazm 119:149
· Rahmat-Mu berlimpah: Neh 9:27; [Lihat FULL. Neh 9:27]; Yak 5:11
· Tuhan, hidupkanlah: Mazm 119:25
· dengan hukum-hukum-Mu: Mazm 119:149

kecilkan semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per Ayat)
Wycliffe: Mzm 107:1--150:1 - -- JILID V. MAZMUR 107-150.
Jilid kelima dari lima bagian ini mencakup beberapa koleksi atau kelompok mazmur yang lebih kecil. Nyanyian-nyanyian Ziarah ...
JILID V. MAZMUR 107-150.
Jilid kelima dari lima bagian ini mencakup beberapa koleksi atau kelompok mazmur yang lebih kecil. Nyanyian-nyanyian Ziarah dan Mazmur-mazmur Haleluya (111-113, 115-117, 146-150) jelas adalah bagian inti yang di sekitarnya mazmur-mazmur lain dikelompokkan bersama. Sebelum ada pembagian menjadi lima bagian ini, mungkin ada pembabakan menjadi tiga bagian di mana Jilid IV dan V merupakan sebuah kumpulan besar. Seluruh bagian secara nyata memperlihatkan tujuan liturgis; yang menimbulkan rasa ibadah bersama yang mendalam, yang mencapai puncak dalam kata-kata penutup Mazmur 150: "Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan. Haleluya."

Wycliffe: Mzm 119:1-176 - -- Mazmur 119. Taurat Tuhan
Mazmur yang pada dasarnya adalah sebuah syair didaktis ini berbentuk sebuah kesaksian pribadi. Kendatipun syair tersebut ber...
Mazmur 119. Taurat Tuhan
Mazmur yang pada dasarnya adalah sebuah syair didaktis ini berbentuk sebuah kesaksian pribadi. Kendatipun syair tersebut berisi kiasan-kiasan mengenai penganiayaan dan memperlihatkan ciri-ciri khas tertentu dari ratapan, tujuan utamanya ialah mengagungkan Tôrâ (Taurat atau Ajaran Allah). Pemazmur menujukan hampir setiap ayat untuk Allah, dengan menggunakan berbagai bentuk permohonan. Pada saat bersamaan, dia menggunakan sinonim tertentu untuk Taurat itu, kecuali pada tujuh ayat. Sinonim itu adalah: taurat, peringatan-peringatan, titah-titah, hukum-hukum, perintah-perintah, ketetapan-ketetapan, perkataan-perkataan, firman, hidup, dan jalan. Mungkin, ketika memakai sepuluh istilah tersebut untuk menerangkan Taurat Allah, dia sedang mengikuti petunjuk dari Mazmur 19:8-10, di mana enam sinonim untuk taurat itu dipergunakan.
Prinsip akrostik sangat dikembangkan dalam mazmur ini, dengan menggunakan dua puluh empat huruf dari abjad Ibrani. Masing-masing stanza atau bait terdiri dari delapan baris, dimulai dengan huruf yang menjadi ciri khas bait tersebut. Susunan artifisial namun artistik ini menimbulkan suasana monoton tertentu karena banyaknya pengulangan kata-kata dan frasa-frasa. Tetapi, keadaan monoton yang mekanis ini diatasi oleh tingginya pengabdian pemazmur sendiri pada ajaran-ajaran Allah.

Wycliffe: Mzm 119:153-160 - Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku // hidupkanlah aku 153-160. Kesadaran akan Kebutuhan. Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku. Perulangan kata-kata hidupkanlah aku pada ayat 154, 156, dan 159 secara je...
153-160. Kesadaran akan Kebutuhan. Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku. Perulangan kata-kata hidupkanlah aku pada ayat 154, 156, dan 159 secara jelas menunjukkan betapa hebat kesengsaraan si pembicara serta pemahamannya tentang kebutuhan pribadinya. Pemazmur mempunyai harapan dan keyakinan bahwa selama-lamanya hukuman-hukuman Allah itu adil.

buka semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Rentang Ayat
SH: Mzm 119:145-160 - Tuhan penolong satu-satunya. (Selasa, 4 Juni 2002) Tuhan penolong satu-satunya. Seperti halnya orang-orang yang berusaha melakukan segala sesuatu dengan tulus dan jujur mengalami berbagai tekanan, agak...
Tuhan penolong satu-satunya.
Seperti halnya orang-orang yang berusaha melakukan segala sesuatu dengan tulus dan jujur mengalami berbagai tekanan, agaknya pemazmur pun mengalami hal yang sama. Penderitaan pemazmur karena melakukan yang benar, makin berat dan memuncak. Tetapi, keadaan ini tidak membuatnya menjauhi Allah, justru dengan konsentrasi penuh, dan dengan segala kekuatan yang ada padanya, ia berteriak minta tolong kepada Allah (ayat 145). Ia tidak menyisakan lagi tenaga dan pikirannya ketika berseru kepada Allah. Hal itu dilakukan bukan karena Tuhan tuli atau tidak mau mendengarkan seruannya, tetapi karena kepasrahan yang utuh dan penuh kepada Tuhan.
Kita melihat dua hal penting dalam sikap pemazmur ini. Pertama, ia sadar bahwa tiada sesuatu pun di dunia yang dapat menolongnya dari penderitaan ini, kecuali Tuhan. Kedua, ia juga tahu bahwa melepaskan dan melupakan Taurat hanyalah menambah beban penderitaannya, dan itu bukan jalan keluar sebab jalan keluar hanya ada pada Allah sebagai satu-satunya sumber kebaikan.
Semakin beratnya beban penderitaan pemazmur disebabkan semakin banyak orang-orang yang menjauhkan diri dari Taurat Tuhan yang mengejar pemazmur dengan maksud jahat (ayat 150). Namun, ia mengetahui cara untuk dapat bertahan, yaitu dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhannya tidak pernah menjauhkan diri dari orang-orang yang mencintai Dia dan Taurat-Nya (ayat 147,148). Dari pemazmur kita belajar hal penting tentang kedekatan hubungannya dengan Allah, yaitu pemazmur merasa bahwa di dalam Taurat-Nya ia berjumpa dengan perkataan Allah yang menguatkan iman.
Renungkan: Banyak orang menjauhkan diri dari Allah karena menganggap bahwa Allah juga menjauhkan diri darinya sebab penderitaan yang dialaminya. Anggapan ini sangat salah karena Allah tidak pernah menjauhkan diri dari manusia. Bahkan ketika manusia kehilangan harapan karena pemberontakannya sendiri, karena dosa, Tuhanlah yang berinisiatif datang dan menebus manusia melalui Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal.

SH: Mzm 119:145-160 - Permohonan terus-menerus (Minggu, 29 Agustus 1999) Permohonan terus-menerus
Bila firman Tuhan dipegang dan dilaksanakan dengan setia dan
bertanggungjawab, pasti hidup ini diwarnai dengan penuh
...
Permohonan terus-menerus
Bila firman Tuhan dipegang dan dilaksanakan dengan setia dan
bertanggungjawab, pasti hidup ini diwarnai dengan penuh
keadilan, kebenaran dan kesetiaan. Pemazmur sungguh menyakini
bahwa unsur-unsur inilah yang sangat merupakan kebutuhan untuk
merasakan, menikmati hidup berbahagia dalam dunia yang serba
tidak adil, tidak benar dan tidak setia. Untuk dapat mewujudkan
masyarakat yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu suatu
komunitas Ilahi, seperti halnya yang dilakukan oleh pemazmur,
yaitu tiada henti, terus-menerus memohon pertolongan Tuhan, agar
kita dimampukan melaksanakan hukum-hukum Tuhan dengan baik dan
benar.
Pergumulan untuk setia. Sekalipun permohonan terus-menerus dipanjatkan, tetapi godaan di sekitar pun semakin gencar mempengaruhi. Salah satu pepatah mengatakan: "Lebih mudah melakukan sesuatu yang buruk dari pada yang baik". Demikianlah, setia pada hukum-hukum Tuhan akan banyak pergumulan. Tantangan dari diri sendiri berarti godaan, tetapi juga ancaman dari luar, dari sesama kita. Karena Taurat Tuhan, pemazmur ada dalam sengsara. Justru dalam keadaan ini, maka ia memerlukan pertolongan. Ia sadar bahwa bantuan itu bukan dari dirinya sendiri, bukan pula dari orang-orang sekitarnya, melainkan dari Tuhannya. Karena itu tidak putus-putusnya ia berseru kepada Tuhan, minta pertolongan-Nya. Betapa teguh pegangannya dan kuat imannya, sehingga tidak satu hal pun dapat menceraikannya dari Tuhan dan hukum-hukum-Nya.
Mengikuti jejak langkah pemazmur. Hidup di tengah-tengah tantangan dan ancaman membutuhkan kerendahan hati, kesetiaan pada firman Tuhan, dan tekad untuk berlapang dada. Berbagai cara akan dilakukan dunia agar Kristen menderita. Mengatasi keadaan seperti ini, marilah kita berusaha untuk mengikuti jejak langkah pemazmur dengan penuh keyakinan bahwa orang yang setia sampai tamat, pasti beroleh kemenangan.
Doa: Hadirlah ya Allah dalam hatiku, penuhilah hatiku dengan firman-Mu yang penuh kasih, agar aku dapat mengatasi pergumulanku.

SH: Mzm 119:155-176 - Berpaut terus pada firman (Kamis, 13 Juli 2006) Berpaut terus pada firman
Penutup mazmur ini agak sedikit membingungkan, "Aku sesat seperti
domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini." Bukankah seluru...
Berpaut terus pada firman
Penutup mazmur ini agak sedikit membingungkan, "Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini." Bukankah seluruh isi mazmur ini penuh ungkapan pujian syukur, keyakinan, keluhan dan permohonan serta bertubi-tubi pernyataan kesetiaan pemazmur dalam mengikut Tuhan? Bahkan di ayat 110, pemazmur tegas berkata, "...tetapi aku tidak sesat dari titah-titah-Mu."
Permohonan yang menutup rangkaian panjang Mazmur ps. 119 ini, sebenarnya merupakan pengakuan kerendah-hatian pemazmur. Walaupun selama ini ia telah mempertahankan hidup taat dan setia terhadap firman Tuhan, tekanan yang bertubi-tubi dari pihak musuh dapat saja membuat ia lemah dan tidak mawas diri sampai dosa kesombongan menjeratnya jatuh.
Dengan pengakuan yang merendahkan hati seperti itu, pemazmur hendak mengingatkan kita semua agar waspada terhadap segala tipu daya yang dapat membawa kita keluar dari menikmati firman Tuhan. Kita harus melawan dan sedikit pun tidak boleh menyerah terhadap hujatan orang yang meremehkan firman Tuhan sebagai tidak relevan untuk hidup ini. Sebaliknya, kita harus ikrarkan tekad untuk mengiring Tuhan senantiasa sehingga kita dapat menikmati hadirat-Nya lewat persekutuan dalam firman-Nya (162-167). Kita harus terbuka di hadapan Tuhan agar firman- Nya senantiasa mengoreksi hidup kita (168).
Dua hal bisa kita lakukan dengan meneladani pemazmur. Pertama, kita tidak boleh lengah. Jangan sedikit pun kita biarkan fokus kita beralih dari Tuhan kepada dunia. Kedua, kita harus selalu terbuka kepada teguran firman Tuhan. Siap berpaling dari pelanggaran yang sudah disingkapkan oleh firman dan terimalah perbaikan dari Tuhan Yesus, agar kita menjadi lebih sempurna dalam ketaatan dan kesetiaan pada firman-Nya.
Responsku: _____________________________________________________________ _____________________________________________________________
buka semuaPendahuluan / Garis Besar
Full Life: Mazmur (Pendahuluan Kitab) Penulis : Daud dan orang lain
Tema : Doa dan Pujian
Tanggal Penulisan: Sebagian besar abad ke-10 hingga ke-5 SM.
Latar Belakang...
Penulis : Daud dan orang lain
Tema : Doa dan Pujian
Tanggal Penulisan: Sebagian besar abad ke-10 hingga ke-5 SM.
Latar Belakang
Judul Ibrani untuk kitab Mazmur adalah _tehillim_, yang berarti "puji-pujian"; judul dalam Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani, dikerjakan sekitar 200 SM) ialah _psalmoi_, yang berarti "nyanyian yang diiringi alat musik gesek atau petik".
Musik memainkan peranan penting dalam ibadah Israel (1Taw 15:16-22; bd.Mazm 149:1--150:6); mazmur-mazmur menjadi nyanyian pujian Israel. Berbeda dengan sebagian besar syair dan nyanyian di dunia Barat yang ditulis dengan sajak dan irama, syair dan nyanyian PL didasarkan pada kesejajaran pemikiran di mana baris(-baris) kedua (atau yang berikutnya) pada hakikatnya menyatakan ulang (kesejajaran sinonim), memperlihatkan kontras (kesejajaran antitetikal), atau secara progresif melengkapi baris yang pertama (kesejajaran sintetik). Ketiga bentuk kesejajaran ini dipakai dalam Mazmur. Mazmur terdini yang diketahui digubah oleh Musa pada abad ke-15 SM (Mazm 90:1-17); sedangkan yang paling akhir adalah dari abad ke-6 sampai ke-5 SM (mis. Mazm 137:1-9). Akan tetapi, sebagian besar dari mazmur ditulis pada abad ke-10 SM semasa zaman keemasan puisi Israel.
Judul-judul atau kalimat pembukaan pada permulaan sebagian besar mazmur (dalam Alkitab Indonesia menjadi bagian dari mazmur), sekalipun bukan bagian asli dan terilham dari mazmur, sudah berusia tua (sebelum Septuaginta) dan penting. Isi dari kalimat pembukaan itu berbeda-beda, meliputi kategori seperti
- (1) nama penulis (mis. Mazm 47:1-10, "Dari bani Korah"),
- (2) bentuk mazmur (mis. Mazm 32:1-11, "nyanyian pengajaran" [bah. Inggris "maskil"] syair hasil renungan atau bertujuan mengajar),
- (3) istilah-istilah musik (mis. Mazm 4:1-9, "Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi"),
- (4) catatan liturgis (mis. Mazm 45:1-18, "Nyanyian kasih" [versi Inggris NIV -- nyanyian pernikahan]), dan
- (5) catatan sejarah singkat (mis. Mazm 3:1-9, "Mazmur Daud ketika ia lari dari Absalom, anaknya").
Mengenai penulis mazmur-mazmur ini, kalimat pembukaan menyebutkan Daud selaku penggubah 73 mazmur, Asaf 12 (seorang Lewi yang berkarunia musik dan nubuat, lih. 1Taw 15:16-19; 2Taw 29:30), bani Korah 10 (keluarga dengan karunia musik), Salomo 2, dan masing-masing satu oleh Heman, Etan, dan Musa. Kecuali Musa, Daud, dan Salomo, semua penggubah lainnya adalah imam atau orang Lewi dengan karunia musik dan tanggung jawab dalam ibadah kudus pada masa pemerintahan Daud. Lima puluh mazmur tidak diketahui penggubahnya. Acuan-acuan alkitabiah dan sejarah memberi kesan bahwa Daud (bd. 1Taw 15:16-22), Hizkia (Ams 25:1; bd. 2Taw 29:25-30), dan Ezra (bd. Neh 10:39; Neh 11:22; Neh 12:27-36,45-47) terlibat pada waktu yang berlainan dalam memilih mazmur-mazmur untuk dipakai bersama di Yerusalem. Penyusunan kitab ini yang terakhir mungkin dilakukan pada masa Ezra dan Nehemia (450-400 SM).
Tujuan
Kitab Mazmur, sebagai doa dan pujian yang diilhamkan Roh, ditulis, secara umum, untuk mengungkapkan perasaan mendalam hati sanubari manusia dalam hubungan dengan Allah.
- (1) Banyak yang ditulis sebagai doa kepada Allah, mengungkapkan
- (a) kepercayaan, kasih, penyembahan, ucapan syukur, pujian, dan kerinduan akan persekutuan erat;
- (b) kekecewaan, kesesakan mendalam, ketakutan, kekhawatiran, penghinaan dan seruan untuk pembebasan, kesembuhan, atau pembenaran.
- (2) Yang lain ditulis sebagai nyanyian yang mengungkapkan pujian, ucapan syukur, dan pemujaan kepada Allah dan hal-hal besar yang telah dilakukan-Nya.
- (3) Beberapa mazmur berisi bagian-bagian penting berhubungan dengan Mesias.
Survai
Selaku suatu kumpulan dari 150 mazmur, kitab ini meliput bermacam-macam pokok, termasuk penyataan tentang Allah, ciptaan, umat manusia, keselamatan, dosa dan kejahatan, keadilan dan kebenaran, penyembahan dan pujian, doa dan hukuman. Allah dipandang dengan beraneka ragam cara: sebuah benteng perlindungan, batu karang, perisai, gembala, tentara, pencipta, penguasa, hakim penebus, pemelihara, penyembuh, dan penuntut balas; Ia mengungkapkan kasih, kemarahan, dan belas kasihan, dan Ia ada di mana-mana, mengetahui segala sesuatu dan mahakuasa. Umat Allah juga dilukiskan dengan aneka cara: biji mata, domba, orang kudus, orang jujur dan benar yang diangkat-Nya dari sumur berlumpur, menempatkan kakinya pada batu karang, dan menaruh nyanyian baru di dalam mulut mereka. Allah mengarahkan langkah-langkah mereka, memuaskan kerinduan rohani mereka, mengampuni semua dosa mereka, menyembuhkan segala penyakit mereka dan menyediakan tempat tinggal kekal bagi mereka.
Salah satu cara yang bermanfaat untuk meninjau kitab ini ialah dengan berbagai kategori umum yang dipakai untuk menggolongkan mazmur-mazmur ini (dengan agak bertumpang-tindih).
- (1) _Nyanyian Haleluya atau pujian_ : mazmur-mazmur ini membesarkan nama, kemegahan, kebaikan, kebesaran, dan keselamatan Allah (mis. Mazm 8:1-9; Mazm 21:1-13; Mazm 33:1--34:22; Mazm 103:1--106:48; Mazm 111:1--113:9; Mazm 115:1--117:2; Mazm 135:1-21; Mazm 145:1--150:6).
- (2) _Nyanyian Ucapan Syukur_ : Mazmur-mazmur ini mengakui pertolongan Allah dalam menyelamatkan dan membebaskan seseorang atau Israel selaku bangsa (mis. Mazm 18:1-50; Mazm 30:1-12; Mazm 34:1-22; Mazm 41:1-13; Mazm 66:1-20; Mazm 92:1-15; Mazm 100:1-5; Mazm 106:1-48; Mazm 116:1-19; Mazm 118:1-29; Mazm 124:1-8; Mazm 126:1-6; Mazm 136:1-26; Mazm 138:1-8).
- (3) _Mazmur Doa dan Permohonan_ : Tercakup mazmur-mazmur ratapan dan permohonan kepada Allah, kerinduan akan Allah, dan syafaat bagi umat Allah (mis. Mazm 3:1--6:10; Mazm 13:1-6; Mazm 43:1-5; Mazm 54:1-7; Mazm 67:1-7; Mazm 69:1--70:5; Mazm 79:1--80:19; Mazm 85:1--86:17; Mazm 88:1-52; Mazm 90:1-17; Mazm 102:1-28; Mazm 141:1--143:12).
- (4) _Mazmur Pengakuan Dosa_ : Berfokus pada pengakuan dosa (mis. Mazm 32:1-11; Mazm 38:1-22; Mazm 51:1-19; Mazm 130:1-8).
- (5) _Nanyian Sejarah Kudus_ : Mengisahkan kembali urusan Allah dengan Israel sebagai bangsa (mis. Mazm 78:1-72; Mazm 105:1--106:48; Mazm 108:1-13; Mazm 114:1-8; Mazm 126:1-6; Mazm 137:1-9).
- (6) _Mazmur Pemahkotaan Tuhan_ : Mazmur-mazmur ini dengan tegas menyatakan bahwa "Tuhan adalah Raja" (mis. Mazm 24:1-10; Mazm 47:1-9; Mazm 93:1-5; Mazm 96:1--99:1-99:9).
- (7) _Nyanyian Liturgis_ : Mazmur-mazmur ini digubah untuk perayaan atau kebaktian khusus (mis. Mazm 15:1-5; Mazm 24:1-10; Mazm 45:1-17; Mazm 68:1-35; Mazm 113:1--118:29; keenam mazmur terakhir ini dipergunakan dalam perayaan Paskah setiap tahun).
- (8) _Mazmur Kepercayaan dan Pengabdian_ : Mazmur-mazmur ini mengungkapkan:
- (a) kepercayaan seseorang akan integritas Allah dan pertolongan kehadiran-Nya, dan
- (b) pengabdian hati kepada Allah (mis. Mazm 11:1-8; Mazm 16:1-11; Mazm 23:1-6; Mazm 27:1-14; Mazm 31:1--32:11; Mazm 40:1-17; Mazm 46:1-11; Mazm 56:1-13; Mazm 62:1--63:11; Mazm 91:1-16; Mazm 119:1-176; Mazm 130:1--131:3; Mazm 139:1-24).
- (9) _Nyanyian Ziarah_ : Juga disebut "Nyanyian-nyanyian Zion" atau "Nyanyian-nyanyian Pendakian" yang dinyanyikan oleh para peziarah sepanjang perjalanan mereka ke Yerusalem untuk perayaan Paskah, Pentakosta, atau Pondok Daun setiap tahun (mis. Mazm 43:1-5; Mazm 46:1-11; Mazm 48:1-14; Mazm 76:1-12; Mazm 84:1-12; Mazm 87:1-7; Mazm 120:1--134:3).
- (10) _Nyanyian Penciptaan_ : Mazmur-mazmur ini mengakui hasil perbuatan Allah di sorga dan di bumi (mis. Mazm 8:1-9; Mazm 19:1-14; Mazm 29:1-11; Mazm 33:1-22; Mazm 65:1-13; Mazm 104:1-35).
- (11) _Mazmur-mazmur Hikmat dan Pendidikan_ : Mazmur-mazmur ini merenungkan cara-cara Allah dan mendidik kita mengenai kebenaran (mis. Mazm 1:1-6; Mazm 34:1-22; Mazm 37:1-40; Mazm 73:1-28; Mazm 112:1-8; Mazm 119:1-176; Mazm 133:1-3).
- (12) _Mazmur Kerajaan atau Mesias_ : Mazmur-mazmur ini melukiskan beberapa pengalaman Raja Daud atau Raja Salomo yang mempunyai makna nubuat dan yang akhirnya digenapi dalam kedatangan Mesias, Yesus Kristus (mis. Mazm 2:1-12; Mazm 8:1-9; Mazm 16:1-11; Mazm 22:1-31; Mazm 40:1--41:13; Mazm 45:1-17; Mazm 68:1--69:36; Mazm 72:1-20; Mazm 89:1-52; Mazm 102:1-28; Mazm 110:1-7; Mazm 118:1-29).
- (13) _Mazmur Bernada Kutukan_ : Mazmur-mazmur ini mengundang kutukan atau hukuman Allah atas orang fasik (mis. Mazm 7:1-17; Mazm 35:1-28; Mazm 55:1-23; Mazm 58:1-11; Mazm 59:1-17; Mazm 69:1-36; Mazm 109:1-31; Mazm 137:1-9; Mazm 139:19-22). Karena banyak orang Kristen bingung oleh mazmur-mazmur ini, perlu diperhatikan bahwa mazmur kutukan ini digubah selaku ungkapan semangat demi nama Allah, keadilan, dan kebenaran-Nya, dan dari kebencian kuat terhadap kejahatan dan bukan karena perasaan dendam yang picik. Pada hakikatnya mazmur-mazmur ini berseru kepada Allah agar meninggikan orang benar dan merendahkan orang fasik.
Ciri-ciri Khas
Sembilan ciri utama menandai kitab Mazmur ini.
- (1) Merupakan kitab terpanjang dalam Alkitab dan berisi pasal yang terpanjang (Mazm 119:1-176), yang terpendek (Mazm 117:1-2) dan ayat tengah (Mazm 118:8).
- (2) Sebagai kitab nyanyian dan ibadah Ibrani, kerohaniannya yang dalam dan luas itu menjadikan kitab ini bagian PL yang paling digemari dan dibaca oleh orang percaya.
- (3) "_Haleluya_" (pujilah Tuhan), istilah Ibrani yang diakui secara universal di kalangan orang percaya, dipakai 28 kali dalam Alkitab, 24 di antaranya dalam kitab ini. Di dalam Mazm 150 pujian kepada Tuhan mencapai puncaknya dan menyampaikan pujian yang utuh dan sempurna kepada Tuhan.
- (4) Tidak ada kitab lain di Alkitab yang demikian terang-terangan mengungkapkan perasaan dan kebutuhan manusia dalam hubungan dengan Allah dan kehidupan ini. Nyanyian pujian dan pengabdian mengalir dari gunung-gunung tertinggi, dan seruan-seruan keputusasaannya timbul dari lembah-lembah terdalam.
- (5) Sekitar separuh mazmur mencakup doa iman di tengah kesengsaraan.
- (6) Inilah kitab yang paling banyak dikutip di PB.
- (7) Berisi banyak "pasal kesayangan" seperti pasal Mazm 1:1-6; Mazm 23:1-6; Mazm 24:1-10; Mazm 34:1-22; Mazm 37:1-40; Mazm 84:1-12; Mazm 91:1-16; Mazm 103:1-22; Mazm 119:1-176; Mazm 121:1-8; Mazm 139:1-24; dan Mazm 150:1-6.
- (8) Mazmur 119 (Mazm 119:1-176) adalah unik dalam Alkitab karena
- (a) panjangnya (176 ayat),
- (b) kasihnya yang agung kepada Firman Allah, dan
- (c) susunan sastranya yang mencakup 22 stanza dengan masing-masing delapan ayat, dan setiap stanza mengawali setiap ayatnya dengan huruf yang sama, juga setiap stanza memakai huruf yang berturut-turut dari abjad Ibrani sebagai bantuan untuk mengingat (yaitu, suatu akrostik).
- (9) Ciri sastranya yang paling menonjol adalah gaya syair yang disebut paralelisme, mencakup irama pemikiran dan bukan irama sajak atau matra; ciri khas ini menjadikan beritanya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain tanpa terlalu banyak kesulitan.
Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Ada 186 kutipan dari kitab Mazmur dalam PB, jauh lebih banyak daripada kitab PL lainnya. Jelaslah bahwa mazmur-mazmur begitu meresap dalam hati Yesus dan penulis kitab PB lainnya dan bahwa Roh Kudus sering memakai mazmur di dalam ajaran Yesus dan ayat-ayat lain di mana Yesus menggenapi Alkitab selaku Mesias yang dinubuatkan. Misalnya, Mazm 110:1-7 yang singkat (7 ayat) dikutip lebih banyak dalam PB daripada pasal PL lainnya; mazmur ini berisi nubuat tentang Yesus sebagai Mesias, sebagai Anak Allah dan sebagai imam abadi menurut peraturan Melkisedek. Mazmur Mesias lainnya yang dikenakan kepada Yesus dalam PB adalah:Mazm 2:1-12; Mazm 8:1-9; Mazm 16:1-11; Mazm 22:1-31; Mazm 40:1-17; Mazm 41:1-13; Mazm 45:1-17; Mazm 68:1-35; Mazm 69:1-36; Mazm 89:1-52; Mazm 102:1-28; Mazm 109:1-31; dan Mazm 118:1-29. Mazmur ini dikenakan kepada
- (1) Yesus selaku nabi, imam, dan raja;
- (2) kedua kedatangan-Nya;
- (3) kedudukan sebagai Anak dan sifat-Nya;
- (4) penderitaan dan kematian-Nya yang mendamaikan; dan
- (5) kebangkitan-Nya. Ringkasnya, Mazmur termasuk kitab PL dengan nubuat paling terinci tentang Kristus dan tertanam sangat dalam di seluruh amanat para penulis PB.
Full Life: Mazmur (Garis Besar) Garis Besar
I. Kitab 1 !!: Mazmur 1-41
(Mazm 1:1-41:13)
II. Kitab 2 !!:...
I. Kitab 1 !!: Mazmur 1-41
(Mazm 1:1-41:13)
II. Kitab 2 !!: Mazmur 42-72
(Mazm 42:1-72:19)
III. Kitab 3 !!: Mazmur 73-89
(Mazm 73:1-89:52)
IV. Kitab 4 !!: Mazmur 90-106
(Mazm 90:1-106:48)
V. Kitab 5 !!: Mazmur 107-150
(Mazm 107:1-150:1-6)
Jerusalem: Mazmur (Pendahuluan Kitab) KITAB MAZMUR
PENGANTAR
Sama seperti bangsa tetangganya - Mesir, Mesopotamia, Kanaan - demikian juga bangsa Israel sejak awal mula menciptakan sajak-sa...
KITAB MAZMUR
PENGANTAR
Sama seperti bangsa tetangganya - Mesir, Mesopotamia, Kanaan - demikian juga bangsa Israel sejak awal mula menciptakan sajak-sajak lirik yang bermacam-macam bentuknya. Beberapa sajak semacam itu berhasil masuk ke dalam kitab-kitab sejarah yang tercantum dalam Alkitab, misalnya Nyanyian, Kej 15, Nyanyian Sumur, Bil 21:17-18, Nyanyian Kemenangan Debora, Hak 5, Ratapan Daud atas Saul dan Yonatan, 2Sam 1, dll, dan lagi lagu-lagu pujian bagi Yudas dan Simon Makabe, 1Mak 3:3-9 dan 14:4-15. Dalam Perjanjian Baru masih terdapat Lagu Maria (Magnificat). Lagu Zakharia (Benedictus) dan Lagu Simeon (Nunc dimittis). Banyak bagian kitab para Nabi juga termasuk jenis Sastera itu. Dahulu kala sudah ada kumpulan-kumpulan sajak, yang hanya kita kenal judulnya atau beberapa kepingannya saja, misalnya Kitap Peperangan Tuhan, Bil 21:14, dan Kitab Orang Jujur, Yos 10:13; 2 Sam 1:18. Akan tetapi khazanah lirik keagamaan bangsa Israel ialah kitab Mazmur.
Judul
Kitab Mazmur (dalam bahasa Yunani "Psalterion", kata yang sebenarnya berarti alat musik bertali yang mengiringi nyanyian) adalah sekumpulan mazmur yang berjumlah 150. Mulai dengan Mzm 10 sampai dengan Mzm 148 nomor urutan mazmur dalam Alkitab Ibrani (yang diikuti terjemahan ini) mendahului nomor urutannya dalam Alkitab Yunani (dan Latin) dengan satu satuan. Sebabnya ialah: Alkitab Yunani (dan Latin, Vurgata) menyatukan Mazm 9 dan 10 dan Mzm 114 dan 115, dan membagikan Mzm 116 dan 147 menjadi dua mazmur tersendiri.
Dalam bahasa Ibrani kitab Mazmur disebut "Tehillim", artinya "Puji-pujian". Tetapi sebutan itu hanya sesuai dengan sejumlah mazmur saja. Dalam judul- judulnya mazmur-mazmur paling sering disebut "Mizmor", yang menjadi asal kata Arab-Indonesia "Mazmur". Sejumlah mazmur dalam judulnya disebut "nyanyian" dan hanya kata ini dibubuhkan pada masing-masing lagu dalam kumpulan "Nyanyian- nyanyian Ziarah", Mzm 120-134. Nama-nama lain agak jarang muncul dan kata Ibrani yang bersangkutan sering sulit dimengerti.
Gaya sastera
Pengelompokan mazmur-mazmur yang paling tepat, diperoleh dengan jalan mempelajari gaya sasteranya. Ditinjau dari segi gaya sasteranya yang berbeda- beda dapat kita bedakan tiga jenis utama, yaitu: Puji-pujian, Doa (permohonan) dan Ucapan syukur. Pengelompokan ini tidak mencakup semua mazmur, sebab terdapat juga jenis-jenis campuran, mazmur-mazmur yang menyimpang dari jenis-jenis tersebut atau yang secara lain berbeda. Selain itu pengelompokan tersebut tidak selalu sesuai dengan suatu pengelompokan berdasarkan isi, tema dan ujud mazmur- mazmur.
1. Puji-pujian. Ke dalam kelompok ini termasuk antara lain Mzm 8, 19, 29, 33, 46-48, 76, 84, 87, 96-100, 103-106, 113, 114, 117, 122, 135, 136, 145-150. Susunan mazmur-mazmur ini agak tetap. Setiap mazmur puji-pujian mulai denganbagian pembukaan yang mengajak untuk memuji Tuhan. Bagian ini mazmur puji- pujian mengungkapkan berbagai alasan mengapa Allah harus dipuji, yaitu karya- karya yang dilakukan Allah dalam alam, khususnya karya penciptaannya, dan karya- karya yang dilakukanNya dalam sejarah, teristimewanya penyelamatan yang dianugerahkan Allah kepada umatNya. Bagian penutup ada kalanya mengulang bagian pembukaan dan kadang-kadang berupa doa.
Menurut temanya kelompok mazmur-mazmur ini dapat dibagikan menjadi dua macam yaitu: Nyanyian-nyanyian Sion, Mzm 46, 48, 76, 87 yang dengan nada eskatologis meluhurkan Kota Suci, yaitu tempat kediaman Yang Mahatinggi dan tujuan para peziarah, bdk Mzm 84 dan 122; mazmur-mazmur Kerajaan Allah, khususnya Mzm 47, 93, 96-98, yang terdapat gaya bahasa yang mengingatkan gaya bahasa para Nabimengagungkan Yahwe sebagai raja dunia semesta. Oleh karena mazmur-mazmur ini memakai kata dan gambaran-gambaran yang lazim dalam melukiskan raja-raja manusiawi yang naik tahta, maka pernah ada usaha menghubungkan mazmur-mazmur tersebut dengan suatu pesta pelantikan Yahwe sebagai raja, yang kanon dirayakan oleh bangsa Israel, serupa dengan pesta pelantikan dewa Marduk di Babel. Akan tetapi adanya perayaan semacam itu di Israel merupakan hipotesa yang tidak terbuka.
2. Doa-doa (permohonan) atau mazmur-mazmur penderitaan atau juga ratapan- ratapan. Latin dari pada Pujian-pujian, mazmur-mazmur permohonan itu tidak memuji kemuliaan Allah tetapi ditujukan kepadaNya. Pada umumnya bagian pembukaan mazmur-mazmur ini berupa seruan yang disusul seruan minta tolong, suatu doa atau ucapan kepercayaan. Dalam bagian inti mazmur maka pendoa berusaha menggerakkan hati Allah dengan melukiskan di hadapanNya keadaan gawat si pendoa. Dalam menggambarkan keadaan itu dipakailah macam-macam kiasan yang sudah lazim, sehingga jarang dapat ditentukan keadaan historis dan konkrit manakah yang di dalamnya doa itu diucapkan. Dikatakan tentang air, jurang, jerat-jerat maut atau jerat-jerat dunia orang mati (syeol), musuh-musuh atau binatang-binatang (anjing, singa, banteng dan sebagainya) yang mengancam atau menerkam; dikatakan pula mengenai tulang-tulang yang menjadi kering dan jantung yang berdebar-debar ketakutan. Ada mazmur di mana si pendoa menegaskan bahwa ia seorang benar, Mzm 7, 17, 26 dan juga yang berupa pengakuan dosa, Mzm 51 dan mazmur-mazmur tobat yang lain. Kepada Allah diingatkan karunia-karunia yang dahulu dianugerahkanNya atau Ia ditegor karena rupa-rupanya Ia lupa dan tidak hadir, misalnya Mzm 9-10, 22, 44. Tetapi pemazmur juga dapat menegaskan bahwa ia tetap percaya dan mengharap, Mzm 3, 5, 42-43, 55-57, 63, 130, dll. Ada kalanya mazmur-mazmur permohonan itu hanya berupa suatu seruan kepercayaan dan pengharapan, Mzm 4, 11, 16, 23, 62, 91, 121, 125, 131. Sering kali permohonan berakhir, ada kalanya tiba-tiba dengan mencetuskan keyakinan bahwa doa sudah dikabulkan dan dengan ucapan syukur, misalnya Mzm 6, 22, 69, 140.
Mazmur-mazmur permohonan tersenut dapat berupa doa bersama atau doa perorangan.
a). Doa bersama misalnya Mzm 12, 44, 60, 74, 79, 83, 85, 106, 123, 129, 137. Doa-doa ini dicetuskan dengan alasan suatu bencana nasional, misalnya dikalahkannya atau dibinasakannya umat dalam perang, atau dengan alasan suatu keperluan bersama. Maka umat memohon keselamatan atau pemulihan bangsa. Setidak- tidaknya Mzm 74 dan 137, yang serupa dengan Ratapan yang dikatakan karangan nabi Yeremia, mencerminkan keadaan yang disebabkan oleh kehancurannya kota Yerusalem pada tahun 587. Mzm 85 mengucapkan rasa hati kaum buangan yang sudah kembali ke tanah airnya. Mzm 106 berupa suatu pengakuan dosa umat.
b) Doa perorangan misalnya Mzm 3, 5-7, 13, 17, 22, 25, 26, 28, 31, 35, 38, 42-43, 51, 54-57, 59, 63, 64, 69-71, 77, 86, 102, 120, 130, 140-143. Jumlah mazmur ini cukup besar dan pokok isinya bermacam-macam, seperti bahaya maut, penganiayaan, pembuangan, usia lanjut, dan khususnya orang mohon dibebaskan dari penyakit, fitnah dan dosa. Sukar memastikan siapa sesungguhnya musuh-musuh, yaitu "mereka yang berbuat jahat", yang menjadi sebab keluhan atau kemarahan si pendoa. Tetapi bagaimanapun juga musuh-musuh itu bukanlah - seperti dikatakan sementara ahli - tukang-tukang sihir guna-gunanya mau ditangkis oleh mazmur- mazmur itu. Demikian pula mazmur-mazmur itu bukanlah doa bersama, seolah-olah "aku" yang angkat bicara di dalamnya sesungguhnya suatu kelompok dan bukan orang perorangan, sebagaimana belakangan ini dikemukakan sementara ahli. Dan "aku" yang angkat bicara dalam mazmur-mazmur itu bukan pula raja yang berbicara atas nama seluruh rakyatnya, sebagaimana juga sudah diketengahkan oleh sementara ahli belum lama berselang. Di satu pihak doa-doa itu bernada terlampau pribadi dan di lain pihak sekali-kali tidak menyinggung diri raja atau keadaan pribadinya, sehingga hipotesa tersebut tidak dapat diterima. Memang benar bahwa sejumlah doa pribadi kemudian disesuaikan dengan keadaan rakyat secara menyeluruh dan dipakai sebagai ratapan umat, misalnya Mzm 22, 28, 59, 69, 71, 102. Benar pula bahwa ada mazmur-mazmur rajawi, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Benar juga bahwa semua doa perorangan itu akhirnya dipakai oleh umat bersama (karena itulah mazmur-mazmur itu tercantum dalam kitab Mazmur). Tetapi aselinya mazmur-mazmur itu diciptakan bagi salah seorang secara perorangan atau oleh orang tertentu sesuai dengan salah satu keperluan tertentu dan khusus. Mazmur-mazmur itu berupa seruan hati dan ungkapan kepercayaan pribadi. Memanglah mazmur-mazmur itu tidak pernah berupa ratapan melulu, melainkan seruan kepercayaan kepada Allah dalam keadaan gawat.
3. Ucapan syukur. Sudah dikatakan di atas bahwa doa permohonan dapat berakhir dengan suatu ucapan syukur kepada Allah yang telah mengabulkan doa. Adapun ucapan syukur itu dapat menjadi pokok inti lagu, seperti halnya dengan mazmur-mazmur yang berupa ucapan syukur. Jumlah mazmur-mazmur itu cukup besar juga, misalnya Mzm 18, 21, 30, 33, 34, 40, 65-68, 92, 116, 118, 124, 129, 138, 144. Jaranglah mazmur-mazmur ini mendapat sifat kolektip. Kalau demikian, maka umat mengucap syukur atas pembebasan dar bahaya, atas panenan yang melimpah, atas karunia-karunia yang dilimpahkan kepada raja. Lebih sering mazmur-mazmur itu bersifat perorangan. Setelah si pendoa melukiskan kemalangan yang dideritanya dan bagaimana doanya dikabulkan, maka ia merumuskan rasa terima kasihnya dan mengajak kaum beriman, supaya turut memuji Allah. Bagian terkhir ini kerap kali memberi kesempatan untuk menyisipkan unsur-unsur yang mau membina akhlak para penyerta. Ditinjau dari segi sastera susunan ucapan syukur itu berdekatan dengan susunan mazmur-mazmur puji-pujian.
4. Jenis mazmur yang menyimpang dan jenis campuran
Perbedaan antara jenis-jenis mazmur yang disebut di atas sesungguhnya kurang tegas. Karenanya terjadi bahwa umpamanya ratapan melanjutkan suatu ucapan kepercayaan, Mzm 27, 31 dan ratapan yang disusul nyanyian syukur, Mzm 28, 57. Mzm 89 mula-mula berupa suatu lagu puji-pujian, tetapi kemudian mazmur itu menjadi suatu firman Allah dan berakhir dengan ratapan. Mzm 119 yang panjang tentu saja memuji-muji hukum Taurat, tetapi sekaligus berupa ratapan perorangan dan membentangkan ajaran mengenai hikmat. Memang beberapa unsur yang pada dirinya tidak sesuai dengan jenis sastera lirik berhasil menyusup ke dalam kitab Mazmur. Nanti akan dikatakan barang sedikit mengenai hal-hal yang berdekatan dengan sastera kebijaksanaan dan di atas sudah dikatakan bahwa unsur semacam itu ditemukan dalam mazmur-mazmur yang berupa ucapan syukur. Unsur-unsur yang berdekatan dengan sastera kebijaksanaan dapat menjadi begitu menyolok, sehingga orang dengan kurang tepat sampai berkata tentang Mazmur-mazmur didaktik. Memang Mzm 1, 112 dan 127 merupakan karya murni dari kalangan para bijaksana. Tetapi ada lain mazmur serupa yang tetap memiliki ciri-ciri dari jenis lirik: Mzm 25 berdekatan dengan ratapan, Mzm 32, 37, 73 berdekatan dengan ucapan syukur, dan lain-lainnya.
Dalam mazmur-mazmur lain diketemukan firman-firman Allah dan bahkan ada yang berupa firman Allah yang diuraikan lebih lanjut, misalnya Mzm 2, 50, 75, 81, 82, 85, 95, 110. Belakangan ini ada sementara ahli yang berpendapat bahwa mazmur-mazmur semacam itu sungguh-sungguh firman Allah yang dibawakan para imam selama berlangsungnya upacara-upacara dalam Bait Allah. Ahli lain berpendapat bahwa mazmur-mazmur itu hanya memanfaatkan gaya bahasa para nabi, tetapi sebenarnya tidak bersangkutan dengan ibadat. Masalahnya tetap dipersoalkan. Tetapi di satu pihak orang harus mengaku bahwa kitab Mazmur berdekatan dengan sastera kenabian, tidak hanya sehubungan dengan firman-firman Tuhan, tetapi juga sehubungan dengan bermacam-macam pokok lain, misalnya penampakan Allah, kiaan "cawan" yang melambangkan murka Allah, kiasan "api", "kui", dan sebagainya. Di lain pihak juga perlu diakui bahwa ada hubungan erat antara kitab Mazmur dan ibadat dalam Bait Allah, sebagaimana nanti akan diuraikan.
Mazmur-mazmur rajawi
Terserak-serak dalam kitab Mazmur dan termasuk bermacam-macam jenis ada sejumlah mazmur yang bersangkutan dengan raja. Ada firman-firman Allah mengenai raja, Mzm 2 dan 110, ada doa untuk raja, Mzm 20, 61, 72, ada sebuah doa syukur untuk raja, Mzm 21, ada doa yang diucapkan raja, Mzm 18, 28, 63, 101, sebuah nyanyian yang ngiringi perarakan raja, Mzm 132, sebuah lagu puji-pujian yang dibawakan raja, Mzm 144, dan bahkan ada sebuah nyanyian yang diciptakan untuk memerintahkan pernikahan di istana raja, Mzm 45. Ini semua agaknya mazmur-mazmur yang tua, yang berasal dari zaman para raja dan yang gaya bahasanya sesuai dengan gaya bahasa yang lazim dipakai dalam upacara di istana. Mazmur-mazmur itu mengenai raja yang sezaman; Mzm 2, 72 serta Mzm 110 barangkali mazmur-mazmur pelantikan raja. Raja dikatakan anak angkat Allah, kerajaannya tidak berkesudahan dan kekuasaannya meluas sampai ke ujung-ujung bumi. Raja akan memenangkan keadilan dan kedangkalan dan menjadi penyelamat rakyatnya. Ungkapan-ungkapan semacam itu nampaknya berlebih-lebih, tetapi sebenarnya ungkapan-ungkapan itu sesuai dengan apa yang oleh bangsa-bangsa tetangga dikatakan tentang raja mereka dan yang oleh bangsa Israel diharapkan sehubungan dengan raja mereka juga.
Akan tetapi raja Israel menjadi orang urapan Tuhan yang menjadi dia wazirnya di bumi. Raja di Israel adalah orang yang diurapi Yahwe (Ibraninya: Mesyiah). Hubungan keagamaan antara Allah dan raja itulah yang menentukan pengertian bangsa Israel terhadap rajanya dan membedakan pengertian itu dengan pengertian di negeri Mesir dan Mesopotamia walaupun cara bicara tentang raja di Israel serupa dengan cara bicara di Mesir dan Mesopotamia. Pengharapan akan "Mesias- Raja" yang muncul dengan nubuat Natan, 2 Sam 7, menjadi terungkap dalam tafsiran atas nubuat itu sebagaimana diberikan dalam Mzm 89 dan 132, dan khususnya dalam Mzm 2, 72 dan 110. Mazmur-mazmur itu memupuk pada rakyat pengharapan berdasarkan janji-janji yang diberikan Allah kepada wangsa Daud. Apabila pengharapan akan Mesias diartikan sebagai penantian akan seorang raja di masa mendatang, akan raja terakhir yang akan membawa keselamatan definitif dan menegakkan kerajaan Allah di bumi, maka tidak ada satupun dari mazmur-mazmur tersebut yang sungguh-sungguh "mesion". Akan tetapi beberapa dari nyanyian rajawi yang tua itu terus dipakai, kendati lenyapnya kerajaan di Israel. Nyanyian-nyanyian itu dimasukkan ke dalam kumpulan mazmur resmu, walaupun barangkali disesuaikan dan disadur. Dengan jalan itu mazmur-mazmur itu tetap memupuk pengharapan akan seorang Mesias, keturunan Daud. Menjelang tarikh masehi pengharapan itu hangat sekali pada rakyat Israel dan orang-orang Kristen berpendapat bahwa semua digemari dalam diri Yesus Kristus (Kristus berarti: orang urapan, Mesias). Khususnya Mzm 110 paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru. Nyanyian pernikahan, Mzm 45, dipakai untuk mengungkapkan persatuan Mesias dengan Israel baru, sejalan kiasan perkawinan yang digemari para nabi. Mzm 45 dalam Ibr 1:8 langsung diterapkan pada Kristus. Dengan meneruskan pandangan semacam itu Perjanjian Baru dan tradisi Kristen selanjutnya masih menterapkan pada Kristus mazmur-mazmur lain yang sebenarnya bukan mazmur- mazmur rajawi, tetapi yang terlebih mengungkapkan perasaan hati Mesias, Orang Benar yang unggul, Misalnya Mzm 16 dan 22 dan bagian-bagian banyak mazmur lain, khususnya Mzm 8, 35, 40, 41, 68, 69, 97, 102, 118, 119, diterapkan pada Kristus. Begitu pula mazmur-mazmur yang mengenai Yahwe sebagai Raja diterapkan pada Kristus sebagai raja. Pengeterapan semacam itu kiranya bukan lagi arti dan makna mazmur-mazmur sendiri. Namun pengeterapan itu boleh dibenarkan juga, sebab segenpa pengharapan yang menjiwai kitab Mazmur akhirnya tidak sepenuh-penuhnya terwujud, kecuali melalui kedatangan Anak Allah di bumi.
Hubungan mazmur-mazmur dengan ibadat
Kitab Mazmur tidak kecuali kumpulan nyanyian-nyanyian keagamaan Israel. Kita tahu juga di antara petugas Bait Allah ada juga para penyanyi. Tentu baru sehabis masa pembuagan penyanyi secara langsung disebut. Namun pasti juga bahwa mereka sejak awal mula termasuk kalangan para petugas Bait Allah. Orang merayakan perayaan Yahwe dengan tarian dan nyanyian, Hak 21:19-21; 2 Sam 6:5, 16. Menurut Am 5, 23. Menurut Tawarikh raja Sanherib maka di masa raja Hizkia Bait Allah yang dibangun Salomo memang memunyai penyanyi-penyanyinya, sama seperti semua tempat suci di dunia Timur memiliki penyanyi-penyanyinya. Ada sejumlah mazmur yang dipertalikan dengan Asaf, Bani Korah, Herman dan Etan (atau Yedutan). Menurut kita Tawarikh semua tokoh itu termasuk kalangan para penyanyi Bait Allah di masa sebelum pembuangan. Ada sebuah tradisi yang menyatakan bahwa banyak mazmur adalah karya Daud. Dan tradisi yang sama menyatakan juga bahwa Daudlah yang mengorganisasikan ibadat Bait Allah, termasuk para penyanyi, 1Taw 25. Tradisi itu agak sejalan dengan keterangan-keterangan yang tua sekali mengenai Daud yang menari dan menyanyi di hadapan Yahwe, 2Sam 6:5, 16.
Pada sejumlah besar mazmur dibubuhkan keterangan-keterangan mengenai musiknya dan pemakaian liturginya. Ada keterangan mengenai upacara yang dibarengi dengan mazmur yang bersangkutan. Mzm 20, 26, 27, 66, 81, 107, 116, 134, 135 Mazmur- mazmur tersebut dan lain mazmur, Mzm 48, 65, 95, 96, 118, dinyanyikan dipelataran Bait Allah. "Nyanyian-nyanyian ziarah" (begitu kira-kira dapat diterjemahkan istilah Ibrani yang tidak jelas artinya), yaitu Mzm 120-134, dan juga Mzm 84 tidak lain kecuali lagu-lagu yang dipakai waktu orang berziarah ke Yerusalem. Contoh-contoh yang paling jelas itu secukupnya membuktikan bahwa banyak mazmur, termasuk yang bersifat perorangan, diciptakan untuk ibadat dalam Bait Allah. Mazmur-mazmur lain barangkali aselinya tidak dikarang untuk keperluan itu, tetapi kemuliaan juga disesuaikan, misalnya dengan menambahkan permohonan berlat, Mzm 125, 128, 129.
Maka hubungan banyak mazmur dengan ibadat dan corak liturgis kitab Mazmur secara menyeluruh tidak dapat disangkal. Tetapi pada umumnya tidak ada petunjuk- petunjuk konkrit untuk dapat menentukan dalam upacara atau pada hari raya manakah mazmur-mazmur tertentu dipakai. Judul Ibrani pada Mzm 92 menetapkan pemakaiannya pada hari Sabat. Judul-judul Yunani pada Mzm 24, 48, 93, 94, menentukan bahwa lagu-lagu itu dipakai pada hari-hari pekan yang lain. Mzm 30 dipakai pada hari raya Pentahbisan Bait Allah-begitu dikatkan naskah Ibrani, sedangkan menurut naskah Yunani Mzm 29 dinyanyikan pada perayaan Pondok-Daun. Petunjuk-petunjuk itu kiranya tidaklah aseli. Tetapi sama seperti penetapan- penetapan terperinci yang dibuat di zaman Yahudi, petunjuk-petunjuk tersebut menjadi bukti bahwa Kitab Mazmur berperan sebagai kitab nyanyian guna Bait Allah dan Rumah-rumah ibadat Yahudi sebelum menjadi kitab nyanyian bagi Gereja Kristen.
Pengarang-pengarang dan masa dikarangnya mazmur-mazmur
Judul-judul yang dibubuhkan pada banyak mazmur mempertalikan 73 buah dengan Daud, 12 buah dengan Asaf, 11 buah dengan Bani Korah, dan satu buah dengan Heman, Etan (atau Yedutun), Musa dan Salomo. 35 mazmur tidak dipertalikan dengan tokoh tertentu. Judul-judul dalam terjemahan Yunani tidak selalu sama dengan yang terdapat dalam naskah Ibrani. Menurut terjamahan Yunani, maka 82 mazmur adalah karya raja Daud. Terjemahan Siria masih lebih berbeda.
Aselinya judul-judul tersebut barangkali tidak bermaksud menyatakan siapa pengarang mazmur yang bersangkutan. Ungkapan Ibrani yang dipakai hanya mengatakan bahwa ada salah satu hubungan antara mazmur itu dengan tokoh yang disebut namanya, entahlah karena isi mazmur sesuai dengan tokoh itu, entah karena mazmur itu termasuk sebuah kumpulan mazmur yang diedarkan memakai nama tokoh itu. "Mazmur-mazmur Bani Korah" ialah mazmur-mazmur yang termasuk kumpulan mazmur yang lazim dipakai oleh kelompok-kelompok penyanyi itu. Sejumlah besar mazmur diberi catata: "Untuk pemimpin biduan", Mzm 4,5,6,8, dan lain-lainnya. Mazmur-muzmur ini termasuk kumpulan yang dinyanyikan oleh paduan suara Bait Allah yang dipimpin oleh seorang pemimbing. Ada juga sekumpulan "mazmur Asaf" dan sekumpulan "Mazmur Daud". Di kemudian hari judul-judul yang aselinya hanya menyatakan termasuk kumpulan manakah mazmur tertentu, dimengerti seolah-olah menyatakan siapa pengaruhnya. Maka beberapa "mazmur Daud" diberi catatan pendahuluan yang menentukan dalam keadaan hidup manakah mazmur itu diciptakan oleh raja Daud. Mzm 3, 7, 18, 34, 51, 52, 54, dan lain-lainnya. Akhirnya tradisi tidak hanya mengaggap Daud sebagai pencipta mazmur-mazmur yang dibubuhi dengan namanya, tetapi sebagai pencipta seluruh kitab Mazmur.
Tafsiran yang kurang tepat tersebut janganlah membuat kita meremehkan suatu kesaksian tua dan berharga yang diberikan oleh judul-judul mazmur itu. Mungkin sekali mazmur-mazmur Asaf dan Bani Korak benar-benar diciptakan oleh para penyanyi Bait Allah. Sejalan dengan itu juga kumpulan mazmur-mazmur Daud benar- benar bersangkutan dengan raja itu, entah bagaimana. Mungingat keterangan- keterangan yang tercantum dalam kitab-kitab sejarah mengenai bakat-musik raja Daud, 1Sam 16:16-18, bdk Am 6:5, mengenai bakat puetisnya, 2Sam 1:19-27; 3:33-34, dan tentang citarasanya di bidang peribadatan, maka perlu diterima bahwa dalam kitab Mazmur benar-benar tercantum nyanyian-nyanyian yang diciptakan oleh raya Daud. Memang Mzm 18 tidak lain dari suatu saduran sebuah nyanyian yang menurut 2Sam 22 dikarang oleh Daud. Sudah barang tentu tidak semua mazmur yang barasal dari kumpulan Daud juga diciptakan oleh raja itu. Tetapi kumpulan itu kiranya tidak mungkin disusun, kalau aselinya tidak ada suatu kumpulan yang memuat mazmur-mazmur ciptaan Daud sendiri. Hanya tak mungkin lagi menentukan mazmur-mazmur manakah termasuk ke dalam kumpulan aseli itu. Sudah dikatakan di atas, bahwa judul-judul yang terdapat dalam naskah-naskah Ibrani tidak menentukan bagi kita. Jika pengarang-pengarang Perjanjian Baru mengutip salah satu mazmur sebagai mazmur Daud, maka mereka hanya menyesuaikan diri dengan pendapat umum di zamannya. Tetapi keterangan-keterang semacam itu jangan begitu saja disingkirkan. Raja Daud sebagai "pemazmuran yang disenangi di Israel", 2Sam 23:1, selalu perlu dianggap sebagai seorang tokoh yang berperan besar dalam asal-usul lirik keagamaan umat terpilih.
Dorongan yang dilancarkan raja Daud kemudian diteruskan. Kitab Mazmur sesungguhnya menampung hasil karya puetis yang berlangsung beberapa abad. Setelah sementara ahli mengemukakan pendapat bahwa kebanyakan mazmur dikarang di zaman belakangan, di masa sesudah pembuangan dan kemudian dari itu, maka sekarang ahli-ahli itu lama-kelamaan mengambil sikap yang lebih bijaksana. Cukup banyak mazmur berasal dari zaman para raja, teristimewanya "mazmur-mazmur rajawi". Hanya isi mazmur-mazmur ini sangat umum dan tak terperinci, sehingga tidak dapat ditanggalkan lebih jauh dan tanggal yang kadang-kadang diusulkan sebenarnya beberapa hipotesa melulu. Sebaliknya, "mazmur-mazmur kerajaan Yahwe" yang berbelas unsur-unsur dari mazmur-mazmur lain dan bagian kedua kitab Yesaya, nyanyiannya dikarang selama masa pembuangan. Demikianpun halnya dengan mazmur- mazmur misalnya Mzm 137, yang berkata tentang kemusnahan kota Yerusalem dan pembuangan. Kembalinya kaum buangan ke tanah airnya dikidungkan oleh Mzm 126. Zaman yang menyusul masa pembuangan nampaknya subur sekali dalam menciptakan mazmur. Memang di zaman itu ibadat sangat berkembang di Bait Allah yang dibangun kembali. Di masa itu kedudukan para penyanyi Bait Allah meningkat, sehingga disamakan dengan kaum Lewi. Para bijaksana juga memanfaatkan jenis sastera "mazmur" untuk menyebarluaskan ajarannya, misalnya Bin Sirakh. Perlukah orang juga menerima bahwa di zaman para Makabe masih diciptakan mazmur-mazmur yang dicantumkan dalam kitab Mazmur? Masalah ini khususnya menyangkut Mzm 44, 74, 83. Hanya bukti-bukti yang diajukan tidak cukup meyakinkan untuk menanggalkan mazmur-mazmur tersebut di zaman para Makabe.
Terbentuknya kitab Mazmur
Kitab Mazmur seperti yang kita miliki sekarang merupakan hasil suatu usaha yang berlangsung lama. Mula-mula ada beberapa kumpulan kecil. Mzm 72 (yang dikatakan karangan Salomo) ditutup dengan catatan ini: "Sekianlah doa-doa Daud bin Isai". Namun demikian dalam kitab Mazmur sebelumnya sudah tercantum sejumlah mazmur yang tidak dipertalikan dengan Daud, dan kemudian masih juga tercantum beberapa mazmur yang dihubungkan dengan Daud. Sebenarnya ada dua kelompok "mazmur-mazmur Daud", Mzm 3-41 dan 51-52; masing-masing mazmur dalam kedua kelompok itu dipertalikan dengan Daud, kecuali yang paling akhir (Salomo) dan tiga mazmur yang tidak dihubungkan dengan nama orang tertentu. Masih ada kumpulan-kumpulan mazmur yang serupa: kumpulan mazmur Asaf, Mzm 50 dan 73-83, kumpulan mazmur Bani Korah, Mzm 42-49 dan 84, 85, 87, 88, kumpulan nyanyian ziarah Mzm 120-134, kumpulan mazmur yang dibubuhi dengan kata "Haleluya" (karena itu disebut "Hallel")(Mzm 105-107, 111-118, 135, 136, 146-150). Kumpulan-kumpulan kecil tersebut mula-mula beredar tersendiri, sebagaimana dibuktikan kenyataan bahwa beberapa mazmur (dengan perbedaan kecil-kecil) sampai dua kali tercantum dalam kitab Mazmur, misalnya Mzm 14 dan Mzm 53; Mzm 40:14-18 dan Mzm 70; Mzm 57:8-12 bersama Mzm 60:7-14 dan Mzm 108.
Pekerjaan pengumpul-pengumpul mazmur-mazmur terasa juga dalam penggunaan nama-nama ALlah. Mzm 1-41 hanya menggunakan nama "Yahwe" (ialah kumpulan mazmur-mazmur Daud yang pertama). Mzm 42-89 (yang merangkum kumpulan mazmur- mazmur Daud yang kedua, sebagian dari mazmur-mazmur Bani Korah dan kumpulan mazmur-mazmur Asaf) hanya memakai nama "Elohim", sedangkan Mzm 90-15 kembali memakai nama "Yahwe", kecuali Mzm 108 yang menggabungkan dua Mazmur yang menggunakan nama "Elohim", yakni Mzm 57 dan 60. Kumpulan mazmur-mazmur kedua yang memakai nama "Yaher" itu kiranya kumpulan yang paling muda dalam kitab Mazmur, hal mana tidak mengatakan apa-apa mengenai masing-masing mazmur. Kebanyakan mazmur itu tidak bernama dan di dalamnya terdapat banyak pengulangan dan pinjaman dari mazmur-mazmur lain.
Dalam tahap perkembangan yang terakhir kitab Mazmur dibagi menjadi "lima buku". Ini agaknya untuk meniru "Lima Buku Musa" (Pentateukh). Kelima "buku"itu dipisahkan satu sama lain dengan disisipkan suatu doksologi yang menutup masing- masing buku: Mzm 41, 14; 72:18-20; 89:52; 106:48. Mzm 150 berperan sebagai doksologi penutup kitab, sedangkan Mazmur 1 nampaknya sebagai kata pembukaan kitab Mazmur.
Bentuk kitab Mazmur resmi yang merangkum 150 Mazmur baru di zaman belakangan menjadi lazim dan belum juga umum diterima. Memang kitab Mazmur dalam terjemahan Yunani memuat 151 buah mazmur dan terjemahan Siria bahkan 155 buah. Dalam naskah-naskah jemaat di Qumran ditemukan Mzm 151 tergabung dengan mazmur lain dalam bahasa Ibrani, sehingga Mzm 151 dalam terjemahan Yunani ternyata aslinya sebuah mazmur Ibrani. Naskah-naskah jemaat di Qumran juga menampilkan dalam bahasa Ibrani dua buah mazmur-mazmur tambahan dalam terjemahan Siria. Selebihnya maskah-naskah jemaat di Qumran memuat dua kumpulan mazmur yang serba baru. Kumpulan-kumpulan itu disisipkan ke dalam kitab Mazmur sebagaimana yang dipakai jemaat itu. Urutan mazmur-mazmur dalam kitab Mazmur jemaat di Qumran juga berbeda dengan urutannya dalam kitab Mazmur yang tercantum dalam Alkitan. Maka jelaslah bahwa kitab Mazmur yang tercantum dalam Alkitab. Maka jelaslah bahwa kitab Mazmur hingga zaman masehi terus terbuka untuk menampung mazmur-mazmur lain lagi, setidak-tidaknya di beberapa kalangan orang Yahudi.
Nilai rohani kitab Mazmur
Oleh karena kekayaan rohani kitab Mazmur kentara, maka tak perlu dikatakan banyak tentangnya. Mazmur-mazmur menjadi doa di masa perjanjian lama. Allah sendiri mencetuskan perasaan hati yang seharusnya dimiliki anak-anakNya terhadap Bapa mereka. ia sendiripun menginspirasikan kata-kata yang seharusnya mereka pakai dalam menghadap Allah. Mazmur-mazmur itu diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri, oleh Perawan Maria, para rasul dan para martir. Dengan tidak merubah apa-apa Gereja Kristen telah menjadikan mazmur-mazmur itu sembahyang resminya. Memang seruan-seruan berupa pujian, permohonan atau ucapan syukur itu dicetuskan para pemazmur dalam keadaan tertentu di zamannya dan berdasarkan pengalamannya pribadinya itu. Tetapi tanpa dirubah sedikitpun seruan-seruan itu mempunyai makna umum. Sebab mazmur-mazmur itu mengungkapkan sikap hati yang seharusnya ada pada tiap-tiap manusia yang menghadap Allah. Memang kata-kata tidak dirubah, tetapi makna mazmur-mazmur itu sangat diperkaya. Di masa perjanjian baru orang beriman bersyukur dan memuji Allah, yang sudah menyatakan rahasia hidupNya sendiri, yang melalui darah AnakNya menebus manusia dan mencurahkan Roh KudusNya. Dalam pemakaian liturgis tiap-tiap mazmur diakhiri dengan doa pujian yang tertuju kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus. Doa-doa permohonan yang tua itu menjadi lebih hangat semenjak Perjamuan Malam. Salib dan Kebangkitan mengajar manusia mengenai kasih Allah yang tak berhingga kepada manusia, mengenai beratnya dosa yang membelenggu semua orang, mengenai kemuliaan yang dijanjikan kepada orang benar. Memang pengharapan yang tercetus dalam nyanyian-nyanyian para pemazmur, sekarang terwujud. Sebab Mesias sudah datang dan meraja. Semua bangsa diajak untuk memuji Dia.
Ende: Mazmur (Pendahuluan Kitab) MAZMUR
PEMBUKAAN
Dengan menerbitkan "Kitab Mazmur" ini, kami mendjadikan suatu pertjobaan
terdjemahan Perdjandjian Lama dalam bahasa Indonesia. Kiranj...
MAZMUR
PEMBUKAAN
Dengan menerbitkan "Kitab Mazmur" ini, kami mendjadikan suatu pertjobaan terdjemahan Perdjandjian Lama dalam bahasa Indonesia. Kiranja lebih tepat dikatakan suatu "kenekatan". Bukan hanja kesulitan2 jang lazim dan karena kekurangan akan tenaga2 jang sungguh2 ahli maupun banjak daja-upaja lainnja, tetapi lebih2 karena maunja mendjadikan terdjemahan Kitab Sutji dalam bahasa Indonesia jang modern. Lain kata dalam bahasa Indonesia jang masih muda, jang tengah berkembang dengan pesatnja dan jang berusaha sedapat-dapatnja, tanpa meninggalkan tjorak keindonesiaannja, toh mendjadi alat jang baik untuk menjatakan pemikiran dan perasaan insani dan modern. perkembangan ini, chususnja dalam bidang keigamaan, masih djauh dari selesai. Tampak bahan pula bahasa ini bukan bahasa asal-usul. Mengingat kesemuanja itu, mudahlah dipahami, mengapa terdjemahan ini kami namakan suatu pertjobaan, terangnja lagi suatu "kenekatan".
Kami memberanikan diri untuk pekerdjaan ini guna memenuhi sekadarnja kebutuhan jang terasakan sekarang ini. Memang sudah lama umat Katolik Indonesia merasakan dengan wadjarnja kekurangan ini, bahwasanja sabda Allah bagi banjak orang masih merupakan sebangsa harta karun jang belum tergali. Apapula mengingat, bahwa karena adanja hormat terhadap "Kitab Sutji" dikalangan saudara2 jang beragama Islam, djuga ada suatu hormat bawaan, jang se-kali2 tidak boleh ditjela, dikalangan Katolik terhadap Kitab Sutji. Tetapi pikiran kami tertudju pula kepada kaum sebangsa jang beragama Islam untuk memperkenalkan mereka lebih baik lagi dengan Kitab Sutji umat Kristen, jang sungguhpun sudah mereka kenal, tetapi seringkali hanja samar2 dan malahan mungkin setjara tak tepat. Kiranja Perdjandjian Lama, jang pada galibnja tertudju kepada Kristus dan jang banjak persamaannja dengan adjaran Islam, bagi mereka dapat mendjadi penundjuk djalan dan dapat mengantar mereka kepada Kristus.
Adapun alasan jang mendorong kami untuk per-tama2 menerbitkan Kitab Mazmur ini ialah teristimewa alasan pemeliharaan rohani serta liturgis. Liturgi Geredja untuk sebagai besar tersusun dari mazmur2, baik Misa kudus dan upatjara-upatjara lainnja maupun Sembahjang berkala. Gerakan liturgi, jang mengusahakan penjegaran kembali dan pembaharuan, memerlukan pula njanjian2 dan lagu2. Dan dimana gerakan orang dapat mentjarinja lebih baik daripada didalam Kitab njanjian Perdjandjian Lama jang diilhami itu, jang sudah ber-abad2 memberi djasanja dan membuktikan keserasiannja bagi segala masa, semua negeri dan semua bangsa. Guna memudahkan usaha akan melandjutkan tradisi ini, maka terdjemahan kitab ini kami sadjikan kepada pemeliharaan rohani tjabang liturgi, dengan harapan mudah2an Kitab Mazmur ini memberikan djasa2nja jang baik kepada mereka. Pengalaman kami menundjukkan, bahwa Kitab Mazmur ini bukanlah jang termudah untuk diterdjemahkan dan pada hakekatnja lebih tepatlah kiranja menerbitkan kitab jang lebih mudah teksnja lebih dahulu. Tetapi kami menjimpang daripadanja, karena alasan2 praktis tsb. diatas.
Dengan terdjemahan ini kami tidak dan djuga tidak dapat mendjadikan terdjemahan jang aseli sama sekali. Denganpenuh rasa terimakasih, kami mengakui, bahwa kami sangat bergantung pada terdjemahan2 jang sudah ada, terutama pada "Echter Bibel" (th. 1953) dan apa jang disebut "Bible de Jerusalem" (th. 1955). Siapa jang mengenal tjetakan terbaru karya tsb., mudahlah melihat, betapa besarlah persamaannja antara terdjemahan kami dengan karya itu mengenai wudjudnja. Dan lagi bukanlah maksud kami, menghasilkan karya jang bermutu ilmiah se-penuh2nja. tetapi sebaliknja kami berpendapat, bahwa kiranja ada manfaatnja, untuk memberikan pertanggungdjawaban serta singkat dan se-dapat2nja mengusahakan, agar terdjemahan ini dalam se-gala2nja dapat dipertanggungdjawabkan. Kegunaan itu merupakan alaan jang tjukup, untuk melakukan pekerdjaan luarbiasa jang tidak sedikit. Namun demikian, kami menjadari benar2, bahwa terdjemahan kami masih ada kekurangan2nja, mungkin malahan banjak kekurangannja. Tetapi kami berharap, agar saudara2 jang budiman dengan tegur-sapanja sudi membantu kami, supaja tjetakan kedua - djika perlu - dan bagian2 lain Perdjandjian Lama lebih baik hasilnja.
Djika Roh Kudus, jang mengilhami Kitab Sutji akan keselamatan bangsa manusia, berkenan memberkati usaha jang sederhana ini, untuk menjingkapkan sabda Allah bagi bangsa Indonesia, dan sudi menerangi para pembatja dan para pemakai dengan tjahaja IlahiNja, akan menerima baik sabda itu, maka djerih-pajah kami tidak pertjuma belaka adanja.
Demikian hendaknja.
Dalam tjetakan kedua ini ada beberapa perubahan dimasukkan, Kebanjakan berupa perbaikan ralat jang terdapat dalam tjetakan pertama. Disana-sini terdjemahan sendiripun dirobah, sehingga lebih djelas dan tepat.
Jogjakarta, 25-5-1968 Para Penterdjemah
PENDAHULUAN
Kitab Mazmur-(mazmur ialah bentuk Etiopia/Arab kata Hibrani "mizmor", jakni njanjian dengan iringan alat2 musik berdawai)-adalah sehimpunan luas njanjian2 sutji dari djaman Israil kuno. Dalam Kitab Sutji ia masuk bilangan "Kitab2 Kebidjaksanaan", walaupun perbedaan antara Mazmur dan Kitab2 Kebidjaksanaan lainnja, chususnja mengenai isinja, tidak ketjil.
Keseratus limapuluh njanjian jang termuat dalam Kitab Mazmur itu, dalam bentuknja jang sekarang terbagi dalam lima kelompok jang berbeda satu sama lain, atau dalam lima "buku" (Mzm. 1-41.42-72.73-89.90-106.107-150). Tiap2 kelompok dikuntji dan dipisahkan dari kelompok jang mendahuluinja dengan pudjian penutup (Mzm. 41,14;72,18-19;89,53;106,48). Mazmur terachir (150)merupakan pudjian penutup buku kelima dan penutup seluruh kitab. Mazmur 1 (dan2) merupakan pendahuluan seluruh himpunan mazmur. Kendati pembagian itu, namun njatalah kiranja seluruh Kitab itu dianggap sebagai suatu keseluruhan. Pembagian atas lima buku, sedjalan dengan kelima buku Musa, sudah sangat tua dan sudah ada ketika terdjemahan Junani dikerdjakan (150 seb.Masehi). Namun demikian, ini hanja tingkat terachir dalam masa perkembangan jang berlangsung lama. Kitab itu sendiri memperlihatkan tanda-bekas kumpulan-kumpulan mazmur jang lebih ketjil sebelum itu. Demikianlah a.l. mazmur 3-41 terang merupakan suatu keseluruhan jang bulat "Mazmur2 Dawud". Mazmur 51-65.68-70 merupakan kumpulan jang kedua dan mazmur 138-145 kumpulan ketjil jang ketiga. Dengan tak begitu sukar pula orang dapat mengenali mazmur2 dengan nama "Putera2 Korah". (42-49) dan "Asaf" (73-83) sebagai kumpulan tersendiri. Dengan djudul (jang tak begitu terang) "Nyanjian Pendakian", sedjumlah mazmur mempunjai tjiri2 kelompok tertentu pula (120-134). Achirnja sekelompok jang dibubuhi perkataan "Halelujah"- (adapun tempat kata itu berlainan dalam naskah Hibrani dan naskah Junani) - besarlah kemungkinan tadinja berdiri sendiri (104-107.113-118.136.146-150). Dari unsur2 ini (dan unsur2 lainnja) mula2 terdjadilah tiga kumpulan tersendiri (jang berbeda satu sama lain karena kelainan sebutan Allah, jang dipakai didalamnja). jakni: 1-41.42-83 dan 84-150, jang achirnja dihimpunkan menjadi satu kumpulan besar, jang terbagi dalam lima buku. Tanda-bekas djelas adanja kumpulan2 tersendiri sebelum itu ialah terdapatnja mazmur-kembar (14=53;70=40,14-18;108=57,8-12+60,7-14).
Baik naskah aseli Hibrani kmaupun terdjemahan Junani dan Latin muat seratus limapuluh njanjian. Tetapi ada perbedaan diantaranja dalam pemberian nomor pada kebanjakan mazmur. Mazmur 9.10 menurut naskah Hibrani dipandang sebagai satu mazmur dalam terdjemahan Junani dan Latin; demikian pula mazmur 113.114. Sebaliknja terdjemahan2 tsb. membagi mazmur 116 menurut naskah Hibrani djadi dua, jakni 114.115; hal ini diulang pula dalam mazmur 147 (=146.147) Dari sebab itu pemberian nomor pada mazmur masing2 adalah sbb.
Hibrani Junani-Latin 1-8 = 1-8 9-10 = 9 11-113 = 10-112 114-115 = 113 116,1-9 = 114 116,10-19 = 115 117-146 = 116-145 147,1-11 = 146 147,12-20 = 147 148-150 = 148-150
Terdjemahan Indonesia ini mengikuti naskah Hibrani; nomor2 menurut terdjemahan Junani-Latin ditaruh dengan tanda-kurung dibelakang kepada mazmur dan perbedaan pemberian nomor ajat2 dengan tanda-kurang pada achir baris jang bersangkutan.
Keseluruhan Kitab Mazmur bukanlah pekerdjaan satu orang atau satu angkatan. Sebaliknja, terdjadinja mazmur2 djatuh sama dengan sebagian besar sedjarah Israil dan adalah hasil pelbagai angkatan. Sebelum abad kedua seb. Masehi sudah pastilah keseluruhannja selesai, sebagaimana terbukti dengan adanja terdjemahan Junani. Tetapi tak begitu teranglah, bilamana himpunan mazmur2 itu tepatnja dimulai. Namun demikian, dengan kepastian jang tjukup besar bolehlah dikatakan, bahwa sebagian mazmur2 itu terdjadi dimasa sebelum pembuangan, dan permulaan per-tama2 se-kurang2nja mesti ditempatkan didjaman radja Dawud (th. 1000 seb. Masehi). Beberapa mazmur (1;18,8-15;85;146;147) terdjadi sesudah Israil kembali dari pembuangan (th. 536 seb. Masehi), meskipun waktunja jang tepat sukar sekali ditentukan dan agak di-kira2kan sadja. Ada banjak mazmur jang tak dapat ditetapkan lagi masa terdjadinja.
Kebanjakan mazmur mempunjai djudul - (jang hendaknja dibedakan dari kepada jang kami bubuhkan untuk mengchasiatkan sesuatu mazmur) - jang pendek atau pandjang. Hanja tigapuluh empat mazmur (1-2.10.33.43.71.91.93-97.99.104-107.111-119.135- 136.146-150) tak ada djudulnja sama sekali dalam naskah Hibrani (Dalam naskah Junani djudul ditambah isi dan djumlahnja). Walaupun djudul2 itu kuno sekali (para penterdjemah Junani sering tidak mengetahui artinja lagi) dan oleh karenanja mempunjai sesuatu nilai, namun tidak dapat dipandang sebagai aseli da diilhamkan. Kesemuanja itu adalah imbuh kemudian. Artinjapun sering sangat tidak djelas.
Dalam djudul2 tsb. terdapatlah pelbagai petundjuk2 berkenaan dengan puisi, musik, liturgi, kesusasteraan dan sedjarah.
Istilah "Mazmur" dan "Njanjian" menjatakan, termasuk matjam njanjian2 mana mazmur ini. Kata "Maskil"(13x) kiranja berarti "Njanjian Kebidjaksanaan" atau lain sebagainja. Kata "Mitham" (16.56-60) hingga kini belum ketahuan artinja. Mazmur 7 dichasiatkan sebagai "Lagu ratap".
Jang per-tama2 harus dipandang sebagai petundjuk musik ialah kata jang terdapat diatas limapuluh lima mazmur dan jang kami terdjemahkan: "Untuk Pemimpin", meskipun terdjemahan ini belum pasti sekali benarnja. Adapun artinja ialah, bahwasanja mazmur tsb. hendaknja dinjanjikan oleh suatu kor dibawah pimpinan seorang dirigen. Ataukah mungkin maksudnja, njanjian2 itu termasuk suatu kumpulan tertentu? Istilah2 lainnja, jang kami terdjemahkan "Lagu: "....", agaknja berarti, bahwasanja mazmur tsb. hendaknja dinjanjikan menurut langgam tertentu dan terkenal. Achirnja pada djidar beberapa mazmur terdapatlah - kasang2 sampai beberapa kali - kata "selah" (Mzm. 9,17 "Higgaion selah"), jang belum lagi ketahuan artinja (71x dalam tigapuluh sembilan mazmur).
Sekali dua terdapat pula petundjuk Liturgi singkat. Mazmur 92 adalah suatu
njanjian, jang termasuk Liturgi Sabat (dalam terdjemahan Junani ada mazmur2
lainja jang dihubungkan dengan hari tertentu dalam pekan). Mazmur 38 dan 70
dinjatakan akan mengiring salah satu matjam kurban (Untuk peringatan);
Djudul mazmur 3.7.18.34.51.52.54.57.60.63.142 menghubungkan njanjian2 itu dengan peristiwa2 tertentu dalam riwajat hidup radja Dawud, walaupun isinja sering hampir2 tak ada sangkut-pautnja dengan kedjadian2 itu. Bagi para ahli Jahudi sepatah kata sadja seringlah mendjadi alasan jang tjukup, untuk menghubungkan mazmur tsb. dengan peristiwa itu.
Achirnja dalam djudul2 itu sering terdapatlah nama orang. Apa tepatnja arti nama orang itu belum begitu pasti, namun pada umumnja bolehlah kita mengukuhi pendapat jang lazim, bahwasanja oknum2 tsb. dipandang sebagai pentjipta njanjian2 itu. Demikianlah ada tudjuhpuluh tiga mazmur dengan nama Dawud, duabelas dengan nama Levita Asaf, sebelas dengan nama keluarga Levita "Putera2 Korah". Ada dua mazmur dengan nama Sulaiman, satu mazmur dengan nama guru2 ilmu kebidjaksanaan, Heman dan Etan, dan achirnja satu mazmur dengan nama Musa.
Chususnja mengenai pentjipta2 mazmur itu, timbullah persoalan penting perihal nilai djudul2 itu. Meskipun tidak aseli dan tidak diilhamkan, namun djudul2 itu menjatakan kejakinan para ahli Jahudi pengarang2 mazmur itu. Tradisi itu tidak boleh diabaikan begitu sadja, tanpa alasan satupun, apalagi kalau diteguhkan dalam Perdjandjian Baru. Namun demikian, bila ada alasan tjukup, maka bolehlah orang mengabaikan kejakinan Jahudi, lebih2 karena tidak djaranglah terdjemahan Junai menundjukkan adnja tradisi lain. Dan dalam soal ini selalu mungkinlah orang2 ber-beda2 pendapatnja.
Mazmur2 Israil adalah sjair2 keigamaan. Njanjian2 itu menuruti patokan2 puisi Hibrani. tidak bersandar metrum, melainkan rhytme, jakni pergantian suku kata2 jang bertekanan dan tak bertekanan menurut urutan jang beraturan. Lagu2 itu tersusun dari ajat2, jang terdiri atas dua baris atau lebih. Gaja dan kechasan puisi Hibrani, jaitu parallelisme atau kesedjadjaran dalam segala bentuknja, sangat banjak digunakan djuga dikenal (42.46.56.99.107). tetapi kurang djelaslah, apa bait2 digunakan dengankonsekwen, dan djika demikian halnja, dasar2 apakah dipakai untuk itu. Belakangan rupa2nja digunakanlah acrostichon, jakni urutan bagian2 mazmur dimulai dengan urutan huruf menurut abdjad. Ber0ulang2 acrostichon itu digunakan dalam mazmur2 (9.10.25.34.111.112.145) dan mentjapai puntjaknja dalam mazmur 119.
Tetapi disamping kesemuanja itu Kitab Mazmur mengenai patokan2 puisi lainnja. Teristimewanja pengarang merasa terikat pada susunan dan bentuk umum tertentu, jang pada galibnja berpautan dengan djenis njanjian tertentu. Sekadar njanjian jang ditjiptakannja, tersedialah baginja rangka2, ungkapan2 dan kiasan2 tertentu, jang dipergunakan buat melahirkan perasaan2nja sendiri. Dengan sadar dan disengadja orang kembali mengikuti para pengarang djaman sebelum itu. Akibatnja pertalian ini ialah, bahwasanja tidak sedikitlah djumlah mazmur jang mempunjai tjorak djiplakan dan bahwasanja ungkapan, kiasan dan gambaran ber- ulang2 kembali, hingga tiada kepastian, kenjataan apa tersembunji didalamnja. Mazmur2 sedjenis memberi kesan kesamaan jang sedikit-banjak membosankan.
Memang tida begitu sukarlah, mengadakan perngolongan dalam Kitab Mazmur dan merangkum pelbagai njanjian jang ter-sebar2 dengan satu kepala. Meskipun kelainan pendapat senantiasa mungkin dalam hal2 tersendiri dan perbedaan tidak selalu sama terangnja karena tjorak tjampurannja beberapa mazmur, namun penggolongan dan pengchasiatan itu dapat diterima umum.
Adapun jang paling djelas ialah "Lagu2 Ratap", jang merupakan bagian besar kitab tsb. Segala matjam derita insani dinjatakan dalam njanjian2 itu dihadapan hadirat Jahwe. Dalam sedjumlah mazmur seluruh rakjat ambil bagian, jakni dalam "Lagu2 Ratap Bersama", jang membentangkan malapetaka2 nasional, jang menimpa umat Allah (44.58.60.74.77.79.80.82.83.90.108.125), sementara dilain pihak derita perseorangan jang bermatjam-ragam itu memberi ilham akan lagu2 ratap jang lebih bertjorak perseorangan (5.6.7.13.17.22.25.26.27.28.31.35.38.39.42.43.51.54.55.56.57.59.61.63.64.69.70.8 6.88.102.109.120.130.140.141.142.143.). Lebih2 dalam mazmur2 tsb. terdapatlah keluapan balas dendam kepada musuh2 dan pengutukan jang bernafsu terhadap lawan2.
Mirip dengan golongan pertama mazmur2 itu adalah njanjian2, jang menjatakan imam teguh dan kepertjanaan besar akan Allah, jang didapati Israil dalam kejakinan keigamaannja (3.11.16.23.41.62.131).
Golongan ketiga mazmur2 terdiri atas pudjian2, jang meluhurka keagungan dan kemuliaan Jahwe. Djustru dalam pudjian2 inilah orang dapat menemukan kembali pikiran2 pokok keigamaan dari Perdjandjian Lama dengan bentuk jang indah. Pudjian2 ini memudji Allah, sifat2Nja dan pekerdjaanNja didalam alam semesta dan didalam sedjarah, dan pada umumnja adalah jang paling kaja isinja (8.19.29.33.65.67.68.85.100.103.104.111.113.114.117.135.136.145.146.147.148.149. 150). Dalam kelompok ini dapat dimasukkan pula mazmur2 jang membentangkan keradjaan Jahwe pun pada achir djaman (47.75.93. 96.97.98.99).
Jahwe, jang sudah bertindak demi kepentingan orang2Nja jang mursjid dan umatNja dan melimpahi mereka dengan anugerah2Nja, sudah sepatutnja diberi sjukur. Dan Israil insaf akan kewadjiban ini dan mentjatatkan rasa sjukurnja dalam sedjumlah njanjian sjukur (4.18.30.32.34.40.66.92.107.116.117.118.124.129.138).
Pusat keigamaan dan nasional bangsa Jahudi, jaitu Sion, Jerusjalem, tidak ketinggalan pula mengilhami para penjair. Ini a.l. njata dari mazmur2, jang mengutarakan pusat tsb. dan djuga Sion masa achir jang di-angan2kan (24.46.48.76.84.87.122.137).
Lembaga keradjaan jangamat penting, orang2 urapan Jahwe memberikan ilham kepada para pudjangga istana di Israil, sebagaimana pula halnja ditempat lainnja. Dan njanjian2 keradjaan ini karena tjoraknja jang keigamaan mendapat tempatnja pula didalam Kitab Mazmur (2.20.21.45.72.89.110.132). Karena Israil hidup pula dalam pengharapan akan kedatangan Radja Agung dimasa jang akan datang, jaitu Al-Masih, maka tidak sedikitlah mazmur2 keradjaan itu mempunjai tjorak Masehi jang chas (2.45.72.89.110.132).
Para guru kebidjaksanaan di Israil, jangberusaha mengadjar rakjat dalam kebidjaksanaan benar dari hukum Allah dan dalam seni hidup jang sedjati, lebih2 menggunakan amsal jang pendek atau pandjang. Tetapi mereka tidak segan2 pula menggunakan njanjian keigamaan jang mengadung peladjaran susila untuk mengadjarkan kebidjaksanaan. Demikian njanjian2 pengadjar mereka merupakan unsur jang penting pula akan keseluruhan Kitab Mazmur (1.9.10.12.14.15.36.37.49.52.53.73.91.94.112.119.128.139).
Ada djuga sedjumlah mazmur jangnjata berbeda dari djenis2 tsb. dan sukar dichasiatkan (mis. 121.123.126.133.134), meskipun kadang2 mungkin memasukkannja dalam salah satu kelompok, dan perbedaannja itu bolehlah dipertalikan dengan kebebasan penjair.
Njanjian2 jang bermatjam-matjam dengan dalil2 serta susunannja tersendiri itu djika dipandang sepintas lalu, memperlihatkan Kitab Mamzur itu se-akan2 suatu himpunan jang agak tjampur-aduk. Tetapi dipandang dari sudut lain, keseluruhannja toh disemangati oleh djiwa keigamaan jang sama, sehingga, djika ditelaah lebih dalam, tampaklah kesamaan jang lebih besar daripada jang dapat dikirakan semula. Sungguhpun mazmur2 itu adalah puisi, bahkan kadang2 puisi jang bermutu tinggi, namun lebih chususnja adalah njanjian2 keigamaan jangberusaha melahirkan perasaan2 keigamaan jang sangat dalam didalam bentuk insani jang indah. Kalau kitab2 Perdjandjian Lama lainnja, dalam bentuk prosa atau puisi, mengisahkan tjampurtangan Tuhan terhadap manusia serta umatNja, dengan djalan penjelenggaraan biasa atau dengan tindakan adjaib, jang menghukum atau menjelamatkan, dalam hidup orang perseorangan dan bangsa, maka Kitab Mazmur memperkenalkan kita dengan anggapan rasa hati keigamaan Israil dalam saat2 kebesarannja, dengan kekagumannja, dengan takwa dan tawakalnja, dengan sjukur dan pengharapannja, dengan harapannja akan masa jang akan datang dan dengan tjita2 keigamaannja. Kita mendengar keluh-kesah, jang keluar dari djiwa jang sesak dan naik kehadapan hadirat Tuhan, tetapi djuga sesal atas dosanja, jang telah diperbuatnja, dan atas kedurhakaannja. Seluruh rangkaian perasaan2 keigamaan terendapkan dan terpantulah dalam kitab "Njanjian2 Sion".
Terutama karena isi keigamaan inilah maka mazmur2 itumempunjai artinja jang tetap. Lebih karena isinja daripada karena bentuknja, puisi keigamaan Israil itu melebihi segala karya bangsa2 dikelilingnja. Perasaan2 keigamaan, jang serasi dengan segala keadaan hidup itu, mendjadi harta umum bagi semua orang, jang memandang tuhan sebagai penuntun dan pemimpin hidupnja. Kendati kadang2 tjara melahirkan perasaan2 itu, misalnja dalam mazmur2 pengutuk atau dalam mazmur2, jangtjoraknja jang duniawi kentara sekali, tidak begitu selaras dengan keluhuran Perdjandjian Baru, namun kesemuanja itu tidak dapat menghapus kenjataan, bahwasanja keinsafan keigamaan jang terdjalin didalamnja itu mempunjai tjorak umum dna tetap ada nilainja dalam Perdjandjian Baru. Dan lagi tidak perlu orang mengambil djalan penafsiran mazmur2 itu setjara kiasan atau rohani. Teks mazmur2 itu sendiri masih selalu dapat digunakan untuk melahirkan perasaan keigamaan jang murni.
Mazmur2 itu kentara pula tjorak liturgisnja. Kenjataan ini sangat penting guna memahami dengan tepat dan menilaikan dengan saksama teks2 kuno itu. Mazmur2 itu liturgis, bukan hanja dan bukan pula per-tama2 karena sangat banjak dipakai dalam liturgi Geredja. Tetapi pemakaian ini adalah sesuai dengan kechasan isinja. Sangatlah di-lebih2kan. mengatakan bahwa semua mazmur mendapat asal dan keterangannja dalam ibadah umum. Betul ada jang ditjiptakan chusus untuk ibadat umum Israil (15.24.84.135), tetapi ada banjak lainnja, jang asal-usulnja bersifat perseorangan dan pribadi dan timbul dari keadaan hidup perseorangan. Tetapi njanjian2 inipun kemudian dipakai, bahkan sangat dipakai dalam ibadat umum Bait-Allah maupun Synagoge, sebagaimana ternjata dari djudul2 kuno mazmur2 itu.
Disamping faktor2 lainnja, adalah terutama pemakaian peribadatan ialah jang besar pengaruhnja atas bentuk terachir mazmur2 itu. Tiada ada keberatan, berpendapat, bahwa didalam djalan sedjarah Israil njanjian2 tsb. mengalami perubahan2, untuk disesuaikan dengan keadaan2 jang berlainan dan teristimewa dengan ibadat umum. Teks2 itu mula2 se-kali2 tidak diterima dengan tjatatan "Ne varietur". Sebaliknja, Israil memandang pusaka sutji itu sebagai miliknja dan mendapat kebebasan jang agak besar, untuk mengubahnja menurut kebutuhan. Baru kemudian mazmur2 itu tak boleh di-usik2 lagi sama sekali.
Dengan latar-belakang peribadatan ini mazmur2 dalam wudjudnja jang sekarang dapat dipahami sepenuhnja. Apabila orang tidak mengindahkan suasana peribadatan ini, maka pelbagai mazmur menjerupai kumpulan bagian2 jang tjampur baur dan tidak ada atau hanja sedikitlah gandingannja satu sama lain. Tetapi djika dilakukan oleh beberapa kelompok penjanji atau oleh beberapa oang, maka tjampuran sedemikian itu malahan mendjadi terang dan penuh arti dan lagi bertambahlah gaja puisinja dan kedalaman keigamaannja. djika diartikan dengan tepat dan diukur menurut kedalaman keigamaannja dengan latar-belakang ini, maka dapatlah dipahami sepenuhnja dan dihargai se-tinggi2nja, bahwasanja njanjian2 umat Allah dahulu itu masih selalu didjundjung tinggi oleh umat Allah didjaman baru jakni Geredja Kristus, lebih2 dalam ibadat umumnja.
KETERANGAN-KETERANGAN Kependekan Kitab2 Sutji
Kependekan Nama lengkap Nama Latin Kedj. Kedjadian Genesis Peng. Pengungsian Exodus Lv Levitika Leviticus Tj.Dj. Tjatjahdjiwa Numeri Ul. Ulangtutur Deuteronomium Jos. Josua Josue Rt. Rut Rut Hakim2 Hakim2 Judicum Sjem. (I.II) Sjemuel (I.II) Samuel (I.II Regum) Rdj. (I.II) Radja2 (I.II) Regum (III.IV) Twr. (I.II) Tawarich (I.II) Paralipomenon (I.II) Esr. Esra Esdras Neh. Nehemia Nehemias Tb. Tobia Tobias Jdt. Judit Judith Est. Ester Esther Mak. (I.II) Makabe2(I.II) Machabaeorum (I.II) Ijob Ijob Job Mzm. Mazmur Psalmorum Ams. Amsal Proverbiorum Pengch. Pengchotbah Ecclesiastes Md.Ag. Madah Agung Cantica canticorum Kebidj. Kebidjaksanaan Sapientia Sir. Sirah Ecclesiasticus Js. Jesaja Isaias Jr. Jeremia Jeremias Bar. Baruch Baruch Jehesk. Jeheskiel Ezechiel Dn. Daniel Damiel Lg. Rt. Lagu Ratap Lamentationes Hos. Hosea Oseas Joel Joel Joel Amos Amos Amos Ob. Obadja Abdias Jon. Jona Jonas Mich. Micha Micheas Nah. Nahum Nahum Hab. Habakuk Habacuc Sef. Sefanja Sofanias Hag. Hagai Aggaeus Zak. Maleachi Malachias Mt. Mateus Matthaeus Mk. Markus Marcus Lk. Lukas Lucas Jh. Jo(h)anes Joannes Ks. Rs. Kisah RAsul2 Actus Apostolorum Rm. Romawi Romanos Kr. (I.II) Korintus (I.II) Corinthios(I.II) Gl. Galasia Galatos Ef. Efese Ephesios Filip. Filipi Philippenses Kol. Kolose Colossenses Tes. (I.II) Tesalonika (I.II) Thessaloniceses (I.II) Tm.(I.II) Timoteus (I.II) Timotheus (I.II) Tt. Titus Titum Fil. Filemon Philemonem Hbr. Hibrani Hebraeos Ptr. (I.II) Petrus (I.II) Petri (I.II) Jk. Jakobus Jacobi Jh. (I.II.III) Jo(h)anes (I.II.III) Joannis (I.II.III). Jud. Judas Judae Whj. Wahju Apocalypsis
Tanda2 lainnja
*pada achir baris (ajat menundjukkan akan tjatatan jang bersangkutan dihalaman- bawah.
Kata2 jang ditjetak miring adalah pembetulan ralat2 dalam naskah Hibrani, jang pertanggungdjawabannja terdapat pada lampiran kitab ini. Kata2 jang ditjetak miring dengan tanda-kurung adalah tambahan2 jang mendjelaskan.
(') berarti: suatu kata (atau sesuatu lainnja) dalam naskah Hibrani dihapuskan atau dipindahkan.
Penundjuk-penudjuk
Penundjuk2 dipinggir halaman menundjukkan ajat2, jang sama isinja ataupun pendjelasan lebih landjut sesatu ajat atau kata ataupun keterangan sedjarah, jang bersangkutan dengannja. Penundjukan2 itu sering besar gunanja sebagai tafsiran singkatan dan lebih2 memperlihatkan, bagaimana seluruh Kitab Sutji, betapapun djua perbedaannja diantara para pengarang insani, disemangati dengan djiwa jang sama. Dalam mentjari ajat2 tsb. dapatlah orang biasanja memakai terdjemahan manapun djua.
Nama-nama diri
Mengenai nama orang tokoh2 jang besar dan dikenal umum, kami pakai nama dalam bentuk jang lazim. Mengenai tokoh2 jang kurang dikenal dan nama2 lainja, kami berikan salinan, jang se-dapat2nja mendekati edjaan Hibrani.
Wycliffe: Mazmur (Pendahuluan Kitab) PENDAHULUAN MAZMUR
Sifat. Di antara kitab-kitab kuno, tidak ada kitab yang demikian menarik hati manusia seperti Kitab Mazmur ini. Di dalam Alkitab t...
PENDAHULUAN MAZMUR
Sifat. Di antara kitab-kitab kuno, tidak ada kitab yang demikian menarik hati manusia seperti Kitab Mazmur ini. Di dalam Alkitab tidak ada kitab lain yang berisi pengalaman religius yang demikian beragam seperti di dalam kitab ini. Di sini iman bangsa Israel terungkap dengan jelas, sebab Israel mengetahui kebenaran penyataan ilahi dari pengalaman. Di dalam berbagai Mazmur, pemahaman Israel tentang masa lalu dipadukan dengan penyembahan sehingga menjadi abadi. Pengalaman pribadi di sini dikaitkan dengan kehidupan bersama bangsa Israel. Oleh karena itu, di dalam Kitab Mazmur terdapat unsur universal yang hanya bisa muncul dari ekspresi gabungan berbagai pengalaman rohani manusia dalam banyak periode sejarah dan dalam berbagai situasi kehidupan. Setiap orang didorong oleh keinginannya untuk memberikan tanggapan kepada Allah yang hidup. Mereka semua dipersatukan oleh keinginan hati mereka untuk menanggapi dengan memakai perasaan terdalam mereka. Setiap jenis pengalaman religius tercermin di dalam ujian hidup sehari-hari dan diproyeksikan ke dalam hidup orang percaya masa kini. Dengan demikian di dalam setiap Mazmur terdapat suatu keabadian yang menjadikan kitab ini senantiasa dapat dikenakan kepada setiap zaman di dalam sejarah.
Istilah "Mazmur" berasal dari LXX yang memakai nama Psalmoi, untuk kumpulan kidung ini. Salah satu naskah Alkitab yang utama, Codex Alexandrinus, menambahkan sebutan "Pemazmur" dengan memakai istilah Yunani Psalterion. Sekalipun demikian, Alkitab berbahasa Ibrani menyebutkan kitab ini dengan nama Tehillîm, yang artinya "Puji-pujian." Di dalam sastra para rabi istilah ini kemudian diambil alih menjadi Séper Tehillîm yang artinya "Kitab Puji-pujian." Akar kata dari istilah Ibrani dan Yunani itu berarti memainkan alat musik. Seiring dengan waktu istilah tersebut menjadi berarti bernyanyi dengan iringan alat musik, sebuah ciri dalam ibadah Israel yang dipopulerkan dengan menyanyikan lagu-lagu kaum Lewi. Banyak Mazmur memberikan bukti bahwa Mazmur tersebut dipakai oleh paduan suara dan para peserta ibadah sebagai lagu pujian sedangkan yang lain tidak demikian. Akan tetapi, seluruh kumpulan Mazmur ini mengungkapkan kerinduan yang terdalam dan penuh semangat dari Israel secara keseluruhan untuk beribadah di hadapan Allah.
Judul dan kepenulisan. Salah satu hal pertama yang tampak ketika membaca kitab ini ialah bahwa setiap Mazmur mempunyai judul sendiri. Bagaimana judul-judul itu bisa ditafsirkan dengan tepat merupakan persoalan paling sulit di dalam kitab ini. Kadang-kadang, penulisnya yang ditekankan pada judulnya, sedang kali yang lain hubungan yang ditekankan. Alasan penggubahan sebuah Mazmur kadang-kadang juga dikemukakan. Judul-judul tertentu mengacu kepada pemakaian Mazmur tersebut di dalam ibadah umum. Judul-judul yang lain menunjukkan hasil yang diinginkan dari permainan alat musik tertentu. Yang lain lagi melukiskan sifat dasar dari Mazmur tersebut seperti (1) sebuah kidung untuk dinyanyikan dengan bantuan alat musik (mizmor), (2) sebuah nyanyian (shir), (3) lagu kebangsaan (maskil) atau (4) sebuah ratapan (mittam).
Semua Mazmur kecuali tiga puluh empat di antaranya memiliki semacam judul yang ditulis di atas Mazmur tersebut. Ketiga puluh empat Mazmur pertama judul disebut sebagai "anak-anak yatim piatu" Yahudi. Di antara Mazmur-mazmur yang berjudul, tujuh puluh tiga memakai nama ie Dawid yang pada umumnya diterjemahkan sebagai Mazmur Daud. Sekalipun demikian, istilah tersebut mungkin juga berarti "milik Daud," "berkaitan dengan Daud," "tentang Daud", "untuk Daud," "dipersembahkan kepada Daud," "dengan gaya Daud," atau "oleh Daud." Judul-judul tersebut tidak selalu menunjukkan penulis Mazmur itu, entah yang mengacu kepada Daud atau kepada yang lainnya. LXX menambahkan nama Daud untuk lima belas Mazmur yang tidak disebut demikian di dalam naskah Ibrani aslinya. Di samping itu ada tujuh puluh tiga Mazmur yang menyebut Daud (delapan puluh delapan di dalam LXX), dua belas dikaitkan dengan Asaf, dua belas dengan bani Korah, dua dengan Salomo, satu dengan Etan dan satu dengan Musa.
Sekalipun judul-judul tersebut tidak termasuk di dalam naskah asli, judul-judul itu didasarkan pada tradisi yang cukup kuno. Suatu perbandingan antara Naskah Masoret dengan LXX menunjukkan bahwa judul-judul tersebut sudah ada sebelum terjemahan LXX sebab sejumlah petunjuk tentang musik sudah tidak bisa dimengerti oleh para penerjemah LXX dan judul-judul tersebut tidak menjadi baku. Sekalipun judul-judul di atas itu bukan merupakan bagian dari naskah asli, judul-judul itu layak untuk dipertimbangkan sebab menunjukkan usaha pertama manusia untuk menulis sebuah pengantar untuk Kitab Mazmur.
Struktur. Sekalipun Kitab Mazmur tampaknya tidak memiliki perencanaan, itu tidak berarti bahwa mazmur-mazmur yang tercantum di dalamnya tidak disusun secara pasti. Sekalipun pokok pembahasannya tidak teratur, sistem pengaturan yang diikutinya jauh lebih jelas. Kitab ini dibagi menjadi lima bagian yang terdiri atas kumpulan sejumlah mazmur. Menurut Midrash on the Psalms, sebuah tafsir Mazmur Yahudi kuno, pembagian menjadi lima jilid dibuat sesuai dengan kelima Kitab Taurat. Jadi mungkin para penyusun kitab ini sejak semula memiliki maksud untuk memparalelkan lima tanggapan umat ini dengan lima Panggilan Allah.
Bukti berikutnya tentang adanya sebuah rencana adalah kehadiran sebuah kidung pujian pada akhir dari masing-masing kelima jilid itu. Mazmur 41, 72, 89, 106 dan 150 berisi kidung pujian untuk setiap jilid, sedangkan pasal 1 merupakan pengantar umum kepada mazmur lainnya. Mazmur 2, 42, 73, 90 dan 107 merupakan pengantar kepada masing-masing jilid.
Pengaturan yang cermat ini merupakan bukti bahwa edisi final dari kitab ini dirancang untuk sesuai dengan skema ibadah Yahudi. Terdapat hubungan yang menakjubkan di antara empat Kitab Taurat pertama dengan empat jilid pertama Kitab Mazmur. Karena seorang penganut Yudaisme Palestina menyelesaikan pembacaan Taurat setiap tiga tahun, sangat mungkin bahwa penggunaan Mazmur dijadwalkan untuk sesuai dengan hal tersebut. Menurut tradisi kuno, tampaknya delapan bagian dari Taurat diperuntukkan bagi hari-hari Sabat sepanjang dua bulan bersamaan dengan bagian-bagian yang cocok dari kitab para nabi. N. H. Snaith (Hymns of the Temple, hlm. 18) menunjukkan bahwa serangkaian mazmur mungkin dipakai dengan cara serupa itu. Menurut perhitungannya pembacaan Kitab Keluaran diawali pada hari Sabat ke empat puluh dua, pembacaan Kitab Imamat selesai dibaca pada hari Sabat ke tujuh puluh tiga, Kitab Bilangan pada hari Sabat ke sembilan puluh dan Kitab Ulangan pada hari Sabat yang ke seratus tujuh belas. Hari-hari Sabat ini sesuai persis dengan setiap pasal pertama dalam setiap jilid Kitab Mazmur. Tidak ada mazmur yang bisa lebih cocok daripada Mazmur 1 untuk mempersiapkan tiga tahun "merenungkan Taurat" yang akan datang. Mazmur 23, misalnya, akan mendampingi pembacaan kisah Yakub di Betel.
Pengumpulan dan Pertumbuhannya. Pengaturan mazmur yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sebuah proses pertumbuhan. Jauh sebelum kitab ini terbentuk seperti sekarang, sudah ada kumpulan-kumpulan mazmur yang lebih kecil. Secara bertahap, kumpulan-kumpulan yang lebih kecil ini dijadikan satu.
Di dalam pengelompokan menjadi lima jilid sekarang, ikatan kelompok yang lebih kecil masih kelihatan. Selain kumpulan mazmur Daud, ada sejumlah mazmur yang dikaitkan dengan bani Korah dan Asaf. Pada Mazmur 72:20 dinyatakan bahwa, "Sekianlah doa-doa Daud bin Isai," sekalipun masih ada mazmur-mazmur Daud lainnya sesudah itu. Kumpulan-kumpulan lebih kecil lainnya termasuk Mazmur Ziarah dan Mazmur Haleluya. Berbagai bagian tertentu juga menunjukkan kecenderungan yang jelas untuk memakai kata Yahweh atau Elohim, yang menunjukkan keberadaan kata-kata itu sejak semula pada kumpulan-kumpulan khusus. Kumpulan-kumpulan berikut mungkin sekali sudah beredar secara terpisah sebelum kemudian dipersatukan:
Mazmur 3-41. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk memakai nama Yahweh (272 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 15 kali pemakaian nama Elohim).
Mazmur 51-72. Sebuah kumpulan mazmur Daud dengan kidung pujian dan kecenderungan untuk memakai nama Elohim (208 kali pemakaian nama ini dibandingkan dengan 48 kali pemakaian nama Yahweh).
Mazmur 50, 73-83. Kumpulan mazmur perserikatan bani Lewi yang dikaitkan dengan Asaf.
Mazmur 42-49. Kumpulan mazmur serikat bani Lewi yang dikaitkan dengan bani Korah.
Mazmur 90-99. Mazmur-mazmur Sabat yang dikaitkan secara erat dengan ibadah Sabat.
Mazmur 113-118. Mazmur-mazmur Halel dari Mesir, dikaitkan dengan ibadah pada Perayaan Paskah (bdg. Mzm. 136).
Mazmur 120-134. Nyanyian Ziarah yang mungkin dikidungkan oleh para peziarah ketika berziarah menuju ke Bait Allah.
Mazmur 146-150. Mazmur haleluya yang dinyanyikan pada perayaan-perayaan.
T. H. Robinson (The Poetry of the Old Testament) dan lain-lain menunjukkan bahwa sebelum menjadi lima kelompok, kitab ini terdiri dari tiga kelompok. Ketiga kelompok ini, 1-41-42-89-90-150, mungkin telah dibagi lagi menjadi bentuk yang sekarang untuk disesuaikan dengan pembagian Kitab Taurat. Terlepas dari apakah teori ini bisa dibuktikan atau tidak, pemahaman yang benar tentang.sifat susunan Kitab Mazmur ini penting. Melalui proses bertahap berupa pengumpulan, penyusunan kembali dan perbaikan, Allah memelihara harta ini, yaitu tanggapan Israel atas penyataan diri-Nya.
Penanggalan. Sistem penanggalan yang tepat untuk Kitab Mazmur tidak mungkin dibuat. Orang-orang yang bertanggung jawab atas edisi terakhir Kitab Mazmur dan juga para pengumpul sebelumnya, berusaha untuk menyediakan sebuah kitab nyanyian bagi angkatan mereka sendiri. Pada saat-saat mengalami tekanan dan kesulitan, mereka berusaha menghidupkan kembali semangat masa lalu untuk mencukupi kebutuhan zaman mereka. Proses perbaikan dan penyesuaian membuat banyak mazmur kelihatan lebih baru daripada bentuk aslinya. N. H. Snaith (Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 285) mengatakan, "Sedikit Mazmur kalau tidak ditulis sebelum masa pembuangan tentu seluruhnya ditulis sesudah masa pembuangan. Sejumlah mazmur mungkin mengandung unsur-unsur yang berbeda waktu lebih dari seribu tahun." Sejumlah pakar mengikuti pendapat Duhm dan mengatakan bahwa sebagian besar mazmur digubah pada zaman Makabe. Sekalipun demikian, arus masa kini di kalangan pakar seperti Gunkel, Snaith, Patterson, Oesterley dan lain-lain cenderung menyebutkan tanggal yang lebih dini. Frasa, "Buku Doa dan Puji-pujian Bait Allah Yang Kedua," bisa tetap berlaku untuk seluruh kumpulan sebab penyuntingan terakhir dilaksanakan sesudah masa pembuangan. Akan tetapi banyak Mazmur berasal dari zaman sebelum pembuangan, dengan sejumlah unsur yang asal-usulnya adalah pada masa pra-Daud. Pengenalan akan bahan yang dini dan yang kemudian ini menjadikan Kitab Mazmur malah lebih berharga sebagai catatan tentang seluruh sejarah tanggapan Israel kepada Allah selaku Umat Pilihan-Nya.
Sekalipun penting untuk mengetahui latar belakang sejarah dan tanggal yang tepat dari suatu nas waktu menafsir, hal itu tidak terlalu merupakan keharusan ketika menafsirkan Mazmur dibandingkan dengan nas Perjanjian Lama lainnya. Karena universalitas kebenaran yang terdapat di dalamnya, kitab ini tidak terlalu perlu memperhatikan latar belakang sejarah itu. Pesan-pesannya yang tidak tergantung waktu menjadikannya bisa digunakan pada zaman pra-pembuangan, pasca-pembuangan dan pada zaman kita. Sekalipun demikian, keabadian ini jangan membuat kita tidak berusaha untuk mengetahui latar belakang ketika mazmur tertentu digubah sejauh hal itu dimungkinkan. Gaya penulisan, sebutan-sebutan pada peristiwa sejarah tertentu, bahasa yang dipakai, pemikiran-pemikiran teologis yang terungkap dan bukti-bukti di dalam nas lainnya tetap harus dipelajari, sebab setiap nas menjadi makin hidup jika latar belakang itu dipahami secara benar. Sekalipun keadaan makin hidup itu sangat diperlukan, sikap dogmatis dalam menyebutkan penulis, tanggal serta situasi waktu penulisan tidak pada tempatnya sebab setiap pesan kitab ini bersifat abadi. Harus diingat bahwa sejarah memiliki cara untuk berulang berkali-kali.
Bentuk Syair. Orang Ibrani telah mewariskan kepada dunia sebuah bentuk pengungkapan syair yang sederhana dan kekanak-kanakan. Ungkapan berbentuk syair itu lebih berasal dari hati ketimbang dari keinginan untuk mengungkapkannya dengan keindahan seni. Karena bahasa Ibrani adalah bahasa bergambar, setiap kata yang dipakai itu jelas dan gamblang. Akar-akar kata kerjanya menggambarkan tindakan yang kelihatan, sedangkan pemakaiannya memberikan ruang untuk memakai imajinasi yang kuat. Di dalam bahasa ini terdapat ungkapan perasaan yang sangat kuat yang cocok untuk menunjukkan kerinduan religius yang membara.
Sekalipun puisi Ibrani tidak memiliki sajak dan lemah sistem metrisnya, puisi Ibrani memiliki ciri-ciri penggantinya. Sebaliknya dari dasar-dasar utama sajak Inggris ini, orang Ibrani menggunakan dua ciri khusus yang utama - penekanan aksen (irama) dan paralelisme. Menurut F. C. Eiselen (The Psalms and Other Sacred Writings) irama adalah "pengulangan harmonis dari hubungan suara tertentu." Pola aksen yang terdiri dari dua, tiga atau empat hitungan irama memungkinkan dibuatnya pengulangan harmonis ini. Sejumlah suku kata yang tanpa tekanan di antara setiap hitungan irama disusun secara bergantian di antara suku kata yang panjang dan suku kata yang pendek. Bentuk pengaturan semacam ini tergantung pada irama di dalam setiap anak kalimat dan keseimbangan irama di antara anak-anak kalimat itu. Hasilnya adalah suara yang naik dan turun secara menyenangkan sehingga sanggup mengungkapkan semangat yang hidup, kepastian yang tenang, keceriaan, ratapan atau ungkapan emosional lainnya.
Ciri khusus utama yang kedua di dalam syair Ibrani ialah keseimbangan di antara bentuk dan makna yang dinamakan paralelisme. Sang penyair mengemukakan sebuah pemikiran; kemudian pemikiran itu diperkuat lagi dengan pengulangan, variasi atau kontras. Ada tiga bentuk utama paralelisme yang dapat dijumpai di seluruh Kitab Mazmur.
1. Sinonim. Baris kedua mengulangi baris pertama dengan kata-kata yang sedikit berbeda (bdg. Mzm. 1:2).
2. Antitetis. Baris kedua merupakan kontras yang tajam dari kalimat pertama (bdg. Mzm. 1:6).
3. Sintetis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan menambah pemikiran semula (bdg. Mzm. 7:2).
Tiga bentuk yang kurang utama membantu menambah kekayaan dan keragaman dari syair Ibrani.
1. Introver. Kalimat kedua paralel dengan kalimat ketiga dan kalimat pertama paralel dengan kalimat keempat (bdg. Mzm. 30:9-11; 137:5, 6).
2. Klimaktis. Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama dengan membawa pemikirannya kepada klimaks (bdg. Mzm. 29:1, 2).
3. Emblematis. Kalimat kedua melanjutkan pemikiran kalimat pertama dengan mengangkatnya ke alam yang lebih tinggi atau dengan memakai sebuah simile (bdg. Mzm. 1:4).
Ada faktor-faktor lain yang menjelaskan keefektifan paralelisme. Inti masalahnya ialah harapan dan kepuasan pembacanya. Kalimat pertama akan selalu menimbulkan suatu rasa berharap, sedangkan kalimat-kalimat berikutnya akan memuaskan harapan tersebut. Penyair bisa membuat variasi dengan mengubah tingkat pengharapan atau cara memuaskan pengharapan itu dengan memakai kontras untuk menunjukkan apa yang tidak diharapkan. Paralelisme yang dipergunakan ini kadang-kadang lengkap, kadang-kadang tidak lengkap dengan satu unsur yang tidak ada; dan pada saat-saat tertentu ditambahkan sebuah unsur pelengkap untuk memberikan rasa puas yang lebih baik. Bukan hanya paralelisme namun juga irama berpola menghasilkan rasa penantian pemuasan ini. G. B. Gray (The Forms of Hebrew Poetry, 1915) telah memberi nama kepada dua jenis irama dasar ini. "Irama yang menyeimbangkan" menghasilkan kepuasan tertentu sebab jumlah penekanan aksennya sama (2:2 atau 3:4). "Irama yang menggema" menghasilkan perasaan berbeda dengan memberikan tekanan yang lebih sedikit pada kalimat kedua dibandingkan dengan kalimat pertama (3:3). Yang paling sering dipakai dari bentuk yang kedua adalah irama Quinah, yang dipakai dalam ratapan dan nyanyian penguburan.
Di samping paralelisme dan irama, dua unsur lain mempengaruhi syair Ibrani. Ini bukan karakteristik khusus, sebab ini terdapat di dalam semua syair. Yang pertama adalah sifat emosional yang menghasilkan suatu ekspresi yang memuncak. Kata-kata atau frasa khusus yang penuh kuasa dapat menghasilkan hal ini. Pemakaian suara tekak yang banyak dapat menampilkan suasana keras. Bunyi mendesis yang tajam dapat mengungkapkan kemenangan atau kesedihan atas sebuah kekalahan. Kata yang meniru suara dapat dengan mudah menunjukkan pesannya. Unsur kedua adalah nilai membantu ingatan Bari sebuah syair yang membantu pembaca mengingatnya. Sebagai ganti pemakaian sajak, pemazmur kadang-kadang memanfaatkan pengaturan akrostik. Setiap baris atau sejumlah baris akan diawali dengan huruf-huruf dalam abjad Ibrani. Mazmur 119 merupakan contoh yang baik sekali karena setiap baris di dalam kelompok delapan baris diawali dengan huruf yang sama. Kedua puluh dua huruf dalam abjad Ibrani dipakai dalam kelompok-kelompok yang berurutan. Cara semacam itu membuat mazmur tersebut lebih mudah dihafalkan. Sesungguhnya, hanya delapan atau sembilan mazmur yang disusun demikian secara keseluruhan. Masing-masing mazmur ini bersifat sebagai amsal dan akan mengalami suatu keterpisahan pemikiran jika saja pengaturan menurut abjad ini tidak dipakai.
Berdasarkan gaya pokoknya, syair Ibrani sangat berbeda dengan syair modem. Sekalipun demikian, pola syair Ibrani memiliki kemiripan yang erat dengan pola syair Timur Dekat. Terdapat sejumlah kesamaan dalam gaya antara syair-syair di Israel dengan yang di Mesir dan Mesopotamia. Akan tetapi, kesamaan yang paling mencolok tampak jelas jika syair Ibrani dibandingkan dengan syair-syair Ugarit. Syair Ugarit pada dasarnya merupakan jenis Kanaan-Siria. Kanaan dan Siria berhubungan dekat dengan Israel di sepanjang sejarah pra-pembuangan. Kemiripan-kemiripan utamanya adalah dalam hal metafora, frasa, irama dan paralelisme - semua berkenaan dengan gaya penulisan dan pemakaian frasa. Perbedaan secara religius dan teologis jauh melebihi semua kesamaan ini.
Klasifikasi. Suatu perbandingan sekilas dari syair-syair di dalam Mazmur menunjukkan bahwa syair-syair itu tidak dikelompokkan menurut pokok bahasannya. Pokok-pokok tersebut, yang dibahas atau disinggung, meliputi pengalaman manusia. Sekalipun berbagai topik itu terlalu banyak untuk didaftarkan, lima pokok utama dapat dikenali:
1. Kesadaran akan kehadiran Allah.
2. Pengakuan akan perlunya mengucap syukur.
3. Persekutuan pribadi dengan Allah.
4. Mengingat peranan Allah dalam sejarah.
5. Perasaan dibebaskan dari musuh.
Telah ada banyak usaha untuk mengklasifikasi mazmur-mazmur menurut sebuah patokan yang sudah dipertimbangkan sebelumnya. Mowinckel dan lain-lain memusatkan klasifikasi mereka pada isi dengan mengembangkan berbagai sub-divisi berdasarkan topik secara rinci. Yang lain berusaha mengungkapkan suasana hati dari penulis setiap mazmur. Kalangan yang lain lagi telah menggunakan berbagai jenis mazmur sebagai kriteria klasifikasi. Ini berawal hanya dengan pembagian menjadi tiga yaitu nyanyian pujian, doa dan kidung iman. Baru-baru ini Gunkel telah melaksanakan pekerjaan yang sangat berharga dengan mengidentifikasi lebih jauh jenis-jenis atau kategori ini. Dasar pikiran pokoknya ialah bahwa mazmur pada mulanya merupakan nyanyian pemujaan yang dipakai ketika Israel beribadah. Oleh karena itu Gunkel menggolongkan setiap mazmur menurut "rumusan yang berulang secara tetap" dari setiap jenis tertentu. Gunkel menemukan lima jenis utama sebagai berikut:
1. Nyanyian Pujian.
2. Ratapan Nasional.
3. Mazmur Kerajaan (termasuk Mazmur Mesianis).
4. Ratapan Individu.
5. Ucapan Syukur Individu.
Kepada jenis-jenis tersebut Gunkel menambahkan sejumlah jenis minor yang masing-masing jenisnya hanya diwakili oleh beberapa mazmur saja.
6. Nyanyian Ziarah.
7. Ucapan Syukur Bangsa.
8. Syair Hikmat.
9. Liturgi Taurat.
10. Jenis-jenis Campuran.
Jenis-jenis ini merupakan skema yang terakhir dan paling mutakhir dari Gunkel (bdg. N. H. Snaith dalam Twentieth Century Bible Commentary, hlm. 235 dst.). Sebelumnya, Gunkel telah memasukkan juga jenis-jenis minor lainnya seperti "Berkat dan Kutuk" serta "Mazmur Nubuat" (bdg. John Patterson, The Praises of Israel, hlm. 32). Kepada jenis-jenis ini masih dapat ditambahkan Mazmur-mazmur Mesianis.
Sekalipun usaha untuk merumuskan sebuah sistem klasifikasi itu sangat menarik, terdapat suatu keadaan tidak menentu sekitar Kitab Mazmur yang tidak memungkinkan klasifikasi secara mutlak. Keadaan tidak menentu ini disebabkan oleh sifat abadi dan universal dari kumpulan ini. Sebetulnya, setiap metode klasifikasi memberikan pandangan yang berbeda tentang Kitab Mazmur sehingga memungkinkan seseorang memahami banyak seginya yang ada.
Nilai Abadi. Kitab Mazmur mula-mula adalah sebuah kesaksian yang hidup tentang iman Israel. Setiap mazmur merupakan bukti tentang pemikiran dan perasaan dari orang Ibrani yang tidak terhitung jumlahnya. Semua mazmur-mazmur itu menggemakan aspirasi dan harapan dari orang laki-laki dan perempuan di setiap era sejarah Israel. Di dalamnya tercermin kesulitan dan pergumulan umat Allah. Mazmur-mazmur itu menunjukkan peziarahan dari keraguan menuju kepastian dalam abad-abad kritis dari pimpinan Allah ini. Setiap mazmur itu senantiasa menunjuk kepada kemenangan atas keputusasaan oleh iman kepada Allah yang hidup. Sejarah Israel jelas akan kurang tanpa bukti-bukti mengenai tanggapan iman kepada penyataan Allah ini.
Kedua, Kitab Mazmur merupakan suatu latar belakang yang penting bagi pelayanan Yesus. Dia mempelajari Mazmur di dalam lingkungan keluarga Yahudi-Nya. Ketika dibaptiskan, misiNya diutarakan dengan memakai kata-kata dari salah satu mazmur. Di kayu salib, sebuah mazmur diingat oleh-Nya pada saat-saat terakhir-Nya di situ. Mazmur lebih banyak dikutip di dalam Perjanjian Baru dibandingkan dengan kitab lain apa pun dari Perjanjian Lama. Terdapat sekitar seratus acuan atau petunjuk langsung dari Kitab Mazmur di dalam Perjanjian Baru. Frasa-frasa dan ayat-ayat dibawa untuk menjelaskan, sifat dan pesan Yesus selaku Mesias.
Ketiga, Kitab Mazmur terbukti merupakan sumber yang sangat diperlukan untuk bahan ibadah. Orang Kristen di seluruh dunia telah terbantu untuk menghampiri Allah secara pribadi di dalam penyembahan. Mazmur 51 mengutarakan pikiran dari orang berdosa yang bertobat. Mazmur 32 menunjukkan betapa sukacita yang bisa dialami oleh seorang yang memperoleh pengampunan dosa. Mazmur 23 mengungkapkan rasa percaya yang biasa dimiliki oleh banyak anak Tuhan. Mazmur 103 menyampaikan pujian kepada Allah yang seharusnya dilakukan semua orang percaya. Mazmur-mazmur yang lain memuaskan kebutuhan ibadah yang mendasar, memperkaya pengalaman pribadi setiap orang yang mencari.
Akhirnya, Kitab Mazmur telah menjadi kitab puji-pujian sepanjang zaman. Tidak ada kitab pujian lain yang telah dipakai demikian lama oleh demikian banyak orang. Kitab ini dibaca, dikidungkan atau dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun. Samuel Terrien mengatakan tentang hal tersebut, "Tidak ada kitab pujian dan doa lain yang sudah dipakai selama waktu demikian lama dan oleh demikian banyak orang laki-laki' dan perempuan yang sangat beragam" (The Psalms and Their Meaning Today, hlm. vii). Pada zaman informal, Kitab Mazmur memberikan suatu bahasa yang sangat diperlukan untuk penyembahan. Melalui ciptaan Luther, "A Mighty Fortress Is Our God," ciptaan Isaac Watts, "Jesus Shall Reign," dan juga, "O God, Our Help in Ages Past," pesan Kitab Mazmur berkumandang di seluruh dunia.
Wycliffe: Mazmur (Garis Besar) GARIS BESAR MAZMUR
Susunan yang ada sekarang dari Kitab Mazmur jelas menunjukkan garis besarnya sendiri:
Jilid I. Mazmur 1-41.
Jilid II. Maz...
GARIS BESAR MAZMUR
Susunan yang ada sekarang dari Kitab Mazmur jelas menunjukkan garis besarnya sendiri:
- Jilid I. Mazmur 1-41.
- Jilid II. Mazmur 42-72.
- Jilid III. Mazmur 73-89.
- Jilid IV. Mazmur 90-106.
- Jilid V. Mazmur 107-150.
BIS: Mazmur (Pendahuluan Kitab) MAZMUR
PENGANTAR
Buku Mazmur adalah bagian dari Alkitab yang merupakan buku nyanyian dan buku
doa. Buku ini dikarang oleh berbagai pujangga dalam wa
MAZMUR
PENGANTAR
Buku Mazmur adalah bagian dari Alkitab yang merupakan buku nyanyian dan buku doa. Buku ini dikarang oleh berbagai pujangga dalam waktu yang lama sekali. Nyanyian-nyanyian dan doa-doa ini dikumpulkan oleh orang Israel dan dipakai dalam ibadat mereka, lalu akhirnya dimasukkan ke dalam Alkitab.
Sanjak-sanjak keagamaan ini bermacam ragam: ada nyanyian pujian dan ada nyanyian untuk menyembah Allah; ada doa mohon pertolongan, perlindungan dan penyelamatan; doa mohon ampun; nyanyian syukur atas berkat Allah, permohonan supaya musuh dihukum. Doa-doa ini ada yang bersifat pribadi, ada pula yang bersifat nasional. Beberapa di antaranya menggambarkan perasaan seseorang yang paling dalam, sedangkan lainnya menyatakan kebutuhan dan perasaan seluruh umat Allah.
Mazmur-mazmur dipakai oleh Yesus, dikutip oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, dan menjadi buku ibadat yang sangat dihargai oleh Gereja Kristen sejak semula.
Isi
Ke-150 Mazmur dibagi dalam lima kelompok atau buku, sebagai berikut:- Buku Pertama:
Mazmur 1:1-41:13 - Buku Kedua !!:
Mazmur 42:1-72:19 - Buku Ketiga :
Mazmur 73:1-89:52 - Buku Keempat:
Mazmur 90:1-106:48 - Buku Kelima :
Mazmur 107:1-150:6
Ajaran: Mazmur (Pendahuluan Kitab)
Tujuan
Supaya dengan mengetahui isi Kitab Mazmur, anggota jemaat mengerti bagaimana
hidup dengan penuh pengucapan syukur menghadapi pencobaan/pender
Tujuan
Supaya dengan mengetahui isi Kitab Mazmur, anggota jemaat mengerti bagaimana hidup dengan penuh pengucapan syukur menghadapi pencobaan/penderitaan dan pentingnya mengakui dosa.
Pendahuluan
Penulis : Kitab Mazmur ditulis oleh banyak orang, di antaranya adalah Raja Daud, Musa, Asaf, Anak-anak Korah, Heman, dan lain-lain. Tetapi Raja Daud merupakan penulis terbanyak.
Isi Kitab: Kitab Mazmur terdiri dari 150 pasal. Isi kitab Mazmur mengungkapkan tanggapan orang-orang beriman kepada Tuhannya, baik dalam bentuk doa atau nyanyian.
I. Ajaran-ajaran utama dalam Kitab Mazmur
Pembagian isi Kitab Mazmur
- Mazmur pujian terhadap Allah. Contoh: Mazm 8:1-9; 29:1-11; 33:1-22; 68:1-35\ /TB Mazm 100:1-5; 103:1-105:45; 117:1-2\ Mazm 145:1-150:6.
- Mazmur pengucapan terimakasih kepada Alla Contoh: Mazm 9:1-20; 18:1-50; 32:1-11; 66:1-20\ /TB Mazm 76:1-12; 116:1-19\\.
- Mazmur Pemujaan atas keagungan Allah sebagai raja. Contoh: Mazm 2:1-12; 20:1-9; 21:1-13; 45:1-17; 47:1-9\ /TB Mazm 72:1-20; 93:1-5; 96:1-13; 97:1-12; 98:1-9\ Mazm 99:1-9; 110:1-7; 132:1-18.
- Mazmur Permohonan, Ratapan, dan Keluhan. Contoh: Mazm 3:1-8; 6:1-10; 13:1-6; 22:1-31; 25:1-22\ /TB Mazm 31:1-24; 35:1-28; 38:1-22; 39:1-13; 42:1-11\ Mazm 43:1-5; 44:1-26; 51:1-19; 63:1-11; 74:1-23\ /TB Mazm 79:1-13; 80:1-19; 83:1-18; 85:1-13; 86:1-17\ Mazm 102:1-28; 130:1-8; 140:1-143:12.
- Mazmur tentang Ziarah. Contoh: Mazm 84:1-12; 120:1-134:3.
- Mazmur tentang Sejarah Bangsa Israel. Contoh: Mazm 78:1-72; 95:1-11; 105:1-45; 106:1-48; 114:1-8.
- Mazmur tentang keagungan Firman Allah. Contoh: Mazm 119:1-176.
II. Kesimpulan/penerapan
Kitab Mazmur mengajarkan bagaimana anak-anak Allah hidup dan berjalan mengikuti Allah.
Kitab Mazmur mengajarkan bagaimana Allah memberkati setiap orang yang mau berpegang/hidup sesuai dengan Firman Allah.
Kitab Mazmur mengungkapkan keagungan Allah sebagai pencipta alam semesta dan sekaligus sebagai pemeliharaannya.
Kitab Mazmur mengajarkan kebesaran dan kemuliaan sifat-sifat Allah.
Kitab Mazmur mengajarkan tentang Allah yang tidak mau bergaul dengan orang-orang yang hidup di dalam perbuatan dosa.
Pertanyaan-pertanyaan yang Dapat Digunakan untuk Tanya Jawab
- Siapakah penulis Kitab Mazmur yang terbanyak?
- Apakah isi Kitab Mazmur di dalam pembagiannya?
- Pelajaran rohani apakah yang saudara dapatkan dalam mempelajari Kita Mazmur?
Intisari: Mazmur (Pendahuluan Kitab) Pujian dan ucapan syukur
BAGAIMANA MAZMUR DIKUMPULKANMazmur merupakan kumpulan puji-pujian dan doa yang dikumpulkan selama kurun waktu yang panjang d
Pujian dan ucapan syukur
BAGAIMANA MAZMUR DIKUMPULKAN
Mazmur merupakan kumpulan puji-pujian dan doa yang dikumpulkan selama kurun waktu yang panjang dalam sejarah umat Israel, paling tidak sejak zaman Daud sampai sesudah pembuangan ke Babel. Kita boleh juga menamakannya sebagai 'kumpulan dari kumpulan-kumpulan', sebab seratus lima puluh mazmur itu dibagi dalam lima buku: Maz 1:1-41:13; Maz 42:1-72:20; Maz 73:1-89:52; Maz 90:1-106:48; Maz 107:1-150:6. Walaupun para ahli Alkitab melihat adanya beberapa perbedaan dalam kelompok-kelompok Mazmur ini, tetapi itu jelas bukan mengenai isi pokoknya. Lain dengan buku nyanyian kita, Mazmur berisi doa dan ucapan syukur, permohonan dan puji-pujian yang tidak beraturan urutannya. Beberapa Mazmur ditulis lebih dari satu kali, Sebagai contoh, Mazmur 14 = Mazmur 53; Mazmur 60:5-12 = Mazmur 108:6-13; Mazmur 14 = Mazmur 40:13-17. Kita menemukan beberapa Mazmur yang diulang dalam kitab- kitab lain dalam Perjanjian Lama, dan kita juga menemukan Mazmur yang tidak berada dalam kumpulan utama. Dalam penelitian ini kita akan mengelompokkan mazmur-mazmur berdasarkan pokok yang berbeda, dan melihat apa saja yang dapat kita pelajari darinya dewasa ini.
PUISI IBRANI
Sebagian besar puisi masa kini bersanjak, tetapi tidak demikian halnya dengan puisi Israel kuno. Para penyair cenderung untuk membandingkan suatu ungkapan dengan ungkapan yang lain, kadang-kadang hal yang sama diulang dengan cara yang berbeda, kadangkala dengan kebalikannya. Sebagai contoh, lihatlah Mazmur 146:3: "Janganlah percaya kepada para bangsawan,
kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan."
Atau Mazmur 11:5:
"Tuhan menguji orang benar dan orang fasik,
dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan."
Kadang pemikiran itu dilanjutkan dalam ayat berikutnya.
Puisi semacam ini tidak terlalu banyak kehilangan arti pada waktu diterjemahkan ke dalam bahasa lain dan ini berarti bahwa kita tetap dapat menikmatinya pada masa kini. Beberapa pemazmur mulai menulis setiap baris atau sejumlah baris dengan huruf yang sama. Mazmur 119 memakai hampir seluruh alfabet Ibrani dengan cara ini.
MAZMUR DAN PENYEMBAHAN
Sejumlah besar mazmur pada mulanya merupakan doa-doa atau puji-pujian pribadi, tetapi banyak yang kemudian ditulis untuk penyembahan umum. Ada yang ditujukan untuk pemimpin biduan atau untuk para penyanyi Rumah Tuhan seperti 'bani korah'. Mazmur-mazmur itu dipakai untuk upacara penyembahan di Rumah Tuhan, terutama pada waktu diadakan upacara-upacara besar. Seperti halnya buku nyanyian kita yang berisi beraneka macam pujian yang ditulis oleh penggubah yang berbeda-beda, pada tempat dan situasi yang berbeda pula, Mazmur berisi penyembahan bangsa Israel sepanjang zaman.
Pesan
1. Allah harus disembaho Oleh karena siapa Dia: Allah adalah Raja yang besar dan berkuasa, yang wilayah kekuasaan-Nya menjangkau seluruh dunia. Ia dapat bertindak menurut kehendak-Nya dan apapun tidak dapat menghalang-halangi rencana-Nya. Dibandingkan dengan Dia, ilah-ilah lain bukan apa-apa. Maz 24:7-10; 29:1-11; 47:8,9; 93:1-4; 99:1,2; 113:1-6; 135:5,6; 145:10-13.
Dia kudus dan benar dalam menangani umat-Nya, laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, Dia menghakimi semua orang dan tidak seorang pun terluput dari penghakiman-Nya.Maz 33:4,5; 75:7; 76:7-9; 96:10-13; 97:6; 99:3-5; 105:7
Dia penuh kasih dan memperhatikan semua orang. Dia terutama membela yang lemah dan tak berdaya, dan sudah tentu, umat kepunyaan-Nya, Israel. Sementara itu, Dia baik kepada semua orang, dan umat-Nya laki-laki dan perempuan dapat selalu bergantung pada kasih-Nya. Maz 33:18, 19,22; 68:5,6; 100:5; 108:4; 113:7-9; 117:1,2; 136:1-26; 145:8,9; 146:5-9
o Oleh karena apa yang telah dijadikan-Nya: Allah telah menciptakan dunia dengan segala isinya. Dia melakukan dengan penuh kuasa, tetapi dengan santai. Keberadaan segala sesuatu adalah karena Dia. Maz 24:1,2;33:6-9; 65:5-8; 95:1-5; 135:5-7; 136:4-9; 147:4,5
Dia tidak hanya menciptakan segala sesuatu, tetapi Dia juga memenuhi segala kebutuhan mereka. Dia menjaga kelangsungan dunia dengan kuasa-Nya. Maz 65:9-13; 67:6,7; 104:1-35; 111:5; 146:5-7; 147:8,9
Sudah tentu termasuk di sini, manusia sendiri, kecil tak berdaya, namun menjadi mahkota dari segala ciptaan Allah. Maz 8:3-9; 95:6,7; 100:3
o Oleh karena apa yang telah dilakukan-Nya: Dia membuat Israel menjadi bangsa kepunyaan-Nya dengan membebaskan mereka dari Mesir dan memimpin mereka melalui padang belantara menuju tanah Perjanjian Kanaan. Dia mengusir musuh-musih yang mengejar mereka. Maz 68:7-18; 81:1-10; 99:6-8; 105:1-45; 114:1-8; 135:8-12; 136:10-25
Dia terus memberikan kepada umat-Nya kemenangan melawan musuh yang mengancam mereka. Maz 33:10-19; 46:6-11; 76:1-12
2. Puji-pujian membawa kita:
o Untuk percaya: Jika Allah sungguh besar dan penuh kasih, dan jika dia telah menolong umat-Nya di masa lampau, maka Dia dapat dan mau menyelamatkan mereka dari kesesakan pada saat ini; apapun bentuknya. Maz 24:3-5; 29:11; 33:18-22; 46:1-11; 97:10-12; 108:7-13; 115:9-15
o Untuk berdoa: Inilah cara umat Allah untuk secara alamiah menyatakan kepercayaan mereka kepada-Nya. Mereka membawa segala kebutuhan mereka ke dalam doa. Maz 67:1,2; 68:28; 106:4,5; 108:6,12,13; 122:6-9
o Untuk bertanggung jawab: Memuji Allah dengan kata-kata saja tidaklah cukup; kita harus memuji Dia dengan kehidupan yang dipakai untuk pelayanan-Nya. Kita harus memenuhi janji-janji yang kita buat terhadap-Nya. Maz 65:1,2; 76:11; 81:8-10; 95:7-11
Penerapan
1. Allah sungguh luar biasaKita tidak dapat mengukur kekuasaan dan kekuatan-Nya. Dunia dengan segala seluk-beluknya, termasuk segala masalah yang dihadapi umat manusia dan bangsa-bangsa, semuanya berada di bawah kekuasaan-Nya. Segala sesuatu yang kita miliki dan apapun kedudukan kita, semua itu datang dari-Nya. Oleh karena itu:
o Kita merasa betapa kecil dan tidak berarti kita bila memikirkan siapa Dia.
o Kita patut memuji, menyembah dan bersyukur kepada-Nya baik dengan bibir maupun dengan kehidupan kita.
2. Allah penuh perhatian
Dia mengasihi ciptaan-Nya dan memenuhi segala kebutuhan mereka. Dengan kuasa-Nya yang besar Dia memilih suatu bangsa bagi diri-Nya, membebaskan mereka dan memberi mereka warisan. Oleh karena itu:
o Kita tahu bahwa kita dapat mengandalkan Dia untuk memenuhi segala kebutuhan kita.
o Kita dapat berharap pada-Nya untuk bertindak atas nama umat kepunyaan-Nya.
3. Allah itu baik
Kendati kebesaran-Nya luar biasa, Dia secara sukarela memberi dengan berlimpah. Dia ingin supaya kita mendapat yang terbaik dan Dia bertanggung jawab atas kesejahteraan kita. Oleh karena itu:
o Kita menyembah Dia dengan penuh sukacita dan kegembiraan dan tidak semata-mata sebagai suatu kewajiban.
o Kita mendapatkan kepuasan yang mendalam pada saat kita menaikkan pujian dan kemulian yang patut diterima-Nya.
Tema-tema Kunci
1. Penyembahan
Berulangkali kita diundang untuk ikut ambil bagian dalam menyembah Dia, yaitu dengan menaikkan pujian dan pujaan yang layak diterima-Nya. Apa yang dapat kita simak dari contoh-contoh ayat berikut mengenai penyembahan yang benar? Maz 24:3,4; 29:1,2; 33:1-3; 47:1,6,7; 75:1,9; 95:1,2,6; 96:1-3; 98:1,4-6; 99:5,9; 100:4; 105:4; 147:1; 150:1-6.
2. Umat Allah
Merekalah yang melakukan penyembahan. Allah memilih mereka untuk menjadi umat kepunyaan-Nya, dan berjanji untuk melindungi mereka. Oleh karena salib, setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sekarang dapat menikmati anugerah ini. Lihat Maz 33:12; 47:4; 48:14; 105:7-15; 135:4. Di sana-sini kita dapat secara sekilas melihat bangsa-bangsa yang menyembah Allah. Maz 68:29,31-33; 113:1-4; 117:1; 148:7-12.
3. Sion dan Rumah Tuhan
Yerusalem dan Rumah Allah merupakan pusat penyembahan orang Israel, dan umat Allah akan berziarah ke sana untuk memuliakan-Nya. Maz 24:3; 46:4,5; 46:4,5; 48:1-3,8,9,11-14; 87:1-7; 122:1-9;147:12-14. Oleh karena Roh Kristus ada di mana-mana, penyembahan kita tidak terikat pada suatu tempat atau bangunan tertentu, tetapi kita dapat merasakan sukacita pada saat kita bersekutu untuk menyembah Allah. Tidaklah mengherankan bahwa dalam Perjanjian Baru, Sion, kota Suci, menjadi gambaran tentang surga. Lihat Ibrani 12:22-24; Wahyu 21:1-22:5
MAZMUR (2)
Pada saat mengalami kesusahan
TAKDIR KITA SEBAGAI MANUSIA
Para pemazmur tidak terluput dari penderitaan manusiawi dalam segala bentuknya. Baik itu mengenai raja yang mencoba untuk memerintah negerinya, menghadapi musuh-musuh atau persekongkolan, ataupun yang dialami oleh masing-masing pemazmur, segala kesusahan dan doa-doa mereka dicatat untuk kita. Ada kalanya mereka berbicara atas nama seluruh bangsa; pada kesempatan lain mereka menumpahkan segala keluh-kesah mereka kepada Dia, satu-satunya yang tampak mau mendengarkan. Walaupun kadang penderitaan mereka itu semata-mata disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri, tetapi pada saat-saat lain penderitaan itu tampaknya tidak adil. Allah telah berjanji untuk meberkati dan memberi kemakmuran kepada mereka yang mengasihi dan menaati-Nya. Lalu, mengapa justru sebaliknya yang terjadi, yaitu mereka harus menderita sedangkan yang jahat hidup dalam kemakmuran? Masalah lain timbul pada saat mereka jatuh sakit atau pada waktu hidup mereka dalam keadaan bahaya. Perjanjian Lama jarang sekali berbicara mengenai kehidupan sesudah mati, saat Allah meluruskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran di dunia ini. Kehidupan di alam baka-tempat orang mati-jauh dari kehidupan nyata dan tidak menarik. Oleh karena itu, anugerah dan hukuman harus berlaku di dunia ini dan saat ini juga. Dapat Anda bayangkan bagaimana perasaan mereka ketika hal itu tidak terjadi demikian.
JERITAN PEMBALASAN?
Walaupun demikian, para pemazmur yakin bahwa karena Allah itu adil, Dia akan menghukum orang yang berdosa dan membenarkan umat-Nya. Di sinilah kita menghadapi masalah tentang apa yang sering mereka doakan bagi musuh-musuh mereka. Tidak ada kasih dan pengampunan. Ada yang begitu buruk bagi mereka yang menentang orang yang benar; yang hampir tidak mencerminkan kekristenan. Kita juga sukar untuk menerima apa yang kelihatannya sebagai pembenaran diri pada waktu mereka menyampaikan permohonan mereka kepada Allah. Bagaimana kita mengerti hal ini dilihat dari sudut pandang Kristen? Pertama-tama, kita perlu mencatat bahwa mereka tidak membual mengenai kebenaran mereka seperti orang-orang Farisi dalam kitab injil. Sepanjang yang mereka ketahui, mereka selalu setia kepada Allah, dan mereka tidak mengerti mengapa mereka harus menderita. Perlu diingat bahwa para pemazmur tidak mempunyai gambaran mengenai penghakiman Allah yang akan datang. Pembalasan Allah yang mereka ketahui adalah pada waktu mereka masih hidup, ketika terjadi kekejaman dan kehausan darah. Yang kedua, kita harus ingat bahwa dengan melawan umat Allah, berarti musuh-musuh itu menentang Allah. Dalam perjanjian Baru kita diajar untuk mengasihi musuh-musuh kita, tetapi kita juga diyakinkan bahwa Allah akan menghakimi orang-orang berdosa. Fakta bahwa dosa patut mendapat hukuman tidak pernah diabaikan.
ORANG TIDAK BERDOSA MENDERITA
Masalah mengenai penderitaan yang tidak seharusnya diterima, dan memohon pembenaran dari Allah, membawa kita kepada kasus Yesus Kristus yang luar biasa. Tidak salah lagi bahwa banyak dari mazmur ini, yang ditulis pada saat-saat kesusahan, selalu diingat pada waktu kisah-Nya diceritakan.
Pesan
1. Segala macam kesusahan Sedemikian jauh masalah yang sering dibawa oleh pemazmur kepada Allah ialah tantangan dari musuh-musuh mereka. Ini kadang-kadang berarti musuh bangsa Israel; raja-raja dan bangsa-bangsa lain yang mengancam umat Allah. Seringkali mereka adalah musuh pribadi, yang karena ambisi, iri hati dan kebencian, ingin membinasakan pemazmur. Maz 12:1-4; 14:1-4; 17:10-12; 22:12-16; 55:9-14; 64:1-6; 74:3-8; 79:1-4; 83:1-8; 94:4-7; 109:1-5; 137:7; 140:1-5. Pada beberapa peristiwa para penulis Mazmur tahu bahwa penderitaan mereka disebabkan oleh dosa yang harus mereka akui terlebih dahulu jika mereka berharap untuk mendapat berkat Allah. Maz 25:6,7,11; 38:4,18; 51:1- 19; 69:5; 130:3,4. Salah satu alasan mengapa mazmur-mazmur khusus ini telah menjadi semacam pertolongan bagi banyak hal adalah karena mereka tidak sembunyi-sembunyi dalam memaparkan kesedihan, kesakitan dan kesengsaraan pribadi. Maz 25:16-18; 38:1-22; 42:1-11; 69:1-3; 109:22-25.
2. Kesusahan menjadi doao Untuk keadilan, terutama supaya Allah terlihat berada di pihak orang baik, dan bahwa Dia akan membenarkan umat kepunyaan-Nya. Maz 7:3-9; 17:1-5; 35:11-17, 22-26; 94:1-3; 140:12,13
o Untuk kemenangan, supaya musuh tahu bahwa Allah membela umat-Nya. Maz 3:7,8; 35:1-3; 60:1-5.
o Untuk pimpinan, sehingga pemazmur dapat mengetahui kehendak Allah dalam saat-saat yang sulit. Maz 5:8; 25:4,5; 86:11; 143:8,10.
o Untuk kesembuhan, terutama sehubungan dengan pendeknya hidup kita di dunia ini. Maz 6:1-7; 31:9-13.
o Untuk perlindungan, supaya Allah dapat membuktikan bahwa Dia adalah pelindung pemazmur. Maz 11:1; 31:1-5; 61:1-4; 142:5.
o Untuk pengampunan, sehingga tidak ada yang menghalangi hubungan antara Allah dan hamba-Nya. Maz 25:11,18; 51:1,2,7,9,10; 79:8,9.
o Untuk pemulihan bangsa, supaya orang melihat dan tahu bahwa Tuhan mempunyai suatu perjanjian istimewa dengan umat-Nya, Israel. Maz 14:7; 25:22; 51:18,19; 79:1-13; 80:1-19; 85:1-13
3. Allah akan menjawab
o Dia adalah Allah yang mengasihi dan membela umat kepunyaan-Nya; yang meberi kekuatan kepada yang lemah dan yang menolong orang yang tak berdaya. Maz 17:7-9; 51:1; 62:5-8; 85:7-13; 109:21,26; 143:1.
o Dia telah melakukannya di masa lampau; kita boleh yakin bahwa Dia akan melakukan lagi. Maz 22:3-5; 77:13-20.
o Karena mereka sungguh percaya, doa-doa yang dimulai dengan cerita sedih seringkali berakhir dengan pujian kepada dia yang mereka ketahui akan bertindak untuk dan menyelamatkan mereka. Maz 7:17; 13:5,6; 28:6,7; 56:10-13; 69:30-36;109:30,31.
Penerapan
1. Kesusahan dialami oleh semua orang Umat Allah tidak terluput dari berbagai macam kesusahan. Bergantung kepada Allah bukan suatu jaminan untuk kehidupan yang mudah. Kenyataannya, dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini, orang yang tidak berdosa sering menderita dan orang yang tidak bertuhan berada di puncak.
2. Ceritakanlah semuanya kepada Allah Kita dapat bersikap jujur dan terbuka terhadap Allah apabila kita membagi kesakitan, kekecewaan dan kesedihan kita dengan Dia. Dia mendengar dan mengerti, bahkan pada waktu orang lain tidak.
3. Allah telah berjanji Allah telah berjanji untuk menolong umat kepunyaan-Nya. Dia mengasihi dan setia kepada perjanjian-Nya yang istimewa dengan umat-Nya.
4. Doa akan dijawab Walaupun kelihatannya Allah tidak menjawab doa-doa kita, Dia adil dan pada suatu ketika Dia akan menghakimi orang yang jahat dan menunjukkan bahwa mereka yang percaya kepada-Nya akan dibenarkan.
5. Kesempatan yang Allah berikan Saat-saat sukar menjadi saat-saat untuk bergantung dan membuktikan kasih Allah secara baru dan lebih mendalam. Apabila segalanya berjalan lancar, kita cenderung untuk bergantung kepada kemampuan kita sendiri.
6. Memuji Allah pada waktu berada dalam kesusahan Dengan mengetahui siapa Allah, mereka yang percaya kepada-Nya dapat memuji Dia bahkan pada saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana. Walaupun kita dapat berubah, tetapi Dia tak pernah berubah.
Tema-tema Kunci
1. Doa yang tidak dijawab Satu masalah yang sering timbul dalam mazmur-mazmur ini ialah kenyataannya bahwa Allah tampaknya tidak selalu mendengar atau menjawab doa-doa kita. Pada saat-saat seperti ini mungkin kita tergoda untuk meragukan kuasa atau kasih-Nya. Carilah ayat-ayat berikut dan lihatlah apa yang dilakukan oleh para pemazmur: Maz 10:1-18; 13:1-6; 22:1-5; 42:1-11; 73:1-20; 77:1-20.
2. Hidup ini singkat Pada waktu mengalami kesusahan, terutama pada waktu kehidupan mereka terancam, para pemazmur mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini tidaklah lama. walaupun kita sudah diberi petunjuk lebih jelas daripada mereka bahwa hidup kita di dunia ini bukanlah segalanya, kita diingatkan untuk mempergunakan kesempatan yang ada selagi kita masih bisa. Lihat Maz 39:4-6,12,13; 88:3-12; 90:3-12; 102:3-11, 23-28.
3. Penghiburan di dalam Allah Dalam dunia yang selalu berubah ini, dengan teman-teman yang selalu berganti dan keadaan yang menakutkan, mazmur-mazmur ini berulangkali mengingatkan kita bahwa Allah selalu sama. Kita dapat berlari dan berlindung pada-Nya pada waktu kita merasa terancam atau kesepian atau putus asa. Lihat Maz 17:15; 38:9; 39:7; 73:21-28; 94:18,19.
MAZMUR (3)
Tentang kesaksian, hidup tak bercela dan raja
KEHIDUPAN YANG BAIK
Dalam mazmur kita berulang kali diingatkan tentang hak istimewa menjadi milik Allah dan hidup untuk Dia. Kadangkala peringatan itu dalam bentuk kesaksian, yaitu ketika pemazmur menyaksikan kebaikan Allah dan ingin membagikannya kepada orang lain. Dalam mazmur lain kita diajar tentang bagaimana menjalani kehidupan yang menyenangkan dan memuliakan Allah. Di sini pemazmur memakai kebijaksanaan praktis yang telah dihimpunnya untuk mengajar orang lain tentang jalan-jalan Allah.
JUDUL MAZMUR
Banyak mazmur berjudul seperti "Mazmur Daud", atau "untuk pemimpin biduan". Hal ini dapat memberikan kepada kita petunjuk tentang kapan dan mengapa mazmur-mazmur itu ditulis. Lebih dari tujuh puluh mazmur dianggap berasal dari Daud; beberapa di antaranya berhubungan dengan kejadian yang dialaminya. Ini mungkin berarti bahwa Daud menulis semua itu, walaupun kata-kata itu mungkin berarti "untuk Daud" atau bahkan "untuk raja"; karena raja berasal dari keluarga Daud. Selebihnya mungkin merupakan bagian dari berbagai kumpulan mazmur yang dinyanyikan oleh paduan suara Bait Allah.
RAJA DAN BANGSA
Pembagian kita tentang mazmur mengenai raja agak kurang tepat, karena sebagian besar mazmur lainnya juga berasal dari raja. Sebenarnya, karena raja mewakili bangsanya, ia sering berbicara untuk seluruh rakyatnya dan bukan hanya untuk dirinya sendiri. Allah membuat suatu perjanjian istimewa dengan Daud dan keturunannya (lihat 2Sa 7:1-29). Mereka memerintah rakyat atas nama-Nya. Mereka diperintahkan untuk mengasihi dan berlaku adil, sementara itu Allah sendiri berjanji akan mendampingi mereka dalam pergumulan mereka dan memberkati pemerintahan mereka.
RAJA YANG AKAN DATANG
Seluruh raja Israel, termasuk Daud, gagal untuk hidup sesuai dengan standar yang diminta. Beberapa raja lebih baik daripada yang lain; beberapa dengan terang-terangan meninggalkan Allah dan menyembah ilah-ilah lain. Ini merupakan salah satu sebab mengapa Allah pada akhirnya menghukum seluruh bangsa dengan mengusir mereka dari negeri mereka sendiri. Walau demikian, melalui hal itu pengharapan mulai timbul; bahwa pada suatu hari seorang Raja yang dicita-citakan akan datang. Oleh karena raja-raja diurapi dengan "minyak", Raja yang akan datang ini dikenal sebagai "yang diurapi" (dalam bahasa Ibrani, "Mesias"; dan dalam bahasa Yunani, "Kristus"). Pada masa Perjanjian Baru, ketika negeri Israel diduduki oleh bangsa Romawi, rakyat sangat merindukan kedatangan-Nya. Oleh karena itulah mereka menyambut Yesus sebagai "Anak Daud" (Mat 21:9). Jelas bahwa Yesus menjadi Raja dengan cara yang berbeda dengan apa yang mereka harapkan. Setelah kebangkitan-Nya, para pengikut Yesus mulai melihat bahwa banyak dari mazmur mengenai raja ditujukan kepada Dia, dan bahwa khususnya pada waktu kedatangan-Nya kembali, Dia akan menggenapi semua gambaran yang ideal sebagai Raja Allah.
Pesan
1. Kehidupan yang baik
Orang benar yang sejati menjalani kehidupan yang baik, sebab ia tahu bahwa Allah baik, dan bahwa Allah menghendaki tingkah laku seperti itu Maz 15:2-5; 19:14; 101:2-6. Ia sungguh-sungguh bertekad untuk patuh pada perintah Allah. Takut kepada Tuhan, perasaan bahwa kehidupannya tidak terlepas dari pandangan Allah mengendalikan segala tindak-tanduknya Maz 1:2; 19:1-11; 37:31; 112:1; 119:1-176; 128:1. Ia juga tahu bahwa Allah akan menghakimi segala tindakan orang, laki-laki maupun perempuan Maz 1:5; 50:6; 82:1,8. Hidup tanpa cela berarti bertekad untuk menghindar dari segala yang jahat. Juga berarti tidak bergaul dengan orang-orang yang tidak taat kepada perintah Allah. Sebaliknya, orang yang saleh mencari sahabat di antara mereka yang menempatkan Allah di atas segalanya Maz 1:1; 26:4,5; 37:8,27; 10:3-8.
2. Kesaksian
Fakta bahwa Allah itu baik dan setia dirasakan sebagai pengalaman pribadi oleh orang yang percaya kepada-Nya. Manakala mereka datang kepada-Nya pada waktu mengalami kesesakan, Dia mendengar dan menjawab doa-doa mereka. Ini membangkitkan pujian dan rasa syukur Maz 30:1,4; 34:1-3; 40:1-2; 103:1-3; 107:1-43; 118:1-4. Ketika Allah menjawab doa seperti ini, hal itu mendorong kita untuk menceritakan kepada orang lain apa yang telah dilakukan-Nya, sehingga mereka juga dapat membuktikan kasih-Nya Maz 9:1,11; 40:9-10; 66:16-19; 107:2-3. Lebih dari itu, hal ini membuat pemazmur memperbarui ketaatannya dan berharap bahwa Allah akan menjawab doa-doa mereka yang lain. Kesaksian menjadi permohonan. Maz 40:6-8; 116:12-19; 27:7-12; 40:11-17; 126:4- 5.
3. Raja
Hal yang istimewa mengenai raja Israel ialah bahwa sebagai keturunan Daud, Allah sendiri yang mengangkatnya untuk memangku jabatan tersebut. Baik rakyat maupun raja percaya kepada janji Allah bahwa keluarga Daud akan memerintah untuk selamanya. Oleh sebab itu, raja dianggap sebagai anak angkat Allah Maz 2:1-11; 18:50; 72:17; 89:1-4,19-37; 132:1-5,10-12,17,18. Penting sekali bahwa raja tidak boleh menyalahgunakan wewenangnya. Tugasnya ialah untuk memerintah umat Allah dengan adil dan bijaksana, di samping memimpin mereka untuk berperang melawan musuh-musuh mereka. Maz 18:20-26; 45:7; 72:1-4,7,12-14; 89:14,30-32. Raja yang harus memenuhi kewajiban-kewajiban ini tidak perlu takut. Allah berjanji untuk berperang atas namanya, memberikan masa pemerintahan yang panjang, dan memberkati segala yang dilakukannya. Allah membuat raja yang setia menjadi besar sebaliknya kebesaran dan kemasyhuran raja membawa kemuliaan bagi Allah. Maz 2:4-9; 18:1-50; 21:1-13; 110:1,2,5-7.
Penerapan
1. Raja pilihan Allah memerintah
Gambaran ideal mengenai seorang raja dalam mazmur-mazmur ini, yang tidak pernah digenapi dalam sejarah umat Israel, mengarahkan kita kepada Yesus Kristus. Oleh karena Dia adalah Putra Allah, yang telah bangkit dari kematian dan duduk di sebelah kanan Allah, Dia memenuhi syarat sebagai Raja yang akan memerintah untuk selamanya dan yang kerajaan-Nya meliputi seluruh dunia. Dia sudah bertakhta di surga, tetapi pada suatu hari Dia akan kembali dengan kemuliaan untuk membangun pemerintahan yang benar di atas bumi ini. Pada hari itu semua gambaran tentang kemuliaan Raja akan menjadi nyata dan benar.
2. Allah menghendaki ketaatan
Jika anak Allah berkuasa, maka kita harus taat kepada pemerintahan-Nya di sini dan sekarang ini. Ini berarti kita harus menanggapi firman Allah dengan sungguh-sungguh dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dapat juga berarti bahwa kita harus mengurangi beberapa kegiatan yang sedang kita lakukan. Jelaslah ini berarti menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah bagi kita. Namun demikian, oleh karena kita tahu tentang kebaikan Allah kepada mereka yang menghormati Dia, maka ketaatan bukan menjadi kewajiban yang berat tetapi malah merupakan suatu kegembiraan dan sukacita.
3. Allah adalah perlindungan kita Bila kita menaati Allah, kita juga akan mengalami kuasa-Nya di dalam hidup kita. Kita akan belajar untuk berlindung kepada-Nya pada masa-masa sulit dan bahaya. Kita akan mengalami bahwa Dia dapat menjawab doa-doa kita dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Kebenaran ini patut diceritakan agar orang lain dapat mengenal Allah dalam hal yang sama pula. Usul yang diberikan secara pribadi adalah kesaksian yang paling berpengaruh.
Tema-tema Kunci
1. Berkat Allah
Banyak yang dapat kita baca dalam mazmur mengenai apa yang dapat Allah lakukan bagi orang percaya kepada-Nya. Dia memberikan kepada mereka perlindungan, kemenangan, pembenaran, pimpinan, sukacita, kehidupan, kekuatan, dan pengampunan. Lihatlah bagaimana tema-tema di atas terkandung dalam kumpulan ayat-ayat berikut: Maz 1:3; 9:3,4,9,10; 16:7,8; 18:16-18,29-36,50; 27:11; 32:1-5; 34:4-10,15-22; 37:3-6,23-26; 46:1-11; 52:8,9; 66:5-12; 91:1-16; 103:1-5,8-18; 112:1-10; 118:5-7; 128:1-6; 144:1,2.
2. Pemerintahan raja bersifat universal
Raja pilihan Allah akan memerintah atas seluruh ciptaan-Nya (Maz 2:8-11; 72:8-11,17; 89:27). Hal ini akan menjadi kenyataan pada saat Kristus datang kembali, tetapi apa hubungannya dengan pemberitaan kabar baik ke seluruh dunia sekarang ini?
3. Janji dan penggenapan
Pada waktu para penulis Perjanjian Baru ingin menggambarkan kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus, mereka sering memakai Kitab Mazmur. Hal ini mungkin karena Yesus sendiri sudah mengarahkannya ke situ. Lihat Mazmur 2 dalam Kis 4:25,26; 13:33; Ibr 1:5; 5:5; Wah 2:26,27; 19:15. Maz 18:49 dalam Rom 15:9. Maz 45:6,7 dalam Ibr 1:8,9. Maz 89 dalam Kis 2:30; Wah 1:5. Maz 110 dalam Mar 12:36; 14:62; 16:19; Kis 2:34,35; 1Ko 15:25; Efe 1:20-22; Kol 3:1; Ibr 1:3,13; 5:6; 8:1; 10:12,13; 12:2. Maz 132 dalam Kis 2:30.
Garis Besar Intisari: Mazmur (Pendahuluan Kitab) [1] MAZMUR PUJI-PUJIAN DAN UPACARA SYUKUR
Maz 8Apakah manusia itu?
Maz 24 Raja kemuliaan
Maz 29Beri kepada Allah hak-Nya!
Maz 33Alla
[1] MAZMUR PUJI-PUJIAN DAN UPACARA SYUKUR
| Maz 8 | Apakah manusia itu? |
| Maz 2 | 4 Raja kemuliaan |
| Maz 29 | Beri kepada Allah hak-Nya! |
| Maz 33 | Allah di atas segalanya |
| Maz 46 | Tempat perlindungan dan kekuatan kita |
| Maz 47 | Nyanyikanlah pujian bagi Allah kita |
| Maz 48 | Allah dan kota-Nya |
| Maz 65 | Ucapan syukur atas panen |
| Maz 67 | Allah kita telah memberkati kita |
| Maz 68 | Kemurahan dan kemuliaan |
| Maz 75 | Allah berkuasa |
| Maz 76 | Allah yang ditakuti |
| Maz 81 | Belajar dari apa yang telah dilakukan Allah |
| Maz 87 | Sion, kota Allah kita |
| Maz 93 | Tuhan di tempat yang tinggi itu berkuasa |
| Maz 95 | Marilah kita menyembah dan bersujud |
| Maz 96 | Hakim segera datang! |
| Maz 97 | Allah mengasihi milik kepunyaan-Nya |
| Maz 98 | Bersorak-sorailah dengan penuh kegembiraan kepada Tuhan |
| Maz 99 | Tuhan memerintah |
| Maz 100 | Tuhan itu baik |
| Maz 104 | Allah yang menciptakan semua |
| Maz 105 | Allah membebaskan umat-Nya |
| Maz 108 | (Maz 57; Maz 60) Dialah yang memberi kemenangan |
| Maz 111 | Pekerjaan Allah luar biasa |
| Maz 113 | Siapakah yang menyamai Tuhan Allah kita? |
| Maz 114 | Ketika laut berhenti mengalir |
| Maz 115 | Allah kita melakukan apa yang dikehendaki-Nya |
| Maz 117 | Pujilah Dia, hai setiap orang |
| Maz 122 | Kota suci |
| Maz 133 | Ketika semua orang diikat dalam kasih persaudaraan |
| Maz 134 | Datang, pujilah Tuhan |
| Maz 135 | Tuhan kita di atas segala ilah-ilah lain |
| Maz 136 | Kasih-Nya bertahan sepanjang masa |
| Maz 145 | Setia kepada semua yang dijanjikan-Nya |
| Maz 146 | Berbahagialah mempunyai Allah seperti Dia! |
| Maz 147 | Ia menyembuhkan hati yang luka |
| Maz 148 | Nama-Nya saja ditinggikan |
| Maz 149 | Allah berkenan pada umat-Nya |
| Maz 150 | Biarlah segala sesuatu memuji Tuhan! |
[1] MAZMUR PADA SAAT MENDERITA KESUSAHAN
| Maz 3 | Allahlah yang aku perlukan |
| Maz 4 | Percayalah kepada-Nya |
| Maz 5 | Pimpin aku, ya Tuhan |
| Maz 6 | Aku letih lesu |
| Maz 7 | Allah itu adil |
| Maz 10 | Mengapa si jahat hidup makmur? |
| Maz 11 | Allah tahu apa yang terjadi |
| Maz 12 | Allah berjanji untuk menolong |
| Maz 13 | Aku percaya akan kasih-Mu |
| Maz 14 | (Maz 53) semua orang seakan-akan tidak bertuhan |
| Maz 17 | Tuhan, tunjukanlah bahwa aku berada di pihak yang benar |
| Maz 22 | Mengapa Allah meninggalkanku? |
| Maz 25 | Tuhan itu baik dan benar |
| Maz 28 | Allah telah mendengar doa-doaku |
| Maz 31 | Waktuku berada di tangan-Mu |
| Maz 35 | Bertindaklah terhadap musuh-musuhku, ya Tuhan |
| Maz 38 | Tuhan, aku sakit dan berdosa |
| Maz 39 | Aku tidak selamanya berada di sini |
| Maz 42 | Mengapa jiwaku tertekan? |
| Maz 43 | Aku akan memuji Allah kembali! |
| Maz 44 | Mengapa Engkau tidak mendengar kami, ya Tuhan? |
| Maz 51 | Kasihanilah aku! |
| Maz 54 | Allah adalah penolongku |
| Maz 55 | Sahabatku berbalik melawan aku |
| Maz 56 | Aku percaya kepada Allah |
| Maz 57 | Dalam naungan sayap-Nya |
| Maz 58 | Manusia jahat; Allah adil |
| Maz 59 | Allah adalah kekuatanku |
| Maz 60 | Tuhan, kami membutuhkan pertolongan-Mu |
| Maz 61 | Batu karang yang lebih tinggi |
| Maz 62 | Jiwaku menemukan ketenangan |
| Maz 64 | Allah akan mengadili yang jahat |
| Maz 69 | Selamatkanlah aku -- aku hampir tenggelam! |
| Maz 71 | Allah akan menyertai aku sampai pada akhirnya |
| Maz 73 | Mengapa orang tak berdosa menderita? |
| Maz 74 | Mengapa Engkau meninggalkan kami? |
| Maz 77 | Telah lupakah Allah? |
| Maz 79 | Keluh kesah narapidana |
| Maz 80 | Pulihkan bangsa-Mu, ya Tuhan |
| Maz 83 | Musuh-musuh kami adalah musuh-musuhmu |
| Maz 85 | Segarkan kami kembali |
| Maz 86 | Ajar kami jalan-Mu |
| Maz 88 | Selamatkanlah kami dari kematian |
| Maz 90 | Hanya tujuh puluh tahun |
| Maz 94 | Allah Yang Maha Tahu |
| Maz 102 | Aku berubah; Dia tak pernah berubah |
| Maz 109 | Menangani pemfitnah |
| Maz 120 | Aku mendambakan damai |
| Maz 123 | Kami bergantung pada-Mu, ya Tuhan |
| Maz 129 | Kita telah cukup menderita |
| Maz 130 | Keluar dari kesesakan |
| Maz 137 | Bagaimana kami dapat bernyanyi? |
| Maz 140 | Engkau adalah Allahku |
| Maz 141 | Pimpinlah aku di jalan yang benar |
| Maz 142 | Bebaskan aku dari penjara |
| Maz 143 | Kasih yang tak kunjung padam setiap pagi |
[1] MENGENAI KEHIDUPAN YANG BAIK
| Maz 1 | Hamba Allah |
| Maz 15 | Menuju kebahagiaan |
| Maz 19 | Hukum Allah dan kehidupanku |
| Maz 26 | Adil |
| Maz 36 | Takut dan kasih pada Allah |
| Maz 37 | Bergantung pada Allah dan melakukan yang baik |
| Maz 49 | Hanya satu kehidupan |
| Maz 50 | Kehidupan yang benar; penyembahan yang benar |
| Maz 52 | Orang jahat tak berumur panjang |
| Maz 82 | Hakim yang adil |
| Maz 101 | Membela yang benar |
| Maz 112 | Allah memberi kemakmuran kepada umat kepunyaan-Nya |
| Maz 119 | Hukum Allah adalah segala-galanya |
| Maz 125 | Aman dalam pemeliharaan Allah |
| Maz 127 | Allah harus membangun |
| Maz 128 | Rumah tangga yang saleh |
[2] TENTANG KESAKSIAN
| Maz 9 | Tuhan memerintah selamanya |
| Maz 16 | Hanya Allah yang kuperlukan |
| Maz 23 | Aku tidak akan kekurangan apa pun |
| Maz 27 | Cahaya dan keselamatanku |
| Maz 30 | Dia menyelamatkanku dari kematian |
| Maz 32 | Sukacita pengampunan |
| Maz 34 | Rasakan dan buktikan |
| Maz 40 | (Maz 70) Aku ingin kehendak-Mu, Tuhan |
| Maz 41 | Engkau mengalahkan musuh-musuhku |
| Maz 46 | Tempat perlindungan dan kekuatan kita |
| Maz 63 | Kasih-Mu lebih besar dari hidup |
| Maz 66 | Allah selalu menjaga kita |
| Maz 78 | Kebaikan Allah; kejahatan kita |
| Maz 84 | Rajaku dan Allahku |
| Maz 91 | Aku tidak perlu takut |
| Maz 92 | Sungguh baik bersyukur kepada Allah |
| Maz 103 | Kasih-Nya seperti kasih bapak kepada anaknya |
| Maz 106 | Menguji kesabaran Allah |
| Maz 107 | Pembebasan, penyembuhan dan keselamatan |
| Maz 116 | Allah mendengar doaku |
| Maz 118 | Apa yang dilakukan Allah luar biasa |
| Maz 121 | Pertolonganku datang dari Tuhan |
| Maz 124 | Andaikan Allah tidak menolongku... |
| Maz 126 | Menabur dalam air mata; menuai dalam sukacita |
| Maz 131 | Tenang dalam pemeliharaan Allah |
| Maz 138 | Nama-Mu dan firman-Mu |
| Maz 139 | Engkau mengenal aku secara utuh |
| Maz 144 | Batu karangku dan tempat perlindunganku |
[3] TENTANG RAJA
| Maz 2 | Hari pentahbisan |
| Maz 18 | Tuhan beserta Daud |
| Maz 20 | Allah memberi kemenangan |
| Maz 2 | 1 Raja bergantung kepada Allah |
| Maz 45 | Keelokan raja |
| Maz 72 | Kedaulatan yang benar |
| Maz 89 | Allah memilih Daud |
| Maz 110 | Imam Agung |
| Maz 132 | Janji Allah yang teguh |



