kecilkan semua
Nama Orang, Nama Tempat, Topik/Tema Kamus


kecilkan semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per frasa)
Ref. Silang FULL -> Ams 21:23
Ref. Silang FULL: Ams 21:23 - memelihara mulut // pada kesukaran · memelihara mulut: Mazm 34:14; Mazm 34:14
· pada kesukaran: Ams 10:19; Ams 10:19; Ams 12:13; Ams 13:3; Ams 13:3
· memelihara mulut: Mazm 34:14; [Lihat FULL. Mazm 34:14]
· pada kesukaran: Ams 10:19; [Lihat FULL. Ams 10:19]; Ams 12:13; Ams 13:3; [Lihat FULL. Ams 13:3]

kecilkan semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per Ayat)
Wycliffe -> Ams 10:1--22:16
Wycliffe: Ams 10:1--22:16 - -- II. Beberapa Macam Amsal Salomo (10:1-22:16)
Kami berpendapat bahwa dalam Kitab Amsal, Firman Allah yang diilhamkan itu diberikan dalam bentuk sastra...
II. Beberapa Macam Amsal Salomo (10:1-22:16)
Kami berpendapat bahwa dalam Kitab Amsal, Firman Allah yang diilhamkan itu diberikan dalam bentuk sastra Yang khusus. Kalau Daud memakai sarana puisi, maka Salomo memakai sarana sastra Hikmat, yang cara mengajarnya sebagian besar dengan menggunakan kontras. Pada bagian pokok yang pertama (I), kontrasnya ditegaskan di seluruh nas-nas panjang - misalnya, perempuan jahat ditampilkan berlawanan dengan hikmat. Dalam Bagian II, kontrasnya dinyatakan dalam unit-unit satu ayat pendek. Sebagian besar dari ayat-ayat pada bagian ini memakai kata "tetapi" di tengah-tengahnya.
Paparannya menjadi lebih sulit karena masing-masing amsal berdiri sendiri. Tidak ada konteks langsung yang memandu kita. Beberapa penafsir menyimpulkan bahwa amsal-amsal tersebut tidak mengikuti perencanaan (struktur), sebaliknya merupakan koleksi campuran (Greenstone). Toy menyebut amsal-amsal itu "aforisme lepas." Delitzsch menyatakan adanya pengelompokan berdasarkan gagasan, bukan berdasarkan rencana komprehensif, melainkan berdasarkan "penyingkapan progresif' yang "terus-menerus mengalir." Ada kesatuan dalam bagian ini, bukan kesatuan bahasa atau kesatuan pokok pembicaraan, melainkan kesatuan penyusunan. Sebuah amsal diberitahukan, kemudian diulang di tempat-tempat lain dengan tambahan variasi-variasi pada maknanya. Hal pertama mungkin memberikan kontras antara bagian a dengan b; yang kedua a dengan c. Bahkan mungkin ada yang ketiga, yang membandingkan a dengan d. Dengan menggabungkan tiga hal itu, kita mendapatkan satu definisi lebih lengkap dari gagasan yang dinyatakan pada bagian a. Kita pasti merasa lebih mudah jika gagasan-gagasan ini dikelompok-kelompokkan. Orang-orang pada zaman kuno jelas menganggap lebih menarik jika gagasan-gagasan ini dipisahkan dan agak disembunyikan. Juga, sebagaimana telah kita lihat, ada kesatuan yang jelas berdasarkan kosakata moral yang dipakai. Karena itu, ada banyak amsal mengenai orang benar, orang bijaksana, orang jujur sebagai lawan dari orang kejam, orang bebal, orang murtad. Telaah yang memadai tentang sebuah ayat mungkin memerlukan telaah konkordansi atas seluruh kitab ini - tetapi lebih baik, bukan sekadar telaah konkordansi secara mekanis tetapi benar-benar merenungkan dengan mendalam keseluruhan pandangan sang penulis. Sebab melalui pengulangan, kontras, kosakata khusus, dan pertimbangan yang berbeda-beda terhadap tema itu, Allah melalui. penulis ini mengajar kita bahwa kebenaran memuliakan seseorang, tetapi dosa selalu mendatangkan celaan. Sekali lagi, kita harus menandaskan bahwa kitab ini bukanlah Poor Richard's Almanac, yang berisi peribahasa-peribahasa umum yang singkat dan tajam mengenai masalah hidup; ini adalah kumpulan amsal ilahi yang menunjukkan jalan kekudusan.

buka semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Rentang Ayat
SH -> Ams 21:6-31; Ams 21:15-31
SH: Ams 21:6-31 - Masa depan ditentukan hari ini. (Selasa, 24 Oktober 2000) Masa depan ditentukan hari ini.
Masa 5 atau 10 tahun mendatang tidaklah terjadi begitu saja.
Kemiskinan sekarang mungkin akibat kemalasan tahu...
Masa depan ditentukan hari ini.
Masa 5 atau 10 tahun mendatang tidaklah terjadi begitu saja.
Kemiskinan sekarang mungkin akibat kemalasan tahun-tahun
sebelumnya. Kesuksesan masa depan tak terlepas dari perjuangan
hari demi hari. Walaupun mungkin ada faktor-faktor lain yang
mempengaruhinya di luar kemampuan manusia, misalnya kegagalan
bisnis di tengah tangga sukses atau kemiskinan nasional akibat
bencana alam, dll. Namun demikian, perjuangan kini demi masa depan
tak pernah sia-sia.
Orang yang suka bersenang-senang dan menikmati mabuk anggur akan hidup berkekurangan. Mereka tidak tahu bagaimana memanfaatkan lumbung kekayaannya, mereka justru memboroskan hartanya seolah hidup hanya untuk hari ini. Namun ada juga orang yang sangat kuatir akan masa depannya, sehingga menimbun banyak harta bagi dirinya sendiri seolah hidupnya masih 1000 tahun lagi. Bagaimana sikap hidup orang bijak? Orang bijak mempersiapkan masa depannya dengan sebaik-baiknya, sehingga harta yang indah dan minyak ada dalam kediamannya (20). Mereka tidak semata mendapatkannya dengan mudah, tetapi mereka memenangkan perjuangan yang sesulit apa pun dengan sikap bijak. Mereka dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan dan merobohkan benteng yang mereka percayai (22), karena mereka mempertimbangkan secara bijaksana dan berani mempertaruhkan hidupnya demi masa depannya. Kota pahlawan-pahlawan dan benteng menggambarkan adanya perjuangan berat untuk memperolehnya.
Adakah orang yang bijak karena hikmatnya sendiri? Penulis Amsal mengatakan bahwa tidak ada hikmat dan pengertian yang dapat menandingi Tuhan (30), artinya Tuhanlah sumber hikmat dan pengertian. Orang akan menjadi bijak bila ia mengakui bahwa bukan karena kepandaiannya ia menjadi orang bijak, tetapi karena Tuhan yang Maha bijaksana. Dengan kesadaran ini, ia tidak akan pernah berlaku angkuh atau menyia-nyiakan hikmat dan pengertian Tuhan, sebaliknya dengan penaklukan diri mau hidup dipimpin hikmat Tuhan.
Renungkan: Banyak orang kaya dan sukses, tetapi sedikit orang yang kaya atau sukses karena hikmat dan pengertian dari Tuhan, sehingga dapat menggunakan harta indah yang dimilikinya dengan bijaksana. Jadilah bijak agar masa depan Anda penuh pengharapan di dalam Tuhan!

SH: Ams 21:15-31 - Hikmat dalam berbagai segi (Minggu, 4 November 2007) Hikmat dalam berbagai segi
Respons orang terhadap keadilan memperlihatkan karakter mereka (ayat
15). Yang dimaksud bukan hanya orang-orang yang b...
Hikmat dalam berbagai segi
Respons orang terhadap keadilan memperlihatkan karakter mereka (ayat
15). Yang dimaksud bukan hanya orang-orang yang bekerja di bidang
hukum atau yang berkaitan dengan keadilan saja. Setiap orang
seharusnya menghargai keadilan dan bertindak dengan adil di dalam
seluruh segi kehidupannya. Tidak perlu takut berurusan dengan
keadilan, dan jangan pula mengolok-olok keadilan. Sebab itu
jangan mengabaikan hikmat. Orang yang tidak peduli akan hikmat
berarti menghancurkan hidupnya (ayat 16).
Hikmat juga terlihat melalui kesukaan orang dalam bersenang-senang (ayat 17). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bersenang-senang. Namun jika tidak terkendali maka kemiskinanlah yang akan datang menyerbu. Orang yang bijak tidak akan menghabiskan hartanya begitu saja (ayat 20). Ia tahu bahwa ia harus mempersiapkan masa depannya. Tidak seperti pemalas yang enggan mengeluarkan keringat untuk bekerja (ayat 25). Ia hanya mengharapkan bantuan orang lain. Sesungguhnya ia sedang menghancurkan hidupnya.
Selain membuat orang menjadi bijak dalam mengelola harta, hikmat memampukan orang untuk merencanakan strategi yang brilian agar dapat memenangkan perang (ayat 22). Artinya hikmat dapat mengalahkan kekuatan fisik. Dengan hikmat, orang dapat menjadi bijak dalam mengontrol perkataan. Bila demikian, orang akan terhindar dari kesulitan yang dimunculkan akibat perkataan yang sembrono (ayat 23). Orang memang harus mengatakan apa yang benar, baik, dan menyenangkan. Hindari perkataan yang salah, pahit dan bersifat menjatuhkan orang lain. Juga jangan sombong (ayat 24). Orang yang sombong mungkin saja akan menolak Tuhan, atau paling tidak menolak untuk belajar dari hikmat.
Hidup benar bukan hanya ditunjukkan lewat ibadah yang dilakukan secara rutin (ayat 27). Orang yang beribadah harus hidup dengan bersumber dan bermuara pada kebenaran. Maka ibadah harus disertai pertobatan yang terwujud dalam perilaku yang mencerminkan kebenaran dan keadilan.
buka semuaPendahuluan / Garis Besar
Full Life: Amsal (Pendahuluan Kitab) Penulis : Salomo dan Orang Lain
Tema : Hikmat untuk Hidup dengan Benar
Tanggal Penulisan: Sekitar 970-700 SM
Latar Belakang
PL...
Penulis : Salomo dan Orang Lain
Tema : Hikmat untuk Hidup dengan Benar
Tanggal Penulisan: Sekitar 970-700 SM
Latar Belakang
PL Ibrani secara khusus terbagi atas tiga bagian: Hukum, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-Tulisan (bd. Luk 24:44). Termasuk dalam bagian ketiga ialah kitab-kitab Syair dan Hikmat seperti Ayub, Mazmur, Amsal, dan Pengkhotbah. Demikian pula, Israel kuno mempunyai tiga golongan hamba Tuhan: para imam, para nabi, dan para bijak ("orang berhikmat"). Kelompok orang bijak khususnya dikaruniai hikmat dan nasihat ilahi mengenai masalah-masalah kehidupan yang praktis dan filosofis. Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan.
Istilah Ibrani _mashal_, yang diterjemahkan "amsal", bisa berarti "ucapan" orang bijak, "perumpamaan", atau "peribahasa berhikmat". Karena itu ada beberapa ajaran (ucapan orang bijak) yang agak panjang dalam kitab ini (mis. Ams 1:20-33; Ams 2:1-22; Ams 5:1-14), dan juga aneka pernyataan ringkas yang menggugah berisi hikmat untuk hidup dengan bijaksana dan benar. Sedangkan kitab Amsal menyajikan suatu bentuk pengajaran berupa amsal yang umum dipakai di Timur Dekat zaman dahulu, hikmatnya itu khusus karena disajikan dalam konteks Allah dan semua standar kebenaran-Nya bagi umat perjanjian Allah. Alasan-alasan popularitas pengajaran berupa amsal pada zaman kuno ialah kejelasannya dan sifat mudah dihafalkan dan disampaikan kepada angkatan berikutnya.
Sebagaimana Daud menjadi sumber tradisi bermazmur di Israel, demikian Salomo menjadi sumber tradisi hikmat (lih. Ams 1:1; Ams 10:1; Ams 25:1). Menurut 1Raj 4:32, Salomo menghasilkan 3000 amsal dan 1005 kidung semasa hidupnya. Penulis lain yang disebutkan dalam Amsal adalah Agur (Ams 30:1-33) dan Raja Lemuel (Ams 31:1-9), keduanya tidak kita kenal. Penulis-penulis lain disebut secara tak langsung dalam Ams 22:17 dan Ams 24:23. Sekalipun sebagian besar Amsal ini digubah pada abad ke-10 SM, waktu terdini yang mungkin bagi selesainya penyusunan kitab ini adalah masa pemerintahan Hizkia (yaitu sekitar 700 SM). Keterlibatan para pegawai Hizkia dalam menyusun amsal-amsal Salomo (Ams 25:1--29:27) dapat diberi tanggal tahun 715-686 SM sementara masa kebangunan rohani yang dipimpin raja yang takut akan Allah ini. Sangat mungkin amsal-amsal gubahan Agur, Lemuel, dan "amsal-amsal dari orang bijak" lainnya terkumpul juga pada waktu itu.
Tujuan
Tujuan kitab ini dinyatakan dengan jelas dalam Ams 1:2-7: memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan, dan kejujuran (Ams 1:2-3) sehingga
- (1) orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (Ams 1:4),
- (2) kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan (Ams 1:4), dan
- (3) orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi (Ams 1:5-6).
Sekalipun Amsal pada hakikatnya adalah buku pedoman hikmat untuk hidup dengan benar dan bijaksana, landasan yang diperlukan oleh hikmat tersebut dinyatakan dengan jelas sebagai "takut akan Tuhan" (Ams 1:7).
Survai
Tema yang mempersatukan kitab ini ialah "hikmat untuk hidup dengan benar", sebuah hikmat yang berawal dari tunduk dengan rendah hati kepada Allah dan kemudian mengalir kepada semua bidang kehidupan. Hikmat dalam Amsal ini
- (1) memberi nasihat mengenai keluarga, kaum muda, kemurnian seksual, kesetiaan hubungan pernikahan, kejujuran, kerja keras, kemurahan, persahabatan, keadilan, kebenaran, dan disiplin;
- (2) memperingatkan mengenai bodohnya dosa, pertengkaran, bahaya lidah, kebebalan, minuman keras, kerakusan, nafsu, kebejatan, kebohongan, kemalasan, teman-teman yang tidak baik;
- (3) membandingkan kebijaksanaan dengan kebodohan, orang benar dengan orang fasik, kesombongan dengan kerendahan hati, kemalasan dengan kerajinan, kemiskinan dan kekayaan, kasih dan hawa nafsu, benar dan salah, serta kematian dan kehidupan.
Walaupun kitab ini, seperti Mazmur, tidak dapat diringkas dengan mudah seperti kitab lainnya dalam Alkitab, terdapat struktur yang jelas (lih. Garis Besar); secara khusus hal ini berlaku dalam pasal 1-9 (Ams 1:1--9:18) yang berisi 13 ajaran sebagaimana akan diberikan oleh seorang ayah kepada putranya bila memasuki usia remaja. Terkecuali tiga ajaran (lih. Ams 1:30; Ams 8:1; Ams 9:1), masing-masing diawali dengan "hai, anakku" atau "hai, anak-anakku." Ke-13 ajaran ini berisi banyak titah hikmat yang penting bagi kaum muda. Mulai dengan pasal 10 (Ams 10:1-32) Amsal berisi pengarahan penting mengenai hubungan keluarga (mis. Ams 10:1; Ams 12:4; Ams 17:21,25; Ams 18:22; Ams 19:14,26; Ams 20:7; Ams 21:9,19; Ams 22:6,28; Ams 23:13-14,22,24-25; Ams 25:24; Ams 27:15-16; Ams 29:15-17; Ams 30:11; Ams 31:10-31). Sekalipun Amsal adalah kitab yang isinya sangat praktis, kitab ini juga berisi pandangan yang dalam tentang Allah. Allah adalah perwujudan hikmat (mis. Ams 8:22-31) dan Pencipta (mis. Ams 3:19-20; Ams 8:22-31; Ams 14:31; Ams 22:2); Allah digambarkan sebagai mahatahu (mis. Ams 5:21; Ams 15:3,11; Ams 21:2), adil (mis. Ams 11:1; Ams 15:25-27,29; Ams 19:17; Ams 21:2-3), dan berdaulat (mis Ams 16:9,33; Ams 19:21; Ams 21:1). Amsal ditutup dengan sebuah pujian mengesankan bagi seorang istri yang berbudi luhur (Ams 31:10-31).
Ciri-ciri Khas
Delapan ciri utama menandai kitab ini.
- (1) Hikmat, bukannya dikaitkan dengan kepandaian atau pengetahuan yang luas, tetapi dihubungkan langsung dengan "takut akan Tuhan" (Ams 1:7); jadi orang berhikmat adalah mereka yang mengenal Allah dan menaati perintah-perintah-Nya. Takut akan Tuhan ditekankan berulang-ulang dalam kitab ini (Ams 1:7,29; Ams 2:5; Ams 3:7; Ams 8:13; Ams 9:10; Ams 10:27; Ams 14:26-27; Ams 15:16,33; Ams 16:6; Ams 19:23; Ams 22:4; Ams 23:17; Ams 24:21).
- (2) Sebagian besar nasihat bijaksana dalam Amsal ini adalah dalam bentuk nasihat seorang ayah yang saleh kepada anak atau anak-anaknya.
- (3) Inilah kitab yang paling praktis dalam PL karena menyentuh lingkup prinsip-prinsip dasar yang luas untuk hubungan dan perilaku hidup sehari-hari yang benar -- prinsip-prinsip yang dapat diterapkan kepada semua angkatan dan kebudayaan.
- (4) Hikmat praktis, ajaran saleh, dan prinsip-prinsip hidup mendasar disajikan dalam bentuk pernyataan singkat dan mengesankan yang mudah dihafalkan dan diingat oleh kaum muda sebagai garis pedoman bagi hidup mereka.
- (5) Keluarga menduduki tempat penting yang menentukan dalam Amsal, bahkan seperti dalam perjanjian Allah dengan Israel (bd. Kel 20:12,14,17; Ul 6:1-9). Dosa-dosa yang melanggar maksud Allah bagi keluarga disingkapan secara khusus dan diberi peringatan.
- (6) Ciri sastra yang menonjol dalam amsal-amsal ialah banyak menggunakan bahasa kiasan yang hidup (mis. simile dan metafora), perbandingan dan perbedaan, ajaran singkat, dan pengulangan.
- (7) Istri dan ibu bijaksana yang digambarkan pada akhir kitab (pasal 31; Ams 31:1-31) adalah unik dalam sastra kuno karena
pandangannya yang tinggi dan mulia tentang seorang wanita bijak.
- (8) Nasihat berhikmat dalam Amsal merupakan pendahulu PL bagi banyak nasihat praktis yang terdapat dalam surat-surat PB.
Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Hikmat diwujudkan dalam pasal 8 (Ams 8:1-36) dengan cara yang mirip dengan perwujudan _logos_ ("Firman") dalam kitab Yohanes (Yoh 1:1-18). Hikmat itu
- (1) ikut terlibat dalam penciptaan (Ams 3:19-20; Ams 8:22-31),
- (2) terkait dengan asal-usul kehidupan biologis dan rohani (Ams 3:19; Ams 8:35),
- (3) dapat diterapkan pada hidup yang benar dan bermoral (Ams 8:8-9), dan
- (4) tersedia bagi mereka yang mencarinya (Ams 2:1-10; Ams 3:13-18; Ams 4:7-9; Ams 8:35-36). Hikmat Amsal diungkapkan dengan sempurna dalam Yesus Kristus, yang "lebih daripada Salomo" (Luk 11:31), yang "telah menjadi hikmat bagi kita" (1Kor 1:30) dan yang "di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kol 2:3).
Full Life: Amsal (Garis Besar) Garis Besar
I. Prolog: Maksud dan Tema-Tema Amsal
(Ams 1:1-7)
II. Tiga Belas Ajaran Hikmat bagi Kaum Muda
(Ams 1...
Garis Besar
- I. Prolog: Maksud dan Tema-Tema Amsal
(Ams 1:1-7) - II. Tiga Belas Ajaran Hikmat bagi Kaum Muda
(Ams 1:8-9:18) - A. Hormatilah Orang-Tua dan Perhatikan Nasihat Mereka
(Ams 1:8-9) - B. Katakan "Tidak" kepada Semua Bujukan Orang Berdosa
(Ams 1:10-19) - C. Tunduklah pada Hikmat dan Takut akan Tuhan
(Ams 1:20-33) - D. Carilah Hikmat dengan Pengertian dan Kebajikannya
(Ams 2:1-22) - E. Ciri-Ciri Khas dan Manfaat Hikmat Sejati
(Ams 3:1-35) - F. Hikmat Sebagai Harta Keluarga
(Ams 4:1-13,20-27) - G. Hikmat dan Dua Jalan Hidup Ini
(Ams 4:14-19) - H. Bujukan dan Kebodohan Kebejatan Seksual
(Ams 5:1-14) - I. Nasihat Mengenai Kesetiaan Dalam Pernikahan
(Ams 5:15-23) - J. Hindari Tanggungan Utang Orang Lain, Kemalasan dan Penipuan
(Ams 6:1-19) - K. Kebodohan yang Sangat dari Semua Bentuk Kebejatan Seksual
(Ams 6:20-7:27) - L. Imbauan Hikmat
(Ams 8:1-36) - M. Hikmat dan Kebebalan Diperbandingkan
(Ams 9:1-18) - III.Himpunan Utama Amsal-Amsal Salomo
(Ams 10:1-22:16) - A. Amsal-Amsal yang Membandingkan Orang Benar dengan Orang Fasik
(Ams 10:1-15:33) - B. Amsal-Amsal yang Mendorong Hidup Benar
(Ams 16:1-22:16) - IV. Perkataan Tambahan Orang Bijak
(Ams 22:17-24:34) - V. Amsal-Amsal Salomo yang Dikumpulkan Para Pegawai Hizkia
(Ams 25:1-29:27) - A. Amsal-Amsal Tentang Bermacam-Macam Orang
(Ams 25:1-26:28) - B. Amsal-Amsal Tentang Berbagai Kegiatan
(Ams 27:1-29:27) - VI. Kata-Kata Hikmat Terakhir
(Ams 30:1-31:31) - A. Oleh Agur
(Ams 30:1-33) - B. Oleh Lemuel
(Ams 31:1-9) - C. Mengenai Istri yang Bersifat Mulia
(Ams 31:10-31)
Jerusalem: Amsal (Pendahuluan Kitab) KITAB AMSAL
PENGANTAR
Kitab Amsal adalah karya yang paling jelas memperlihatkan apa itu sastera kebijaksanaan di Israel (bdk Pengantar umum dari kitab...
KITAB AMSAL
PENGANTAR
Kitab Amsal adalah karya yang paling jelas memperlihatkan apa itu sastera kebijaksanaan di Israel (bdk Pengantar umum dari kitab-kitab Kebijaksanaan). Kitab Amsal terbentuk di sekitar dua kumpulan pepatah, yaitu: Ams 10-22:16, yang berjudul: "Amsal-amsal Salomo bin Daud" (375 pepatah) dan Ams 25-29, yang didahului keterangan berikut: "Juga ini adalah amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai-pegawai Hizkia, raja Yehuda" (128 pepatah). Kedua kumpulan tersebut kemudian diberi tambahan: Kumpulan pertama ditambah dengan "Amsal-amsal orang bijak", Ams 22:17-24:22, dan "Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak", Ams 24:23-34; kumpulan kedua ditambah dengan "Perkataan Agur", Ams 30:1-14, dengan sejumlah peribahasa bilangan, Ams 30:15-33, dan dengan "Perkataan Lemuel", Ams 31:1-9. Keseluruhan ini akhirnya diberi suatu pendahuluan panjang, 1-9 di mana seorang ayah memberi berbagai nasehat kebijaksanaan kepada anaknya, sedangkan Hikmat sendiripun angkat bicara pula. Kitab Amsal berakhir dengan sebuah sajak tersusun menurut abjad Ibrani yang memuji isteri yang cakap, Ams 31:10-31.
Urutan bagian-bagian kitab Amsal tersebut tidak menentu. Urutan dalam Alkitab Yunani berbeda dengan urutan dalam Alkitab Ibrani. Selain itu, di dalam masing- masing bagian pepatah-pepatah berturutan tidak keruan dan ada kalanya diulang. Maka kitab Amsal boleh dikatakan semacam wadah yang menampung pelbagai kumpulan yang diberi kerangka sebuah pendahuluan dan sebuah kata penutup. Kitab Amsal mencerminkan suatu perkembangan di bidang sastera, seperti yang telah diuraikan dalam Pengantar umum. Kedua kumpulan besar yang disebut di atas menyajikan sejumlah "masyal" (bdk Pengatar umum) dengan bentuk aselinya. Kumpulan-kumpulan itu hanya berisikan pepatah melulu dan pepatah-pepatah itu pada umumnya tersendiri atas dua bagian yang menjadi satu ayat. Dalam bagian-bagia tambahan tersebut pepatah-pepatah menjadi lebih panjang; sajak-sajak pendek yang berupa pepatah bilangan, Ams 30:15-33; bdk 6:16-19, menambahkan daya tarik ajarannya dengan memberinya berupa teka-teki sebuah jenis sastera yang dikenai sejak dahulu kala, bdk Am 1. bagian pembukaan kitab, 1-9, merupakan wejangan teratur yang berasal dari kalangan para perilmu. Wejangan itu terputus oleh dua pidato yang dibawakan oleh Hikmat yang dipribadikan.
Bagian penutup kitab, Ams 31:10-31, juga sebuah karya ciptaan para berilmu.
Perkembangan dalam bentuk sastera tersebut bersesuaian dengan urutan bagian- bagian kitab Amsal dalam waktu. Bagian-bagian tertua dalam kitab Amsal ialah kedua kumpulan pepatah yang disebut di atas, 10-22 dan 25-29. Kumpulan-kumpulan itu dikatakan berasal dari Salomo yang menurut 1Raj 4:32 "menggubah tiga ribu amsal" dan yang selalu dipandang sebagai orang bijak yang terbesar pada bangsa Israel. Selain keterangan tradisi tersebut, kitab Amsal sendiri tidak menolong dalam menentukan pepatah-pepatah manakah berasal dari Salomo. Tetapi tidak ada alasan untuk meragukan bahwa secara menyeluruh kumpulan-kumpulan itu berasal dari zaman para raja. Amsal-amsal yang termaktub dalam kumpulan kedua sudah dipandang tua sewaktu pegawai-pegawai Hizkia menghimpunkannya di sekitar tahun 700 seb. Mas. Oleh karena merupakan bagian inti kitab seluruhnya, maka kedua kumpulan tersebut "meminjamkan" nama raja itu untuk menyebut seluruh kitab Amsal, sehingga berjudul: "Amsal-amsal Salomo bin Daud", Ams 1:1. Tetapi judul-judul yang dibubuhkan pada bagian-bagian masing-masing menunjukkan bahwa judul umum tersebut jangan diartikan secara harafiah. Judul umum itu mecakup juga karya orang bijak yang tidak bernama, Ams 22:17-24:34, perkataan- perkataan Agur dan Lemuel, Ams 30:1-31:9.Andaikan nama kedua orang bijak yang berbangsa Arab itu hanya nama buatan saja dan bukankah nama tokoh-tokoh yang sungguh-sungguh pernah hidup, maka nama-nama itu toh memperlihatkan betapa orang Israel menghargai hikmat dari luar negeri. Penghargaan itu paling terbukti dengan adanya beberapa "amsal orang bijak", Ams 22:17-23:11, yang terpengaruh oleh petuah-petuah Amenemope" dari Mesir, yang ditulis pada awal milenium pertama seb. Mas.
Wejangan yang tercantum dalam Ams 1-9 berpolakan "Wejangan", yaitu suatu jenis sastera yang lazim dipakai oleh kebijaksanaan di Mesir. Tetapi wejangan itupun serupa dengan "Nasehat-nasehat seorang ayah kepada anaknya", seperti baru-baru ini ditemukan dalam sebuah naskah dari kota Ugarit yang ditulis dalam bahasa Akkad. Malahan pempribadian Hikmat ada contohnya dalam kesusasteraan Mesir, yang suka memperorangkan Maat, yaitu Keadilan-kebenaran. Tetapi orang- orang bijaksana di Israel tidak menjiplak saja. Mereka mempertahankan keaseliannya dan menyesuaikan contoh-contoh dari luar negeri itu dengan kepercayaan mereka kepada Yahwe. Bagian inti kitab Amsal, bab 10-29, dengan cukup pasti dapat ditanggalkan pada masa sebelum pembuangan. Sebaliknya, waktu manakah bab 30-31 disusun tidaklah pasti. Adapun bagian pembukaan, 1-9, pasti disusun di masa belakangan dan corak kesusasteraannya ada kesamaannya dengan karya-karya yang dikarang sesudah masa pembuangan. Maka bagian pembukuan itu ditulis pada abad ke-5 seb. Mas. Pada masa yang sama agaknya kitab Amsal juga memperoleh bentuk definitipnya.
Oleh karen kitab Amsal mencerminkan buah-buah pikiran yang berasal dari pelbagai zaman, maka dengan sendirinya dicerminkan juga perkembangan dalam ajaran. Dalam kedua bagian tertua nada kebijaksanaan manusiawi dan keduniaan menyolok, sehingga bingunglah orang Kristen yang membacanya. Walaupun demikian, namun sudah dalam bagian itu, dengan perbadingan satu lawan tujuh, pepatah- pepatah mempunyai ciri keagamaan. Ajaran memang berupa teologi praktis: Allah mengajar orang yang berkata benar, yang berkasihan, yang berhati murni dan rendah hati. Sebaliknya Allah menghukum sifat-sifat yang berlawanan. Sumber dan ringkasan segala sifat baik ialah hikmat-kebijaksanaan dan ini tidak lain dari takwa dan takut akan Tuhan, Ams 15:16, 33;16:6; 22:4; manusia harus mengandalkan Allah saja, Ams 20:22; 29:25. Bagian pertama kitab Amsal menyajikan nasehat-nasehat yang juga bernafaskan kebijaksanaan manusiawi dan keagamaan. Ditekankan dosa-dosa yang tidak diperhatikan oleh para bijaksana di masa lampau, yaitu: zinah dan pergaulan bebas dengan "perempuan asing" Ams 2:16 dst; 5:2 dst; 5:15 dst. Bagian penutup kitab Amsal ternyata menjunjung tinggi perempuan. Yang lebih penting lagi ialah: Bagian pembukaan, sebagai yang pertama, secara berturutan menyajikan ajaran mengenai hikmat-kebijaksanaan, mengenai nilainya dan tentang peranannya sebagai pembimbing dan pengatur kelakuan. Hikmat sendiripun angkat bicara, memuji dirinya; ia menjelaskan hubungannya dengan Allah dan menyatakan bahwa ia sudah berada pada Allah sejak awal mula dan menolong dalam menciptakan dunia semesta, Ams 8:22-31. Inilah nas pertama yang memperorangkan Hikmat. Nas-nas lain sudah ditunjuk dalam Pengantar umum kitab-kitab kebijaksanaan.
Ajaran Kristus, Hikmat Allah yang sejati, tentu saja melebihi ajaran kitab Amsal. Tetapi sejumlah pepatah kitab Amsal sudah bercirikan ajaran akhlak seperti yang terdapat dalam Injil. Perlu juga orang insaf bahwa agama yang sejati hanya dapat berkembang atas dasar peri kemanusiaannya yang wajar. Perjanjian Baru sering mempergunakan kitab Amsal (14 kutipan, dan 20 kali Amsal disinggung) dan dengan jalan itu Perjanjian Baru mengajak orang Kristen supaya tetap menghargai buah pikiran para bijaksana Israel dahulu.
Ende: Amsal (Pendahuluan Kitab) AMSAL SULAIMAN
PENDAHULUAN
Bagian2 tertua dari kesusasteraan Kebidjaksanaan Hibrani dengan djelasnja
terdapat dalam kitab jang berdjudul "Amsal Sulaim...
AMSAL SULAIMAN
PENDAHULUAN
Bagian2 tertua dari kesusasteraan Kebidjaksanaan Hibrani dengan djelasnja terdapat dalam kitab jang berdjudul "Amsal Sulaiman". Didalamnja kita dapati permulaan tertulis dari arus jang mengalir sampai ke-abad2 belakangan sebelum Perdjadjian Baru, jaitu sampai ke kebidjaksanaan Putera Sirah dan kitab Kebidjaksanaan. Arus ini terdapat atas sedjumlah besar "orang2 kebidjaksanaan" anonim, jang mentjatat pengalaman2 serta renungan2nja untuk murid2nja dan angkatan jang akan datang. Mereka merupakan suatu golongan tersendiri didalam rakjat Israil, jangberlainan sekali dengan penulis sedjarah, apalagi dengan para nabi. Orang2 jang berwatak sedang ini dan, kendati bertakwa benar, tetapi tjukup menaruh perhatian jang praktis dan duniawi, sangat boleh djadi harus ditjari dikalangan isi istana, dimana mereka bertindak selaku pendidik para pegawai administrasi dan politik dan mungkin djuga memegang sendiri djabatan administrasi dan politik. Tidak djaranglah kalangan ini bertentangan dengan lingkungan nabi2 jang djauh lebih bersemangat dan lebih radikal.
Adapun arti kata Hibrani untuk "amsal" sukar dibentangkan dengan beberapa patah kata sadja. Kata ini melingkupi suatu rentetan jang ber-matjam2 artinja. Kadang2 berarti "peribahasa rakjat", ungkapan tadjam atau teka-teki dan sindiran. Perumpamaan, parabel dan kiasan dinamakan begitu pula, bahkan djuga uraian danpidato jangagak pandjang. Suatu djenis chusus ialah apa jang disebut "pepatah bilangan", jang djuga lambat-laun disempurnakan. Semua "amsal" ini dapat bertahan ber-abad2 lamanja dan djuga berkembang labih landjut. Rupanja merupakan bentuk jang djitu untuk menarik perhatian dan untuk menghafalkan adjaran jang tertjantum didalamnja. Semua bentuk itu terdapat pula dalam kitab Amsal.
Sebab kitab ini bukan hasil karya satu orang pengarang dan bukan pula dari satu generasi "orang2 bidjaksana". Sungguhpun kitab ini berdjudul "Amsal2 Sulaiman", namun ini se-kali2 tidak berarti, bahwa semua kumpulan bersumberkan "Bapak Kebidjaksanaan" itu, meski setjara tak-langsung sekalipun. Dua bagian, jang dapat dibedakan dengan djelas dandjuga merupakan bagian2 jang terbesar dari kitab ini (10-22,16 dan 25-29), berdjudul pula "Amsal2 Sulaiman" (10,1 dan 25,1). Ini bagian2 jang tertua dari kitab tadi, dan amsal2 didalamnjapun nampaklah primitif sekali bentuknja, baik mengenai isi maupun tjoraknja, umumnja pepatah jang terdiri dua baris, jang berdjadjaran tanpa banjak gandingannja satu sama lain. Kebanjakan djuga bersifat populer dan praktis. Bahwasanja sebagian dari antaranja berasal dari Sulaiman, tidaklah mustahil, tetapi ada banjak djuga jang anonim sama sekali dan ditjatat dari mulut rakjat. Tentang kumpulan kedua dinjatakan dengan djelasnja, bahwa itu disusun oleh pegawai2 radja Hizkia, djadi beberapa abad sesudah Sulaiman.
Kemudian kedua kumpulan itu ditambah dengan lampiran2 jang berlainan pengarang atau penghimpunannja. Kumpulan pertama ditambah dengan "Perkataan para bidjaksana" (22,17-24,22) dan "Inipun dari para bidjaksana" (24,23-34). Tidak mungkin lagi menentukan lebih landjut, siapa2 "orang2 bidjaksana Israil". Amsal2 jang dikumpulkan dalam bagian ini menundjukkan tjorak jang lebih beraneka-ragam dan lebih madju. Kumpulan kedua "Amsal2 Sulaiman" diikuti tiga kumpulan pendek. Jang pertama berdjudul "Perkataa2" ahur bin Jake dari Massa" (30,1-14), orang jang tidak dikenal lebih landjut, seorang anggota suku Arab, dan boleh djadi seorang tokoh chajali belaka. Lampiran lain ialah nasihat2 kepada Lemuel, seorang putera-mahkota, oleh ibunja (31,1-9). Antara ke-dua2nja tadi ada suatu kumpulan anonim pepatah2 bilangan (30,15-33). Seluruh kitab dikuntji dengan pudjian atas isteri jang berbudi (31,10-31), jang bentuk kesusasteraannja sungguh berlainan dengan kumpulan2 jang terdahulu dan sudah pestilah disusun belakangan.
Kitab ini dimulai dengan suatu kata pendahuluan jang pandjang-lebar (1-9). Selain 6,1-19 - jang lebih menjerupai bagian2 lain kitab dan terdiri atas rentetan amsal2 5terdiri,-maka bagian pertama ini merupakan suatu keseluruhan jang besar dan teratur. Adapun isinja memudjikan (1,1-19;2,1-5,23;6,20-71,27) dan melukiskan (1,20-33;8,1-9,6) Kebidjaksanaan. Tjorak bagian ini sungguh berlainan dengan bagian2 lain kitab ini sangat mirip dengan kebidjaksanaan Putera Sirah dan Kitab Kebidjaksanaan. Djelaslah, bahwa bagian ini disusun paling achir dan sudah sangat diperngaruhi nabi2. Baian tadi ditambahkan kepada kumpulan beraneka-ragam amsal sudah ada. Kira2 sadja boleh di katakan, bahwa kitab seperti kita kenal sekarang ini, seluruhnja selesai sekitar tahun 500 sebelum Masehi. Djadi, adalah hasil kebidjaksanaan Israil selama ber-abad2.
Berdasarkan keterangan2 dari kitab itu sendiri, dapatlah dibagi sbb: I Memudjikan Kebidjaksanaan (1-9) II Amsal2 Sulaiman (10-22,16) III Amsal2 para Bidjaksana (22,17-24,22) IV Lagi Amsal2 para Bidjaksana (24,23-34) V Kumpulan kedua Amsal2 Sulaiman (25-29) VI Amsal2 Agur (30,1-14) VII Pepatah2 bilangan (30,15-33) VIII Amsal2 untuk Lemuel (31,1-9) IX Pudjian atas Isteri berbudi (31,10-31).
Didalam terdjemahan Junani urutan bagian2 tadi agak berlainan, hal mana menundjukkan pula, bahwa kitab ini disusun setjara ber-anggur2 dan baru lama kemudian mendapat bentuknja jangdefinitif. Urutan dalam terdjemahan JUnani adalah sbb: I,II,III,VI,VII,VIII,V,IX.
Didjalam dahulu kala tidak hanja Israil sadja jang mempunjai madrasah2 ilmu kebidjaksanaan. Lama sebelumnja di Mesir sudah ada metodes pendidikan sematjam itu, dan tidak sedikitlah dari kumpulan amsal2 Mesir sampai kepada kita. Ilmu kebidjaksanaan Mesir merembas pula ke-negeri2 tetangga. Orang2 Jahudi sering mengadakan perhubungan dengan Mesir dan oleh karenanja tidak mustahil, malahan mungkin sekali, orang2 bidjaksana di Israil tidak sama sekali terpelas dari orang2 bidjaksana Mesir serta negeri2 tetangga. Tetapi ini tidak berarti, bahwa mereka bergantung setjara langsung daripadanja. Soalnja lebih mengenai suasana umum serta metode dan pengaruh satu sama lain, tetapi dengan tidak kita ketahui, bagaimana persisnja djalan proses itu. Agur jang bidjaksana dan ibu Lemuel pastilah bukan orang Israil, melainkan teranglah orang kufur dari djurusan Mesir. Amsal Agur mengingatkan kita kepada buku kebidjaksanaan tertentu dari Mesir.
Kalau umat Serani membatja kitab Amsal ini, maka tak dapatlah kita menghilangkan kesan, bahwasanja selain pasal 1-9, kesemuanja itu bojak dan biasa sadja isinja. Kebanjakan amsal itu mengadjarkan kebidjaksanaan insani jang biasa dan umum sadja, dan lagi dengan senangnja mengutarakan ber-matjam2 kepitjikan manusia serta tjatjat2, tanpa dibubuhi dengan penilaian susilanja. Pada umumnja amsal itu tidak besarlah nilai keigamaannja. Segala sesuatunja agar rendah dan biasa. Kesan itu untuk sebagian besar dapat dibenarkan. Tetapi djanganlah kita lupakan, bahwa dalam kitab ini kita berkenalan dengan permulaan dari perkembangan keigamaan dan kesusilaan Israil dan bahwa kita berharap dengan kalangan orang bidjaksana, jang belum mendapat udjian api para nabi, djadi manusia dri kehidupan praktis, jang berhaluan duniawi dan jang tahu memandang keseluruhan dari tempat jang agak tinggi. Mereka adalah pendidik, jang terutama bermaksud membimbing orang djadi warga dan pegawai jang baik, bahkan djadi radja jang baik. Dari itu mereka menitik beratkan keutamaan2 kodrat dan kebadjikan warga masjarakat, jang mendjamin kedudukan jang lajak dalam masjarakat bagi murid2nja.
Tetapi sebaliknja, ada djuga banjak amsal jang bernada keigamaan. Ada orang baik dan orang djahat, ada keutamaan dan ketjelaan, sekadar manusia berbuat sesuai tidaknja dengan kebidjaksanaan, jang achirnja berasal dari Allah. Allah melihat dan mendengar segala sesuatu, dan tak seorangpun dapat lolos dari kebidjaksanaanNja serta kemahakuasaanNja, sebab Ia adalah Pentjipta dan Penguasa segala sesuatu. Allah inilah jang mengadjar dan menghukum setjara adil dan sekadar perbuatan2. Gandjaran itu berupa berkah serta kebahagiaan didunia, lebih2 banjak anak dan umur pandjang, sedangkan hukuman itu berwudjud hidup jang miskin dan tjelaka dan lekas mati, tanpa meninggalkan keturunan. Djika rangka jang agak sederhana ini dikenakan pada manusia, boleh djadi dapat memuaskan untuk sementara, tetapi didalam abad2 kemudian menimbulkan reaksi jang hebat dan kritik, seperti jang kita dapati dalam kitab Ijob dan Kitab si Pengchotbah.
Pikiran jang, dipandang setjara umum, mendjadi dasar semua amsal, jang beraneka ragam tjoraknja dan sangat berlainan maksudnja itu, dibentangkan sedikit banjak setjara teologis dalam kesembilan pasal permulaan tadi. Ialah pikiran perihal "Kebidjaksanaan". Para penjusun amsal jang terdahulu belum pernah memikirkan dengan sungguh2 perihal dasar terachir adjaran mereka. Itu terserah kepada masa kemudian, ketika pasal2 permulaan itu tersusun sebagai kata pendahuluan dan pertanggungdjawab atas pepatah2 jang banjak djumlahnja dari leluhur itu. Adapun kebidjaksanaan itu suatu pengertian jang samar2 dan melingkupi banjak hal. Bisa berarti ketjakapan dan seni, teristimewanja seni untuk hidup, untuk berbahagia dan berhasil baik dengan mengukuhi aturan2 tertentu dan dengan menghindari segala keterlaluan. Kebidjaksanaan adalah terutama seni untuk hidup mursid, dan kemursidan ditentukan oleh "ketakutan akan Allah", jang mengharuskan orang memenuhi hukumNja, walaupun dimasa dahulu kala Taurat Musa belum tampil dengan djelasnja seperti dimasa kemudian. lalu kebidjaksanaan disamakan dengan hukum Allah ini. Madju selangkah lagi, maka kebidjaksanaan mendjadi sifat Allah sendiri, jang dapat dianugerahkanNja kepada manusia, jang oleh karenanja djadi mursid, lants kebidjaksanaan. Kebidjaksanaan sebagai sifat Allah achirnja diperorangkan (1,20-33;8,1-9,6). Ia datang dari Allah dan ada pada Allah dan djuga pada manusia. Ia adalah penasihat Allah jang kekal dan arsitekNja dalam mentjiptakan dunia, membimbing para penguasa dalam memerintah rakjat mereka dan membawa manusia kekehidupan. Renungan2 perihal kebidjaksanaan sebagai penengah antara sifat Allah dan pribadi Ilahi merupakan persiapan akan pewahjuan "Sabda Allah" dan Roh Kudus, seperti jang kita dapati dalam Perdjandjian Baru. Sama beraneka-ragamnja seperti pengertian "kebidjaksanaan" ialah pengertian "kebodohan", jang dapat berarti ketololan maupun kefasikan dan djuga dapat diperorangkan. Kebodohan itu mendjadi kebalikan dari kebidjaksanaan Ilahi dan mendjadi sebab musababnja dosa dan tjatjat.
Pada achirnja kitab ini terdapat ichtisar pembagian jang kami adakan.
Wycliffe: Amsal (Pendahuluan Kitab) PENDAHULUAN AMSAL
AJARAN DARI AMSAL. Inti dari Kitab Amsal ialah ajaran tentang prinsip moral dan prinsip etika. Keunikan kitab ini adalah bahwa seba...
PENDAHULUAN AMSAL
AJARAN DARI AMSAL. Inti dari Kitab Amsal ialah ajaran tentang prinsip moral dan prinsip etika. Keunikan kitab ini adalah bahwa sebagian besar isinya merupakan ajaran yang disajikan dengan cara memperlihatkan kontrasnya. Yang terutama patut diperhatikan ialah pasal 10-15, di mana hampir setiap ayat dipisahkan dengan kata "tetapi."
Pada bagian pertama, pasal 1-9, juga dipergunakan kontras - antara yang baik dan yang jahat. Kebaikan dalam bagian ini ditunjukkan secara menonjol oleh beberapa kata - hikmat, didikan, pengertian, kebenaran, keadilan, kejujuran, pengetahuan, kebijaksanaan, ilmu, pertimbangan-pertimbangan - tetapi khususnya hikmat, yang muncul tujuh belas kali pada bagian ini dan dua puluh dua kali pada bagian selebihnya dari kitab ini. Teks penting dari kitab ini ialah pernyataan terkenal pada 1:7, "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan," yang diulang pada akhir bagian ini (9:10). Pernyataan ini muncul kembali kata per kata secara alfabetis (dengan klausa dibalik) dalam Mazmur 111:10, dan dalam bentuk yang hampir sama, sebagai klimaks dari Ayub pasal 28, yang menggambarkan secara puitis sekali pencarian akan hikmat.
Yang unik pada bagian Amsal ini ialah personifikasi hikmat sebagai seorang perempuan. Ini terlihat pertama kali dalam 3:15. Sebetulnya, kata ganti dalam 3:15-18 yang merujuk pada hikmat dapat diterjemahkan dengan "itu" (Ing., it) maupun "dia" (Ing., she), tetapi personifikasi tersebut diterima karena rujukan-rujukan sesudahnya. Amsal 7:4 membuka jalan bagi personifikasi tersebut, "Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku [perempuan]."' Personifikasi itu menjadi jelas dalam pasal 8 dan 9, di mana Hikmat mengundang orang-orang tidak berpengetahuan untuk ikut dalam perjamuannya. Hanya di dalam Kitab Amsal dan hanya pada bagian pertama inilah hikmat dipersonifikasikan seperti itu.
Untuk memahami bagian pertama ini orang perlu sekali mengenali personifikasi tersebut. Karena kata "hikmat" dalam bahasa Ibrani merupakan kata benda jenis feminin, maka wajar jika kata ini dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan. Lebih penting lagi, penulis Amsal membedakan antara "hikmat," perempuan yang bijaksana, dengan perempuan sundal, perempuan asing. Sebagaimana hikmat berarti semua kebajikan, demikian juga barangkali perempuan asing tersebut melambangkan dan menyiratkan segala dosa.
Kontrasnya sengaja dipersiapkan secara artistik. Hikmat berseru-seru di jalan-jalan (8:3). Ia mengajak, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" (Ams. 9:4). Sebaliknya, perempuan bebal yang mengajak menikmati air curian dan yang tamu-tamunya, adalah penghuni dunia orang mati (9:17, 18), memberikan undangan yang sama, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" (9:16). Hikmat mengajak orang tak berpengalaman untuk membuang dosa; perempuan sundal mengajaknya untuk menuruti nafsunya.
Dengan demikian, bagian ini, Amsal 1-9, mempertentangkan dosa dengan kebenaran. Kata-kata seperti "hikmat," "didikan," "pengertian," dan sebagainya pada seluruh bagian ini bukan saja berarti kecerdasan dan kecakapan manusia, melainkan juga berlawanan dengan hal yang jahat. Jadi, yang dimaksud hikmat di sini adalah sifat moral. Perlu diperhatikan bahwa ini merupakan pemakaian yang khusus. Pada sebagian besar pemakaian dalam Perjanjian Lama, hikmat adalah sekadar kecakapan atau kecerdikan. Bahkan dalam Kitab Pengkhotbah di mana hikmat juga ditekankan, hikmat adalah sekadar kecerdasan manusia dan karenanya termasuk di dalam kesia-siaan (Pkh. 2:12-15). Hanya dalam Ayub 28 dan dalam mazmur-mazmur tertentu (37:30; 51:8; 90:12; 111:10) konsep dari Kitab Amsal mengenai hikmat tampak nyata. Bahkan hikmat (kebijaksanaan) yang membuat Salomo termasyhur dalam kitab-kitab sejarah, sebenarnya bukan hikmat ini. Salomo termasyhur karena kecakapannya dalam ilmu alam (I Raj. 4:33) dan hukum (I Raj. 3:16-28) dan kecerdikannya yang luar biasa (I Raj. 10:1-9). Amsal menambahkan konsep tentang ketajaman mental, kelurusan moral, yang merupakan satu-satunya hal yang menjadikan akal budi berarti.
Pada bagian kedua, Amsal Salomo, 10:1-22:16, ajarannya disajikan, nyaris hanya melalui pernyataan satu ayat. Pada seluruh pasal 15, ajaran diberikan lewat kontras yang ditunjukkan oleh kata "tetapi" di tengah hampir setiap ayat. Karenanya, lebih sering muncul persamaan gagasan daripada perbedaan.
Bagian ini meliputi pokok yang luas dan tak teruraikan. Tetapi, sudut pandangnya konsisten. Salomo membedakan hikmat dengan kebodohan. Dan sebagaimana dalam Bagian 1, ini bukan pertentangan antara kecerdasan dengan kebodohan akal budi manusia, melainkan pertentangan antara hikmat (kebijaksanaan) moral dengan dosa. Pada bagian ini, hikmat tidak pernah dipersonifikasikan, tetapi sinonim-sinonim yang sama untuk kata itu pada Bagian I dipakai di sini - pengertian, kebenaran, didikan/ajaran. Orang bodoh juga mempunyai sinonim-sinonim: pencemooh, pemalas, orang curang. Bagian-bagian berikutnya (lihat Garis Besar) melanjutkan tema ini. Seperti ditunjukkan oleh Toy (Crawford H. Toy, ICC dalam Proverb, hlm. xi), etika dalam kitab ini sangat tinggi. Di sini ditekankan tentang kejujuran, kesetiaan, penghargaan terhadap jiwa dan hak milik. Orang didorong untuk memperjuangkan keadilan, cinta kasih, dan belas kasihan kepada orang lain. Suatu kehidupan rumah tangga yang baik, disertai didikan yang hati-hati terhadap anak-anak dan kedudukan yang terhormat bagi wanita tercermin di sini.
Mengenai pandangan keagamaan, Tuhan dipahami sebagai pencipta moralitas serta keadilan, dan tersirat juga monoteisme. Tetapi, di sini sedikit sekali disebut tentang Hukum Taurat dan nubuat (29:18), keimaman dan persembahan kurban (15:8; 21:3, 27). Sang penulis sendiri yang berbicara, dengan mengajarkan prinsip-prinsip bahwa perilaku yang benar berasal dari Tuhan.
KEPENULISAN. Nama Salomo muncul pada tiga bagian kitab ini - 1:1; 10:1 dan 25:1. Jadi, ada klaim bahwa bagian-bagian pokok kitab ini ditulis oleh Salomo, sesungguhnya dia juga menulis semua bagian, kecuali Bagian III, 22:17-24:22; IV, 24:23-34; dan VI, 30:1-31:31. Para sarjana kritis membantah klaim ini. Toy (op. cit. hlm. xix), yang membantah bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa dan berpendapat bahwa Yesaya dan para nabi bukanlah penulis kitab-kitab yang berkaitan dengan diri mereka, cukup wajar untuk tidak mengakui Salomo sebagai penulis karya ini. Berdasarkan banyak petunjuk internal, dia menyatakan bahwa kitab tersebut ditulis pada zaman pasca-Pembuangan. Driver (S. R. Driver, Introduction to the Literature of the Old Testament, edisi keempat, hlm. 381 dst.) berpendapat bahwa bagian-bagian kitab ini berasal dari zaman pra-Pembuangan, tetapi sedikit saja - kalaupun ada - yang ditulis oleh Salomo. Pfeiffer (Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old Testament, hlm. 649-659) meneliti ciri-ciri khas internal Kitab Amsal dan berpikir untuk menetapkan tanggal dari berbagai strata. Karena sastra hikmat di Mesir pada sekitar 1700-1500 SM murni bersifat sekular, dia berkesimpulan bahwa strata keagamaan dalam Amsal pasti berasal dari abad keempat SM. Setelah puas merekonstruksi sejarah pemikiran di Israel, dia menetapkan tanggal Kitab Amsal dalam kaitan dengan perkembangan itu. Kesimpulannya adalah bahwa kitab ini diselesaikan sesudah 400 SM dan beberapa waktu sebelum akhir abad ketiga SM.
W. F. Albright ("Some Canaanite-Phoenician Sources of Hebrew Wisdom" dalam Wisdom in Israel and the Ancient Near East, disunting oleh M. Noth dan D. W. Thomas, hlm. 13) mempelajari kemiripan bahasa Kitab Amsal dengan bahasa Ugarit, lalu dia berpendapat bahwa kitab tersebut "seluruh isinya barangkali berasal dari zaman pra-Pembuangan, tetapi bahwa kebanyakan dari padanya disampaikan secara lisan hingga abad kelima. Dia berpendapat bahwa Salomo mungkin menulis bagian intinya. Lihat juga artikel oleh salah seorang murid Albright, Cullen I. K. Story, "The Book of Proverbs and Northwest Semitic Literature," JBL, LXIV (1945), 319-337. Charles T. Fritsch (The Book of Proverbs, IB, Vol. IV, hlm. 775) berdasarkan alasan-alasan seperti itq mengemukakan pendapat yang sangat mirip. Oesterley (W. O. E. Oesterley, The Book of Proverbs, hlm. xxvi) memberi tanggal sebelum zaman Pembuangan untuk sebagian besar kitab itu, tetapi untuk Bagian I, 1:1-9:18, dan Bagian VI, 30:1-31:31, dia memberi tanggal abad ketiga "dan sangat mungkin lebih belakangan lagi."
Faktanya adalah bahwa perhatian paling teliti atas bukti-bukti internal ini tidak dapat menetapkan tanggal untuk kitab tersebut atau kumpulan-kumpulannya. Sekalipun amsal-amsal sekular mungkin lahir lebih dulu daripada amsal-amsal keagamaan, atau sekalipun aforisme satu baris ada lebih dulu daripada bentuk-bentuk [amsal] yang lebih maju, toh perkembangan bentuk-bentuk amsal yang rumit dan bersifat keagamaan pasti telah berkembang sepenuhnya sebelum zaman Salomo. Sekalipun Yeremia melawan orang-orang bijaksana pada zamannya (Yer. 18:18), hal ini tidak memberikan bukti apa-apa mengenai tanggal penulisannya. Dia juga menentang para imam, para nabi dan para raja, tetapi itu tidak membuktikan bahwa jabatan-jabatan ini berasal dari zaman pasca-Pembuangan! Pendekatan paling menjanjikan untuk menentukan tanggal penulisan berdasarkan kriteria internal ialah pendekatan Albright melalui perbandingan kata-kata dan bentuk-bentuk dalam bahasa Ugarit.
Bukti-bukti eksternal kita tidak begitu lengkap seperti yang kita harapkan, tetapi itu tidak boleh sama sekali dihilangkan. Sebagai contoh, Amsal 15:8 dikutip dengan rumusan, "Ada tertulis," dalam Dokumen [Imam] Zadok (kolom XI, baris 20; C. Rabin, The Zadokite Documents, hlm. 58). Ini menunjukkan bahwa kitab tersebut dianggap sebagai kanonik pada abad kedua SM. Karya Salomo mengenai "amsal dan perumpamaan" disebut dalam Kitab Yesus bin Sirakh 47:17, bertanggal sekitar 180 SM. Meskipun demikian, tidak ada bukti eksternal sebelum ini. Oesterley menyatakan adanya kasus peminjaman dari Amsal oleh Story of Ahikar dalam abad kelima (lih. tafsiran tentang 23:14).. Pendapat orang mengenai tanggal penulisan Kitab Amsal sangat dipengaruhi oleh pandangannya tentang kitab-kitab lainnya. Jika orang berpendapat bahwa Pentateukh belum ditulis sampai 400 SM dan Kitab-kitab para nabi sebagian besar berasal dari zaman pasca-Pembuangan, maka dia pasti akan menolak bahwa Salomo menulis Kitab Amsal. Tetapi, jika tanggal penulisan ditetapkan pada zaman pra-Pembuangan untuk Pentateukh, Mazmur dan Kitab-kitab Para Nabi (sebagaimana oleh pengarang ini) maka tampaknya tidak ada alasan yang kuat untuk menyangkal anggapan tradisional bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang menyebut namanya.
Fritsch (op. cit., hlm. 770) keberatan terhadap kebiasaan mengagung-agungkan kebijaksanaan Salomo padahal "dia telah melakukan banyak kekeliruan yang bodoh dalam segala bidang sepanjang hidupnya." Rasanya ini adalah penilaian yang kasar terhadap raja Israel yang paling cemerlang ini. Bahwa dia telah melakukan kesalahan-kesalahan pada masa pemerintahannya yang panjang selama empat puluh tahun, itu adalah jelas; tetapi arkeologi memberikan kesaksian mengenai kecakapan Salomo di bidang arsitektur, kemampuan dalam pemerintahan, dan berbagai penemuan dalam bidang teknik yang berhubungan dengan pengecoran tembaga di Ezion-Geber. Memang, pada masa tuanya dia bersifat menindas (I Raj. 12:10), tetapi kemunduran pada masa tuanya itu jangan sampai membuat kita lupa pada kecemerlangannya ketika muda. Lebih banyak kritikus menyatakan keberatan terhadap karakter Salomo karena dia memiliki banyak sekali isteri. Akan tetapi, penelitian yang cermat terhadap berbagai teks (dan itu adalah satu-satunya sumber kita) memperlihatkan bahwa teks-teks itu tidak menggambarkan Salomo sebagai manusia penuh nafsu. Sebagai seorang raja penting atas suatu wilayah yang mencakup banyak raja kecil dari negara-negara kota (polis), Salomo pasti mengadakan banyak perjanjian. Tentu saja, dalam banyak kasus, perjanjian-perjanjian seperti itu dikuatkan oleh perkawinan Salomo dengan anak perempuan para raja kecil itu, sebagaimana kebiasaan kuno dan sebagaimana dalam kasus aliansi dengan Mesir (I Raj. 9:16, 17). Tidak diragukan bahwa perkawinan-perkawinan Salomo sebagian besar merupakan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik. Kesalahan Salomo sebagian besar bukan terletak pada nafsu, melainkan pada tindakannya mengizinkan para isterinya - yang dari segi politik penting - membawa masuk penyembahan kafir mereka ke dalam kota Allah (I Raj. 11:7-9).
Kita sama sekali tidak mengetahui siapa penulis bagian-bagian lain dari Amsal (III, 22:17-24:22; IV, 24:23-34; VI, 30:1-31:31). Lihat berbagai keterangan di dalam Tafsiran. Karenanya, kita tidak mungkin bersikap dogmatis mengenai tanggal penulisan bagian-bagian tersebut, kecuali mengatakan bahwa kita tidak perlu menetapkan tanggal penyuntingan final kitab tersebut sesudah berdasarkan tradisi zaman Alkitab berakhir - yaitu sekitar 400 SM.
KUMPULAN-KUMPULAN DALAM KITAB AMSAL. Toy (op. cit., hlm. vii, viii), dan orang-orang lain yang mengikuti pandangannya berpendapat bahwa munculnya kalimat atau ayat yang sama pada `banyak bagian kitab ini menunjukkan adanya penulis-penulis berbeda untuk bagian-bagian itu. Toy mencatat lebih dari lima puluh persamaan, meskipun sebagian tidak terlalu mirip. Dia secara kurang hati-hati mengabaikan 15:13 dan 17:22. Sebagian besar dari persamaan ini diberi perhatian dalam bagian Tafsiran tentang pembahasan ini. Toy tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap fakta nyata bahwa dalam banyak .hal bagian dari sebuah ayat diulang dengan variasi-variasi yang mungkin penting. Pengulangan tersebut tidak memberikan bukti apa-apa mengenai adanya kumpulan amsal dari penulis-penulis berbeda. Kadang-kadang pengulangan tersebut juga berada dalam bagian yang oleh Toy dianggap merupakan kumpulan yang menyatu, seperti 14:12 dan 16:25. Di sini Toy terpaksa memberikan kesan bahwa ada kumpulan-kumpulan tambahan. Lebih jauh, ada pengulangan serupa pada sebuah karya dari Mesir yang dianggap ditulis oleh penulis yang sama (bdg. Tafsiran dari 22:28). Kelihatannya pendapat Toy didasarkan pada asumsi yang keliru. Jelas bahwa ada beberapa kumpulan berbeda dalam Amsal, sebagaimana ditunjukkan oleh judul-judulnya; tetapi bukti-bukti internal berupa kesamaan-kesamaan ini tidak cukup untuk membantah bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang dinyatakan berasal dari dia.
AMSAL DAN SASTRA HIKMAT LAIN. Sebagaimana penulisan puisi pada zaman purba tidak terbatas pada bangsa Ibrani, demikian juga bentuk sastra dari Amsal bukanlah khas Ibrani. Kita tidak perlu heran jika menemukan kumpulan-kumpulan amsal di Mesir dan Mesopotamia pada zaman purba. Beberapa karya seperti itu patut diperhatikan, tetapi ada dua yang paling penting - Story of Ahikar dan Wisdom of Amen-em-opet, yang harus dianggap rendah dalam beberapa detail.
Salah satu yang paling tua di antara karya-karya Hikmat ini adalah Instruction of Ptah-Hotep, yang berasal dari sekitar 2450 SM di Mesir. Ada beberapa hal dalam karya tersebut yang diduga memiliki persamaan dengan Kitab Amsal, tetapi gaya penulisannya seperti amsal dan dalam beberapa hal gagasan-gagasannya sama. Misalnya, dalam Instruction of Ptah-Hotep ada perintah agar anak-anak taat, perintah agar rendah hati, bersikap adil, berhati-hati jika berada di meja orang yang terhormat, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dan sebagainya. Jelas nasihat yang saleh seperti itu sudah ada sejak lama dan merupakan sifat lazim masyarakat Timur. Persamaan antara tulisan-tulisan itu dengan Amsal tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul kitab yang kita bicarakan ini. Pandangan serupa berlaku untuk Instruction of Ani dan sastra Mesir mula-mula lainnya. Beberapa karya sastra Mesopotamia patut diperhatikan. Apa yang dikenal sebagai Ayub versi Babel, berjudul I Will Praise the Lord of Wisdom, mengingatkan kita pada Ayub dam Alkitab kita. Di situ diceritakan seorang laki-laki dengan penyakit hebat yang disembuhkan oleh dewa-dewa. Ada juga Dialogue about Human Misery, yang kadang-kadang disebut Kitab pengkhotbah versi Babel. Kesamaan kata-katanya dengan Kitab Pengkhotbah kecil sekali, tetapi di dalamnya ada beberapa petuah.
Berbagai batu tulis dari Babel yang berasal dari abad kedelapan SM atau sebelumnya, berisi juga amsal-amsal yang menasihati orang untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, tidak berkata-kata gegabah, tidak ikut dalam pertengkaran orang lain, dsb. Lagi-lagi, karena prinsip-prinsip moral ini sangat umum, maka keberadaannya di dalam batu-batu tulis itu tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul Kitab Amsal, kecuali bahwa kitab itu dengan demikian seharusnya dianggap bertentangan dengan latar belakangnya. Sebagaimana Musa mungkin mengambil dari hukum-hukum Hammurabi, dan sebagaimana Daud menggunakan beberapa bentuk puisi Kanaan, demikian juga Salomo dan para penerusnya mempunyai kekayaan materi latar belakang untuk digunakan sebagai ilustrasi. Tetapi, dalam semua hal ini, bahan kuno yang bersifat umum itu dibentuk lagi oleh sang penulis Ibrani, yang dengan ilham Roh Allah menulis penyataan Allah bagi umat-Nya. (Semua tulisan ini dapat dilihat secara enak dalam koleksi hasil suntingan James B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, edisi kedua).
Yang lebih penting bagi penelaahan kita ialah Story of Ahikar, sebuah cerita dari Mesopotamia yang dibumbui banyak amsal. Cerita tersebut telah lama dikenal, sebab ada bagian-bagiannya yang muncul pada tulisan-tulisan pengarang Kristen mula-mula. Tetapi pada tahun 1906, sebelas lembar papirus yang memuat kisah tersebut ditemukan dalam penggalian-penggalian terhadap koloni Yahudi di Elefantin, Mesir. Salinan ini berasal dari sekitar 400 SM. Ahikar adalah penasihat Raja Sanherib dan Raja Esarhaddon di Asyur (Siria) sekitar 700 SM. Dia mengadopsi kemenakan laki-lakinya, yang dengan tipu muslihat membujuk raja untuk mengeksekusi Ahikar. Tetapi, sang eksekutor yang bersahabat dengan terhukum, menyembunyikan Ahikar untuk sementara, kemudian memulihkan kedudukannya ketika murka raja telah mereda. Dua pertiga dari buku kecil ini berisi ucapan-ucapan Ahikar yang menampilkan sejumlah persamaan dengan Amsal. W. O. E. Oesterley dalam The Book Of Proverbs (hlm. xxxvii-lii) mencatat tiga puluh tiga persamaan, yang barangkali merupakan jumlah yang agak dibesar-besarkan. Story (op. cit. hlm. 329-336) juga memberikan perbandingan-perbandingan penting. Sebagian besar dari persamaan-persamaan ini bersifat umum. Misalnya, Ahikar memperingatkan orang untuk tidak memandang perempuan yang dandanannya merangsang atau menaruh nafsu birahi terhadapnya, karena ini adalah dosa terhadap Allah (bdg. Ams. 6:25, dsb.). Dia juga mendesak seorang ayah untuk menundukkan anak laki-lakinya ketika anak itu masih muda, jika tidak maka dia akan memberontak ketika dia merasa lebih kuat (bdg. Ams. 19:18). Tetapi, disangsikan bahwa ada kaitan langsung antara amsal-amsal Ahikar dengan amsal-amsal dalam Alkitab. Lebih jauh, amsal-amsal dari Ahikar kurang memiliki nilai moral seperti Kitab Amsal. Amsal-amsal tersebut tidak menampilkan perbedaan antara orang bijaksana dengan orang berdosa, yang menjadi ciri khas dari Amsal; sebaliknya amsal-amsal itu lebih bersifat sekular. Meskipun demikian, Kitab Amsal kadang-kadang memakai latar belakang sekular ini untuk mengembangkan ajaran moralnya. Sesungguhnya, sulit menentukan - jika ada ketergantungan - karya mana yang menjadi peminjam. Story of Ahikar, kendatipun berlatar belakang Asyur, telah beredar di antara bangsa Yahudi dan di kemudian hari di antara orang-orang Kristen. Salinan terbaik yang kita miliki adalah dari sumber Yahudi. Amsal-amsal Ahikar sangat mungkin dipengaruhi oleh Kitab Amsal atau oleh perbendaharaan amsal umum bangsa Yahudi, (lihat Tafsiran tentang 23:14 mengenai kemungkinan Ahikar meminjam dari Amsal).
Beberapa orang menganggap kasus tersebut berbeda dengan Wisdom of Amen-em-Opet bangsa Mesir. Kumpulan amsal yang luar biasa ini bahkan lebih banyak memiliki kesamaan dengan kitab dalam Alkitab daripada yang dimiliki Ahikar. Tanggal penyusunannya tidak pasti. Papirus di atas lebih baru daripada karya ini, tetapi papirus sendiri tidak dapat diketahui tanggalnya. F. Ll Griffith mengerjakan penerjemahan utama dari bahasa Mesir. Oesterley melaporkan tanggal yang diberikan oleh Griffith untuk kitab tersebut ialah abad ketujuh sampai keenam SM, sedang H. O. Lange bahkan memberikan tanggal yang lebih belakangan. Oesterley sendiri menetapkan tanggal karya tersebut adalah abad kedelapan atau sesudahnya (The Wisdom of Egypt, hlm. 9, 10). Albright mendukung tanggal lebih awal, kira-kira 1100-1000 SM (op. cit. hlm. 6). Jika tanggal ini diterima, gagasan apapun mengenai asal-usulnya pasti bermuara pada karya asli bangsa Mesir. John A. Wilson (ANET, hlm. 421), dalam terjemahannya atas karya tersebut, tidak mempunyai komitmen apapun mengenai tanggal penulisan.
Sifat dari persamaan-persamaan tersebut harus diamati. Dalam telaahnya yang tajam, Oesterley melihat bahwa Wisdom of Amen-em-Opet sama sekali tidak berciri Mesir. Karya ini memiliki etika yang tinggi serta konsep mulia tentang Allah - menunjuk pada semacam monoteisme. Dia menyatakan bahwa "yang seperti itu tidak ditemukan di manapun dalam sastra Mesir zaman pra-Kristen" (op. cit., hlm. 24). Oesterley menemukan beberapa persamaan dengan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama selain Amsal, misalnya Ul. 19:14; 25:13-15; 27:18; I Sam. 2:6-8; Mzm. 1; Yer. 17:6 dst.). Tetapi ayat-ayat ini tidak terlalu penting, karena sebagian besar membicarakan tema-tema yang juga terdapat dalam Kitab Amsal, di mana terdapat banyak persamaan - Oesterly mencatat lebih dari empat puluh persamaan (The Book of Proverbs, hlm. xxxvii-liii). Persamaan-persamaan itu terdapat dengan banyak bagian dari Amsal. Tetapi, yang paling menonjol adalah dengan bagian 22:17-23:14. Semuanya kecuali lima dari ayat-ayat ini memiliki persamaan dengan Amen-em-Opet. Yang paling mencolok dari semua, kitab Mesir ini dibagi menjadi tiga puluh pasal (yang cukup panjang) dan ditutup dengan nasihat untuk menaati tiga puluh pasal ini. Bagian ini dalam Kitab Amsal, yang meluas sehingga mencakup 22:17-24:22, katanya berisi tiga puluh petuah (Oesterley, op. cit. hlm. 192). Kata pengantar dari bagian ini dalam Amsal adalah "Bukankah sudah kusuratkan bagimu beberapa perkara yang indah" (22:20, dalam Terjemahan Lama). Ini bisa dengan lebih benar dibaca dengan sedikit sekali vokal yang berbeda, "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu" (dari Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari). Harus diakui bahwa penemuan hanya tiga puluh petuah dalam enam puluh sembilan ayat ini agak tidak terduga. Dan tiga puluh petuah tersebut nyaris tidak sepanjang tiga puluh pasal dari kitab Mesir itu. Toh, persamaannya menonjol. Oesterley (The Wisdom of Egypt, hlm. 105) menunjukkan fakta yang aneh bahwa bagian Amsal 22:17-23:12 mempunyai persamaan dengan seluruh ayat kecuali tiga ayat pada bagian-bagian yang terserak dalam karya Mesir itu. Tetapi, bagian-bagian lain dari Amsal yang mempunyai lebih sedikit persamaan, yakni pada umumnya persamaan dengan pasal X dan pasal XXI dari Amen-em-Opet. Dari sini dia menjelaskan dengan cukup masuk akal bahwa penggunaan bahan pinjaman berbeda pada bagian-bagian yang berlainan dari dua kitab itu. Tidak ada karya yang meminjam langsung dari karya lainnya. Pada beberapa bagian, dua-duanya diambil dari sumber petuah-petuah yang sama. Tetapi dari keunikan karya bangsa Mesir itu Oesterley berpendapat bahwa dua-duanya bersumber pada latar belakang hikmat dan teologi Ibrani:
Barangkali kita bisa melihat lebih jauh. Banyak yang telah diperoleh dari bacaan, "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu." Jelas bahwa tiga puluh petuah dalam bagian Amsal ini bukan disalin dari kitab bangsa Mesir yang terdiri dari tiga puluh pasal di atas. Sebenarnya, separuh terakhir dari bagian dalam Kitab Amsal tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kitab Mesir itu. Kata "tiga puluh" dalam Amsal mungkin mengikuti contoh "tiga puluh" pada karya bangsa Mesir, tetapi bagaimanapun juga, itu bukan dipinjam secara meniru mentah-mentah. Sebaliknya, kita perlu melihat di sini contoh lain tentang pemakaian khusus bilangan dalam sastra Hikmat. Contoh-contoh yang terkenal ialah keterangan-keterangan yang berbentuk klimaks "tiga hal ... bahkan, ada empat hal" yang terlalu sulit untuk dimengerti (Ams. 30:18 dst.) atau "enam perkara bahkan, tujuh perkara" (Ams. 6:16-19). Keterangan-keterangan itu dapat dicocokkan dengan sastra Ugarit. Baal dikatakan membenci dua persembahan, bahkan tiga (C. H. Gordon, Ugaritic Literature, hlm. 30). Baal merebut enam puluh enam kota, bahkan tujuh puluh tujuh kota (ibid., hlm. 36). Kemudian, tujuh puluh tujuh saudara, bahkan delapan puluh delapan yang disebutkan (ibid., hlm. 55). Banyak contoh lain dapat diberikan. Tampaknya dalam petuah-petuah dari Amen-em-Opet dan dalam Amsal 22:20 kita mempunyai dua contoh pemakaian tertulis dari bilangan tiga puluh, yang mungkin dapat diperbanyak jika sumber-sumber kita mengenai Hikmat bangsa Mesir dan bangsa Ibrani kuno lebih lengkap. Mengenai perbandingan-perbandingan yang rinci dari Kitab Amsal dengan peribahasa-peribahasa Mesir, lihat tafsiran atas ayat-ayat di dalam Tafsiran.
Kita juga perlu menyebut dua kitab apokrif, Yesus bin Sirakh, kira-kira dari tahun 180 SM, dan Kebijaksanaan Salomo, yang mungkin sedikit lebih belakangan. Yang luar biasa menarik, kitab-kitab ini dalam beberapa hal mencontoh Kitab Amsal. Tetapi, dua-duanya berasal dari zaman belakangan, dan memperlihatkan perkembangan lebih jauh dalam personifikasi hikmat dan dalam soal-soal lain. Materi-materinya diambil dari Kitab Amsal, bukan sebaliknya, dan karena itu kita tidak perlu banyak mengacu pada kitab-kitab tersebut untuk tujuan kita sekarang.
Wycliffe: Amsal (Garis Besar) GARIS BESAR AMSAL
I. Penghargaan Salomo terhadap hikmat, yaitu takut akan Tuhan. 1:1-9:18.
A. Pendahuluan. 1:1-7
B. Perempu...
GARIS BESAR AMSAL
- I. Penghargaan Salomo terhadap hikmat, yaitu takut akan Tuhan. 1:1-9:18.
- II. Beberapa macam amsal satu ayat dari Salomo. 10:1-22:16
- A. Amsal-amsal yang menampilkan kontras. 10:1-15:33
- B. Amsal-amsal yang kebanyakan menampilkan persamaan. 16:1-22:16
- III. Amsal-amsal orang Bijak, tiga puluh amsal. 22:17-24:22
- A. Amsal-amsal yang memiliki persamaan dengan Hikmat bangsa Mesir. 22:17-23:12
- B. Amsal-amsal yang tidak memiliki persamaan dengan hikmat bangsa Mesir. 23:13-24:22
- IV. Amsal-amsal orang Bijak, Tambahan. 24:23-34
- V. Amsal-amsal Salomo yang disunting oleh pegawai-pegawai Hizkia. 25:1-29:27
- VI. Tambahan yang terakhir. 30:1-31:31.
BIS: Amsal (Pendahuluan Kitab) AMSAL
PENGANTAR
Buku Amsal adalah suatu kumpulan ajaran tentang cara hidup yang baik.
Ajaran-ajaran itu diungkapkan dalam bentuk petuah, peribahasa
AMSAL
PENGANTAR
Buku Amsal adalah suatu kumpulan ajaran tentang cara hidup yang baik. Ajaran-ajaran itu diungkapkan dalam bentuk petuah, peribahasa dan pepatah. Kebanyakan di antaranya menyangkut persoalan-persoalan yang timbul dalam hidup sehari-hari. Buku ini mulai dengan peringatan ini, "Untuk memperoleh pengetahuan, orang harus pertama-tama mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN." Selain tentang cara-cara hidup yang baik, buku ini mengajar orang untuk memakai pikiran sehat dan bersopan santun. Peribahasanya banyak dan menunjukkan betapa dalamnya pengetahuan guru- guru Israel zaman dahulu mengenai sikap dan tindakan orang bijaksana dalam keadaan-keadaan tertentu. Petuah-petuah itu menyangkut berbagai bidang, termasuk hubungan dalam keluarga, urusan dagang, sopan santun dalam pergaulan, perlunya menguasai diri. Kecuali itu, buku ini banyak juga mengemukakan sifat-sifat yang baik, seperti misalnya: rendah hati, sabar, menghargai orang miskin dan setia kepada kawan.
Isi
- Hikmat diagungkan
Ams 1:1-9:18 - Petuah-petuah Salomo
Ams 10:1-29:27 - Ucapan-ucapan Agur
Ams 30:1-33 - Ucapan-ucapan Lemuel
Ams 31:1-9 - Pujian kepada istri yang berbudi
Ams 31:10-31
Ajaran: Amsal (Pendahuluan Kitab)
Tujuan
Supaya anggota kelompok mengerti seluruh Kitab Amsal yang mengajarkan asas-asas
dari kehidupan yang dijalankan dengan hikmat dan penuh rasa t
Tujuan
Supaya anggota kelompok mengerti seluruh Kitab Amsal yang mengajarkan asas-asas dari kehidupan yang dijalankan dengan hikmat dan penuh rasa takut kepada Tuhan. Pelajaran ini dapat mendorong mereka untuk melaksanakannya.
Pendahuluan
Penulis : Kitab Amsal ditulis oleh beberapa orang, tetapi penulis yang terbanyak adalah raja Salomo. Sedangkan penulis-penulis lainnya adalah Agur dan ibu raja Lemuel.
Isi Kitab: Kitab Amsal terdiri dari 31 pasal. Kitab Amsal berisikan kata-kata hikmat yang mengajarkan asas-asas dari kehidupan yang dijalankan dengan penuh rasa takut kepada Tuhan.
I. Ajaran-ajaran utama dalam Kitab Amsal
-
Tujuan Amsal-Amsal
Amsal memberi pengetahuan akan hikmat. Amsal memberikan kepandaian. Amsal memberikan kejujuran. Amsal memberikan pengetahuan tentang takut akan Tuhan.
Pasal 1-9 (Ams 1:8-9:18).
Amsal tentang hikmat
Bagian ini berisikan ajaran tentang pentingnya seorang muda mencari hikmat.
Pendalaman
- Bacalah pasal Ams 2:1-22. Jelaskanlah cara mencari hikmat dan kepentingannya.
- Apakah berkatnya bagi seorang yang berhikmat? (pasal 3; Ams 3:1-35).
Pasal 10-24 (Ams 10:1-24:34).
Amsal-Amsal Salomo sebagai anjuran supaya berakal budi
Bagian ini menjelaskan tentang tindakan orang yang berakal budi dan yang tidak berakal budi, serta segala suatu akibat dari tindakan tersebut.
Pendalaman
- Bacalah pasal Ams 15:21-24. Apakah yang dikatakan tentang kesukaan orang yang tida berakal budi? Dan ke manakah jalan orang yang berakal budi?
- Bacalah pasal Ams 23:17-18. Apakah akibatnya jikalau seseorang takut akan Tuhan?
Pasal 25-29 (Ams 25:1-29:27).
Amsal-Amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai raja Hizkia Bagian ini menjelaskan tentang cara mengatasi kesombongan.
Pendalaman
Bacalah pasal Ams 27:1-2; 29:23. Apakah yang dikatakan tentang cara mengatasi kesombongan?
Pasal 30-31 (Ams 30:1-31:31).
Amsal Agur bin Yake dan Ibu Raja Lemuel
Amsal ini berbicara mengenai doa dan ajaran hidup, serta tabiat seorang istri yang baik.
Pendalaman
- Apakah yang menjadi perisai bagi seorang dalam hidup? Dan bagaimanakah hidup yang baik itu? (pasal Ams 30:5-9).
- Bagaimanakah tabiat seorang istri yang baik? (pasal Ams 31:10-31).
II. Kesimpulan/penerapan
- Kitab Amsal mengajarkan tentang kehidupan di dala kebenaran, keadilan dan kejujuran.
- Kitab Amsal mengajarkan arti dan tujuan dari kehidupan manusia.
- Kitab Amsal mengajarkan kemuliaan dari seorang istri yang bijaksana.
- Kitab Amsal mengajarkan akibat-akibat dari kemalasan.
- Kitab Amsal mengajarkan bahwa pengetahuan yang tidak diserta dengan takut akan Allah merupakan suatu hal yang tidak berguna.
- Kitab Amsal membuat seorang yang tidak berpengalaman di dala kehidupan dapat mempunyai pengetahuan akan arti dan tujuan kehidupan.
Pertanyaan-pertanyaan yang Dapat Digunakan untuk Tanya Jawab
- Siapakah penulis Kitab Amsal?
- Apakah tujuan Kitab Amsal?
- Apakah permulaan dari segala pengetahuan/hikmat? (Ams 1:7).
- Apakah kegunaan mempelajari Kitab Amsal ini bagi seseorang?
Intisari: Amsal (Pendahuluan Kitab) Jadilah bijaksana!
KITAB KEBIJAKSANAANAmsal merupakan hasil karya beberapa penulis, tiga di antaranya dikenal dengan nama -- Salomo, Agur dan Lemuel.
Jadilah bijaksana!
KITAB KEBIJAKSANAAN
Amsal merupakan hasil karya beberapa penulis, tiga di antaranya dikenal dengan nama -- Salomo, Agur dan Lemuel. Paling sedikit satu bagian dari kitab ini ditulis oleh orang yang tidak dikenal. Kitab ini kebanyakan berisi petuah-petuah Salomo (Ams 10:1-22:16; 25:1-29:27). Dia dikenal sebagai penulis 3.000 Amsal dan 1.005 lagu-lagu (1Ra 4:31-32). Kitab ini berisi hasil penelitian lengkap yang telah dikumpulkan oleh Salomo dan para penulis lainnya dari berbagai sumber, ditambah dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Tujuan dari kitab ini jelas terangkum dalam pembukaannya (Ams 1:2-6). Penekanan yang sering diulang-ulang dalam kitab ini adalah takut akan Tuhan.
APAKAH AMSAL ITU?
Pengajaran dengan memakai Amsal merupakan salah satu cara mengajar yang paling kuno di dunia ini. Dalam pengajaran seperti itu dipakai kalimat-kalimat sederhana, yang mudah diingat dan diturunkan dari generasi ke generasi. Salomo adalah seorang yang mepunyai keahlian dalam berbagai bidang. Dia bukan hanya seorang raja, tetapi juga seorang filsuf yang mempunyai kemampuan intuisi dan pengertian yang luar biasa, dan ia juga seorang ilmuwan murni. Tetapi sayang, dalam kehidupan pribadinya, ia tidak selalu hidup sesuai dengan hikmat yang diketahuinya.
HIKMAT DARI ALLAH
Dalam Amsal, hikmat dikatakan sudah ada bersama Allah sepanjang zaman. Hikmat dipersonifikasikan sehingga seringkali dianggap pelambang Kristus (Ams 8:23-31; lihat Yoh 1:2; Ibr 1:2; Kol 2:3). Dijelaskan bahwa hikmat tersedia bagi semua orang. Orang yang bijaksana adalah mereka yang tanggap pada perintah Allah, sedangkan orang yang bodoh mengabaikannya. Hikmat sangat penting di dalam dunia kehidupan (Ams 4:7).
BENTUK
Banyak usaha dilakukan untuk menganalisis Kitab Amsal. Beberapa komentator mengemukakan tiga bagian yang ditandai dengan judul 'amsal salomo' (Ams 1:1; 10:1; 25:1). Selanjutnya ada pendapat bahwa amsal dengan kata ganti orang kedua adalah amsal yang diperuntukkan bagi Salomo yang diajarkan oleh guru-gurunya, sedangkan amsal dengan kata ganti orang ketiga adalah amsal yang dibuat oleh Salomo sendiri. Namun demikian, hal ini sukar dipastikan.
Pesan
Pesan yang terkandung dalam Amsal tidak dapat disingkat seperti yang mungkin dilakukan dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab. Sebaiknya kita melihat isinya berdasarkan pokok bahasan yang berbeda-beda, yang dapat kita lihat di sana-sini dalam seluruh kitab. Ajaran-ajaran berikut diajarkan dengan jelas:o Hikmat merupakan hal utama yang harus kita cari. Ams 1:20-33; 2:1-22; 3:1-35; 4:1-27; 8:1-36; 22:17-24:34
o Jalan orang bodoh -- orang yang mengabaikan kehendak Allah -- adalah jalan menuju bencana. Ams 1:7; 12:16,23; 14:9; 15:20; 17:24; 18:2,6,7; 28:26
o Kemalasan jelas akan membawa aib. Ams 6:6,9; 19:15; 13:4; 15:19; 19:24; 20:4; 21:25; 22:13; 24:30; 26:13,16
o Kawan sejati bernilai tinggi. Ams 17:7; 18:24; 27:6,17
o Kata-kata bukan pengganti perbuatan. Ams 26: 20-28
o Kestabilan masyarakat bermula dari kehidupan keluarga yang sehat. Ams 10:1; 13:1,24; 17:21,25; 19:13,18,27; 20:11; 22:6, 15; 23:13-16, 19-28; 28:7,24; 29:15,17; 30:11,17
o Kehidupan yang saleh diberkati Allah, sebaliknya kehidupan yang jahat membawa aib dan kematian. Ams 3:25; 5:4; 11:29; 14:12
Penerapan
1. Jangan menjadi orang bodoh!
Masalah hikmat dan kebodohan mewarnai seluruh isi Amsal. Penuh hikmat berarti hidup sesuai dengan standar yang ditentukan Allah, bodoh berarti hidup dengan mengabaikan Allah dan hidup hanya diri sendiri. Upah bagi kehidupan orang yang penuh hikmat adalah berkat, tetapi kehidupan orang bodoh akan berakhir dalam kematian dan kebinasaan.
2. Hati-hati dengan kata-katamu
Amsal banyak berbicara mengenai manfaat pembicaraan. Kata-kata mempunyai potensi besar untuk hal-hal yang baik ataupun yang jahat. Orang yang bijaksana dapat mengendalikan lidahnya untuk menghindari gosip atau sanjungan yang sia-sia.
3. Menjalankan kehidupan berkeluarga secara serius
Stabilitas suatu negara ditentukan oleh kualitas kehidupan keluarga dalam negara itu. Para orang tua mempunyai tanggungjawab terhadap anak-anak mereka. Perzinahan adalah dosa.
4. Bekerja keras
'Dalam tiap jerih payah ada keuntungan' (Ams 14:23). Amsal memberikan banyak peringatan mengenai bahaya kemalasan. Tak ada lagi yang perlu dikatakan mengenai kelambanan.
Tema-tema Kunci
1. Kerja
Teks kunci: Ams 6:6-11. Si pemalas membesar-besarkan masalahnya dan tidak melakukan apa-apa (Ams 22:13; 26:13,14; 21:25,26). Perhatikan akibat dari kemalasan (Ams 10:4,5; 12:24; 13:4; 19:15).
Orang yang rajin mengumpulkan kekayaan dengan menggunakan kesempatan yang ada (Ams 10:4,5). Ia diberi tanggung jawab (Ams 12:27) dan menjadi makmur. (Bandingkan Mat 25:24-30; Yoh 9:4; Gal 6:9,10; Efe 5:16).
2. Faedah lidah
Teks kunci: Ams 10:11,13,18-21,31,32. Orang bijaksana berhati-hati dalam menggunakan kata-kata, sedangkan orang bodoh kurang dapat menenggang rasa sehingga menimbulkan sakit hati dan kerugian. (Lihat juga Ams 6:16,18,19; 10:11,19; 11:13; 12:18; 14:23; 15:1; 16:28; 17:9,22; 18:6-8; 20:19; 24:2; 25:11,15,23; 26:20,22,29:11; 31:26. Bandingkan dengan Ams Mat 7:1-1; 12:34-36;15:11,17,18; Yak 3:5-8).
3. Persahabatan
Pasal kunci: Ams 18. sedikit teman akrab lebih baik daripada banyak kenalan. Persahabatan harus dimenangkan; menjalin persahabatan memerlukan temperamen yang baik (Ams 3:29; 25:8,9, 21,22; 24:17,19; 11:12;14:21;21:10;12:26). Seorang sahabat yang baik itu setia dan takpernah meninggalkan (Ams 14:20; 19:4,6,7; 17: 17). Dia juga jujur (Ams 27:6; 29:5). Dia meyakinkan dan mendorong semangat (Ams 17:9,17). Persahabatan sejati memerlukan hikmat dan tenggang rasa (Ams 25:17; 27:14; 26:18,19). Namun demikian, hubungan persahabatan antar manusia selalu mengandung risiko (Ams 2:17; 16:28; 17:9).
4. Kekayaan dan kemiskinan
Pasal kunci: Ams 19. Kekayaan memberikan ke-ntungan-keuntungan yang nyata. Kekayaan memberikan perasaan aman (Ams 10:15; 18:11); membuka berbagai jalan (Ams 18:16); menarik banyak teman (Ams 14:20; 19:4,6). Bersama dengan itu, kekayaan cenderung membuat orang menjadi keras (Ams 18:23) dan memberikannya kekuasaan yang sewenang-wenang (Ams 22:7). Kekayaan menimbulkan percaya diri (Ams 30:8-9). Namun demikian, kekayaan dunia tidaklah kekal (Ams 23:4,5; 27:24). Kekayaan sama sekali tidak dapat membantu pada saat Hari Penghakiman datang (Ams 11:4), sedangkan kocek yang kosong membantu seseorang untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah dan hidup dalam kebenaran (Ams 15:16; 28:6). Seorang miskin mungkin saja mempunyai kekayaan yang besar (Ams 13:7; bandingkan dengan Mat 6:19-24; 2Ko 6:10).
Garis Besar Intisari: Amsal (Pendahuluan Kitab) [1] PENDAHULUAN Ams 1:1-7
Ams 1:1Judul
Ams 1:2-6Tujuan Amsal
Ams 1:7Rahasia
[2] BERBAGAI SEGI HIKMAT Ams 1:8-9:18
Ams 1:8-19Kebijaksanaan d
[1] PENDAHULUAN Ams 1:1-7
| Ams 1:1 | Judul |
| Ams 1:2-6 | Tujuan Amsal |
| Ams 1:7 | Rahasia |
[2] BERBAGAI SEGI HIKMAT Ams 1:8-9:18
| Ams 1:8-19 | Kebijaksanaan dalam memilih teman |
| Ams 1:20-33 | Tantangan terhadap hikmat |
| Ams 2:1-22 | Perlindungan yang diberikan oleh hikmat |
| Ams 3:1-35 | Kemakmuran yang diperoleh dari hikmat |
| Ams 4:1-27 | Hikmat sepanjang kehidupan |
| Ams 5:1-23 | Petuah mengenai perkawinan |
| Ams 6:1-35 | Peringatan terhadap kebodohan dan perzinahan |
| Ams 7:1-27 | Peringatan terhadap perempuan nakal |
| Ams 8:1-36 | Seruan hikmat |
| Ams 9:1-18 | Pesta hikmat dan pesta kebodohan |
[3] KUMPULAN AMSAL-AMSAL SALOMO Ams 10:1-22:16
[4] PETUAH-PETUAH DARI ORANG BIJAK Ams 22:17-24:34
[5] AMSAL-AMSAL SALOMO LAINNYA Ams 25:1-29:27
[6] PERKATAAN-PERKATAAN AGUR Ams 30:1-33
[7] PERKATAAN-PERKATAAN RAJA LEMUEL Ams 31:1-9
[8] GAMBARAN SEORANG ISTRI YANG CAKAP Ams 31:10-31




