Perlukah kita bertekun dalam doa, walaupun tampaknya Allah tidak menjawab doa kita?

Kita perlu selalu menjaga diri agar doa-doa kita tidak mementingkan diri sendiri. Tentu saja, Allah ingin agar kita menyampaikan keinginan kita kepada-Nya dengan cara sederhana, seperti anak kecil menyampaikan keinginannya kepada orang tuanya. Tetapi, yang penting bahwa kehendak Allahlah yang terjadi, bukan kehendak kita. Jika kita benar-benar mengasihi Dia maka kita akan menghadap Dia dengan kerinduan untuk menyenangkan-Nya, bukan menyenangkan diri kita sendiri. Secara khusus kita perlu memiliki keinginan kuat untuk lebih mengenal Dia, mengetahui kehendak-Nya, dan dengan iman berusaha keras agar rencana-Nya terjadi di bumi. Tetapi, jika anugerah yang kita rindukan itu adalah baik, suci serta layak pasti kita tidak tahan merindukannya bagi diri kita, dan kita boleh terus berdoa meminta hal itu, baik sampai kita menerimanya atau sampai kita yakin bahwa Tuhan tidak menghendaki kita menerimanya. Bersamaan itu kita harus ingat Allah Mahatahu, Mahabijaksana. Dia melihat masa depan, sedangkan kita tidak dapat melihatnya. Jalan-jalan-Nya tak terselidiki, rencana-Nya bagi kita sering kali di luar harapan-harapan kita. Tetapi, Dia sendiri mengetahui waktu dan kondisi, di mana pertolongan-Nya dan jawaban atas doa-doa kita tepat memenuhi kebutuhan kita. Dia adalah Bapa kita yang Mahakuasa, Penasihat dan Sahabat kita yang baik hati. Apa lagi yang dapat kita minta? Kita harus sepenuhnya mempercayai Dia, jangan sekali-kali sekejap pun meragukan kasih-Nya kepada kita, Dia rindu memberikan semua yang akan membuat kita benar-benar bahagia. Barangkali Dia ingin supaya Anda mempercayai Dia dengan cara lebih positif, bahwa Dia rindu mengaruniakan ini untuk Anda, dan Dia akan benar-benar mengaruniakannya. "Jadilah kepadamu menurut imanmu" (Mat. 9:29). "Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Rm. 8:32). Kita berhak mengharapkan kepada Bapa kita untuk menyediakan semua kebutuhan jasmani dan rohani kita - bukan mengaruniakan kemewahan atau hal-hal yang sangat dinilai tinggi oleh dunia, melainkan apa yang benar-benar kita butuhkan. Bagaimanapun, ada satu permohonan tertinggi yang harus kita sampaikan kepada Tuhan, bahkan harus minta dengan sangat sampai kita mendapatkannya, yaitu: hati yang suci, roh pertobatan, jiwa yang diperdamaikan dengan Allah melalui kasih Anak-Nya yang terkasih, yang mati bagi kita. Jika kita memintakan hal-hal ini dengan segenap iman serta ketulusan, Dia pasti akan mengampuni kita. Tidaklah perlu untuk terus-menerus mendesak meminta pengampunan untuk dosa-dosa yang lama - kehidupan yang lama; permohonan ampun yang terus-menerus menunjukkan kekurangan iman. Percayalah Firman Allah dan sesudah membangun hubungan baru ini dan setelah memulai kehidupan kerajaan itu, kita memiliki janji sang Guru bahwa "semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat. 6:33). Bapa kita mengerti kebutuhan kita. Dia mengetahui ketika kita sakit, betapa kita mengharapkan kesembuhan, dan ketika kita merasa sakit, betapa kita merindukan rasa sakit itu dikurangi. Demikian juga, kita boleh meminta Dia memberkati cara-cara yang dipakai untuk memulihkan fisik kita. Kita tidak boleh lupa bahwa Dia sekarang seperti pada zaman dulu masih mampu "mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu" (Mzm. 103:3). Dia masih menjadi Tabib yang Agung, yang menyembuhkan baik jiwa maupun tubuh bila kita benar-benar beriman kepada-Nya. Dialah yang memberi kita kekuatan untuk menanggung penderitaan, dan mengubah tungku pencobaan menjadi tempat berkat.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #25: Tekan Tombol pada halaman Studi Kamus untuk melihat bahan lain berbahasa inggris. [SEMUA]
dibuat dalam 0.00 detik
dipersembahkan oleh YLSA