Apakah manusia mempunyai pembawaan sebagai "anak-anak Allah"?

Ada pengertian yang luas dan benar yang menjadikan semua orang sebagai anak-anak Allah. Paulus dapat mengatakan kepada para penyembah berhala di Atena, "Kita ini dari keturunan Allah juga". Tetapi ada pengertian yang lebih tinggi, lebih dekat, lebih rapat, yang menyatakan hanya orang-orang yang lahir kembali yang benar-benar anak-anak Allah. Yohanes berkata, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah". Ketika berbicara dengan jelas kepada orang percaya, Dia berkata, "Saudara-saudara kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah". Tidak ada perbedaan di antara Paulus dengan Yohanes. Satu pihak berbicara tentang anak-anak Allah dalam pengertian luas sebagai manusia, sementara lainnya berbicara tentangnya dalam pengertian terbatas sebagai anak angkat. Kenyataannya, kita harus mengakui bahwa anak terbagi dalam empat kelas. Dalam kelas terendah ada seluruh keluarga umat manusia. Dalam kelas lebih tinggi berikutnya adalah anak-anak yang dilahirkan kembali, yang benar-benar adalah anak-anak dalam roh. Kemudian di kelas berikutnya, kita mengenal malaikat-malaikat, yang dalam Kitab Ayub secara khusus ditunjukkan sebagai "Semua anak Allah" (38:7). Selanjutnya, yang tertinggi dari semuanya, dalam anti mutlak, tidak dapat didekati, ilahi, adalah Yesus Kristus, Anak Allah yang Unggul. Oleh karenanya tidak perlu tersandung pada doktrin ke-Bapaan Allah; kita hanya perlu membedakan antara apa yang secara tidak langsung dinyatakan sebagai hubungan lahiriah dan hubungan yang lebih batiniah.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #03: Coba gunakan operator (AND, OR, NOT, ALL, ANY) untuk menyaring pencarian Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.00 detik
dipersembahkan oleh YLSA