Kapan hari Sabat berubah dari hari ketujuh menjadi hari pertama dalam seminggu?

Perjanjian Baru menyatakan bahwa orang Kristen Yahudi menganggap kedua hari itu kudus. Paulus ternyata mengajar di sinagoge pada hari Sabat, tetapi pada hari pertama dalam seminggu orang Kristen bukan Yahudi bertemu untuk memecahkan roti (Kis. 20:7). Hari kudus kedua ini disebut Hari Tuhan untuk membedakannya dari hari Sabat, dan barangkali satu-satunya yang dijalankan oleh orang-orang bukan Yahudi yang bertobat. Ada suatu petunjuk bahwa mereka diperintahkan untuk bertanggung jawab karena menjalankan hari itu saja, yaitu dalam Kolose 2:16, di mana Paulus meminta mereka tidak mengindahkan para kritikus mereka. Buku The Teaching of the Twelve Apostles, yang ditulis tepatnya sebelum tahun 100 TM, membahas tentang Hari Tuhan dan merujuknya sebagai satu hari pertemuan kudus dan memecahkan roti (ps. 14). Orang Kristen primitif di mana pun sungguh-sungguh menaatinya. Plinius, seorang sejarawan, merujuk kepada fakta ini dalam suratnya kepada Trayanus pada tahun 100 TM. Justinus Martyr (tahun 140) menjelaskan penyembahan religius orang Kristen mula-mula, ibadah-ibadah sakramen mereka, dan banyak lagi, yang berlangsung pada "Hari Pertama". Para penulis mula-mula lainnya yang membuat rujukan kepada Hari Tuhan ini, jelas dan tidak diragukan adalah Dionysius dari Korintus, Ireneus dari Lyons (yang menegaskan kalau hari Sabat ditiadakan), Clemens dari Aleksandria, Tertullianus, Origenes, Cyprianus, Commodianus, Victorinus, dan yang terakhir Petrus dari Aleksandria (th. 300 TM), yang berkata: "Kami mengadakan Hari Tuhan sebagai hari sukacita sebab Dia telah bangkit pada hari itu." Bukti-bukti ini meliputi kedua abad pertama setelah kematian Tuhan dan menunjukkan bahwa Hari Tuhan adalah sebuah adat yang disetujui dan merupakan kebiasaan para rasul. Semua alasan keraguan dihapuskan oleh kenyataan bahwa Constantinus dalam maklumat yang dikeluarkan tahun 321 TM menghargai hari itu dengan cara mengakuinya sebagai hari yang suci bagi orang Kristen, dan memerintahkan supaya usaha berhenti untuk sementara waktu pada hari itu. Akhirnya, konsili Nicea (th. 325 TM) dalam laporan rapat resminya memberi petunjuk berkenaan dengan bentuk-bentuk penyembahan orang Kristen pada masa itu, dan konsili Laodikia (th. 364 TM) memerintahkan adanya per hentian pada Hari Tuhan. Dengan pemakaian oleh para rasul, dengan hukum dan adat, dengan maklumat kerajaan dan dengan konsili-konsili yang tertinggi dari Gereja Kristen mula-mula,

perubahan itu diterima dan disetujui.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA